
Please jangan jadi silent reader ya kak🙏🏼
Jangan lupa like komen favorit dan votenya. Terima kasih 😘💕
...***...
Dua hari setelah kasus penyerangan itu terbongkar, Maya berpikir dirinya perlu bicara dari hati ke hati dengan Fira untuk menyelesaikan masalah di antara mereka berdua.
"Naruto aja selalu ceramah sebelum berperang dan ceramahnya selalu membuat lawan goyah dan sadar hingga kembali ke jalan yang benar. Jadi inget waktu Naruto lawan Pain." Maya teringat anime kesukaannya.
Naruto adalah anak yang kehadirannya dibenci oleh orang-orang terdekat, anak yatim piatu yang ditinggalkan kedua orang tuanya demi menyelamatkan desa atau negaranya. Beruntung Naruto memiliki guru yang baik, Naruto pun berjuang untuk menjadi ninja yang kuat dan hebat agar keberadaannya diakui. Naruto akhirnya dapat menjadi hokage atau presiden di negaranya.
"Baiklah, aku akan meniru cara Naruto untuk mengurai benang kusut antara aku dan Fira." Maya pun bertekad ingin membawa Fira kembali ke jalan kebaikan.
"Mbak Fira, aku ingin sekali bicara berdua denganmu untuk menyelesaikan masalah antara kita, agar tidak ada kebencian dan dendam di antara kita. Aku yakin sebenarnya Mbak Fira adalah orang baik. Jika Mbak Fira berkenan, mari tentukan tempat dan waktu untuk bertemu. Terima kasih. Dari Maya."
Ketik-ketik, hapus. Ketik-ketik, lalu kirim. Maya mengirim pesan perdamaian pada Fira, ia mendapatkan nomor chat application Fira dari Dewi.
"Haaah???" Fira kaget setelah membaca isi pesan dari Maya.
"Ini anak minum obat apa sih? Setelah kejadian itu dia masih bisa kirim pesan yang sesopan ini. Bahkan dia ingin menyelesaikan masalah di antara kami." Fira menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Padahal aku masih kesal padanya, rasanya benci banget karena dia aku tidak bisa mendekati Mas Bayu lagi."
"Atau jangan-jangan ini jebakan dan dia ingin balas dendam padaku? Tapi bisa jadi niatnya memang benar-benar baik." Fira meragu.
Hati yang dipenuhi rasa cemburu dan kebencian selalu merasa was-was dan menganggap orang lain akan berbuat jahat pula padanya. Maka dari itu, janganlah membenci, janganlah berbuat jahat agar hati kita tenang dan tidak dihantui rasa khawatir. Berhati-hatilah dalam bertindak, karena yang menabur pasti menuai.
"Biar ku coba mengenal Maya, aku juga penasaran apa yang ingin dia katakan. Lebih baik bertemu di tempat yang ramai, jadi kalau ada apa-apa 'kan ada banyak orang." Fira mengambil keputusan dengan cepat lalu membalas pesan Maya.
"Baiklah, kita bertemu hari Kamis setelah pulang sekolah di kafe Ngopi Santai di dekat perguruan Macan Emas. Jam 3 sore ya, sebelum kamu pergi latihan." Fira tersenyum.
"Kalau nanti tidak sesuai harapan ku, aku bisa merencanakan hal lain lagi untuk menjatuhkannya. Tapi jika yang terjadi sesuai harapan ku, mungkin aku bisa mencoba berteman dengannya."
"Oh iya, sepertinya lelaki yang bernama Kak Marco kemarin kenal sama Maya. Entar kepoin tentang Kak Marco ke Maya, katanya dia pacar temannya Kak Marco. Sapa tahu dia tahu banyak tentang Kak Marco." Fira tersenyum terbayang wajah Marco.
"Aisss... Udah ditolak Mas Bayu sekarang gampang banget pindah ke Kak Marco. Semoga saja dia belum punya pacar." Fira harap-harap cemas.
"Intip di profile picture chat application-nya dulu 'lah!" Fira melihat profile picture milik Marco, di sana hanya ada foto Marco seorang diri dan nama profilenya juga namanya sendiri.
__ADS_1
"Semoga aman deh, belum ada yang punya." Fira nyengir sendiri.
Maya pun tersenyum melihat pesan balasan dari Fira. "Kita hanya perlu saling mengenal, padahal aku tidak sedikitpun berniat merebut Mas Bayu. Aku tidak sepercaya diri itu dan menganggap diriku pantas untuk Mas Bayu. Bahkan dia sedang tertarik dengan seorang perempuan, aku pun tak tahu siapa perempuan itu."
Maya merebahkan tubuhnya di ranjangnya yang sudah mulai agak keras karena cuma kasur busa yang biasa. "Aku harus berjuang demi masa depan yang lebih baik, bukan sekedar kekayaan melainkan kebahagiaan. Saat ini pun aku bahagia dengan kedua orang tuaku meskipun hidup serba pas-pasan dan termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah. Harta hanyalah titipan yang Maha Kuasa, sedikit ataupun banyak semua itu akan dipertanggungjawabkan."
"Ampuni hamba Tuhan, terkadang hamba kurang bersyukur. Hamba-Mu yang lemah ini berharap dan memohon pada-Mu, pertemukan hamba dengan lelaki yang benar-benar mencintai hamba dengan tulus. Jika hamba menemukannya, hamba tidak akan balas dendam, karena hanya Engkaulah yang berhak memberi balasan pada umatmu. Aamiin." Maya berdoa dengan sungguh-sungguh, tiada terasa air matanya menetes. Ia mengingat kembali kehidupannya yang telah lalu. Jika sekarang dia masih hidup dalam keadaan baik, itu adalah sebuah kesempatan yang tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.
Keesokan harinya berjalan seperti biasa, tiada yang istimewa. Semakin hari Maya semakin terbiasa untuk jauh dari Randy, kesibukannya di organisasi dan ekstrakurikuler membuat Maya memiliki segudang alasan untuk tidak selalu bersama Randy. Priska merasa senang sekaligus kesal, senang karena dia bisa curi-curi waktu menemui Randy namun kesal karena Randy belum bertindak untuk memberi pelajaran pada Maya seperti yang dia inginkan.
Teettt... Teettt... Teettt...
Tak terasa 1 hari terlewati, bel pulang sekolah sudah terdengar. Maya terlihat sedikit lelah karena jadwal kegiatannya yang padat. Namun semangat mudanya membuat dia tidak menyerah, dia yakin setiap kegiatan yang dia ikuti akan memberinya pengalaman dan pelajaran yang berguna di dunia kerja nanti. Maya bukanlah Maya yang dulu, yang ke sekolah hanya karena kewajiban sampingan dan yang utama adalah bertemu sang kekasih.
"Aku tidak habis pikir, kenapa di kehidupan yang lalu aku selugu dan sepolos itu hingga terjebak dalam gairah cinta Mas Randy. Apa aku benar-benar dibutakan oleh cinta? Atau aku saja yang terlalu naif?" Batin Maya.
"Dulu prestasi ku menurun, hubungan sosial dengan teman-teman sangat buruk, bahkan aku cenderung tidak peduli dengan orang sekitar ku dan justru selalu sibuk pacaran, menikmati yang enak-enak sebelum waktunya. Kenapa aku dulu tidak berpikir jernih, pasti bapak dan ibu sangat sedih sekali karena mereka merasa gagal mendidik anak perempuan satu-satunya. Bapak dan ibu hanya punya aku seorang, di kehidupan kali ini aku tidak akan mengecewakan kalian lagi. Aku janji, jika aku menemukan cinta sejati yang tulus padaku, maka aku tidak akan membalaskan dendam ku sendiri, Tuhan yang berhak menghukumnya."
"May, jangan melamun dong! Kamu nggak pulang?" Maya terkaget karena Ratih menepuk punggungnya dari belakang.
"Hehehe... Iya, sepertinya aku kecapekan." Maya mulai berkemas dan hendak pulang.
"Boleh!" Sahut Maya.
"Aku tidak peduli kamu akan percaya atau tidak, tapi aku merasa harus mengatakan ini padamu." Ratih bernafas dalam-dalam bersiap ingin mengatakan sesuatu yang penting.
"Aku melihat Priska bermesraan dengan pacarmu di taman, aku benar-benar tidak sengaja lewat disitu dan melihatnya." Ratih berbicara dengan cepat, dia lega akhirnya dia berani mengatakan itu. Padahal dia tahu konsekuensi jika menganggu Randy, sudah pasti ada banyak cara agar dia bisa dikeluarkan dari sekolah.
"Kalau kamu melihatnya lagi, bisakah kamu merekamnya untukku? Mungkin kamu bisa ambil video atau fotonya." Maya menjawab dengan datar karena dia memang sudah tahu itu.
"Apa kamu percaya padaku?" Ratih heran kenapa Maya tidak marah atau mengira dia hanya ingin merusak persahabatannya dengan Priska.
"Aku percaya, tapi aku butuh bukti. Jadi kalau kamu bisa, tolong carikan bukti untukku!" Maya malah senang akhirnya ada yang peduli padanya.
"Aku harus mengumpulkan lebih banyak teman agar aku bisa jauh dari Priska dan Mas Randy. Rasanya aku ingin sekali minta tolong Mas Bayu dan Nyi Yanti." Batin Maya.
"Baiklah! Nanti jika aku tahu mereka bertemu di taman lagi, aku akan merekam videonya dan memotretnya." Ratih malah semangat 45.
"Apa kamu tidak takut mengusik Mas Randy?" Maya heran.
__ADS_1
"Jika kita bisa mengeksposnya ke berbagai media, pasti orang-tuanya akan malu begitu pun dengan dia. Kekuatan netizen lebih kejam." Ratih mengutarakan idenya.
"Jangan lakukan itu! Semua itu bisa dilacak, jangan membahayakan dirimu sendiri!"
"Cukup berikan bukti itu padaku, aku akan katakan padamu apa rencana ku, jika aku sudah bisa percaya padamu. Teman dekatku sudah mengkhianati aku hingga aku sulit percaya pada orang lain. Ku harap kamu bisa mengerti." Maya takut akan ada hal lain yang mengancam Ratih jika dia benar-benar nekat. Meskipun Maya tahu sebenarnya murid-murid lain sama seperti Ratih yang tidak suka dengan Randy yang semena-mena karena kekuasaannya.
"Iya, aku mengerti. Aku berharap dan berdoa kamu bisa lepas dari lelaki yang tidak baik seperti dia." Ratih kaget saat Maya tiba-tiba memeluknya.
"Terima kasih, tapi tolong jangan lakukan hal-hal yang akan membahayakan atau merugikan dirimu sendiri." Tidak terasa air mata Maya mulai membasahi pipi.
"Hey, kenapa kamu malah menangis?" Ratih memukul bahu Maya.
"Aku belum pernah merasakan memiliki teman yang peduli dengan keadaan ku. Terima kasih." Ucap Maya sendu.
"Jangan menangis, aku belum melakukan apa-apa untukmu. Tunggu aku punya bukti untuk membantu."
"Jangan menangis lagi, nanti matamu sembab! Kamu masih harus ikut latihan di perguruan Macan Emas kan?" Ucapan Ratih membuatnya teringat hal lain.
"Aku ada janji!" Maya menepuk jidatnya.
"Ya udah sana buruan entar telat!" Sahut Ratih.
"Besok kita makan bareng habis pulang sekolah ya? Makan ramen atau mie ayam atau bakso gitu!" Tawar Maya.
"Okay, sekalian akan aku ceritakan apa yang terjadi di belakang mu dan semua orang tidak berani mengatakannya padamu."
"Aku sudah cukup mengenalmu meski baru beberapa minggu, aku tidak merasakan bahaya jika ada di dekatmu. Semoga perasaan ku ini benar."
"Aku pamit duluan ya! Aku sudah ditunggu seniorku." Pamit Maya.
"Okay, hati-hati ya!" Ratih merasa lega, padahal dia sudah takut kalau Maya tidak percaya padanya.
"Kamu mungkin nggak inget pernah menolong ku, May. Tapi aku masih inget kamu pernah menolong ku dulu waktu SMP. Sekarang aku hanya berusaha membalas kebaikan mu." Gumam Ratih.
...***...
Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…
Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕
__ADS_1