
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
...***...
"Apa Mas Bayu tidak takut kalau masih ada sedikit rasa di hatiku untuk Mas Randy?" Sanggah Maya.
"Aku akan menghapusnya perlahan, aku yakin aku bisa mencintaimu dan memperlakukan mu lebih baik dari dia."
"Aku akan buktikan keseriusan ku."
"Tapi, aku... Aku tidak bisa jawab sekarang, Mas. Aku takut kalau malah menyakiti perasaan mu. Aku tidak mau menjadikan Mas Bayu sebagai pelarian karena kekecewaan dan kegagalan ku dengan Mas Randy. Aku perlu waktu untuk berdamai dengan perasaan ku sendiri dan masa lalu ku."
"Ini terlalu cepat bagiku. Maaf." Maya malah sedih sendiri karena merasa bersalah pada Bayu.
"Kamu tidak perlu minta maaf, aku yang salah karena tidak memikirkan perasaanmu."
Bayu melepaskan tangannya dari pundak Maya, Bayu berbalik mengedarkan pandangannya pada sawah di sekitar.
"Padahal aku bilang pada Bu Parmi kalau aku akan menerima apapun keputusan Maya. Tapi nyatanya hatiku sakit sekali." Bayu sedih dan kecewa pada dirinya sendiri yang terlalu tergesa-gesa.
Bayu ingin melangkah sedikit menjauh dari hadapan Maya, seakan butuh ruang untuk bernafas dengan baik, namun tiba-tiba tangan Maya menarik tangan Bayu seperti orang yang takut ditinggalkan.
"Sebenarnya aku juga menyukai Mas Bayu, tapi aku takut kalau Mas Bayu hanya kasian padaku seperti yang Mas Randy katakan. Aku takut Mas Bayu tidak bisa menerimaku karena aku bekas pacar Mas Randy. Aku takut untuk mencintai. Aku bukan siapa-siapa dibanding Mas Bayu." Air mata tak mampu dibendung lagi.
Bayu berbalik lalu mengusap air mata Maya. Kedua tangan Bayu menggenggam kedua tangan Maya, tanpa sengaja tangan Bayu menyentuh cincin yang Maya kenakan. Sepintas Maya mendapatkan bayangan, dia bersama Bayu sedang berjalan beriringan menggunakan baju pengantin.
"Kita ini sama, aku hanya manusia biasa. Saat aku jatuh cinta padamu aku tidak pernah berpikir kamu anak siapa dan seberapa banyak hartamu. Jangan menangis lagi! Aku hanya ingin membahagiakan kamu, bukan ingin membuat mu menangis. Aku sudah cukup senang setidaknya kamu menyukaiku juga."
Bayu memeluk Maya yang masih diam karena bayangan pernikahannya dengan Bayu.
"Itu hanya halusinasi ku atau apa? Kenapa tiba-tiba muncul bayangan pernikahan ku dengan Mas Bayu." Pikir Maya.
"Tapi bagaimana dengan Ki Sopo dan Nyi Yanti?" Masih khawatir.
"Senengnya kamu berpikir sampai sejauh itu, itu berarti sebenarnya kamu sudah cinta padaku karena kamu sampai berpikir apakah orang tuaku akan merestui atau tidak." Bayu tersenyum bahagia.
Maya memukul punggung Bayu karena Maya masih belum mau mengakui perasaannya sendiri.
"Bapak dan Mimi sudah merestui, bahkan beliau berdua lebih menyanyangi kamu. Bapak sangat marah karena aku mengambil muridnya yang berbakat." Bayu tidak menceritakan semua, padahal Ki Sopo marah karena Bayu ingin menikahi Maya.
__ADS_1
"Berarti Ki Sopo tidak merestui?" Maya kaget dan melepaskan diri dari pelukan Bayu.
"Bukan begitu! Bapak hanya ingin kamu fokus sekolah dulu, bapak nggak mau kalau keberadaan ku menganggu pendidikan mu." Terang Bayu.
"Aku tidak ingin berjanji tapi aku akan berusaha membuktikan bahwa keberadaan ku tidak akan menganggu pendidikan mu. Aku akan jadi calon suami yang manis, yang akan menunggu mu dengan sabar." Bayu tidak bisa menyembunyikan rona wajahnya yang bahagia.
"Calon suami?" Maya heran dibuatnya.
Bayu tidak menjawab dan justru mengalihkan pembicaraan.
"Pelan-pelan saja! Aku akan menunggu mu, aku akan menunggu sampai hatimu benar-benar menerima ku seutuhnya. Aku sayang kamu, May." Mencium puncak kepala Maya.
"Apa Mas Bayu akan pergi jika aku membuatmu lelah menunggu?" Rasa takut kehilangan mulai menghantui.
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan mu pergi, meskipun kamu meminta ku pergi! Aku juga tidak akan mengijinkan mu pergi dari ku! Aku akan mengikat mu, kamu harus tanggungjawab karena telah mencuri hatiku." Memeluk Maya lagi, jantungnya yang berdebar kencang tak mampu dia kuasai.
"Maya pasti mendengar debaran jantung ku, tapi biarlah... Biarlah dia tahu akan kesungguhan ku." Batin Bayu.
"Begini rasanya dicintai dengan tulus, tidak ada rasa khawatir atau was-was sama sekali." Batin Maya.
...***...
Bu Parmi heran kenapa ada mobil yang masuk ke halaman rumahnya, mobil yang bagus pula. Biasanya kalau bukan di hari raya lebaran, tidak akan ada mobil yang datang ke rumahnya. Bu Parmi pun bergegas keluar dari warung kecilnya untuk melihat siapa yang datang.
Nyi Yanti keluar dari mobil terlebih dahulu dan ia terkejut saat melihat Bu Parmi.
"Kamu Mimi 'kan?" Menunjuk Bu Parmi dengan mata berbinar dan senyum yang cerah.
"Mbak Miya? Iya, kamu Mbak Miya 'kan? Masih secantik dulu ya!" Bu Parmi segera menyalami Nyi Yanti dan lanjut cium pipi kanan cium pipi kiri.
Bayu heran kenapa miminya memanggil Bu Parmi dengan panggilan Mimi juga.
"Loh! Berarti Maya anak kamu dong, Mi! Pantesan cantik." Nyi Yanti heboh.
Bu Parmi melihat Bayu, "Loh, Nak Bayu!"
Bu Parmi melihat Nyi Yanti dan Bayu secara bergantian. "Jangan bilang kalau ternyata Bayu anakmu ya, Mbak?"
"Dia memang anakku, gimana? Ganteng kan?" Nyi Yanti membanggakan Bayu anaknya.
__ADS_1
"Iya, ganteng, 'kan ibunya cantik." Sahut Bu Parmi.
"Bentar deh, Mi! Mimi kenal sama Bu Parmi?" Bayu heran dengan kedua emak-emak yang mulai rempong kalau ketemu.
"Jangan sampai salah panggil ya, Yu. Ini Bu Parmi yang katanya calon ibu mertuamu, dulu dipanggilnya juga Mimi. Iya 'kan Mi?" Nyi Yanti menggandeng Bu Parmi.
"Iya, terus ibumu ini dulu dipanggilnya Miya. Bunga desa di kampung ibu dulu. Kami dulu tetanggaan." Jelas Bu Parmi.
"Bentar-bentar, apa maksudnya calon mertua, Mbak?" Bu Parmi bingung sekaligus khawatir, masa iya Bayu mau menikahi Maya yang baru 16 tahun, baru kelas 1 SMA juga.
"Jadi kami nggak disuruh duduk dulu nih!" Canda Nyi Yanti.
"Oh iya, jadi lupa! Mari silakan." Mengajak Nyi Yanti dan Bayu masuk.
"Duduk dulu, Mbak! Aku siapkan minum dulu." Beranjak ke dapur.
"Jangan repot-repot loh, Mi!" Ciri khas orang Jawa Tengah kalau sedang bertamu.
"Nggak kok, Mbak. Tunggu sebentar ya." Nyi Yanti meninggal Bayu dan Nyi Yanti di ruang tamu.
"Tenang, Yu! Pasti semuanya lancar, kan Mimi kenal sama ibunya Maya. Bisa kebetulan gini ya! Emang jodoh sih ini!" Ucapan Nyi Yanti bagaikan oase di padang gurun bagi hubungan Bayu dan Maya.
Bu Parmi datang dari dapur membawakan sedikit camilan dan minuman untuk Bayu dan ibunya.
"Maaf nih, maksud kedatangan Nak Bayu apa ya? Kok sampai membawa ibunya kesini?" Bu Parmi terlihat gelisah.
"Tenang, Mi! Aku kesini bukan untuk mengambil putri mu yang cantik itu. Aku juga tahu dia masih sekolah, jadi jangan khawatir ya! Santai saja!" Nyi Yanti menenangkan Bu Parmi.
"Maksud kedatangan ku ke sini untuk meminta kamu dan suamimu untuk menjodohkan Maya dengan Bayu. Tapi jangan khawatir! Bayu bersedia menunggu Maya sampai lulus sekolah. Kalau pun nanti setelah lulus sekolah Maya ingin kuliah, itu tidak jadi masalah, 'kan kalau kuliah boleh punya suami, tidak harus single." Tutur Nyi Yanti panjang lebar.
"Tapi Mbak! Kenapa harus jodoh-jodohan? Kesannya kok kaya dipaksa ya! Aku tidak mau memaksa Maya, apalagi dia masih SMA, baru kelas 1 pula. Takutnya malah justru menganggu sekolahnya." Bu Parmi tidak setuju dengan rencana perjodohan yang Nyi Yanti usulkan.
Deg... Deg... Deg...
"Bukannya kemarin-kemarin Bu Parmi dan Pak Margono seperti memberiku restu untuk menjaga dan mencintai Maya, tapi kenapa sekarang seperti ini?" Kegelisahan menyergap hati Bayu, raut kekecewaan jelas terlihat di wajah tampannya.
"Sebaiknya biarkan anak-anak yang memutuskan, Mbak. Bukankah Nak Bayu sendiri yang bilang akan menerima apapun keputusan Maya! Kenapa sekarang Nak Bayu terkesan buru-buru?"
...***...
__ADS_1
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕