CEO Tampanku Ahli Silat

CEO Tampanku Ahli Silat
Part 55 Cinta itu Perlu Diucapkan


__ADS_3

Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕


...***...


"Ingat! Umur minimal menikah itu 18 tahun."


"Ingat! Aku tidak akan merestui jika kamu nekat menikah hanya sah secara agama!"


Ki Sopo tidak setuju dengan pernikahan dini, beliau masih memikirkan kehormatan Maya di mata umum.


"Bagaimanapun caranya aku ingin mengikat Maya di sisi ku, Pak. Sulit bagiku untuk jatuh cinta, cuma dia perempuan yang dapat menggerakkan hati ku." Bayu terduduk lesu karena mendengar penolakan dari Ki Sopo.


"Kamu tidak bisa mengekang perempuan untuk hanya di sisi mu, Yu! Itu namanya obsesi untuk memiliki. Maya pasti tidak akan mau, kamu jangan melakukan hal yang justru akan membuat dia membenci mu!"


"Kata-kata bapak ada benarnya juga. Dia tadi marah saat aku bilang pada ibunya, kalau aku ini pacarnya." Ucap Bayu dalam hati.


"Jangan memarahi anakmu, Pak!" Nyi Yanti membela Bayu, menyadari bahwa kemarin beliau 'lah yang memberi ide untuk menikahi Maya.


"Bayu hanya khawatir dengan keselamatan Maya, Bayu mencintai Maya jadi hal wajar kalau Bayu ingin melindungi Maya."


"Mungkin hanya caranya saja yang kurang tepat. Sebagai orang tua kita harus mendukung dan mencarikan solusi jika itu untuk kebahagiaan Bayu, anak kita satu-satunya." Nyi Yanti mendekat dan memeluk pundak Ki Sopo, berusaha menenangkan emosi suaminya itu.


"Aku akan merestui kalian bertunangan terlebih dahulu, itupun jika Maya menyetujuinya. Kalau Maya tidak menyetujuinya, maka tidak akan ada restu dari ku."


"Menikah itu bukan hal main-main yang ketika bosan atau ada masalah lalu putus. Maya masih muda, pasti belum siap untuk berumah tangga." Ki Sopo menatap Bayu dengan tajam.


"Harusnya kamu fokus melindungi dan mendapatkan cintanya terlebih dahulu! Bukan seenak jidat ingin menikah tanpa memikirkan perasaan dan masa depan Maya. Matamu tertutup cinta dan obsesi. Harusnya kamu ingat apa yang dikatakan Ki Narto saat terjadi masalah dengan Fira tempo dulu. Jangan sampai obsesi membuat mu kehilangan kesempatan untuk mendapatkan cintanya."


"Orang menikah harus dilandasi rasa cinta atau rasa saling menyukai, bukan karena terpaksa!" Ki Sopo meninggalkan Bayu yang masih merenungi sikap yang telah dia ambil.


"Bapakmu benar, Yu. Jangan sampai obsesi membuat Maya jauh dari mu. Jangan mengikat terlalu kencang! Itu akan membuat dia merasa sesak, tidak bebas dan akhirnya ingin pergi." Nyi Yanti masih setia menunggui Bayu.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus aku lakukan, Mi?" Bayu meminta saran dari ibunya, otaknya seakan lumpuh dan tidak mampu berpikir lagi karena rasa khawatir terhadap Maya, perempuan yang membuat dia jatuh cinta setelah sekian lama menjomblo. Pikiran Bayu semakin tak menentu setelah mendengar setiap ucapan dari bapaknya.


"Apa kamu sudah yakin dengan perasaan mu pada Maya?"


"Kalau saja masih ada sedikit keraguan, sebaiknya kamu memberinya waktu sekalian menunggu dan membantu Maya terbebas dari pacarnya itu."


"Mungkin saja, Maya saat ini juga sedang bingung atau sedang menyusun rencana bagaimana putus dari pacarnya itu. Kamu harus ada untuk menjadi pendukung Maya, menjadi kekuatan untuk Maya. Kamu tahu sendiri 'kan Randy Prasetyo Wibowo bagaimana!" Nyi Yanti dengan lembut memberikan support pada anak semata wayangnya itu.


"Apa kamu sudah mengatakan perasaan mu pada Maya?" Tanya Nyi Yanti.


"Belum, mi! Aku takut dia menolak karena belum putus dari Randy." Bayu menjawab dengan lesu.


"Hey!!! Anak muda jangan mudah menyerah, baru gitu aja masa mau menyerah! Cinta itu perlu dinyatakan, perlu diucapkan, kalau cuma diam justru akan membuatnya salah sangka, Yu!" Nyi Yanti memberi semangat.


"Ingat! Kamu harus menyatakan perasaan mu dengan benar, kalau kamu tidak berani dan selalu menutup-nutupi, yang ada Maya akan ragu apa kamu mencintainya atau tidak."


Jleb...


Kata-kata Nyi Yanti berhasil menyadarkan Bayu.


"Kalau beneran cinta, buktikan dan perjuangkan dong! Biar direstui sama bapak. Bisa nggak?" Nyi Yanti malah menantang Bayu.


"Bisa, Mi. Makasih atas support-nya. Aku akan cari waktu untuk mengungkapkan perasaan ku dengan jelas." Semangat Bayu kembali bangkit.


"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu." Nyi Yanti diam-diam merencanakan sesuatu.


"Terus siapa yang telah mencelakai Maya, Yu?" Nyi Yanti menanyakan hal yang sejak tadi ditunda-tunda gara-gara Bayu ingin menikah.


"Mereka masih anak SMA, Mi. Teman Randy yang menyuruhnya. Mereka akan aku bebaskan tapi mereka harus tutup mulut. Aku juga sudah menyiapkan serangan untuk teman Randy itu, aku pastikan mereka dapat balasan yang lebih berat karena berani mengganggu orang yang aku cintai."


"Apa mungkin kalau yang menyuruh sebenar adalah Randy sendiri?" Nyi Yanti berprasangka.

__ADS_1


"Sepertinya bukan, Mi! Setahuku Randy sudah membubarkan gengnya, bahkan sekarang dia semakin cinta sama Maya. Mungkin akan sulit melepaskan Maya dari Randy." Bayu sedikit pesimis.


"Hey... Hey...! Apa kaya gini nih mental calon CEO baru Andrepati?"


"Kalau Maya sudah tak cinta pada Randy dan ingin putus, melepaskan Maya dari Randy bukanlah hal yang sulit. Kita tinggal melindungi Maya saja, takutnya Randy menggunakan kekuasaan bapaknya untuk menganggu Maya dan keluarganya."


Nyi Yanti merangkul Bayu. "Kalau lagi gini baru bisa peluk kamu ya, Yu! Biasanya sudah nggak mau dipeluk sama Mimi."


"Hahaha... Mimi nggak mau 'kan kalau aku jadi anak mami dan manja?" Bayu kali ini mau menerima pelukan ibunya, dia merasa nyaman dan bahagia, meskipun bapaknya begitu tegas, masih ada ibunya yang penuh kelembutan mensupport dirinya.


...***...


Randy mulai terbiasa dengan kehadiran Maya, meskipun mereka berdua tak semesra ketika Randy bersama Priska. Pagi-pagi Randy hendak menemui Maya di kelas tanpa mengirim pesan terlebih dahulu. Randy kaget setelah ada teman kelas Maya yang memberitahunya bahwa Maya tidak masuk karena sakit.


Randy kesal karena mendengar dari teman Maya. "Ck... Kenapa Maya tidak memberi tahuku? Sekarang aku benar-benar merasa seperti pacar yang tak dianggap karena dia terlalu mandiri dan tidak bermanja-manja lagi."


Randy pun segera menelepon Maya, namun tidak ada jawaban dari sebrang sana, entah sedang apa Maya pagi ini. Randy jadi kesal dan bingung karena Maya tidak bisa dihubungi. Ratih terus memperhatikan gerak-gerik Priska yang merasa tidak suka ketika Randy mencari Maya, di depan umum Priska tidak mungkin bertegur sapa dengan Randy.


Randy pun meninggalkan kelas Maya dengan perasaan kesal dan Priska terus memperhatikannya. Perasaan khawatir karena Maya sakit dan perasaan kesal karena tidak dikabari bercampur jadi satu hingga membuat Randy tidak menyadari bahwa sejak tadi Priska menatapnya dengan perasaan kesal juga.


Tweeet... Tweeet... Tweeet...


Bel jam istirahat pertama sudah berbunyi, Priska yang sejak tadi gelisah karena Randy yang begitu perhatian dengan Maya, segera bergegas mengirim pesan dari ponselnya lalu pergi ke luar kelas. Ratih yang sejak tadi terus mengawasi menjadi curiga.


"Mungkin saja Priska sekarang mau menemui Randy. Sebaiknya aku membuntutinya." Pikir Ratih.


...***...


Apa yang akan dilakukan Nyi Yanti untuk membantu Bayu?


Apakah Randy mengetahui kelakuan Priska di belakangnya?

__ADS_1


Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…


Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕


__ADS_2