CEO Tampanku Ahli Silat

CEO Tampanku Ahli Silat
Part 23 Hancurnya Geng Don Juan


__ADS_3

Seorang perempuan dengan rambut panjang dan perawakan sedang, dengan sengaja menabrak seorang anak perempuan. Anak perempuan itu sedang berjalan santai membawa makanannya tiba-tiba ditabraknya dengan keras hingga semua makanan yang dia bawa tumpah ke jalanan, tentu saja anak perempuan itu menjadi marah. Suasana yang tidak terlalu ramai membuat perempuan itu mengambil kesempatan.


"Hei, kak! Kalau jalan hati-hati dong! Harus ganti rugi ya! Liat makanan ku jatuh semua gara-gara kamu! " Protes perempuan itu yang ternyata salah satu dari murid perguruan Mawar Hitam, perguruan silat yang dianggap nomor dua di bawah perguruan Macan Emas.


"Loe yang jalan nggak hati-hati, ngapain loe nyalahin gue?" Jawab perempuan berambut panjang itu.


"Hei! Jangan mentang-mentang kakak lebih tua lantas bisa seenaknya ya! Pokoknya kakak harus ganti rugi?" Desak anak perempuan itu.


"Loe nggak tahu siapa gue? Berani-beraninya loe nyalahin gue!" Perempuan berambut panjang itu siap pasang kuda-kuda (yang paham bela diri pasti tahu kan ya?)


Anak perempuan itu pun terbawa emosi dan ikut pasang kuda-kuda. "Memangnya hanya kakak yang bisa bela diri? Sok-sokan banget gayanya!"


"Gue Maya dari perguruan Macan Emas, inget tu! Loe pasti juga nggak ada apa-apanya anak kecil!" Perempuan itu adalah Maya.


"Oh, pantas sombong! Mentang-mentang murid perguruan Macan Emas, mari kita buktikan siapa yang menang!"


Perempuan berambut panjang itu pun mulai menyerang anak kecil itu. Secara postur tubuh beda sedikit, mungkin terpaut berat badan 3-8 kg dan umur terpaut 1-3 tahun. Tendangan kombinasi dengan pukulan mengarah pada anak kecil itu. Awalnya ia mampu menangkis, namun kini ia hanya mampu bertahan agar tidak tumbang. Sepertinya memang bukan lawan yang sepadan, pukulan perempuan berambut panjang itu berhasil mengenai perut dan lengan, lalu tendangannya yang bertubi-tubi akhirnya bisa menjatuhkan anak itu hingga terjerembab ke tanah.


"Nggak bisa bangun kan loe? Makanya jangan macam-macam dengan Maya dari perguruan Macan Emas." Perempuan berambut panjang itu pergi meninggalkan anak perempuan itu tanpa menolongnya atau mengganti rugi makanannya yang jatuh.


"Sial, ku kira dia tidak cukup kuat, ternyata aku bukanlah tandingannya. Aku harus melaporkan kejadian ini pada kakak seperguruan atau pada guru. Bisa-bisanya murid perguruan Macan Emas bertindak sombong seperti itu. Aku sebagai murid perguruan Mawar Hitam tidak terima dengan perlakuan ini." Gumam anak perempuan itu.


...***...


"Rand! Loe kenapa seenaknya bubarin geng kita?" Teriak Bobby tidak terima.


"Aku kan ketuanya, aku berhak membubarkannya. Tidak ada hitam di atas putih, tidak ada yang mengikat di antara kita semua." Randy menjawab dengan tenang.


"Loe gila ya? Kita udah dari kelas 1 bikin geng ini! Loe harusnya minta pendapat kami sebagai anggota!" Ferdy ikut marah. Vino dan Marco hanya diam saja.

__ADS_1


"Tak ku sangka Randy berubah secepat ini. Baguslah kalau gitu, berarti Maya bisa aman dari ancaman Ferdy dan Bobby." Batin Marco.


"Baguslah kalau bubar, jadi aku tidak takut lagi kalau punya pacar. Mana ada lelaki normal yang rela pacarnya digilir oleh temannya sendiri? Sekarang Randy sendiri yang ingin membubarkan geng ini, jadi aku tinggal ngikutin dia aja."


"Apa kalian minta pendapatku waktu kalian bermain di belakang ku dengan pacarku? Ya, meskipun dulu aku tidak pernah serius dengan para mantanku yang sudah kalian cemari." Randy tersenyum sinis.


"Kita kan sudah sepakat untuk berbagi pacar, lalu kenapa kamu baru protes sekarang? Jangan bilang ini karena Maya! Kamu ingin menikmatinya sendiri kan? Padahal kami yang sudah membantumu mendapatkannya?" Bobby mengungkit perihal Maya.


"Hahaha... Kalian jangan terlalu naif dan mengira bisa membodohi aku. Tanpa kalian aku juga bisa membayar orang lain untuk berakting waktu itu. Kalian berdua yang mulai memberi ide berbagi pacar setelah aku tahu kalian bermain di belakang ku dengan pacarku. Apa kalian kira aku tidak tahu sebenarnya kalian yang memaksa mereka? Aku saja yang bodoh mau-maunya dimanfaatkan oleh kalian."


"Kita ambil vote aja lah, siapa yang ingin geng kita bubar dan siapa yang nggak ingin bubar. Gimana menurut loe, Vino, Marco?" Randy minta pendapat dua anggota lainnya, ia sudah yakin dua orang itu akan mendukungnya.


"Aku ngikut kamu aja, Rand!" Marco langsung menjawab.


"Aku juga ngikut kamu aja, Rand. Lagipula selama ini, kamu yang lebih banyak keluar biaya untuk geng kita. Aku sadar diri sih, apalagi sekarang udah kelas 3, udah waktunya menentukan masa depan mau kuliah apa kerja. Bukan waktunya main-main lagi." Vino memberi alasan yang logis karena cari aman.


"Marco, loe kenapa ngikut Randy?" Ferdy membentak Marco.


"Loe pasti cuma mau batalin perjanjian kita kan, Rand? Kamu pasti nggak mau bayar 100 juta ke kami berempat kan?" Bobby mulai memanas.


"Vino, Marco, kalian jangan mau ditipu sama Randy dong! Dia cuma mengelak untuk membayar taruhan jika kalah. Pasti dia tidak bisa mendapatkan Maya." Imbuh Ferdy membela Bobby.


"Hahaha... Menang atau kalah sama saja kalian yang untung, kalian mencoba terus memanfaatkan aku. Jangan mimpi!" Randy tertawa menang karena Vino dan Bobby tidak terpengaruh dengan ucapan Ferdy dan Bobby.


"Okay, kalau kamu membatalkan perjanjian tentang Maya, kita tidak akan berteman lagi!" Ferdy mengancam Randy.


"Tidak masalah, aku masih punya uang dan aku bisa mencari teman yang lain lagi. Tapi aku tidak butuh teman yang hanya ingin memanfaatkan uang dan ketenaran ku saja. Kalian itu cuma benalu yang numpang hidup dan numpang tenar pada diriku." Randy tidak takut kehilangan Ferdy dan Bobby.


"Loe itu cuma anak orang kaya yang songong, tanpa kami kamu nggak akan punya teman!" Bobby kesal dengan ucapan Randy, ia langsung menerjang ingin memukul Randy. Satu pukulan mengenai wajah Randy hingga membuatnya meringis kesakitan.

__ADS_1


"Loe nggak inget apa yang sudah kita lalui selama 2 tahun terakhir ini, loe mau ngebuang kami begitu saja? Loe mau lupain pertemanan kita cuma demi seorang cewek?" Ferdy mulai playing victim, mungkin kata-kata Ferdy akan berguna jika Randy belum tahu kebusukan mereka.


"Hahaha... Kalian membuatku tertawa, kalian nggak pernah ngaca atau nggak punya kaca di rumah?" Tertawa sinis.


"Kalian nggak inget setiap nongkrong selalu gue yang bayarin? Basecamp juga di rumah gue. Cuma Marco dan Vino aja yang kadang-kadang mau gantian bayarin. Emang kerja loe berdua buat geng ini apa? Nggak ada kan? Loe berdua nggak ada gunanya."


"Jadi loe sekarang mau perhitungan sama kami? Loe sendiri kan yang sok-soakan bayar semuanya." Bobby masih berdalih.


"Loe aja yang nggak tahu malu dan nggak pernah mau ikut patungan atau bayar! Loe juga yang selalu ngejilat! Sadar loe!"


"Loe berdua nggak ada apa-apanya tanpa gue. Tapi gue udah nggak mau lagi jadi sapi perah kalian. Mau nggak mau geng ini bubar!"


"Loe nggak mau temenan, itu nggak masalah. Gue masih ada Vino dan Marco, kalau kalian berani sentuh orang-orang gue! Gue pastikan kalian akan hancur!" Ancam Randy.


"Bang - sat, loe! Dasar nggak tahu diri! Loe cuma modal tampang dan kekayaan." Ferdy mengarahkan tendangan kombinasi pukulan pada Randy. Namun dengan sigap Randy menghindar dan menyerang balik. Ferdy terkena tendangan yang keras di dadanya.


"Loe, lupa siapa gue? Jangan karena diam terus loe anggep gue nggak berani kasar sama kalian berdua!"


"Jangan kira kami akan diam dan membiarkan mu begitu saja! Kami masih ada teman-teman yang lain untuk menggantikan posisi mu atau menghancurkan mu!" Bobby mengancam Randy.


"Aku kira di sini aku ketuanya, ternyata kalian berdua ketuanya. Hahaha... Aku terlalu bodoh selama ini." Randy tertawa getir ditampar kenyataan.


...***...


Apa benar Maya menjadi sombong setelah menjadi murid khusus Ki Sopo?


Apa yang akan Bobby dan Ferdy lakukan pada Randy?


Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…

__ADS_1


Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕


__ADS_2