CEO Tampanku Ahli Silat

CEO Tampanku Ahli Silat
Part 74_ Go Public


__ADS_3

Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕


...***...


Bayu menjemput Maya dengan wajah sumringah, jelas saja senyumnya mengembang bagaikan kue bolu mekar karena baking soda, Bu Parmi memberikan lampu hijau untuk rencananya bertunangan dengan Maya, tinggal nunggu persetujuan dari Pak Margono dan Ki Sopo.


"Mas Bayu!" Maya menegur Bayu yang diam-diam melamun dan senyum-senyum dibalik kaca helmnya yang hitam.


"Maya...!" Bayu membuka helmnya lalu tersenyum manis pada Maya.


"Mas Bayu kesambet apa sih? Kok senyum-senyum terus? Kaya habis menang lotre gitu!" Sibuk membuka tasnya.


"Ihhh... Kok kesambet sih, May? Masa iya aku menyambut sayangku dengan tampang cemberut?" Bayu pose menopang dagunya di atas tangki motor gedenya, tak lupa Bayu tersenyum sangat manis pada Maya.


"Mas! Berhenti membuatku diabetes di usia muda!" Canda Maya, tersenyum malu-malu.


"Diabetes?" Bayu malah menanggapi dengan serius.


"Hahaha..." Maya tertawa geli sendiri.


"Diabetes karena liat senyum manis Mas Bayu." Maya tersenyum tapi buang muka karena grogi kalau dipandangi Bayu.


"Ya ampun." Bayu mengacak-acak rambut Maya.


"Yang ada kamu yang membuatku diabetes, May. Kamu kalau lagi malu-malu gitu, jadi terlihat manis dan mengemaskan sekali. Rasanya pengen aku makan."


"Ihh, Mas Bayu, emangnya aku makanan? Rambut ku jadi berantakan nih! Mana nggak bawa sisir pula!" Merapikan rambut dengan tangan.


"Sini aku rapiin!" Bayu merapikan kembali rambut Maya dengan jemarinya.


"Mau gimana aja, kamu tetap cantik, May. Paling cantik di mataku." Tutur Bayu.


"Ihhh! Mas Bayu mulai gombal nih!" Menepuk lengan Bayu.


"Nggak gombal, sayang! Aku serius." Bayu memasang helm pada Maya dan Maya hanya terdiam menatap Bayu.


"Cieee... So sweet banget sih Maya...! Mau dong dipasangin juga helmnya." Beberapa teman sekelas Maya yang lewat langsung menggoda Maya.


"Hahaha... Maaf ya, guys, Mas Bayu nggak bisa masangin helm kalian, Mas Bayu udah jadi milikku." Canda Maya.


Maya menutup tasnya, tidak jadi mengeluarkan sesuatu yang sudah ia siapkan sejak pagi tapi belum sempat ia berikan pada Bayu. Terdiam dan langsung naik ke jok belakang motor Bayu, terdiam sendiri mengingat kata-kata yang barusan dia ucapkan.


"Ckkk... Ni mulut nggak bisa direm saking bahagianya. Siapa juga yang nggak akan bahagia punya pacar pengertian seperti Mas Bayu? Ganteng iya, baik iya, pengertian, iya, perhatian iya, aaahhh semuanya deh. Nggak kuat akuuuh sama pesona Mas Bayu." Maya sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Wah... Wah... Sudah go public nih! Jangan lupa traktirannya, May!" Canda teman-teman Maya.


"Besok ya! Aku traktir kalian sekelas di kafe Ngopi Santai di dekat Perguruan Macan Emas." Karena suasana hati yang senang membuat Bayu ingin mentraktir semua teman Maya. Apalagi Maya sudah cerita bahwa teman-teman sekelasnya membela dan melindungi Maya saat Randy datang menganggu waktu itu.

__ADS_1


"Wah mantap Mas CEO! Makasih, makasih, kami nggak akan sungkan loh!" Sahut Ratih yang ikut nimbrung.


"Iya, pokoknya kalian bisa makan sepuas kalian besok, nanti aku booking dulu tempatnya." Janji Bayu.


"Kami duluan ya!" Bayu pamit pada teman-teman Maya.


"Okay, Mas. Hati-hati jagain teman kami ya!" Sahut Ratih.


Bayu pun segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang ke tinggi, 4 menit kemudian mereka telah sampai di jalan yang agak lenggang.


"Jadi sekarang aku sudah diakui sebagai miliknya Maya?" Tanya Bayu sambil mengendalikan laju motornya.


"Nggak...! Aku cuma bercanda aja! Tadi itu cuma biar nggak ada yang godain Mas Bayu aja!" Maya masih malu-malu.


"Aduh...!" Satu tangan Bayu memegangi dadanya.


"Mas Bayu kenapa? Berhenti dulu kalau sakit, Mas!" Maya khawatir.


"Hatiku sakit karena tidak diakui sama sayang ku." Bayu kembali mengendalikan setang motornya dengan dua tangan.


"Ihhh, Mas Bayuuu...!" Mencubit pinggang Bayu.


"Au... Iya sayang ku, kenapa?"


"Malu dipanggil gitu mulu." Tutur Maya.


"Tapi aku malu, Mas! Susah ngomongnya." Maya emang lucu, to the point langsung.


"Aku tetep panggil Mas, dari pada salah panggil waktu ada orang lain." Maya beralasan.


"Ya sekali-sekali panggil sayang kalau cuma berdua 'kan bisa!" Tawar Bayu.


"Iya, sayang." Jawab Maya secepat kilat.


"Apa, May? Mas nggak denger! Jangan cepet-cepet dong!" Ketagihan dipanggil sayang.


"Nggak ada pengulangan!" Ketus Maya.


Bayu diam tidak mendebat lagi. Ternyata diamnya Bayu malah bikin Maya khawatir.


"Bukan hanya wanita yang butuh ucapan sayang dan cinta dari pasangannya, tapi pria juga butuh ucapan sayang dan cinta. Jangan sering mengucapkan cinta agar tidak terasa hambar dimakan waktu, tapi jangan pelit mengucapkan cinta atau pasangan mu akan mencari kata cinta dan perhatian dari orang lain." Maya ingat quotes cinta yang entah dia baca dari mana.


"Mas...!" Panggil Maya.


"Mas Bayu...!" Memanggilnya lagi karena belum dijawab.


"Mas Bayu-ku, sayang." Maya sedikit memajukan duduknya dan mendekatkan kepala ke belakang kepala Bayu, ia pun memanggil Bayu dengan sejelas mungkin.

__ADS_1


Bayu memang sengaja mengendarai motornya dengan pelan, agar bisa berlama-lama dengan Maya, jadi mereka tidak harus berteriak kalau mau motoran sambil ngobrol.


"Iya, Maya-ku, sayang." Jawab Bayu.


Maya malu-malu, ia menyandarkan kepalanya di punggung Bayu. Dalam benak mereka seakan mereka bernyanyi bersama karena kasmaran.


Bayu: "Janam janam janam saath chalna yunhi. Kasam tumhe kasam aake milna yunhi. Ek jaan hai bhale do badan ho judaa. Meri hoke hamesha hi rehna. Kabhi na kehna alvida."


"Kita akan berjalan bersama seperti ini di setiap kelahiran. Sumpah demi dirimu aku akan selalu datang menemuimu seperti ini. Meski raga kita terpisah namun jiwa kita tetap satu. Setelah kau menjadi milikku tetaplah bersama selamanya. Jangan pernah ucapkan selamat tinggal."


Bayu: "Meri subah ho tumhi aur tumhi shaam ho. Tum dard ho tumhi aaram ho. Meri duaaon se aati hai bas yeh sadaa. Meri hoke hamesha hi rehna. Kabhi na kehna alvida."


"Kaulah pagiku dan kaulah senjaku. Kaulah deritaku dan kaulah pelipurku. Hanya inilah suara yang bergema dari doa-doaku. Setelah kau menjadi milikku tetaplah bersama selamanya. Jangan pernah ucapkan selamat tinggal."


Bayu: "Meri hoke hamesha hi rehna. Kabhi na kehna alvida."


"Setelah kau menjadi milikku tetaplah bersama selamanya. Jangan pernah ucapkan selamat tinggal."


Maya: "Teri baahon mein hain mere dono jahaan. Tu rahe jidhar meri jannat wahin. Jal rahi aggan hai jo yeh do tarfa. Na bujhe kabhi meri mannat yahin."


"Dalam pelukanmu terletak dua duniaku. Di mana kau berada, di sanalah surgaku. Api asmara yang membara di kedua sisi. Tak akan pernah padam karena hasratku ada di sini.


Maya: "Tu meri aarzoo, main teri aashiqui. Tu meri shaayari, main teri mausiqui."


"Kau adalah kerinduanku, aku adalah asmaramu. Kau adalah syairku, aku adalah musikmu."


Tanpa terasa mereka telah sampai di Perguruan Macan Emas. Para murid telah terbiasa melihat Bayu mengantar jemput Maya, sebelumnya mereka hanya tahu itu untuk melindungi Maya setelah insiden penyerangan waktu pulang latihan. Setelah kejadian Bayu dan Maya bertemu Randy Prasetyo Wibowo, mereka para murid langsung paham kalau Maya mendapat perlakuan khusus dari Bayu.


Banyak murid yang menebak-nebak bahwa Bayu dan Maya telah jadian dan menjadi sepasang kekasih. Bayu dan Maya memang sedang jadi topik hangat yang selalu dibicarakan. Ada beberapa murid perempuan yang iri pada Maya, namun tidak sedikit pula yang setuju-setuju saja kalau Bayu dan Maya pacaran.


Bayu langsung memarkirkan motornya di depan rumahnya di samping padepokan, apalagi Maya kan memang berlatih dengan Nyi Yanti di belakang rumah.


"Kamu masuk aja, aku mau balik ke kantor dulu. Ada yang perlu aku kerjakan." Bayu hendak pergi lagi.


"Loh, kok langsung pergi, Mas?"


"Iya, masih ada sedikit hal yang perlu aku kerjakan sendiri di kantor." Jawab Bayu.


"Sepertinya besok-besok lebih baik Mas Bayu nggak perlu antar jemput aku deh! Daripada bolak-balik dan jadi ganggu kerjaan Mas Bayu." Usul Maya. Jelas saja Maya merasa nggak enak hati jika karena mengantar jemput dia, Bayu jadi keteteran di pekerjaannya.


"Oh iya, aku lupa! Sepertinya aku salah ingat, pekerjaan yang harus aku selesaikan sudah aku bawa ke rumah kok!" Bayu sedikit membohongi Maya, bukan karena tidak mau jujur! Bayu hanya tidak mau kalau Maya menjadikan hal tersebut sebagai alasan agar tidak diantar jemput olehnya.


"Ayo masuk!" Bayu mengajak Maya masuk ke rumah tanpa peduli ada beberapa murid yang memperhatikan mereka.


...***...


Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕

__ADS_1


__ADS_2