
Semenjak pertemuan di hari minggu itu, Maya dan Randy belum bertemu kembali. Maya memberi ruang agar Randy memikirkan apa yang telah dia katakan. Sepulang sekolah Maya langsung menuju ke perguruan Macan Emas, kebetulan hari ini jam 15.30 dia baru pulang sekolah karena ada kegiatan OSIS. Hari Selasa yang cukup menyibukkan bagi Maya, tapi dia tetap datang ke perguruan untuk berlatih. Hari ini waktunya latihan bersama murid lain.
Maya datang agak terlambat dan dia tidak tahu ada hal lain yang sedang mengintainya. Fira sengaja menyuruh temannya untuk pura-pura menabrak Maya dan menjatuhkan sebuah surat. Maya yang datang dengan tergesa-gesa menjadi kurang fokus.
Brukkk… Teman Fira bernama Wanti menabrak Maya. "Sorry, nggak sengaja!"
Fira yang di belakang Wanti langsung berteriak dan membuat keadaan heboh. "Eh… Surat apa itu? Kok warnanya merah jambu?"
Sontak beberapa murid yang berada di dekat situ ikut memperhatikan. "Eh, iya… Itu ada surat warna merah jambu, sepertinya Maya atau Wanti yang menjatuhkan."
"Tapi kan Wanti nggak bawa tas, mungkin jatuh dari tas Maya." Imbuh murid yang lain.
"Wah jangan-jangan surat cinta nih? Cie… Maya…!" Murid-murid yang lain mulai menggoda Maya.
Fira langsung mengambil surat itu dan membacanya keras-keras. "To Mas Bayu."
"Wow… Buat Mas Bayu nih." Teriak Fira.
Bayu yang mendengar namanya disebut langsung ikut memperhatikan. Melihat Fira yang hendak membuka surat itu, Bayu segera merebutnya. "Katanya buat Bayu, kenapa kamu hendak membukanya? Apa namamu Bayu?"
Fira kaget saat Bayu merampas surat yang di tangannya. "Aku hanya penasaran, Mas, maaf."
"Meskipun penasaran, bukan hak mu untuk membacanya!" Bayu memarahi Fira.
"Sial, malah aku kena marah Mas Bayu, liat aja reaksinya habis baca surat itu gimana, pasti dia akan membenci Maya." Fira mulai tertawa sinis di dalam hati. Klasik memang, tapi surat cinta memiliki tempat tersendiri bagi seorang pecinta yang romantis.
Dear, Mas Bayu...
I love you so much. Love you a hundred times in a moment. If you leave me and go, I’ll wait for death. I’ve left the world for you, my breath stops at you only. How much I love you, you can’t even think.
This world is nothing, if you are there, there is life in it. Now where else do I have to go? You are my last journey.
It’s not possible to live without you, don’t ever keep me distant from you. How much I love you? You can’t even think.
This is the wish of my eyes, that they don’t stop looking at you. In my sleep, there are twists and turns of your dreams only.
All the paths of the world take me towards you only. How much I love you, you can’t even think.
❤ Maya.
Bayu membaca surat itu dan kaget saat mengetahui bahwa Maya yang menulisnya.
Maya yang merasakan ada hal yang janggal segera berpikir keras untuk membuktikan surat itu bukan jatuh dari tasnya. "Oh iya, aku kan baru dari sekolah, di tas masih ada buku pelajaran dan catatan."
Maya membuka tasnya lalu mengambil sebuah buku catatan secara asal. "Oh, iya Mas Bayu, kata Nyi Yanti Mas Bayu jurusan hukum ya? Aku tadi dapat tugas sekolah yang agak sulit tentang hukum dan ingin bertanya padamu. Apa boleh?"
"Ini aku bawa catatannya." Maya langsung mendekati Bayu dan membuka buku catatannya.
__ADS_1
"Ini loh, Mas! Coba lihat dan baca tulisannya, bener nggak tulisanku ini?" Maya berlagak sedang bertanya pada Bayu.
"Yang mana? Ini kan!" Bayu hendak membantah karena itu hanya catatan Maya, bukan tugas.
"Aduh, Mas, lihat baik-baik dong! Itu bener nggak tulisanku?"
"Jangan-jangan salah semua ya? Emang sulit sih!" Maya memberi kode.
Bayu mencermati tulisan di buku Maya dan membuka lagi surat itu. Alih-alih mengatakan surat itu bukan dari Maya, Bayu justru berakting. "Nggak usah malu! Aku seneng kok dapat surat yang cinta dari kamu, aku nggak marah. Belum pernah ada yang menulis surat cinta seperti ini padaku."
"Ayok ketemu sama Bapak sama Mimi, pasti beliau senang sekali karena aku sudah nggak jomblo." Bayu menarik Maya dan membawanya menuju ke dalam rumah di samping padepokan.
"Tapi, Mas? Itu bukan aku!" Maya hendak membantah.
"Udah jangan malu, suratnya bagus kok, aku suka. Pasti Bapak sama Mimi juga setuju aku punya pacar dari adik seperguruan." Bayu memberi kode pada Maya agar nurut. Semua heran kenapa Bayu yang biasanya marah-marah saat ada yang mencoba mendekatinya, kini malah gembira karena dapat surat cinta.
"Tunggu, Mas Bayu!" Cegah Fira.
"Kenapa Fir?" Bayu menoleh, sedangkan tangannya masih menggenggam tangan Maya.
"Mas Bayu suka dengan Maya atau suka dengan surat cintanya?" Fira panik karena tidak menyangka Bayu akan bersikap seperti itu.
"Aku menerima surat cinta ini karena aku suka isinya." Sahut Bayu.
"Kalau yang buat bukan Maya, apa Mas Bayu masih suka?"
"Sama aja, reaksiku akan sama aja. Aku tetap suka dengan surat cinta ini. Aku tidak marah, justru aku senang." Bayu sengaja menjebak Fira, karena dia tahu itu bukan tulisan Maya. Baya menyadari kode yang diberikan Maya saat memperlihatkan buku catatannya tadi.
"Itu... Bukan Maya yang menulis surat itu, tapi aku. Jadi Mas Bayu jangan salah menilai." Fira yang panik malah lupa kalau dia sudah menulis nama Maya di surat itu.
"Nggak kok! Aku nggak salah menilai, aku suka surat cintanya, tapi jelas di sini tertulis nama Maya bukan nama kamu. Jadi kamu jangan mengada-ada." Bayu hendak pergi membawa Maya, namun Fira yang panik mencegahnya.
"Mas, maaf, tapi itu yang nulis benar-benar aku, bukan Maya. Aku tidak tahu kalau kamu akan menyukainya, jadi aku memalsukan namanya karena takut." Fira keceplosan dan menutup mulutnya.
"Mak-maksudku... " Fira tidak dapat menjelaskan lagi karena semua murid menatapnya kesal.
"Yang lain latihan lagi sama Dewi dan Angga ya! Aku mau membantu Maya mengerjakan tugas sebentar." Titah Bayu pada murid-murid yang lain.
"Siap, Mas." Serentak menjawab.
Bayu meninggalkan Fira tanpa sepatah kata dan yang lain pun pergi meninggalkan Fira dan Wanti.
"Sial, kenapa Mas Bayu malah pergi sama Maya? Awas aja kamu Maya! Aku akan buat perhitungan denganmu!" Fira masih terus mendendam pada Maya.
"Mas Bayu, lepasin tanganku!" Maya ingin melepaskan tangannya dari genggaman Bayu, tapi ternyata susah juga.
"Mas, nanti tanganku sakit, aku laporin ke Mimi loh!" Maya mengancam akan mengadu.
__ADS_1
"Laporin aja, paling kamu yang dicap lemah. Salah sendiri nggak langsung bilang kalau itu bukan tulisan kamu! Malah pakai kode-kode segala." Bayu memarahi Maya.
"Akting mu tadi bagus loh, Mas! Tapi, udah ya aktingnya, cepet lepasin tanganku!" Bayu belum mau melepaskan.
"Mimi, Mas Bayu jahat sama aku, Mimi." Maya berakting mengadu pada Nyi Yanti.
"Bayuuu! Kamu apain muridku? Kenapa kalian seperti kakak adik yang sedang bertengkar?" Tiba-tiba Ki Sopo datang menegur.
"Pak, mereka bukan kakak adik yang sedang bertengkar, tapi sepasang kekasih yang bertengkar. Aku dengar tadi ada yang nulis surat cinta terus diterima." Nyi Yanti mulai menggoda Bayu dan Maya.
"Nggak!" Teriak Bayu dan Maya serentak.
"Liat, Pak! Mereka pasangan yang kompak kan? Hahaha..." Nyi Yanti malah tertawa.
"Terus kalau nggak, apa dong? Jangan malu-malu dong! Bapak sama Mimi pasti setuju kok, iya kan Bayu?" Nyi Yanti sengaja banget menggoda Bayu.
"Aku akan menerimanya jika Maya yang menulis surat itu, tapi nyatanya yang menulis bukan Maya." Dalam hati Bayu dia merasa kecewa.
"Udah ahh, Mi! Tadi itu hanya Fira yang membuat keributan, yang nulis surat juga Fira, bukan Maya." Jelas ada rasa kecewa yang nampak di wajah Bayu, dia langsung melepaskan tangan Maya yang sedari tadi masih dia pegang.
"Kenapa aku jadi sedih melihat Mas Bayu kecewa, ya?" Ucap Maya dalam hati.
"Ya sudah, latihan sana! Keburu malem. Itu adikmu diajarin dulu ya, Bay!" Titah Ki Sopo.
"Ki, aku nggak mau jadi adik Mas Bayu!" Protes Maya.
"Loh kenapa? Kan cuma adik seperguruan, kalau mau pacaran masih boleh. Iya kan, Mi?" Ki Sopo malah ikut bercanda dan Nyi Yanti tersenyum tiada henti.
"Aaah... Bukan begitu, Ki! Maya nggak mau pacaran sama Mas Bayu yang galak dan dingin." Maya merasa dia semakin akrab dengan kedua gurunya itu, padahal belum lama kenal, rasanya seperti familiar.
"Sapa juga yang mau pacaran sama anak kecil kaya kamu! Galak dan sombong, sok-sokan nggak butuh bantuan." Jleb kata-kata Bayu mengingatkan dia akan pembicaraannya dengan Nyi Yanti waktu itu.
"Maaf, Mas, bukan maksud ngata-ngatain Mas Bayu galak. Tapi emang galak sih sama murid yang lain juga." Maya nggak sadar ngatain Bayu lagi, membuat Bayu gemas dan mengacak-acak rambut Maya.
"Mas, Bayuuu...! Rambut ku berantakan!" Maya ngegas lagi.
"Tadi minta maaf, sekarang ngegas lagi. Mau mu apa sih?" Bayu gemas sekali dengan tingkah Maya, entah karena dia merindukan sosok saudara atau karena dia memang makin suka dengan Maya.
"Kami tinggal, selesaikan masalah kalian sendiri! Pacaran kok bawa-bawa orang tua. Kita disuruh jadi obat nyamuk ya, Pak?" Nyi Yanti mengajak Ki Sopo pergi sambil tertawa bahagia.
"Mimi... " Bayu gemas dengan Miminya yang jadi tukang kompor.
...***...
Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…
Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕
__ADS_1