CEO Tampanku Ahli Silat

CEO Tampanku Ahli Silat
Part 66 Restu CaMer


__ADS_3

Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih šŸ˜˜šŸ’•


...***...


Breeem… Breem… Breeem…


Jam 06.00 pagi sudah terdengar suara motor gede milik Bayu di depan rumah Maya. Kali ini Bu Parmi sudah tidak kaget lagi, beliau pun sudah tahu itu adalah Bayu Soponyono. Semalam saat mengantar pulang Maya, Bayu sudah minta ijin untuk mengantar jemput Maya sementara waktu karena masih khawatir jika ada yang ingin menyerang Maya lagi. Orang tua mana yang akan menolak jika anaknya mendapatkan perhatian dan perlindungan secara langsung dari Bayu Soponyono, sang calon CEO Muda Andrepati dan calon ketua Perguruan Macan Emas.


Pak Margono ayah Maya pun sudah tahu dan sudah bertemu serta ngobrol dengan Bayu tadi malam. Bayu pun tidak sekedar berjanji, namun juga membuktikan dengan tindakan nyata, keluarga Maya sekarang dalam perlindungan Andrepati. Meskipun tidak terlihat, Bayu telah menempatkan beberapa bodyguard yang disusupkan ke tempat kerja Pak Margono dan menyamar sebagai karyawan di sana. Bahkan kini rumah Maya dalam pengawasan bodyguard Andrepati, full time 24 jam pasti ada yang bergantian jaga.


Bayu totalitas ingin melindungi kedua calon mertuanya (Mas Bayu ngarep banget sih!). Bayu pun telah menyiapkan satu rencana agar melancarkan jalannya untuk mengikat Maya di sisinya, namun sebelum rencana itu dia lakukan, dia harus memastikan dulu perasaan Maya padanya. Yang pasti menggaet hati calon mertua sudah dapat ia lakukan dan berhasil.


"Pagi, Nak Bayu… Pagi-pagi sudah sampai sini, sudah sarapan belum?" Bu Parmi keluar dan menyambut kedatangan Bayu.


"Kalau belum, ayok sarapan bareng Maya!" Ajak Bu Parmi.


"Boleh ikut sarapan, Bu?" Bayu sok akrab banget panggil Bu, serasa udah jadi menantu saja.


"Boleh dong! Kan Nak Bayu sudah bantuin jagain Maya, ngantar jemput sekolah juga! Kami sangat berterima kasih karena Nak Bayu, kami tidak merasa khawatir lagi akan keselamatan Maya." Bu Parmi menerima uluran tangan Bayu yang hendak salim dan cium tangan.


"Ya ampun! Mimpi apa ya semalam? Disalimin sama anaknya Ki Soponyono." Dalam hati Bu Parmi kagum pada sikap Bayu, pasalnya Bayu tidak bersikap sombong meskipun dia anak orang kaya dan berkuasa.


"Betapa beruntungnya Maya bisa menjadi murid Perguruan Macan Emas. Padahal sebelumnya dia sempat sedikit kendur sekolahnya karena pacaran sama Randy. Bahkan kami takut karena status sosial kami terlalu timpang, takut jika Randy hanya mempermainkan Maya dan ternyata benar apa yang kami takutkan." Bu Parmi malah curhat sama Bayu, entah mengapa dia merasa nyaman dan cocok sama Bayu, padahal Bayu dan Randy sama-sama anak orang kaya.


"Tenang aja, Bu! Sekarang ada saya, Andrepati dan Macan Emas yang akan melindungi Maya. Jadi Ibu tidak perlu khawatir lagi!" Sahut Bayu penuh semangat.


"Apa Nak Bayu menyukai Maya?" Tembak Bu Parmi, sebagai seorang ibu jelas Bu Parmi dapat melihatnya.

__ADS_1


"Jujur saja saya menyukai Maya, Bu, saya sudah jatuh cinta padanya. Tapi ibu tenang saja! Saya tidak akan memaksa Maya menerima cinta saya karena rasa sungkan. Saat ini saya hanya ingin melindungi Maya saja! Maya juga belum tahu kalau saya menyukai dia. Saya tidak ingin menganggu pendidikan Maya."


Bayu menjawab dengan jujur, meskipun agak sedikit takut kalau karena kejujurannya justru membuat Bu Parmi akan melarangnya berada di dekat Maya.


"Jujur saja ibu takut karena status sosial Nak Bayu dan Maya terlalu timpang, ibu takut orang tua Nak Bayu tidak akan suka dengan apa yang Nak Bayu lakukan. Ibu takut jika semua ini malah menyakiti hati Maya, putri ibu satu-satunya." Bu Parmi mengungkapkan kekhawatirannya.


"Saya tahu kekhawatiran, Ibu. Tapi saya juga perlu menjelaskan, bahwa saya sudah minta restu dari ibu saya saat saya jatuh cinta pada Maya. Kedua orang tua saya tidak melarang kalau saya menyukai Maya, tapi bapak saya marah karena saya seperti menganggu Maya yang masa depannya masih panjang. Maka dari itu, saat ini saya hanya ingin melindungi Maya saja, Bu. Terlepas, apakah nanti Maya akan menerima cinta saya atau tidak, saya akan terima dengan ikhlas. Saya sudah 22 tahun dan Maya sekarang baru 15 tahun, jarak kami 7 tahun."


Deg… Deg… Deg… Jantung Bayu berdetak dengan cepat.


"Serasa lagi lamaran aja nih!" Batin Bayu.


"Sepertinya hati Maya masih terluka, butuh waktu untuk menyembuhkannya. Nak Bayu harap bersabar ya! Ibu sih percaya sama Nak Bayu. Tapi Nak Bayu jangan sampai melupakan tugas dan tanggungjawab utamanya di kuliah maupun di pekerjaan Nak Bayu. Ibu tidak mau kalau keberadaan Maya justru menganggu." Memang tidak ada alasan bagi Bu Parmi untuk tidak memberikan kesempatan pada Bayu.


"Yes, lampu hijau, tinggal nunggu restu dari calon bapak mertua nih." Hati Bayu bersorak-sorai.


"Tapi yang jelas rasa cinta itu harus dijaga dan dirawat jangan sampai luntur termakan waktu!" Imbuh Bu Parmi.


Bu Parmi melihat Maya ke luar dan sudah siap sekolah. "Maya sudah keluar, Ibu harap kamu tidak mengecewakan kami."


"Loh! Mas Bayu sudah sampai?" Maya heran melihat ibunya dan Bayu yang tiba-tiba terdiam, padahal sebelumnya terlihat sedang mengobrol.


"Iya, May. Tadi Ibu ngajak sarapan, tapi sepertinya tidak cukup waktu, sebaiknya aku langsung mengantar kamu aja, takutnya telat nanti!" Gagal deh sarapan bareng kedua calon mertua nih.


"Iya, sih! Udah jam 6.20. Mas Bayu datangnya kurang pagi sih! Masakan ibu enak loh! Tapi awas aja kalau entar ketagihan dan sarapan di sini terus!" Canda Maya.


"Boleh aja kalau mau sarapan di sini terus, masa udah nganterin anak ibu tapi tidak dikasih apa-apa!" Sahut Bu Parmi.

__ADS_1


"Tuh Ibu mu aja boleh, May! Rasain ya sekarang! Ibu mu bakal lebih sayang sama aku, sama kaya Mimi yang lebih sayang sama kamu." Ledek Bayu.


"Cubit nih?" Maya sudah siap-siap melayangkan cubitan ke arah lengan Bayu.


"Aduh-aduh! Berangkat sana! Kenapa malah bercanda mulu?" Sahut Pak Margono.


Bayu langsung salim dan cium tangan Pak Margono. Sontak pemandangan itu membuat Maya terpesona, sungguh tidak menyangka kalau Bayu begitu menghormati orang tuanya.


"Jangan bengong, May! Naksir ya?" Lirih Bu Parmi sambil menyenggol bahu Maya.


"Ihhh! Ibu apaan sih?" Lirih Maya gusar karena ketahuan memperhatikan Bayu.


"Ya udah, Maya pamit ya, Pak, Bu." Maya pun pamitan, salim dan cium tangan kedua orang tuanya.


"Sepertinya Bayu suka sama Maya ya, Bu?" Ucap Pak Margono yang melihat kepergian Maya dan Bayu.


"Iya, Pak. Tadi ibu sudah ngobrol banyak sama Bayu. Ibu sih percaya sama Bayu, kalau bapak gimana?" Minta pendapat sang suami.


"Tidak ada rasa khawatir dan was-was saat melihat Maya dan Bayu. Sepertinya tidak masalah jika Maya bersama Bayu, tapi itu terserah Maya nanti bagaimana." Pak Margono mengungkapan pendapatnya.


"Bayu saat ini hanya fokus melindungi Maya dan menjaga keselamatan Maya, Pak, yang terpenting sekarang pendidikan Maya dulu. Kalau jodoh pasti tidak akan kemana." Sahut Bu Parmi.


Bayu memang sudah menjelaskan pada Bu Parmi dan Pak Margono mengenai kasus Randy, bagaimanapun juga sebagai orang tua Maya mereka harus tahu kenyataannya.


"Kalau mereka saling suka dan saling cinta, kita wajib memberi restu. Kesempatan mendapat calon mantu yang sebaik dia tidak akan ada untuk kedua kalinya."


Pak Margono dan Bu Parmi sepakat untuk merestui Bayu dan Maya.

__ADS_1


...***...


Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih šŸ˜˜šŸ’•


__ADS_2