
Please jangan jadi silent reader ya kak🙏🏼
Jangan lupa like komen favorit dan votenya. Terima kasih 😘💕
...***...
"Aku pamit duluan ya! Aku sudah ditunggu seniorku." Pamit Maya.
"Okay, hati-hati ya!" Ratih merasa lega, padahal dia sudah takut kalau Maya tidak percaya padanya.
"Kamu mungkin nggak ingat pernah menolong ku, May. Tapi aku masih ingat kamu pernah menolong ku dulu waktu SMP. Sekarang aku hanya berusaha membalas kebaikan mu." Gumam Ratih.
"Kalau dulu nggak ada kamu, pasti sekarang aku masih menjadi orang yang penakut. Aku masih ingat saat kamu menolong ku dari teman-teman cewek yang mem-bully ku sepulang sekolah. Saat itu kita baru SMP kelas 1, mungkin kamu lupa karena kita beda sekolah dan tidak pernah bertemu lagi." Ratih mengingat kejadian waktu dia dibully kakak kelasnya, Maya yang dulu baru kelas 1 SMP memang begitu energik dan pemberani, namun kini sedikit berbeda semenjak dekat dengan Priska.
Maya sudah pergi duluan, dia buru-buru ke parkiran dan mengambil baju ganti di jok motornya lalu pergi ke toilet untuk segera menukar seragamnya dengan baju bebas.
Perlahan Maya mengendarai motornya ke luar sekolah, ban belakang motornya sedikit kempes tapi Maya tidak memperhatikannya. Baru jarak 1 km dari sekolah Maya merasa ada yang tidak beres dengan motornya. Motornya mulai sedikit meliuk-liuk karena ban belakang telah menjadi 100 % kempes. Maya mengurangi kecepatan motornya lalu berhenti menepi di pinggir jalan.
"Ya ampun ban-nya bocor! Pantas saja tidak nyaman jalannya." Maya mulai turun dari motornya dan mengecek kenapa ban-nya bisa kempes.
"Nggak keliatan kena paku atau apa. Tambal ban deket sini juga nggak ada! Seingat ku masih agak jauh di depan sana. Bisa telat kalau begini." Gumam Maya.
Tiba-tiba ada motor yang menepi mendekati Maya. "Maya, kok kamu berhenti disini?"
"Eh Kak Marco! Ban motorku kempes, Kak. Padahal ada janji ketemu orang, bisa telat ini." Ternyata Marco yang datang.
"Gimana kalau aku anterin kamu aja? Biar nggak telat." Marco mengambil kesempatan untuk lebih dekat dengan Maya.
"Ya nggak bisa dong, Kak! Masa motor ku ditinggal sini? Biarin aja telat, aku bisa ngabarin orangnya dulu." Maya menolak tawaran Marco, karena tidak mungkin dia meninggalkan motornya.
Marco tidak menjawab, ia justru mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. "Pak, tolong ke jalan dekat sekolah ya! Ini motor temen ku bocor, tolong bapak yang bawa motornya ke bengkel, saya mau anterin temen saya."
"Baik, Mas, bapak akan segera ke sana." Jawab salah satu bawahan ayah Marco.
"Aku tidak menyuruhmu meninggalkan motormu di sini. Bentar lagi karyawan bengkel ayahku ke sini, dia yang akan bawa motor kamu ke bengkel."
"Tenang aja! Bengkelnya nggak jauh kok dari sini." Marco tahu apa yang dikhawatirkan Maya.
"Serius, Kak?"
"Iya, serius. Nanti kalau sudah jadi motornya, biar diantar nyusul kita." Jelas Marco.
"Kak Marco nggak sibuk? Nggak ada kegiatan lain? Aku naik ojek aja deh!" Maya tidak mau merepotkan orang lain.
"Kamu takut ketahuan Randy?" Raut wajah Marco jadi masam karena Maya seperti selalu ingin menolak dan jauh darinya.
"Aku cuma nggak mau ngerepotin Kak Marco." Sahut Maya, jelas terlihat muka masam Marco yang kesal saat mengucapkan nama Randy.
"Aku punya firasat kalau sebenarnya Randy tidak benar-benar berubah. Maya, bagaimana aku mengatakan padamu kalau Randy benar-benar berniat jahat padamu. Bahkan Priska teman dekatmu yang menyuruh Randy memacari kamu dan ingin menghancurkan perasaanmu." Marco terdiam, pikirannya mengembara. Dia teringat perjanjian Randy dan anggota geng Don Juan lainnya.
"Aku sangat yakin, pasti Ferdy dan Bobby tidak akan menyerah begitu saja." Marco masih tenggelam dalam pikirannya.
"Kak Marco? Kok melamun sih?" Maya memegang lengan Marco dan menguncang-nya hingga membuyarkan lamunan Marco.
"Kalau tidak mau diantar tidak apa-apa, aku tidak memaksa. Nanti aku kasih alamat bengkelnya kalau kamu mau ambil motor mu." Marco mengalah.
"Itu mereka sudah datang." Dua karyawan bengkel milik ayah Marco sudah sampai hanya dalam waktu 5 menit.
__ADS_1
"Tolong ya, Pak." Pinta Marco.
"Kak Marco sopan juga sama karyawan ayahnya." Batin Maya.
Maya langsung mendekat ke arah Marco. "Ayo, Kak! Katanya mau nganterin?"
"Kamu nggak takut kalau Randy melihatmu berboncengan dengan ku?" Marco justru heran ternyata Maya mau membonceng.
"Buat apa takut, kan ada Kak Marco yang akan menjelaskannya pada Mas Randy." Maya memang tidak takut lagi, dia tidak mau seperti dulu yang selalu dikekang oleh Randy.
"Aku sudah tidak mencintainya seperti dulu lagi. Bahkan aku tidak takut jika dia melihatku lalu cemburu dan minta putus. Justru itu yang aku inginkan, putus dari Mas Randy. Maaf Kak Marco, aku justru memanfaatkan kamu." Ucap Maya dalam hati.
"Kita mau kemana, May?" Tanya abang ojek, eh Marco bukan tukang ojek.
"Ke kafe Ngopi Santai, Kak." Sahut Maya.
"Mau ngapain ke sana? Kencan?" Marco penasaran.
"Bukanlah! Mau bertemu dengan mantan senior di perguruan Macan Emas. Mau menyelesaikan masalah." Tanpa sadar Maya justru cerita.
"Masalah apa? Apa kamu baik-baik saja?" Marco jadi khawatir.
"Aku nggak apa-apa, Kak, di perguruan Macan Emas ada yang melindungi aku." Maya tersenyum saat wajah Bayu yang tersenyum melintas begitu saja di benaknya.
"Aku akan menunggu mu sampai selesai, daripada kamu naik ojek sebelum motormu diantar." Marco langsung inisiatif.
"Tapi kalau lama gimana, Kak? Terus Kak Marco mau ikut aku ketemu temanku? Padahal niatku cuma mau bicara empat mata."
"Bawel banget, ketemunya kan di kafe! Entar aku duduk di meja terpisah." Marco tidak mau mundur.
"Hahaha... Iya, emang kenapa? Dari tadi kan emang kamu banyak omong. Kesannya kaya nggak mau banget deket sama aku." Marco to the point.
"Ih... Baper banget sih, Kak? Aku cuma nggak mau ngerepotin aja. Kalau Kak Marco mau nungguin ya nggak apa-apa. Tapi Kak Marco siap 'kan kalau tiba-tiba diinterogasi Mas Randy? Jangan bilang kalau kakak takut ya!" Maya tertawa.
"Gini-gini aku juga belajar silat, May! Tapi kita beda perguruan." Marco mengatakan apa yang tidak diketahui orang banyak.
"Maksudnya Kak Marco juga bisa silat? Apa Mas Randy juga bisa?" Maya kaget, selama ini dia tidak mengira kalau anggota geng Don Juan juga belajar silat.
"Kami belajar silat waktu ekskul di kelas satu saja. Setelah itu tidak ikut berlatih lagi. Randy yang paling kuat diantara kami berlima."
"Aku diam-diam berlatih lagi di perguruan Mawar Hitam, aku juga sudah tahu kasus yang menimpamu. Aku baru mendengar kasus mu kemarin, sebelumnya aku sempat absen latihan karena banyak tugas di kelas 3 ini. Bersyukur masalahnya sudah selesai."
"Iya, Kak. Masalahnya sudah selesai, tapi sepertinya menyisakan dendam. Sekarang aku ke kafe juga untuk menyelesaikan masalah dendam itu. Aku tidak takut, tapi aku ingin sekali membuatnya sadar dan kembali ke jalan yang benar." Maya nampak sedikit gelisah, takut jika apa yang dia rencanakan akan gagal.
"Berarti sekarang kamu mau bertemu dengan orang yang telah memfitnah mu?" Marco kaget.
"Iya, Kak. Aku berharap dia masih mau berubah." Terdengar suara Maya sedikit meragu.
"Aku akan mendukung mu, aku juga akan mengawasi mu di sana. Jadi tenang saja! Kalau ada apa-apa, ada aku yang akan melindungi kamu." Ucapan Marco menyejukkan hati Maya.
"Apa aku boleh menganggap Kak Marco sebagai kakak laki-laki ku?"
Duuuaaar....
Hancur hati Marco mendengar permintaan Maya. Bagaimana hatinya tidak hancur, sebenarnya dia berharap bisa menjadi kekasih Maya.
"Bagaimana kalau aku melihat mu sebagai seorang wanita, bukan seorang adik?" Marco memberanikan diri.
__ADS_1
...***...
Author kasih bonus edisi lebaran.
Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕
Apakah Maya akan melihat Marco sebagai seorang pria? Atau hanya akan melihatnya sebagai seorang kakak saja?
Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…
Marco pakai jas biru, Randy pakai dasi kupu-kupu, dan pujaan hati author 🤭😊✌🏻 Mas Bayu ganteng yang fotonya paling besar. Kalau kalian pilih siapa? Jawab di kolom komentar ya, biar greget dan author jadi semangat nulis.
Nama: Marco Aji Permadi
Panggilan: Marco
Tinggi badan: 187 cm
Zodiak: Sagitarius
Golongan darah: O
Nama: Randy Prasetyo Wibowo
Panggilan: Randy
Tinggi badan: 184 cm
Zodiak: Libra
Golongan darah: AB
Nama: Bayu Soponyono
Panggilan: Bayu
Tinggi badan: 180 cm
Zodiak: Virgo
Golongan darah: AB
Meskipun dari mereka bertiga Mas Bayu paling pendek, tapi kan selisihnya cuma dikit dan 180 cm itu udah tinggi banget kan? author aja cuma 153 cm 🤣😂
Nama: Maya Sari Hadi Suwarno
Panggilan: Maya
Tinggi badan: 168 cm
Zodiak: Gemini
Golongan darah: AB
__ADS_1