
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
...***...
"Itulah keistimewaan cincin dari Ki Haryo, tidak semua orang memilikinya. Atas kehendak yang Maha Kuasa, kamu bisa mendapat bayangan dari secuil masa depan dari orang yang menyentuh cincinmu itu." Penjelasan Ki Sopo sontak membuat Maya semakin terkejut.
"Jadi di masa depan aku akan menikah dengan Mas Bayu?" Lirih Maya.
Ki Sopo tersenyum sendiri mendengar ucapan Maya yang sangat lirih namun masih dapat beliau dengar.
"Tapi, Ki…!" Maya ragu-ragu untuk bicara.
"Kenapa? Katakan saja! Tidak perlu sungkan padaku!" Ki Sopo paham masih ada yang mengganjal di hati dan pikiran Maya.
"Bukan maksud saya… Ingin menolak lamaran dari Mas Bayu."
Langkah Bayu terhenti saat mendengar, "Ingin menolak lamaran dari Mas Bayu."
Bayu yang hendak bertanya kapan Maya pulang, mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Jadi dia ingin menolak lamaran dariku?" Bayu pun pergi dengan kekecewaan tanpa mendengarkan lebih lanjut.
"Loh! Kok nggak jadi, Yu? Bukannya mau mengantar Maya pulang?" Tanya Nyi Yanti yang berpapasan dengan Bayu.
"Nggak, Mi! Maya masih sibuk bicara dengan bapak."
"Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Perasaan tadi kamu bahagia sekali, ada apa?" Nyi Yanti paham sekali dengan perubahan suasana hati anaknya itu.
"Nggak kenapa-kenapa kok, Mi! Aku ke ruang kerja dulu ya." Bayu meninggalkan Nyi Yanti.
"Kenapa sih anak itu? Tiba-tiba kok jadi sedih gitu, padahal tadi bahagia banget, senyum terus sampai giginya kering." Gumam Nyi Yanti, ia pun melangkah masuk ke ruang tengah dimana Ki Sopo dan Maya sedang bicara.
Maya yang ditatap tajam oleh Ki Sopo berusaha memberanikan diri untuk bicara daripada runyam akhirnya.
"Mohon maaf, jangan salah paham dulu, Ki!" Maya sampai menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada menunjukkan salam permintaan maaf.
"Bukan maksud ingin menolak lamaran dari Mas Bayu. Tapi kan saya masih sekolah, Ki! Saya rasa itu terlalu cepat. Masa Mas Bayu lulusan sarjana dan saya malah SMA saja nggak lulus?"
"Kalau anak sekolahan kan tidak boleh nikah dulu, Ki! Kalau anak kuliahan baru bisa nikah sambil kuliah!" Maya menjelaskan dengan cepat karena takut dengan Ki Sopo.
"Hahaha… Aku sempat salah paham. Aku kira kamu ingin menolak lamaran dari Bayu." Ki Sopo tertawa mencairkan suasana, dia tidak mau Maya merasa tertekan.
"Nikah sambil kuliah juga tidak bisa, Maya! Nikah dulu, baru kuliah. Kalau barengan entar gimana acaranya? Nikahannya di kampus?"
"Hahahaha…" Canda Ki Sopo.
"Ihh…Ki Sopo malah bercanda, saya serius, Ki!" Maya garuk-garuk kepala karena melihat gurunya yang malah bercanda.
__ADS_1
"Oh…Jadi karena ini Bayu salah paham dan mengira kamu tidak menerima lamarannya? Pantas saja dia berubah jadi murung." Nyi Yanti ikut nimbrung.
"Haaah! Kok bisa, Mi? Bayu kan dari tadi tidak ikut bicara di sini." Ki Sopo terkejut.
"Tadi dia ke sini mau nanyain Maya kapan pulang, kan yang nganter si Bayu! Mungkin dia mendengar pembicaraan bapak dan Maya, terus salah paham deh!" Jelas Nyi Yanti.
"Aduuuh! Anak itu kalau urusan cinta kaya begini emang jadi bego ya! Tahunya cuma kerjaan dan kuliah aja. Tidak mendengarkan semuanya tapi sudah menarik kesimpulan sendiri." Ki Sopo geleng-geleng kepala melihat tingkah Bayu.
Plaaak…
Nyi Yanti memukul lengan Ki Sopo. "Salah kamu, Pak! Kamu yang menuntut Bayu untuk segera menjadi penerusmu, makanya dia cuma tahu kerja dan kuliah."
"Lah! Kok jadi nyalahin aku, Mi? Kan biar kita cepet honeymoon lagi. Hahahaha…" Ki Sopo malah ketawa.
"Malu tuh diliatin Maya!" Menunjuk Maya yang heran melihat tingkah Nyi Yanti dan Ki Sopo.
"Entar dia juga bakal jadi menantu kita, biar aja dia tahu kita bagaimana. Iya kan, May?" Minta persetujuan Maya.
"Tapi, Ki. Yang masalah tadi kok jadi dilupain? Kan saya belum mau menerima lamarannya, saya masih sekolah. Saya masih anak kecil yang belum siap nikah." Tutur Maya.
"Hahaha… Iya, iya, aku tahu. Maksudnya bukan lamaran langsung menikah, tapi kami sebagai orang tua Bayu akan datang langsung ke rumah mu dan minta pada bapak ibu mu untuk menjodohkan kamu dan Bayu. Kalian berdua bisa bertunangan dulu sampai kamu lulus sekolah." Ki Sopo menjelaskan maksudnya agar Maya tidak khawatir lagi.
"Ini seriusan, Pak?" Nyi Yanti kaget mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya.
"Seriusan, Mi. Tahu nggak?" Ki Sopo dan Nyi Yanti mulai bicara tidak formal.
"Maya ini adalah cucunya guruku, Ki Haryo Kamandanu. Guru yang dulu sempat ku cari-cari keberadaannya namun belum ketemu. Ternyata sekarang cucunya ada di depan mata, mau jadi menantu kita juga." Ki Sopo sangat bahagia sekali karena merasa saat ini adalah saatnya membalas kebaikkan gurunya.
"Seriusan?" Nyi Yanti kaget.
"Dua rius, Mi!" Merangkul pundak Nyi Yanti.
"May, sebaiknya kamu urus yayang mu sana!" Titah Ki Sopo.
"Nanti aku dan Mimi akan atur waktu untuk bertemu dengan orang tua mu, jadi kamu nanti harus bicara dulu sama orang tua mu, biar mereka tidak kaget." Imbuh Ki Sopo.
"Baik, Ki. Saya pamit ke Mas Bayu dulu." Maya undur diri dan beranjak pergi menghampiri Bayu.
"Ingat! Kalian baru mau ditunangkan, jangan sampai pacaran kebablasan!" Tegas Ki Sopo.
"Mas Bayu aja gemesin gitu, siapa yang tahan, Ki?" Maya berani sekali bercandain Ki Sopo.
"Hahaha…." Maya langsung lari meninggalkan Ki Sopo yang kaget mendengar ucapan Maya.
"Haduh…! Sebaiknya mereka dinikahkan secepatnya saja!" Ki Sopo memegangi kepalanya yang sebenarnya tidak sakit, cuman heran dengan kelakuan Maya yang berani bercanda dengannya.
"Tadi bapak yang bercanda di depan Maya, sekarang dibercandain dikit udah pusing. Bapak labil nih!" Ledek Nyi Yanti.
__ADS_1
"Bayu ketemu jodoh gampang banget ya, Mi. Nggak kaya bapak yang bertahun-tahun ngejar Mimi." Mengenang kisahnya waktu mengejar cinta Nyi Yanti.
"Jadi bapak menyesal nih ceritanya!" Nyi Yanti bersedekap dan menunjukkan raut wajah kesal pada Ki Sopo.
"Bukan begitu, sayangku, cintaku." Memeluk Nyi Yanti.
"Tanpa dijelaskan kamu harusnya juga tahu betapa aku mencintaimu. Kalau nggak cinta nggak aka nada Bayu yang ngegemesin." Ki Sopo tersenyum mengulang kata-kata Maya yang bilang kalau Bayu ngemesin.
"Sama kaya bapak dulu, nggak paham cinta-cintaan, begitu jatuh cinta langsung bucin dan gampang panikan." Balas memeluk Ki Sopo.
"Iya, ya. Ternyata bapak dan anak sama aja. Bayu ku ganteng ketemu Maya yang cantik. Sama kaya bapaknya yang ganteng ketemu Mimi yang cantik." Ki Sopo sok ganteng banget nih.
"Hahaha… Sapa bilang bapak ganteng? Bapak tuh ganteng pakai banget, nggak ada duanya." Nyi Yanti balik merayu Ki Sopo.
"Apalagi kalau kasih duit, tambah ganteng deh!" Imbuh Nyi Yanti.
"Hahaha… Apa kurang uangnya yang ada di Mimi?" Sahut Ki Sopo.
"Nggak, Pak, cuma bercanda. Semuanya sudah cukup bahkan kelebihan. Aku sudah nggak butuh banyak uang, cuma butuh ditambah aja sayangnya. Jangan terlalu sibuk kerja terus."
"Hahaha… Ternyata kamu sama saja kan! Inginnya Bayu segera jadi penerus dan aku punya banyak waktu untukmu." Ki Sopo meledek istrinya.
"Ya, tapi kita nggak boleh terlalu membebani Bayu, Pak. Di masa mudanya ini, dia sudah cukup bekerja keras. Kita juga harus kasih dia sedikit kelonggaran waktu untuk menikmati masa muda. Biar bisa memupuk rasa cinta sama Maya. Semoga mereka langgeng sampai nikah dan sampai kakek nenek. Nanti Maya sama Bayu harus kasih cucu yang banyak ke kita, wajib lebih dari 1. Kalau cuma 1 nggak seru." Nyi Yanti sudah berangan-angan memiliki cucu.
"Hahaha… Sabar, Mi! Maya aja masih sekolah kok sudah mikirin cucu, kasihan Maya dong!" Kali ini Ki Sopo membela Maya.
"Dia bilang, masa Mas Bayu lulusan sarjana dia mau putus sekolah, SMA aja nggak tamat. Anak itu masih sangat muda dan masih ingin menikmati masa muda, kita jagain mereka biar nggak salah langkah, tidak boleh terlalu dikekang." Terang Ki Sopo.
"Siap… Sekarang biar bapak dulu yang kerja keras bagai kuda. Jangan memforsir Bayu ya!"
"Aku jadi kuda juga cuma buat kamu doang, Mi! Entar malam juga mau jadi kuda mu lagi." Senyum-senyum nggak jelas.
"Astaga, bapaaak…!" Nyi Yanti heran dengan suaminya yang makin tua malah makin menjadi, semakin ingin dimanja dan romantisan.
...***...
Di lain tempat di sudut kota itu, Marco masih memikirkan Maya dan tenggelam dalam kesedihan bersama lagu patah hati.
"Somebody said you got a new friend. But does he love you better than I can? And there's a big black sky over my town. I know where you're at I bet he's around. And yeah I know it's stupid. But I just gotta see it for myself."
"Seseorang berkata kamu punya teman baru. Tapi apakah dia mencintaimu lebih baik dariku? Dan ada awan besar hitam di kotaku. Aku tahu kamu dimana, aku yakin dia ada di sekitarmu. Dan ya aku tahu itu bodoh. Tapi aku harus melihatnya sendiri."
"I'm in the corner, watching he kiss you. And I'm right over here, why can't you see me? And I'm givin' it my all, but I'm not the guy you're taking home. I keep dancing on my own.
"Aku berada di pojokan, melihat dia menciummu. Dan aku tepat berada di sini, kenapa kamu tidak bisa melihatku? Dan aku memberikan segalanya, tapi aku bukan lelaki yang kamu bawa ke rumah. Aku tetap berdansa sendirian."
...***...
__ADS_1
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕