
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
...***...
Maya berlari ke arah ruang kerja Bayu, ia penasaran sekali dengan wajah Bayu yang sedang kesal.
"Mungkinkah dia akan bersikap kasar atau berubah dingin pada ku karena salah paham ini?" Gumam Maya.
Tok... Tok... Tok...
Maya mengetuk pintu ruang kerja Bayu.
"Mas Bayu..." Memanggil dengan cukup keras, namun tidak langsung dijawab.
"Sayang..." Lirih Maya.
"Bentar, May." Jawab Bayu dari dalam.
"Aku sudah selesai bicara dengan Ki Sopo, anterin pulang, Yang!" Maya malah dengan sengaja menggoda.
Kreeekkk...
Bayu membuka pintu dan melihat Maya yang tersenyum manis menyambutnya. Ada rona malu karena memanggil Bayu dengan sebutan Yang.
"Kalau dia semanis ini, bagaimana aku bisa marah? Kalaupun dia sekarang tidak menerima lamaran ku, aku akan melamarnya lagi nanti." Ucap Bayu dalam hati.
"Jangan diem aja, Mas! Mau anterin nggak?" Telunjuk Maya iseng banget menowel-nowel pipi Bayu.
Bayu langsung menyambar tangan Maya dan menggenggamnya.
"Mau aku gigit jari kamu? Masa pipiku ditowel-towel gitu! Nggak ada yang berani begitu sama aku." Bayu berlagak ingin menggigit jari Maya.
"Jangan digigit! Nanti kalau sakit gimana? Gigit yang lain aja deh." Tanpa sadar Maya menatap bibir Bayu yang menurutnya sangat menggoda dan membuatnya terbayang kalau rasanya dicium oleh Bayu.
"Apa nggak ada yang ingin kamu katakan padaku?" Tanya Bayu, berharap Maya mau jujur padanya, padahal dia yang tidak mau mendengarkan pembicaraan Maya dan Ki Sopo sampai tuntas.
"Sepertinya nggak ada sih, Mas." Masih menatap Bayu.
Bayu langsung menarik Maya ke dalam ruang kerjanya. Ia menutup pintu dan menyudut Maya di pintu. Maya tidak bisa bergerak, dia membeku karena ditatap Bayu dengan penuh cinta seperti itu. Bahkan hembusan nafas Bayu yang lembut terasa di wajahnya.
"Apa aku boleh...?" Belum sempat Bayu menyelesaikan pertanyaan Maya justru memejamkan matanya.
Awalnya Bayu hendak bertanya apakah dia boleh tahu alasan Maya menolak lamarannya. Maya yang salah paham justru memejamkan matanya mengira Bayu ingin menciumnya.
Bayu pun mengecup bibir Maya dengan lembut, dia tidak mau membuat Maya malu dan melukai perasaan Maya yang sensitif. Ini kali pertama untuk Bayu, tapi bukan yang pertama untuk Maya. Bayu tidak terlalu agresif karena dia hanya pernah melihat adegan ciuman di film saja. Tangan Bayu sudah beralih memeluk pinggang Maya, begitu juga sebaliknya. Maya membalas ciuman Bayu, sepertinya malah Bayu yang dapat pelajaran ciuman dari Maya. Dua menit mereka saling berciuman, Maya menghentikan ciumannya lalu bersembunyi dalam pelukan Bayu.
"Aku tidak bermaksud menolak lamaran dari Ki Sopo yang ingin melamar ku untuk Mas Bayu. Saat ini aku masih sekolah, baru kelas 1, aku takut kebablasan karena terlalu sayang sama kamu, Mas." Maya segera memberi penjelasan pada Bayu.
"Jadi jangan salah sangka! Harusnya dengarkan dulu secara keseluruhan baru mengambil keputusan. Kenapa Mas Bayu jadi sensitif banget sih?"
"Sepertinya aku tidak salah sangka, bukankah kamu ingin menolak lamaran ku?" Lirih Bayu.
Maya melepaskan pelukannya lalu memukul lengan Bayu.
Bugh...
"May! Apa kalau kamu kesal selalu memukul? Aku bukan samsak, May!" Bayu pura-pura sakit memegangi lengannya.
__ADS_1
"Makanya dengerin yang bener atau tanya langsung! Jangan langsung ambil keputusan!"
"Mas Bayu jangan pura-pura sakit lengannya! Masa iya Mas Bayu-ku selemah itu?"
"Jadi kenapa kamu ingin menolak?" Tak sabar menunggu jawaban yang pasti.
"Aku masih mau sekolah, Mas Bayu nggak mau 'kan punya calon istri putus sekolah? Bahkan SMA aja nggak lulus." Maya berkacak pinggang.
"Masih ada 2 tahun sebelum lulus, Mas Bayu kerjakan dulu tugas dan tanggung jawab di perguruan Macan Emas dan Andrepati. Mas Bayu mau menunggu ku 'kan?"
"Sambil nunggu 'kan bisa pacaran dulu." Maya mengedipkan matanya pada Bayu.
"Aku pasti menunggu mu, sayang." Langsung memeluk Maya.
"Tapi, perlu Mas Bayu tahu, aku ingin putus dari Mas Randy karena aku tidak mau masa depanku rusak jika aku bertahan bersamanya. Dia selalu menuntut lebih dan memojokkan ku dengan alasan cinta. Aku ini cuma bekas, kamu pasti tahu maksudku 'kan, Mas? Bagaimana kalau aku sudah tidak suci lagi, apa Mas Bayu masih akan tetap melamar aku?" Maya berniat mengetes ketulusan Bayu lagi.
"Sayang, kenapa bicara itu lagi? Aku mencintaimu dan jangan bahas masa lalu lagi. Hatiku sakit mendengar kamu membahas masa lalu terus. Tolong jangan sebut nama mantan atau nama laki-laki lain di depanku!" Bayu masih terus memeluk Maya.
"Apa Mas Bayu yakin masih tetap menerima ku meski aku sudah tidak suci lagi? Mas Bayu tidak kecewa? Padahal Mas Bayu bisa dapatkan wanita manapun yang lebih baik dari aku."
"Berhentilah bicara tentang dirimu yang tidak suci lagi! Yang penting saat ini adalah masa depan dan kita saling mencintai. Di luar sana banyak juga per-jaka dapat janda dan mereka tetap bahagia-bahagia saja. Aku pun tidak memikirkan atau mempermasalahkannya." Jawaban Bayu benar-benar membuat Maya semakin yakin memang Bayu orang yang tepat untuk dirinya.
Maya melepaskan pelukannya, begitu juga dengan Bayu. "Kenapa, sayang? Apa kamu tidak percaya aku menerima mu dan mencintai mu apa adanya?"
Maya tidak menjawab dan justru memegang belakang kepala Bayu dan membuat Bayu semakin merunduk. Maya menatap Bayu dengan penuh cinta, Bayu pun terpaku menatap Maya.
"Aku mencintaimu, Mas Bayu. Bantu aku menghapus sisa perasaan ku yang masih tertahan di masa lalu. Maaf karena aku mencoba mengetes perasaan Mas Bayu. Hanya bibir ku saja yang sudah tidak suci, yang lain masih suci. Aku berharap Mas Bayu adalah pelabuhan terakhir ku."
Maya mencium Bayu lebih dulu, ciuman yang lembut dan menghanyutkan. Mereka berdua saling berciuman mesra dengan mata yang terpejam. Kebahagiaan memenuhinya hati Bayu dan Maya.
Maya teringat oleh omongan Ki Sopo, "Ingat! Kalian baru mau ditunangkan, jangan sampai pacaran kebablasan!"
"Aku paham, May. Aku tahu tugasku yang paling utama adalah menjagamu dari diriku sendiri." Bayu pun menyadari bahwa dia juga hanya lelaki biasa yang mungkin saja khilaf.
"Ayo keluar, antar aku pulang! Tapi sebelum itu Mas Bayu harus traktir aku makan kebab di taman. Terus pulangnya beliin martabak manis sama martabak telor."
"Kamu makannya banyak juga ya? Tapi kok nggak gemuk?"
Mereka berdua sudah keluar dari ruang kerja Bayu. Maya reflek mencubit pinggang Bayu saat mendengar kata-kata makan banyak tapi tidak gemuk.
"Aaauuwww... Ampun May! Jangan cubit dong!" Memegangi pinggangnya yang sakit karena dicubit.
"Itu biar kaya orang lagi ngapel, bawain martabak buat calon mertua. Emangnya kenapa kalau makanku banyak? Emang kenapa kalau aku gemuk?" Maya berubah jadi ganas.
Bayu malah langsung memeluk Maya dari belakang.
"Kamu gemuk dan makan banyak, aku nggak masalah. Yang penting jangan kurus, nanti dikira aku nggak mampu bahagiain kamu." Bayu menyandarkan kepalanya di bahu Maya.
"Ampun deh! Kok udah kaya pasutri muda?" Tegur Nyi Yanti.
Bayu langsung melepaskan pelukannya.
"Mas Bayu yang mulai, Mi! Dia ngatain makanku banyak tapi nggak gemuk. Mas Bayu pelit, Mi, padahal aku cuma minta beliin martabak doang." Maya malah mengadu.
"Siapa yang pelit? Aku beliin sekalian gerobaknya deh! Entar bisa buat jualan." Bayu senyum-senyum menggoda.
"Mas, jangan senyum lagi! Hatiku nggak kuat." Maya memegangi dadanya sendiri, sepertinya sudah tidak ada canggung-canggung lagi setelah dia berhasil mengetes Bayu.
__ADS_1
"Ampun bucin! Bucin! Awas ya kalau kalian kelewat batas!" Nyi Yanti memperingatkan.
Bayu dan Maya langsung serempak berpose memberi hormat pada Nyi Yanti.
"Siap, Mi."
Mereka pun menjawab dengan kompak.
"Mimi, aku gemes sama mereka berdua." Ki Sopo datang langsung merangkul pundak Nyi Yanti.
"Ingat umur, Pak!" Bayu meledak.
"Wah minta dipukul nih!" Ki Sopo menanggapi candaan Bayu.
"Ki, Sopo yang ganteng. Stop jangan bikin kami ngiri dengan kemesraan Ki Sopo dan Mimi! Saya mau pamit pulang, nggak kuat." Canda Maya.
"May! Kamu sebenarnya suka aku apa bapak sih?" Bayu mulai sewot.
"Ampun deh, Yu! Sama bapak sendiri cemburu." Ledek Ki Sopo.
"Tenang, Mas! Ki Sopo ganteng, tapi tetep lebih ganteng Mas Bayu dan lebih muda Mas Bayu." Tersenyum pada Bayu.
"Eittt... Bapak dong yang lebih ganteng." Nyi Yanti langsung membela suaminya.
"Aahhh... Mas Bayu ayo ke taman berdua. Biar aja Mimi sama Ki Sopo berdua. Pamer kemesraan mulu nih." Maya langsung menarik Bayu.
"Ki Sopo paling ganteng buat Mimi, Mas Bayu paling ganteng buat Maya. Tapi tetep, Mas Bayu nomor 1 ya Ki, yang lebih tua mengalah dong!" Maya tertawa.
"Bocah ini! Bucin banget sih! Habis kamu apain, Yu? Kok tiba-tiba jadi blak-blakan nge-bucin gitu?" Ki Sopo heran karena merasa ada perubahan pada Maya setelah mereka berdua bicara.
"Hahaha... Kami 'kan melihat ke maha guru yang suka nge-bucin juga." Maya meledek Ki Sopo.
"Mulai berani ya?" Ki Sopo pura-pura serius.
"Ampun, Ki, tidak berani." Maya jadi canggung sendiri.
Bugh...
Nyi Yanti memukul lengan Ki Sopo.
"Jangan membuat calon menantu kita jadi canggung dan takut sama kita!" Tegur Nyi Yanti.
Bayu dan Maya hanya tersenyum melihatnya, lalu Maya segera pamit pulang.
"Jangan lupa beliin martabak buat adekmu ya, Yu." Ledek Ki Sopo.
"Bapaaak...!" Bayu kesal.
"Iya, iya, bukan adek." Ki Sopo tersenyum.
"Ah senengnya, kita serasa punya anak perempuan ya, Pak. Seneng dapat menantu yang bisa seperti anak sendiri. Kita harus memperlakukan Maya dengan baik." Nyi Yanti melihat kepergian Bayu dan Maya.
"Iya, semoga mereka terus berjodoh sampai ajal menjemput."
"Aamiin." Nyi Yanti mengamini doa sang suami.
...***...
__ADS_1
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕