
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
...***...
Deg... Deg... Deg...
Jantung Maya berdetak dengan cepat di jok belakang, terasa berbeda dibanding ketika Bayu mengantarnya pulang setelah penyerangan waktu itu.
"Apa iya jatuh cinta lagi secepat ini?" Hati Maya meragu.
Tiba-tiba Bayu mengerem motornya karena sepeda motor di depannya belok mendadak, Maya yang kaget pun reflek memeluk Bayu.
"Untung aku yang gendong tasnya. Kalau nggak! Pasti bakal canggung sekali saat ada kejadian seperti ini." Batin Bayu. Memang tadi Bayu inisiatif untuk menggendong tas Maya, jaga-jaga biar tidak dikata modus.
"Kamu nggak kenapa-kenapa 'kan, May?" Bayu menoleh ke belakang memastikan Maya baik-baik saja.
"Nggak apa-apa, Mas." Sahut Maya.
Bayu pun melajukan motornya lagi, dia sama sekali tidak peduli dengan orang yang berbelok sembarangan tadi. Bahkan Bayu tidak sempat mengumpat marah pada orang itu, yang ada di pikirannya cuma Maya.
"Mas Bayu diem aja nggak marahin tu orang yang belok sembarangan. Kalau Mas Randy pasti sudah marah-marah. Tas ku juga dibawain, bener-bener perhatian, beda sama Mas Randy yang justru nyari kesempatan buat pegang-pegang atau ngerem mendadak kalau lagi boncengan. Mungkin saja karena bukan pacar sih, makanya Mas Bayu masih hati-hati, nggak tahu juga kalau udah jadi pacar, bisa aja kelakuannya sama kaya Mas Randy." Pikir Maya.
Tanpa sadar Maya masih trauma dengan lelaki gara-gara Randy. Sulit untuk percaya kalau lelaki tidak me-sum. Menurut Maya saat ini, semua lelaki masih sama saja.
"Sudah sampai, May. Jangan melamun! Sekolah yang bener!" Tegur Bayu sambil membuka helmnya.
"Oh! Udah sampai?" Maya tersadar dari lamunan.
Maya turun dari motor dengan berpegangan pundak Bayu dan satu tangan Bayu memegangi tangan Maya yang di pundaknya, hanya untuk memastikan Maya tidak jatuh. Maya pun segera melepas helmnya, lalu Bayu mengambil helm itu dari tangan Maya.
"Apa nggak ribet kalau Mas Bayu yang bawa?" Maya berniat membawa helm itu ke parkiran dan dititipin ke motor temannya.
"Nggak! Aku aja yang bawa, biar kamu nggak pulang sembarangan dan membonceng orang lain." Sahut Bayu, ia pun turun dari motornya.
"Loh kok turun? Mas Bayu nggak langsung pergi? Apa nggak telat ngampus? Atau kerja?" Maya heran dibuatnya.
(Anggap itu Mas Bayu lagi nganterin sekolah si dedek gemes alias Maya, anggap Maya nggak pakai topi dan lagi pakai seragam 'lah ya 😊.)
"Mau anterin kamu sampai ke kelas." Jawab Bayu santai, sambil membetulkan rambut Maya yang sedikit berantakan karena habis pakai helm. Sontak perlakuan Bayu membuat Maya terpana menatap Bayu.
"Cieee.... Mayaaa...!" Ratih yang tidak sengaja lewat mulai menggoda Maya.
Maya melihat sekeliling, ada beberapa siswa-siswi yang memperhatikan dia dan Bayu.
"Tunggu aku, Ratih!" Teriak Maya.
__ADS_1
"Mas Bayu langsung pulang aja! Nggak enak diliatin tuh!" Maya mengusir Bayu, mendorong Bayu agar segera pulang, lalu ia segera balik badan untuk mengejar Ratih.
"Nggak salim dulu nih!" Ucap Bayu sok serius, sebelum Maya berhasil kabur.
Entah fokus Maya hilang kemana, dia langsung balik badan dan salim sama Bayu, bahkan tidak lupa cium tangan serasa pamit sama bapaknya. Setelah salim dan cium tangan Maya balik kanan dan hendak pergi, namun sejurus kemudian dia tersadar dan ia balik lagi menghadap Bayu. Maya ingin marah tapi dia tak sanggup marah setelah melihat Bayu yang sama herannya seperti dia. Bayu masih terpaku karena tidak menyangka Maya benar-benar salim dan mencium tangannya.
"Bodoh! Gila kamu, May! Kenapa tanpa sadar salim dan cium tangan beneran?" Maya langsung balik kanan dan lari menghampiri Ratih.
"Dijemput jam berapa, May?" Teriak Bayu yang sudah tersadar.
"Jam 3, Kak." Sahut Ratih karena Maya masih malu-malu gara-gara kejadian tadi.
"Ayo buruan masuk!" Maya menarik Ratih yang masih memperhatikan Bayu.
"Gila! Maya, kamu langsung move on dalam waktu 1 malam?" Ratih heboh.
"Husssh! Jangan ngomong sembarangan! Memang sejak masuk SMA perasaan ku sama Mas Randy mulai berkurang karena sejujurnya aku memang curiga Mas Randy ada hubungan dengan perempuan lain. Tapi aku sungguh tak menyangka ternyata malah ada hubungan sama Priska." Maya geleng-geleng kepala karena heran kenapa selama ini dia bisa ditipu.
Bayu pun pergi setelah melihat Maya masuk ke sekolah dan tidak terlihat lagi.
Pagi ini di kelas Maya riuh sekali, semua membicarakan Priska dan Randy.
"Huuuuuu...!"
Teriak teman-teman sekelas Maya, saat melihat Priska memasuki kelas.
"Awas guys, ada pelakor!" teriak salah satu siswi.
"Hushhh! Hati-hati guys! Ntar dikeluarkan dari sekolah loh kalau gangguin selingkuhan anak pejabat!" Imbuh siswi yang lain.
"Betul guys! Dia aja bisa nyuruh anak pejabat buat ngancurin teman sendiri loh! Ntar kita yang bukan siapa-siapa ini, pasti langsung diancurin juga!" Para siswa pun ikut bicara.
"Kan dia doyan sama Kak Bobby juga guys! Kalian yang cowok-cowok aman 'lah kalau mau tunduk sama dia juga!" Sindiran telak menghujam bagaikan pedang menusuk ulu hati. Priska tidak menyangka teman-temannya ada yang tahu hubungannya dengan Bobby.
"Ah...Males 'lah sama cewek sok cantik!" Sahut salah seorang siswa.
"Pasti udah diapa-apain juga sama Mas Randy!"
Deg... Deg... Deg...
"Guys... Aku mantan Mas Randy loh! Apa kalian juga berpikir seperti itu terhadap aku?" Maya berdiri dengan mata yang berkaca-kaca.
Ratih langsung berdiri dan memeluk pundak Maya. Dia tahu pasti hati Maya sangat sakit sekali saat ini.
"Kami juga tahu 'lah May! Mana perempuan yang pernah dan mana perempuan yang belum pernah diapa-apain sama Mas Randy." Terang siswa itu.
"Liat aja, entar Mas Randy pasti ngejar kamu karena belum mendapatkan apa yang dia inginkan! Kamu harus hati-hati dan jangan sungkan minta bantuan kami!" Sahut siswa yang lain.
__ADS_1
"Iya, May. Beruntung kamu sudah bisa putus dari Mas Randy, kami sebenarnya sungguh khawatir tapi tidak berdaya membantumu atau pun sekedar memberitahumu." Imbuh siswa yang lain.
Priska tertunduk diam dan langsung berjalan menuju mejanya. Kini dia duduk sendirian karena Maya sudah pindah tempat duduk, ia sekarang duduk bersama Ratih. Sebelumnya Ratih memang hanya duduk sendiri karena belum lama ini teman satu bangkunya mengundurkan diri dan pindah sekolah ke lain daerah. Siswa-siswi lain pun tidak ada yang mempedulikan Priska lagi dan malah mulai bergunjing dan menyindir Priska lagi.
"Kalau gitu udah ya! Bantu aku move on dan jangan bicarakan itu lagi ya!" Pinta Maya.
"Terima kasih karena sekarang kalian berkenan membantuku, tapi jangan membahayakan posisi kalian sendiri!" Tutur Maya.
"Lagipula sekarang 'kan ada Mas Ba.. yu.. " Maya terdiam dan tidak melanjutkan kalimatnya tanpa sadar Maya menyebut Bayu, sepertinya sekarang pikiran dan hatinya mulai terikat dengan Bayu.
"Iya, Maya. 'Kan udah ada Mas CEO ganteng." Sahut siswi lain.
"Ah...! Kamu mentang-mentang habis romantis-romantisan di pagi hari sama Mas CEO, terus lupa deh sama yang udah nyakitin kamu! Padahal perlu dikasih pelajaran tuh!" Sahut salah satu siswi yang tadi melihat Maya dan Bayu datang.
"Mas CEO Muda ganteng banget guys! Cocok 'lah sama Maya kita yang cantik, baik dan pinter. Nggak kaya si perempuan ular yang menyemburkan bisa beracun pada temen sendiri, sepertinya dia nggak cocok sama siapapun!"
"Wah ketinggalan berita nih! Nggak liat Mas CEO ganteng." Sahut siswi yang lain.
"Gila! Maya aja sampai tidak berkutik di depan Mas CEO guys! Pakai cium tangan segala, udah kaya pamit sama suami! Mau dong dijagain suami seperti Mas CEO ganteng!" Mulai menghalu ria, mengingat kelakuan Maya dan Bayu tadi pagi.
"Terus tahu nggak guys! Mas CEO ganteng menatap Maya sampai tak berkedip, aduh pesona bunga kelas kita sampai bisa bikin Mas CEO ganteng membisu!" Imbuh siswi itu.
Maya yang mendengar hanya geleng-geleng kepala karena dia tahu, dia tidak akan bisa menghentikan mereka yang terus berbicara.
"Udah guys! Bu Guru datang tuh!" Sang ketua kelas mengingatkan.
Mereka heran kenapa bu guru datang dengan seorang perempuan, sepertinya guru baru.
"Mbak Vero!" Lirih Maya.
Bu guru pun memperkenalkan Vero sebagai guru magang, katanya tugas kampus sebagai syarat untuk menyusun skripsi nantinya.
Ponsel Maya bergetar tanda pesan masuk, ia pun diam-diam membuka pesan itu.
"Suka nggak sama kejutannya? Kalau ada apa-apa sama kamu di sekolah, Vero siap membantu, jadi jangan takut sama Randy lagi! Maaf karena aku nggak bisa jaga kamu kalau di dalam sekolah." Ternyata pesan dari Bayu.
"Ternyata suruhan Mas Bayu." Lirih Maya.
"Kenapa, May. Masa baru ditinggal sebentar sudah kangen Mas Bayu sih?" Bisik Ratih.
"Kamu ya! Godain mulu! Awas nanti kalau istirahat!" Canda Maya.
"Hihihi... Ampun, May! Jangan dipukul ya! Aku 'kan nggak bisa beladiri!" Sahut Ratih.
"Ntar aku cubit sampai biru-biru tuh!" Sahut Maya.
Maya dan Ratih berhenti bercanda setelah Vero atau Bu Vero sebagai guru magang memulai pelajaran pertama mereka hari ini.
__ADS_1
...***...
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕