
Tolong mampir ke karya baru author ya guys ya 😊🙏🏽🙏🏽🙏🏽
Klik profile author lalu klik Karya dengan judul Dendam Mantan Kekasih Sang CEO
...***...
Malam itu terasa sunyi menyayat hati meskipun masih ada sedikit kendaraan yang lewat, Syana yang sedang frustasi berdiri di tepi jembatan besar di area pejalan kaki. Jembatan merah yang panjangnya 1.6 km, yang terlihat indah di siang hari maupun malam hari.
Syana mengedarkan pandangannya ke sekitar jembatan yang indah dan kokoh dengan aliran sungai yang terlihat tenang namun dalam. Namun sayangnya ia ke jembatan itu bukan untuk menikmati pemandangan, melainkan berusaha sedikit menghilangkan kegelisahan hatinya.
Semilir angin menerbangkan rambutnya yang tergerai dan menyapu wajahnya yang penuh dengan air mata. Perutnya masih terasa tidak nyaman meskipun sudah minum obat pemberian dokter pribadi Arman sang kekasih sekaligus CEO di tempatnya bekerja.
"Aku mencintai mu, tapi kenapa kamu tega membunuh darah daging mu sendiri? Kalau saja kamu jujur tidak menginginkannya, aku akan tetap melahirkannya dan merawatnya sendiri. Dia tak bersalah, mengapa harus menanggung kesalahan ku?" Ucap Syana.
__ADS_1
Syana tidak menyadari ada seorang pria yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Pria itu tidak sengaja mendengar apa yang Syana ucapkan.
"Tidak…! Itu salah mu…! Dasar Arman breng-sek! Baj-ingan!" Rutuk Syana.
"Aku yang salah karena percaya dengan ucapan manis mu! Aku yang bodoh karena memberikan segalanya pada mu hanya karena perhatian dan cinta palsu mu. Bahkan kamu tak mendampingi aku, saat aku kesakitan, saat aku kehilangan bayi ku!" Syana mengusap air matanya yang terus mengalir deras bagaikan hujan di bulan Desember.
"Bull-shit…! Kamu bilang akan mencintai aku sampai akhir hayat, akan menikahi aku bila aku sampai hamil. Kamu dan teman-teman mu itu, semuanya baj-ingan!"
"Aaarggghhhh…" Syana memukul pagar tepi jembatan, sejurus kemudian tangannya terasa sakit.
"Aku sudah kotor!"
"Hiks…Hiks…Hiks…" Syana menangis sesengukan.
__ADS_1
Pria itu ingin mendekati Syana, namun ia mengurungkan niatnya. Ia tidak tahu bagaimana caranya menenangkan Syana, lagipula itu bukan urusannya.
"Sudah tidak ada lagi yang bisa aku banggakan sebagai seorang Syana Sharma. Aku sudah tidak pantas untuk pria manapun!" Syana benar jatuh sejatuh-jatuhnya.
"Mungkin saja obat penggugur kandungan yang Mas Arman berikan bisa membuat ku tak dapat memiliki bayi lagi di masa depan. Sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup!"
Tiba-tiba Syana berusaha memanjat pagar jembatan. "Maafkan aku, pa, ma."
Pria tadi sejenak termenung dan sejurus kemudian berlari hendak mengagalkan rencana Syana untuk bunuh diri.
"Jangaaan!"
...***...
__ADS_1
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕