CEO Tampanku Ahli Silat

CEO Tampanku Ahli Silat
Part 18 MADU CINTA +++ Prita 1


__ADS_3

Dua hari telah berlalu sejak sore itu, ucapan Maya masih menganggu Randy, bingung itu yang dia rasakan saat ini. Sedangkan Maya hanya menghubungi Randy seperti biasa, menanyakan makan, lagi apa, lagi dimana, semangat belajar, dan seterusnya. Randy pun masih enggan bertemu dengan Maya, ia berada dalam dilema yang begitu dalam, bagaimana dia akan menghadapi keempat temannya. Randy juga tidak mau jika harus membayar 100 juta pada keempat anggota gengnya, tapi dia lebih tidak mau membagi Maya pada teman-temannya itu. Mungkin jalan satu-satunya adalah meninggalkan circle pertemanannya saat ini.


"Apa ini yang namanya cinta dan cemburu? Aku sungguh tidak rela jika Maya disentuh oleh keempat temanku yang sangat liar itu. Dia masih seputih kertas dan aku mencoretnya dengan kelakuan nakal ku. Bagaimana aku bisa membiarkan orang yang mencintaiku dengan tulus menjadi rusak karena aku?"


"Tapi apa benar dia mencintaiku? Mungkin saja dia bilang begitu hanya karena tidak ingin kehilangan aku pacar potensialnya. Tapi mengapa dia ingin aku jadi Randy, bukan Randy Prasetyo Wibowo."


"Aaaahhh... Kepala ku bisa pecah memikirkannya. Mana mungkin dia tulus mencintaiku? Tapi mengapa hati ku jadi gelisah seperti ini? Biasanya aku juga tidak peduli dengan mereka yang mau bergoyang di bawah ku, mereka sendiri yang mau."


"Kenapa kamu tidak mau Maya? Aku baru menyentuh sedikit saja, kamu buru-buru menolak. Padahal banyak yang antri ingin bermain denganku."


Bukannya berpikir baik-baik, Randy yang frustasi dengan kegalauannya justru menghubungi Prita, salah satu koleksi friend with benefits-nya. Randy ingin tahu apakah Prita akan menolaknya juga, seperti Maya yang menolaknya. Sebagai wanita normal harusnya Prita menolak setelah tahu Randy sudah berpacaran dengan Maya.


Randy mengirim pesan pada Prita. "Sayang aku kangen kamu. Mau nggak kamu main ke rumahku sore ini? Di rumah sedang sepi, aku jadi kesepian."


"Kangen? Apa kamu bercanda? Kamu kan sudah punya Maya, untuk apa mencari aku?" Dengan cepat Prita membalas pesan Randy, sebenarnya dia ingin sekali langsung menjawab iya, tapi dia masih gengsi. Prita masih berharap ada kesempatan baginya untuk bersama Randy dan menyingkirkan Maya.


"Mungkin saja Randy sudah bosan dengan Maya dan ingin kembali padaku, pasti dia baru nyadar cuma aku yang bisa membahagiakan dia. Atau mungkin goyangan Maya tak se-dahsyat goyangan ku." Ucap Prita di sebrang sana.


"Kangen susu murni kualitas super, cuma kamu yang punya, sayang. Apa kamu nggak kangen dengan big baby-mu ini? Sudah lama nggak dikasih jatah minum. Apa kamu lebih suka dengan Ferdy daripada aku? Padahal aku mengira kamu yang paling sayang sama aku. Ternyata kamu sama aja dengan yang lain." Randy terus saja bermain kata untuk mendapatkan yang dia inginkan.


"Kenapa kamu tidak minta saja sama Maya pacarmu itu?" Prita masih saja gengsi padahal dia merindukan sentuhan Randy. Meski dia juga menyukai Ferdy, tetap saja dia berpikir kalau bisa sama Randy sang ketua geng, kenapa harus dengan anak buahnya.


"Kalau sudah tidak mau dengan ku, tidak usah banyak alasan. Aku salah menghubungi mu. Selamat bersenang-senang dengan Ferdy. Bye... " Kata-kata toxic dari seorang bad boy yang membuat wanita terpedaya.


"Jangan ngambek dong, sayang! Aku pasti datang, aku juga kangen kamu." Prita buru-buru membalas takut Randy berubah pikiran.


"Terserah mau datang apa nggak! Mungkin hanya aku yang merindukan kamu." Randy membalas lagi.

__ADS_1


"Please, jangan marah, sayang! Aku pasti datang jam 15.30 setelah selesai sekolah, jadi jangan pergi ke mana-mana!" Janji Prita.


Sore itu saat Maya sibuk di perguruan Macan Emas, Prita pun mengunjungi Randy di rumahnya. Penjaga rumah Randy sudah hafal dengan kelakuan anak majikannya itu, bahkan sang penjaga siap bekerjasama saat Randy sedang berduaan dengan wanitanya.


"Sore, Pak, apa Mas Randy di rumah?" Prita menyapa sang penjaga rumah Randy.


"Ada, Non, langsung masuk aja, sepertinya sudah ditunggu."


Prita pun dengan santainya langsung masuk rumah seperti masuk rumah sendiri, ia sudah hafal betul dengan rumah itu.


Prita masuk ke ruang tengah dan ternyata Randy sedang duduk santai di sana dengan wajah manyun. Prita meletakkan tasnya di sofa lalu ia duduk di samping Randy. Prita masih mengenakan seragam sekolahnya yang cukup menampakkan keindahan bodynya. Kaki mulusnya nampak sempurna dengan rok seragam yang cukup pendek.



(Prita ya guys, menurut kalian lebih cantik Prita, Priska atau Maya? ☺ jawab di komentar ya, biar author semangat.)


"Maaf, Mas Randy sayang, sebenarnya aku juga kangen sama kamu." Bisik Prita di telinga Randy, Prita tak lupa memberi kecu - pan di telinga Randy.


"Kangen banget, Mas." Bisik Prita lagi. Randy masih terdiam, pikirannya selalu saja tertuju pada Maya.


Prita sengaja menyentuh pa - ha Randy dan mengarah ke senjata miliknya. "Kok ngambek sih, Mas? Padahal aku udah ke sini, meskipun aku tahu kamu malah pacaran sama Maya."


Randy langsung menci - um Prita dengan kasar, sedangkan jemarinya sibuk bergerilya di dalam kain seragam dan membebaskan kedua susu murni itu dari kemasannya. Tangan Prita mencengkeram kaos yang Randy kenakan, mengikis jarak antara mereka berdua. Prita benar-benar merindukan kedekatan dengan Randy, merindukan sentuhannya yang memabukkan.


Randy mulai membuka kemasan kedua susu murni yang sangat dia rindukan. Susu murni merk tiga enam bi memang sangat memikat untuk segera dilahap dan dise - sap hingga habis untuk menghilangkan rasa haus dan lapar akan cinta.


"Sayang, pe - ras yang kuat biar susunya keluar!" Prita merengek, memegang tangan Randy agar segera meme - ras kedua susu murni itu dengan kuat. Randy pun menuruti permintaan Prita, justru dia sangat senang sekali dengan permintaan Prita. Satu susu murni diminumnya dengan rakus dan satu susu murni dipe - rasnya dengan kuat. Randy menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menikmati acara minum susu.

__ADS_1


Je - mari Randy segera turun dan menyusuri sebuah lembah yang lembab dibalik hutan hitam yang rimbun. Randy memang lebih suka hutan yang rimbun dari pada gundul, menurutnya itu lebih menambah kenikmatan. "Sayang, hutanmu sudah dibanjiri madu cinta." Randy berbisik lembut.


"Sayang, apa kamu tidak ingin menegak madu cinta ku hingga habis tak bersisa?" Sangat ingin sekali Randy menghisap madu cintanya. Dia pun membukakan jalan yang lebar agar Randy leluasa mengexplore ke area lembah itu.


"Katakan, sayang! Apa kamu ingin aku menghi - sap madu cintamu hingga kering?" Randy ingin Prita merengek dan meminta padanya, sedangkan jema - rinya tiada henti terus menyusuri lembah yang begitu lembab itu.


"Iyaa… Please, hi - sap maduku, sayang! Bungaku sudah lama merindukanmu" Prita terus merengek karena benar-benar tidak tahan, pikirannya sudah kosong, yang ada hanya menuntaskan acara minum susu dan menghi - sap madu cinta.


"Sayang apa kamu tidak takut senjataku ini menembak bungamu dengan madu cinta juga?" Masih terus menggoda dan begitu menikmati raut wajah Prita yang tidak mampu menahan gejolak cintanya.


"Sayang, jangan menggodaku! Aku suka ditembak berkali-kali." Tangan Prita menekan tangan nakal itu agar melesat begitu dalam ke dalam lembah yang begitu lembab itu.


Randy pun sudah tak tahan dan segera membuka penghalang yang menutupi lembah itu hingga terpampang jelas bunga yang beberapa minggu ini dia rindukan. Randy masih punya Prita dan Prisa, dia tidak akan kesepian walaupun Maya sibuk dan tak menuruti maunya. Randy sudah kecanduan menghisap madu cinta, tidak tahan jika harus berpuasa.


"Menatapnya saja sudah membuat darah ku berdesir hebat." Randy bergumam lalu dia pun segera menge - cup dan menci - umi bunga pink yang memabukkan itu, bunga yang beraroma khas dan memikat untuk segera dihi - sap madunya. Prita bergerak sangat liar merasakan sensasi yang luar biasa pada bunganya, hingga dia menekan kepala itu agar terus menge - cup dan menci - umi bunganya.


"Mas, cepat keluarkan senjata mu! Aku sudah tidak sanggup." Prita mengiba, namun Randy tetap bermain dengan ketajaman lidah pink-nya memberikan tusukan-tusukan yang memabukkan pada bunga pink Prita, hingga akhirnya bunga pink itu menyemburkan madu cinta lebih dulu.


Randy tidak memberinya waktu untuk istirahat, ia yang sudah tidak tahan segera membuka dan mengeluarkan senjatanya. Dengan cepat senjata itu keluar masuk untuk bersiap menembak, akhirnya setelah beberapa menit senjata itu melesak masuk lebih dalam lalu menembakkan madu cinta pada bunga pink milik Prita, bunga pink yang merekah dan membalas dengan semburan madu cinta pula.


Keringat bercucuran bercampur dengan sisa-sisa madu cinta. Sesaat Randy lupa akan masalahnya dengan Maya, namun tetap saja dia mengingat Maya lagi. Wajahnya berubah muram lagi hingga membuat Prita heran. Sejenak Prita memulihkan tenaganya, lalu dia mulai naik ke pang - kuan Randy.


"Big baby, aku masih kangen." Prita menggenggam susu murni itu dan menggoyangkan, ia segera menangkup kepala Randy dan menyodorkan susu murni itu untuk segera dihi - sap. Prita sengaja melakukannya untuk menghibur Randy.


...***...


Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…

__ADS_1


Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕


__ADS_2