
Seminggu berlalu, Maya terus mengikuti latihan meskipun dia belum diterima sebagai murid. Maya bersikukuh melihat latihan dari jauh dan berjanji tidak akan mengganggu murid-murid yang sedang berlatih. Para murid-murid perguruan Macan Emas banyak yang kasak-kusuk membicarakan Maya, namun tekad hati yang kuat membuat Maya tidak peduli dengan omongan murid lain yang menggunjingkan dirinya.
"Gila sih! Nggak tahu malu dia, udah ditolak Ki Soponyono tapi masih nekat ikut latihan dari jauh." Ucap seorang murid cewek pada teman-temannya yang saat itu berbarengan lewat di depan Maya.
Mereka tidak sadar kalau Bayu berada di dekat situ dan mendengar omongan si cewek tadi. "Apa kalian mendengar bapak mengatakan kalau beliau tidak mengijinkan Maya melihat dari jauh?"
"Eh… Mas Bayu, kan jelas kemarin Ki Soponyono menolak dia. Baru kemarin sore tahu tentang silat, udah sok-sok-an mau jadi murid khusus Ki Soponyono. Dia terlalu percaya diri banget." Murid cewek itu bernama Fira, fans berat Bayu. Dia masih terus merendahkan Maya.
"Bukan kemarin sore aku tahu tentang silat, sudah 2 minggu aku tahu tentang silat, kamu nggak bisa menghitung hari ya?" Maya menanggapi dengan enteng dan terkesan meremehkan balik.
"Heh…! Loe dapat nilai bahasa Indonesia berapa? Masa gitu aja nggak tahu!" Fira tersulut emosinya dan mulai kasar.
"Fira, cukup! Bapak hanya menyuruhnya memperbaiki niat untuk apa berlatih silat, tapi bapak tidak melarang dia ikut berlatih dari jauh. Kalau bapak melarang, pasti dia sudah diusir dari awal dia ikut memperhatikan latihan." Bayu mulai membela Maya.
"Udah deh, Mas Bayu! Aku nggak butuh dibela atau dikasihani, aku bisa membela diriku sendiri. Jadi Mas Bayu nggak usah repot-repot membela aku!" Maya kesal karena Bayu ikut campur dan membela dia.
"Hei…! Jangan kurang ajar sama Mas Bayu ya! Nggak tahu terima kasih banget!" Fira marah karena Maya dibela oleh Bayu, padahal dia yang lebih dulu mendekati Bayu.
"Hello…! Bukan aku yang minta Mas Bayu-mu itu untuk membelaku! Sekarang lihat kan, Mas? Karena kamu membelaku, fansmu jadi marah-marah padaku." Maya protes pada Bayu sambil nunjuk-nunjuk Fira.
"Lihat nih, sebentar lagi pasti dia marah lagi!" Maya menatap Fira seakan meledek dan menantang Fira hingga membuat Fira semakin emosi.
"Loe…! Jadi anak kemarin sore aja udah sombong banget! Kamu tidak layak jadi murid perguruan ini!" Sembur Fira.
"Siapa yang sombong? Bukankah kamu yang menyombongkan dirimu sendiri? Mentang-mentang kamu sudah menjadi murid terlebih dahulu di perguruan ini, terus kamu seenaknya menghinaku?" Maya dengan mudah membalikkan ucapan Fira.
"Aku rasa… Justru kamu yang tidak tahu diri, sudah bagus kamu diterima di sini, padahal kemampuanmu biasa-biasa saja. Sebaiknya kamu banyak berlatih dari pada memikirkan orang lain." Maya semakin pandai berkata-kata untuk menyerang orang lain, kini dia berubah menjadi wanita yang berani.
"Loe… Berani-beraninya ngeremehin gue! Berarti loe ngeremehin perguruan Macan Emas juga!" Fira membentak Maya.
"Mas Bayu, kamu harus bersikap tegas pada cewek nggak tahu diri ini, Mas!" Fira meminta dukungan dari Bayu, namun dia diam dan tidak ingin menengahi lagi.
"Ha…ha…ha…! Kasian banget dicuekin! Bukankah kamu ke perguruan Macan Emas cuma karena tertarik dan ingin mendekati Mas Bayu?" Maya tertawa senang melihat Fira yang dicuekin oleh Bayu.
"Nyolot banget ya, loe! Mending loe pergi dari sini dari pada gue laporin ke Ki Soponyono kalau loe bikin keributan." Fira mengancam Maya, namun sayangnya ancaman itu tidak mempan.
__ADS_1
"Laporkan saja! Justru aku ingin bertemu beliau dan bertanya, kenapa cewek yang kasar, suka merendahkan orang lain, tidak sabaran dan niat berlatih silatnya cuma karena mau ngedekitin anaknya Ki Soponyono, eeeh… kok malah diterima. Sedangkan aku yang hanya ingin menjadi kuat malah udah ditolak satu kali. Aku yakin dengan beberapa pukulan, tidak sampai 3 round, kamu pasti sudah aku kalahkan. Kamu yang tidak layak menjadi murid perguruan Macan Emas!" Telunjuk Maya menunjuk tepat di dada Fira, amarah di hatinya mulai tidak terkendali saat merasa didiskriminasi.
"Perkataan loe itu secara langsung telah meremehkan Ki Soponyono, berani-beraninya loe ngremehin tetua di sini! Aku akan bertanding denganmu, buktikan ucapanmu kalau kamu memang hebat!" Fira pun ikut terbawa emosi dan ingin membuktikan bahwa dia lebih hebat dari Maya.
"Kalau aku bisa menang lawan Maya, pasti Mas Bayu tidak akan memperhatikan Maya lagi, pasti Mas Bayu akan tertarik dan menjadi lebih dekat denganku." Fira tersenyum dalam hati, dia sangat percaya diri dapat mengalahkan Maya, dia pikir Maya belum mempunyai kemampuan bela diri.
"Apa kamu yakin? Kalau nanti kamu kalah, kamu tidak boleh menyalahkan aku! Kamu sendiri yang mengajakku bertanding." Maya memprovokasi.
"Okay, aku pastikan kamu akan kalah! Jangan-jangan justru kamulah yang takut kalah." Mata Fira melirik ke arah Maya dengan sinis.
"Baiklah, aku terima tantanganmu. Loe jual, gue beli." Maya menjawab tantangan Fira untuk bertanding dan para murid di sekelilingnya berteriak kegirangan melihat tontonan gratis.
"Mas Bayu, tolong jadilah juri yang adil! Meskipun ini mempertaruhkan nama baik dari murid resmi perguruan ini. Sedangkan aku hanyalah murid yang masih ditolak dan belum diterima." Maya tidak ingin terjadi kecurangan, dia percaya Bayu akan bertindak adil.
"Ayo segera mulai pertandingannya! Jangan buang waktu lagi!" Fira sudah semangat ingin mempermalukan Maya. Mereka segera ke tengah halaman tempat berlatih, murid-murid yang lain pun mengikuti mereka lalu berdiri mengelilingi mereka. Maya, Fira dan Bayu sudah siap di tengah-tengah kerumunan murid-murid lain. Bayu tidak ingin mencegah pertandingan itu, dia hanya ingin melihat kemampuan Maya. Lagi pula dia juga gengsi untuk membela Maya lagi.
"Ck… Kenapa aku mulai memperhatikan Maya? Apa mungkin benar apa yang Maya katakan kemarin? Aku akan termakan oleh kesombonganku sendiri. Baru kali ini ada cewek yang menolak bantuan dariku, biasanya mereka berlomba-lomba merebut perhatian dariku. Aku penasaran dan ingin lebih tahu semua tentang Maya." Dalam pikiran Bayu terus berlarian hal-hal tentang Maya.
Bayu kembali sadar karena mendengar para murid menyoraki Fira dan Maya, cukup banyak juga yang mendukung Maya. Beberapa murid ada yang merasa kesal dengan kelakuan Fira yang selalu cari perhatian Bayu, mereka pun memilih untuk mendukung Maya dalam pertandingan dadakan kali ini. Sungguh di luar dugaan, Maya telah mengambil hati sebagian murid-murid perguruan Macan Emas. "Maya apa kamu tahu peraturan pertandingan silat?"
"Menghindar, mengelak dan menangkis serangan. Sasaran tangan dan kaki, menjatuhkan lawan dan mengunci lawan. Tiga kali round, 1 round 2 menit dan jeda 1 menit tiap round. Serangan wajib berpola, sikap awal, pasangan, hingga koordinasi gerakan dan kembali ke sikap awal. Apa ada yang terlewat, Mas?" Maya dengan percaya diri menjelaskan karena memang dia sudah mempelajari tentang silat setelah memutuskan untuk menjadi murid khusus Ki Soponyono.
Tiba-tiba Dewi datang ikut nimbrung. "Maya sudah punya pacar yang nggak kalah ganteng dari Mas Bayu. Aku melihatnya waktu di SMA 2, mereka juga terlihat mesra sekali."
"Emang ada yang ngalahin pesona Mas Bayu di kota ini? Atau jangan-jangan Mas Bayu yang tertarik pada Maya, secara tadi belain loh! Lagian Maya juga lebih cantik dari pada Fira." Ucap Santi temen dekat Dewi.
"Mungkin saja Mas Bayu tertarik sama Maya, tapi kan selama ini yang ngedeketin Mas Bayu nggak kalah cantik dari Maya. Masa Mas Bayu mau jadi perebut pacar orang, kan nggak mungkin deh!" Santi seakan tak percaya seorang Bayu yang sulit ditaklukkan bisa menyukai wanita yang cuek dan galak padanya. Tapi bukan tidak mungkin Bayu menyukai Maya, yang namanya suka dan cinta terkadang memang tidak butuh alasan yang jelas.
"Udah, ah! Sekarang yang lebih menarik lihat pertandingan Maya dan Fira, mau taruhan nggak?" Angga ikut nimbrung pembicaraan mereka.
"Aku pegang Fira!" Ucap teman Fira tadi.
"Aku pilih Maya. Dia pasti menang, aku udah perhatiin dia sejak pertama latihan." Angga membela Maya.
"Bilang aja kalau kamu milih Maya karena dia cantik, ya kan!" Sembur Dewi.
__ADS_1
"Aku juga milih Maya deh!" Santi pilih Maya karena dia kesal sama Fira.
"Kamu jangan cemburuan Dew! Kamu juga cantik kok! Kamu pilih siapa?" Angga sengaja berkata seperti itu karena tahu sebenarnya Dewi suka padanya, tapi Angga belum ada rasa sama Dewi.
"Aku pilih Maya." Finally Dewi memilih Maya juga, meskipun ada rasa cemburu, takut jika Angga jatuh cinta pada Maya. Kekhawatiran Dewi sedikit berkurang semenjak dia mencari tahu dan menemukan kenyataan bahwa Maya sudah punya pacar.
"Okay, aku pilih Fira deh!" Tidak tahu dari mana datangnya, tiba-tiba Rizal ikut nimbrung.
"Ih… Kita putus kalau kamu pilih Fira!" Santi kekasih Rizal jadi marah.
"Jangan dong, San! Nanti kalau Maya yang menang, aku kan jadi punya alasan buat kasih kamu hadiah bagus. Kalau Fira yang menang, kamu harus kencan denganku besok Minggu!" Rizal memang benar-benar modus.
"Iya deh! Udah sekarang kita lihat siapa yang menang!" Dewi menengahi.
Terdengar suara Bayu memberi aba-aba untuk bersiap. "Okay, bersedia!"
"Mulai…!" Teriak Bayu dengan keras, seakan membakar semangat mereka berdua.
Fira dengan percaya diri menyerang Maya terlebih dahulu dengan mengarahkan satu tendangan ke bagian pinggang. Namun dengan sigap tangan Maya menangkap kaki Fira lalu menariknya ke depan hingga kuda-kuda Fira jadi lemah, dengan mudah Maya menyapu kaki kiri Fira dan membuatnya tumbang. Bayu menyuruh Fira segera bangkit dan tidak mengulur waktu. Sekarang Maya yang lebih agresif menyerang dan berhasil memukul lengan Fira dengan keras hingga membuat Fira meringis kesakitan. Round pertama dimenangkan oleh Maya dan membuat Angga semangat memprovokasi murid-murid lain dengan meneriakkan nama Maya.
Angga membakar semangat Maya. "Maya… Maya… Maya…" (bukan ayam ya! 😁😊☺)
"Maya… Maya… Maya…" Hampir separuh lebih murid-murid jadi ikut mendukung Maya, mereka telah melihat kekuatan fisik Maya yang lebih unggul dari Fira. Jelas saja karena Maya sudah rajin berlatih untuk meningkatkan staminanya. Tampak dari kejauhan Ki Soponyono memperhatikan pertandingan Maya dan Fira.
"Dia ingin melawan ketidakadilan, namun dia belum bisa mengendalikan emosinya, bahkan dia justru mudah terprovokasi dan memprovokasi. Kamu masih belum layak untuk menjadi muridku." Ucap Ki Soponyono.
Murid-murid tidak menyadari bahwa Ki Soponyono memperhatikan mereka karena sudah terlalu asyik melihat pertandingan Maya dan Fira.
"Apa cewek cantik yang sedang bertanding itu, yang berani sama Bayu?" Tiba-tiba Nyi Miyanti sudah berada di dekat Ki Soponyono.
"Mimi, kamu selalu diam-diam mengagetkanku. Iya, dia yang berani memarahi Bayu, dia juga yang ngotot ingin jadi muridku." Ki Soponyono tiba-tiba tersenyum sendiri hingga membuat Nyi Miyanti heran dan penasaran.
Mimi adalah nama panggilan sayang untuk Nyi Miyanti dari suami dan anaknya. Mimi itu singkatan dari Mami Miyanti, bukan Mimi Peri ya guys!
...***...
__ADS_1
Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…
Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕