
Hari pertama latihan dengan Nyi Yanti berjalan lancar dan Maya berhasil menjadi murid Ki Sopo. Nyi Yanti menyuruh Maya pulang lebih awal, ia hanya latihan selama 1 jam saja. Jam 16.30 Maya sudah selesai latihan dan langsung pulang ke rumah, dia pun segera mandi karena gerah sehabis latihan. Selesai mandi ponsel Mya berbunyi, ada pesan dari Randy.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu. Ketemuan di taman, yuk! Kalau nggak mau aku ngambek nih!" Bunyi pesan Randy pada Maya. Sibuk latihan membuat Maya benar-benar semakin jauh dari Randy. Seorang Don Juan pemain cinta tentu tidak kekurangan wanita di sisinya, bagi Randy wanita tidak cuma Maya dan Priska. Meski begitu tetap saja Randy merasa kangen dan ingin bertemu dengan Maya.
Maya segera membalas pesan dari Randy. "Tapi ini kan sudah sore, Mas, besok kan bisa ketemu di sekolah."
"Di sekolah kamu selalu sibuk, sayang! Padahal aku kangen banget sama kamu. Apa kamu nggak kangen aku?" Randy membujuk Maya untuk bertemu.
"Tapi sebentar saja ya! Sebelum jam 19.00 aku harus sudah sampai rumah, PR ku banyak yang belum aku kerjakan, Mas Randy nggak mau kan kalau aku dihukum karena belum kerjain PR?" Maya nego dulu dengan Randy karena dia tidak mau berduaan lama-lama dengan Randy, salah-salah dia oleng dan terjebak oleh kelembutan Randy. Seorang Don Juan memang ahli menaklukkan wanita.
"Okay, jam 17.30 kita bertemu di taman. Love you Maya…"
"Love you too, Mas Randy." Maya terpaksa menjawab.
"Huh! Kenapa mesti mengajak ketemu sore-sore begini sih? Aku kan males, aku takut terlena lagi. Bagaimanapun dia pacar pertamaku, masih ada sedikit rasa suka." Maya mengedumel di kamarnya.
"Okay, aku akan pakai pakaian tertutup aja deh! Pakai coat ala-ala Jepang, China and Korea, kalau ditanyain bilang aja kalau biar nggak dingin pas pulang." Maya menyusun alasan agar tidak bingung jika ditanya oleh Randy nantinya.
"Oh iya, dalamnya pakai kaos aja, nggak boleh pakai yang ada kancingnya, bisa-bisa tangannya yang nakal itu menyusup masuk dan membuatku hilang kesadaran. Bagaimanapun juga aku ini wanita normal, hahaha…" Maya mentertawakan dirinya sendiri.
Maya segera berangkat setelah selesai bersiap-siap, tidak lupa mengaca lagi memastikan dia sudah tampil cantik tanpa make up yang mencolok. Maya pun berpamitan pada ibunya kalau dia mau ke taman kota sebentar bertemu teman, ia pun berjanji sebelum jam 19.30 sudah sampai rumah lagi.
Maya mengendarai sepeda motornya menuju taman, pasti Randy sudah menunggunya terlebih dahulu. Randy mengirim pesan lagi pada Maya, ia akan menunggu di dekat pintu masuk sebelah utara. Maya ingat betul pintu masuk itu adalah pintu masuk terdekat menuju area taman yang lebih sepi. Area taman yang dulu dipakai Randy berkencan dengan Priska. Taman kota yang cukup luas, meskipun sudah beberapa kali diperingatkan agar tidak dipakai berpacaran tetap saja ada yang nekat. Randy memang sengaja membayar orang yang berjaga disitu agar dia bisa berpacaran di area itu tanpa ada gangguan.
Randy melihat Maya yang mengendarai motornya masuk ke area parkiran, ia pun segera menghampiri Maya karena sudah tidak sabar menunggu. Maya mematikan motornya lalu turun dan melepas helm, Randy memeluk Maya dari belakang tanpa sungkan. Maya meminta Randy melepaskan pelukannya karena dia malu jika dilihat orang, Randy pun menuruti permintaanya dan segera menggandeng Maya dan membawanya masuk ke taman.
Randy sudah membawakan eskrim kesukaan Maya, sengaja membuat kejutan kecil untuk Maya. Mereka pun menikmati eskrim dengan penuh canda tawa, sesaat Maya lupa bahwa pria yang di depannya saat ini adalah pria yang akan menghancurkan masa depannya jika dia nekat melanjutkan hubungannya itu. Randy mengajak Maya untuk foto selfie agar saat rindu dia bisa melihat foto Maya bersamanya. Meskipun ilang-ilangan beberapa minggu ini, Maya tetap saja menjaga komunikasi dan tetap mengirimkan pesan seperti kebiasaannya waktu awal pacaran. Dia tahu Randy akan bosan dan selalu ingin bertemu, tapi Maya tetap mengirim pesan rutin agar Randy tidak menaruh curiga padanya meski ia menunda pertemuan.
Tanpa sadar Randy telah membawa Maya ke area taman yang sepi. Randy menarik tangan Maya dan membawa Maya ke dalam pelukannya dan berbisik mesra di telinganya. "Sayang, aku kangen banget sama kamu."
__ADS_1
Maya terbuai dengan kehangatan pelukan Randy hingga Randy berkesempatan melakukan lebih. Randy mencium bibir Maya dengan lembut. "Bibir mu manis sekali, sayang, membuatku selalu merindukanmu."
Randy melanjutkan ciumannya, menyesap rasa manis eskrim yang tersisa di bibir mereka berdua. Perlakuan lembut Randy memang selalu berhasil membuat wanitanya terlena. Dasar tangan nakal tidak bisa diam meskipun telah dilarang, ia berhasil mendarat sempurna di area perbukitan yang menjulang indah meskipun di balik t-shirt. Sesaat Maya terbuai, hingga Randy sempat memerahnya. Maya tersadar dan reflek menghentikan ciumannya, tangannya menyingkirkan telapak tangan Randy dari daerah terlarang.
Randy masih bersabar. "Sayang, kok gitu sih? Kamu sudah nggak cinta lagi sama aku?"
Maya pun juga masih berusaha bersabar. "Cinta, Mas, tapi kan tidak harus seperti itu, aku nggak mau kebablasan."
Maya melangkah dan duduk di kursi taman, Randy pun ikut duduk di sampingnya begitu dekat. "Di luar negeri aja, pacaran seperti itu wajar, sayang. Bahkan ada yang tinggal bersama setelah pacaran."
"Tapi kita di Indonesia, Mas Randy-ku, sayang!" Maya mencubit kedua pipi Randy dengan gemas agar Randy tidak marah.
"Yang wajar-wajar aja, ya." Maya mengecup bibir Randy sekilas untuk meredakan emosi Randy yang sebentar lagi tidak bisa ditahan.
Randy mengalah lalu menggeser duduknya dan juga menggeser Maya hingga dia bisa memeluk Maya dari belakang. Tangan Randy memeluk perut Maya yang datar dan sedikit memberikan sentuhan pada daerah dua perbukitan di atasnya. "Ijinkan aku sejenak memelukmu seperti ini."
Randy menyandarkan kepalanya di pundak Maya. "Mas, apa kamu tahu alasanku mencintaimu dan menerima mu sebagai pacarku?"
"Eeem. Mungkin itu termasuk. Yang membuat aku jatuh cinta adalah saat Mas Randy datang menolong dan melindungi aku. Mas Randy seperti superheroes, laki-laki idaman pokoknya. Aku pikir, sayang dong aku melepaskan calon suami idaman yang bisa menjaga dan melindungi istrinya dengan keren." Maya mulai merangkai kata manis untuk Randy.
"Kamu mau jadi istriku? Lawanmu banyak loh!" Randy membanggakan diri.
"Meskipun lawannya banyak juga akan aku lawan. Nggak inget waktu aku ngelawan Mbak Prita waktu MOS?" Mengingat kembali kejadian ketika dilabrak Prita waktu itu.
"Apa Mas Randy tidak ingin menjadikan aku sebagai istri di masa depan? Berarti selama ini hanya aku yang berharap dan berusaha sendiri. Padahal aku berusaha meningkatkan prestasi ku demi merubah kehidupan ku agar lebih baik. Aku juga tidak mau dicap hanya mengandalkan kecantikan ku demi mendapatkan pacar atau calon suami yang tampan dan kaya." Otak Maya berpikir dengan cepat membombardir perasaan Randy agar goyah dan perlahan berubah. Maya pun tak lupa berekspresi sedih dan menitikkan air mata. Yang dibayangkan Maya saat ini adalah masa lalu ketika Randy dengan tega tidak mengakui anak yang dia kandung hingga membuatnya bunuh diri.
"Hey... Kok nangis?" Randy kaget dan tak menyangka Maya sampai berpikir sejauh itu.
"Aku pikir akulah satu-satu yang akan ada di samping Mas Randy di masa depan. Tapi sepertinya Mas Randy tidak menginginkannya." Maya masih menangis dan hendak melepaskan pelukan Randy.
__ADS_1
"Jangan marah, sayang! Maaf kalau aku belum berpikir sejauh itu." Perasaan Randy jadi tak menentu karena selama ini dia tidak pernah berpikir untuk serius. Entah apa yang membuatnya menjadi playboy alias Don Juan seperti saat ini, padahal masih anak SMA.
"Jika aku tak bicara hari ini, berarti kamu tidak pernah memikirkan masa depan kita, Mas? Jadi aku nggak ada artinya buat Mas Randy, lalu buat apa selalu bilang cinta dan sayang? Padahal aku sangat percaya padamu." Maya mengaduk-aduk emosi Randy.
"Maaf, aku akan memikirkannya nanti. Aku janji akan melakukan yang terbaik untuk masa depan hubungan kita berdua." Randy menahan Maya di sisinya.
"Aku butuh bukti, Mas! Aku ingin bersanding dengan mu di masa depan. Kita akan sukses bersama, aku ingin menemani dari sekarang hingga kamu sukses nanti, sukses sebagai Randy kekasih Maya, bukan sebagai Randy Prasetyo Wibowo. Aku ingin jadi wanita paling beruntung yang bisa bersanding denganmu, diantara para fans yang sangat mengilaimu."
Randy tertegun, Maya melepaskan pelukan Randy. Maya beranjak pergi dan sebelum pergi dia mencium pipi Randy. "Aku sayang kamu, aku mencintaimu setulus hatiku, aku harap kamu pun begitu. Pikirkan baik-baik Mas, aku pulang duluan."
Deg... Deg... Deg...
"Akhirnya aku bisa mengatakan itu semua. Aku takut dia marah atau mengintimidasi aku. Padahal aku belum sekuat dia." Maya memegangi dadanya dan merasakan detak jantungnya sendiri yang berdetak begitu cepat karena rasa takutnya pada Randy. Maya segera berlari ke parkiran dan segera pulang.
Randy masih terduduk di kursi taman, dia merenungkan apa yang Maya ucapkan.
"Semua wanita yang dekat denganku tidak ada yang berpikir sejauh itu. Mereka semua hanya membanggakan diri karena menjadi kekasih Randy Prasetyo Wibowo, laki-laki tampan anak dari Andi Prasetyo Wibowo Pejabat tinggi di kota ini. Tapi Maya berpikir untuk menjadi sepadan denganku, ingin aku menjadi Randy diriku sendiri, bukan sebagai Randy Prasetyo Wibowo."
"Haaahhh... Apa aku salah selama ini? Harusnya aku tidak bermain cinta! Harusnya aku menunggu cinta sejati datang padaku! Apa Maya masih menerimaku jika dia tahu daftar wanita yang aku kencani?"
Randy pusing dibuatnya, kata-kata Maya terus terngiang di telinganya. Randy pikir Maya begitu tulus apalagi ia melihat sendiri kesedihan dan air mata Maya.
"Kenapa aku justru mempertaruhkan wanita yang benar-benar mencintaiku? Aku bodoh, aku sungguh tak menyangka Maya adalah satu-satunya wanita yang tulus mencintaku."
...***...
Apa yang akan dilakukan Randy selajutnya?
Apakah Randy akan berubah atau akan tetap melanjutkan misinya menyakiti Maya?
Bagaimana nasib Priska selanjutnya?
__ADS_1
Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…
Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕