
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
...***...
Maya jalan sambil membuka tasnya, lalu dia mengeluarkan sebuah bungkusan.
"Ini aku bawa kue buat Mas Bayu." Menyerahkan paper back kecil pada Bayu.
"Kue?" Bayu penasaran langsung membukanya.
"Jadi kuenya dibuat khusus buat dikasih ke aku. Dia belum tahu aja tadi aku sudah ke rumah dan mencicipinya." Batin Bayu, senyum-senyum nggak jelas karena tidak bisa mengontrol rasa bahagianya.
Bayu langsung membuka toples kue kering itu dan mengambil satu kue lalu ditunjukkannya pada Maya. "Jadi ini sekedar kue kering atau ini hatimu yang telah kamu percayakan padaku?"
"Itu hanya kue kering biasa. Ibu yang bikin kok, berarti itu hatinya ibuku." Maya bohong karena karena malu.
"Tadi ibu bilang ini bikinan kamu kok!" Sahut Bayu.
"Oopsss... " Bayu langsung tutup mulut.
"Kapan ibu kasih tahu Mas Bayu?" Selidik Maya.
"Aku makan ya kuenya." Bayu mengalihkan pembicaraan. Bu Parmi, Nyi Yanti dan Bayu memang sudah sepakat untuk diam dulu sebelum mendapatkan persetujuan dari para bapak.
"Enak nggak?" Penasaran apakah Bayu suka sama kue buatannya.
"Kue buatan Bu Parmi 'kan emang enak!" Sahut Bayu sengaja menggoda Maya.
"Seriusan! Enak nggak? Mas Bayu suka nggak?" Terus bertanya berharap penilaian dari Bayu.
"Enak dong! Kan buatan Bu Parmi! Emang kamu! Kalau kamu yang bikin pasti nggak enak!" Goda Bayu.
Maya merebut toples kue itu dari tangan Bayu. "Ya udah kalau nggak enak jangan dimakan!"
"Ini enak banget, May! Cocok di lidahku. Pasti ini kamu bikin dengan penuh cinta 'kan?" Merebut kembali toples kue itu dari tangan Maya.
"Apa yang sudah diberikan tidak boleh diambil lagi dong!" Bayu makan lagi kuenya.
"Kalian kakak adik rebutan apa?" Ki Sopo berjalan ke arah mereka dan ikut nimbrung.
"Kami bukan kakak adik, Ki!"
"Kami bukan kakak adik, Pak!"
__ADS_1
Maya dan Bayu menjawab dengan serentak.
"Aduh! Aduh! Kalau kalian bertengkar jangan di sini dong! Sana perang tanding di lapangan saja! Biar sekalian latihan!"
Ki Sopo main comot kue kering yang dipegang Bayu dan mencicipinya. "Enak banget, Yu. Kamu beli dimana?"
"Ah... Bapak main ambil aja sih! Ini buatan Maya khusus buat aku doang! Awas nih kalau bapak ambil lagi!" Bayu emang akrab banget sama Ki Sopo, sering becanda pula.
"Emang kamu mau kalau nggak dikasih restu? Masa nggak boleh makan kue buatan calon menantu sendiri?"
Deg... Deg... Deg...
Hati Maya berdebar kencang karena Ki Sopo terang-terangan seperti itu. Jelas saja Ki Sopo sudah tahu niat Bayu yang ingin mengajak Maya bertunangan, Nyi Yanti tidak mungkin bergerak tanpa ijin dari suaminya itu.
"Jangan gitu dong pak! Ya udah nih boleh makan, tapi dikit aja! Bapak minta buatin sama Mimi aja tuh!" Bayu menyodorkan kuenya pada Ki Sopo.
"Nanti saya buatin lagi, Ki. Saya tidak tahu kalau Ki Sopo juga suka makan kue kering. Kalau tahu, sekalian saya bawain juga." Tutur Maya.
"Hahaha... Sudah, sudah! Aku cuma menggoda Bayu, jangan dianggap serius. Tapi kalau mau buatin, ya nggak apa-apa! Tapi jangan yang berbentuk lope-lope gini, ya! Bisa-bisa nanti Mimi cemburu." Kelakar Ki Sopo.
"Ihh... Aki-aki ini percaya diri banget! Mana mungkin Maya lope-lope sama aki-aki!" Gerutu Bayu.
"Eit... Ki Sopo 'kan aki-aki ganteng. Ya 'kan Ki?" Maya malah berpihak pada Ki Sopo.
"Ahhh... Nggak ada yang belain aku nih?"
"Hush...! Sapa yang mau ngambil Maya? Masa sama bapak sendiri cemburu? Bapak 'kan gurunya Maya, wajar kalau Maya belain bapak!" Tegur Ki Sopo.
"Wajar ya, Pak? Kenapa malah godain Bayu? Bapak kaya nggak pernah muda!"
"Minta dicubit ya, May! Jangan bawa-bawa bapak kalau lagi bertengkar sama Bayu! Sana selesaikan berdua! Awas kalau godain bapak!" Tegur Nyi Yanti.
"Hahaha...🤭🤭🤭" Bayu puas melihat bapaknya diam setelah Nyi Yanti datang.
"Udah ahhh! Bapak sama Mimi jangan gangguin orang lagi kasmaran!" Bayu menggandeng Maya dan hendak mengajaknya ke halaman belakang.
"Bentar, Mas! Aku mau bicara sama Ki Sopo dulu."
"Maaf, Ki. Nanti saya minta waktu sebentar, ada hal penting yang ingin saya tanyakan pada Ki Sopo, mengenai kekuatan yang Ki Sopo bilang ada di dalam diri saya." Maya minta waktu untuk berbicara pada Ki Sopo.
"Baiklah, nanti habis latihan." Ki Sopo memberi waktu.
"Apa mungkin dia sudah menyadari kekuatannya? Apa mungkin dia cucu dari almarhum guruku?" Batin Ki Sopo.
"Ampun deh! Kamu lupa, Yu? Maya ke sini buat latihan sama Mimi." Nyi Yanti mengingatkan.
__ADS_1
"Ah, kasih 30 menit dulu buat Maya istirahat ya, Mi! Kan baru pulang sekolah. Makan dulu gitu! Belum sempat makan siang di luar tadi." Pinta Bayu.
"Ya udah, makan aja dulu! Biar Maya juga mencicipi masakan Mimi." Nyi Yanti tahu banget kalau Bayu lagi kasmaran dan ingin berdua-duaan dengan Maya.
"Tapi inget, kalian dalam pengawasan!" Tegas Nyi Yanti.
"Iya, Mi! Aku tahu, aku harus menjaga sayangku." Sahut Bayu membawa Maya ke ruang makan, sementara latihan ditunda.
"Kok malah melamun, Pak?" Tanya Nyi Yanti.
"Kamu lihat mereka berdua saling mencintai 'kan? Jadi sebaiknya bapak segera kasih restu agar mereka bisa secepatnya tunangan, nanti kita bertiga datang ke rumah Maya dan meminta baik-baik ke bapaknya Maya."
"Bapak tahu sendiri 'kan kalau Bayu susah mencintai? Lagipula Maya juga sudah sesuai kriteria menantu idamanku, jadi tidak ada hal yang bisa membuat kita menunda-nunda pertunangan mereka, daripada nanti keduluan orang lain. Maya 'kan cantik, banyak yang suka sama dia." Nyi Yanti ngomong panjang lebar, mempengaruhi suaminya agar segera memberi restu.
"Bayu kita juga ganteng, Mi. Gampang buat Bayu kalau mau mendapatkan wanita cantik." Sahut Ki sopo.
"Yang cantik, baik, dan berbakat seperti Maya nggak ada duanya, Pak. Apa kamu mau melukai perasaan anakmu sendiri? Kalau kamu hanya takut Bayu dan Maya pacaran kebablasan, kita tinggal mengawasi mereka dengan ketat, sediakan bodyguard Andrepati untuk mengawasi mereka berdua."
"Setelah pencapaian Bayu selama ini, apa kamu masih tidak percaya sama anakmu sendiri?" Akhirnya kata-kata pamungkas dikeluarkan juga.
"Aku percaya pada Bayu, Mi. Tapi terkadang cinta yang menggebu itu membuat anak-anak lupa diri." Ki Sopo menunjukkan kekhawatirannya.
"Kita beri mereka berdua kesempatan, kita sebagai orang tua yang mengawasi mereka, segera menegur mereka kalau mereka kelewat batas. Kita harus sering-sering mengingatkan mereka agar apa yang kita khawatirkan tidak terjadi. Biarkan mereka berjuang bersama untuk masa depan mereka."
"Bagaimana kalau aku kasih Bayu syarat untuk mendapatkan restuku?" Tiba-tiba muncul ide di benak Ki Sopo.
"Syarat apa, Pak? Jangan bikin Bayu merasa kita terlalu menuntut dan mempersulit." Nyi Yanti tidak suka.
"Jangan beranggapan kalau cuma kamu aja yang cinta sama anakmu! Aku juga mencintainya, hanya saja aku harus tetap bersikap tegas untuk kebaikan Bayu." Ucapan Ki Sopo pelan tapi menusuk juga.
"Aku hanya ingin memberinya syarat, kalau dia harus fokus mengurus Andrepati selama menunggu Maya lulus sekolah. Kalau mereka ingin menikah setelah Maya lulus, aku juga tidak akan melarang. Kalau Maya mau kuliah, biar kita yang membiayainya." Terang Ki Sopo.
"Serius, Pak?" Nyi Yanti kegirangan.
"Serius dong!" Ki Sopo bahagia melihat istrinya setuju dengan syaratnya.
Nyi Yanti langsung mencium pipi Ki Sopo. "Ini baru suami ku tercinta."
"Jangan cuma di pipi dong, Mi!" Tiba-tiba Ki Sopo jadi kumat manjanya.
"Ya udah, karena bapak sudah kasih lampu hijau buat Bayu dan Maya, entar malam dikasih full servis." Nyi Yanti senyum-senyum sendiri saking bahagianya. Ki Sopo pun memeluk istrinya dan mencium keningnya.
"Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk Bayu kita." Doa Ki Sopo.
...***...
__ADS_1
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕