CEO Tampanku Ahli Silat

CEO Tampanku Ahli Silat
Part 29 MEMBAGI MADU CINTA +++ 1


__ADS_3

Author ingatkan, ini tidak untuk ditiru ya guys!!!


Sorry author jadi banyak berpesan di part ini 🙏 . Part ini agak sensitif, tapi real life kadang terjadi, makanya berhati-hatilah dalam bergaul, terutama para gadis-gadis remaja atau SMP-SMA-kuliah. Kadang orang terdekat juga bisa menimbulkan bahaya, kalau janur kuning belum melengkung, kalau ijab qobul belum sah, jangan sekali-sekali melakukan hal yang tidak semestinya! Kalian pasti tahu maksud author.


Hindari berkhalwat atau berdua-duaan dengan lawan jenis agar lebih aman. Kalau nekat pacaran jangan sampai kebablasan, ingat masa depan! Hati-hati kalau belum sah masih ada kemungkinan putus atau ditinggalkan. Jangan terbuai dengan nikmat sesaat, cinta itu menjaga bukan merusak.


Kalau yang udah nikah, bebas lah mau ngapain aja, asalkan dengan pasangan yang sah ya! Jangan main api!


Happy Reading, jangan lupa like, komentar, favorit, vote dan kasih hadiah biar author semakin semangat nulis ya. Terima kasih 😘💕


...***...


Maya masih duduk di kursinya meski teman-teman yang lain sudah pulang duluan, bahkan Priska meninggalkannya begitu saja tanpa pamit.


"Jadi begini perasaan ibu saat mencoba menasehati aku tapi aku hanya menganggapnya angin lalu dan tetap lanjut pacaran dengan Mas Randy, bahkan aku jadi kesal sama ibu." Hati Maya merasakan sakit saat usahanya secara tidak langsung menasehati Priska malah justru membuat Priska kesal dan menjauh darinya.


"Maya, tumben kamu nggak buru-buru pulang?" Tegur salah satu teman sekelasnya hingga membuyarkan lamunan Maya.


"Eh.. Iya, sebentar lagi mau pulang, ini masih mager agak capek." Jawab Maya asal.


"Ya udah, aku duluan ya. Jangan melamun terus nanti kesambet loh! Dari pagi kamu kaya nggak fokus, tumben sekali." Ratih merasa heran karena biasanya Maya tidak seperti itu.


"Mungkin karena kelelahan saja. Istirahat sebentar, pasti nanti udah pulih lagi seperti biasanya." Tentu Maya tidak bisa cerita pada Ratih, memang dia tidak terlalu dekat.


"Tapi, kamu tidak sakit kan? Bisa pulang sendiri nggak? Atau mau aku antar?"

__ADS_1


"Motor mu bisa dititipkan ke pak satpam dulu di sini, rumah kita juga searah." Ratih menawarkan bantuan.


"Aku tidak apa-apa, Ratih! Kamu pulang duluan aja, nggak apa-apa kok." Maya meyakinkan Ratih bahwa dia tidak apa-apa.


"Yakin? Kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan sama teman sendiri." Ratih memang orang yang care dan baik pada semua temannya.


"Serius, aku nggak apa-apa. Kalau aku butuh bantuan pasti aku akan bilang padamu. Terima kasih ya karena sudah memperhatikan aku." Setulus hati Maya mengucapkan terima kasih, dulu mungkin dia tidak akan merasakan pertemanan yang hangat seperti ini karena sibuk dengan Randy saja. Ternyata orang hidup butuh teman, porsi teman dan porsi pacar harus imbang agar kita tidak kehilangan semuanya.


Setelah Ratih pulang duluan, Maya masih terdiam di kelas. Pikirannya berkecamuk, bagaimana dia harus mengingatkan Priska bahwa Randy dan teman-teman gengnya memang para lelaki yang tidak baik. Ia juga masih kepikiran mengenai siapa selingkuh Randy yang dibawanya ke vila di kehidupan yang lalu.


"Aku sangat membencimu Mas Randy. Meski kamu berubah, aku tidak akan memaafkan kamu. Aku tidak ingin kejadian di kehidupan yang lalu terulang kembali. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang Tuhan berikan padaku. Jangan mengira aku akan luluh setelah kamu membubarkan geng Don Juan! Kamu itu hanya penipu dan tukang manipulasi." Maya mengepalkan tangannya dan memukul meja.


Masih teringat jelas di pikiran Maya, bagaimana detail kejadian pahit itu. Kejadian yang menghancurkan masa depannya, lelaki yang ia cintai justru membuatnya menjadi piala bergilir bagi teman-teman satu gengnya.


Saat itu kondisi vila sangat sepi dan sunyi, letaknya juga cukup jauh dari vila yang lain. Kalaupun berteriak-teriak atau menyetel music yang cukup kencang, tidak akan ada yang mendengar. Randy pun sengaja menyuruh penjaga vila untuk pulang dan diijinkan libur untuk satu hari itu. Maya pun tak menaruh curiga, dia pikir memang hanya ada dia dan Randy di vila itu.


Randy membuatkan minuman untuk Maya. "Sayang, minumlah dulu! Kamu pasti haus kan?" Randy mengulurkan satu gelas jus jeruk pada Maya.


"Terima kasih, sayang." Maya menerima jus yang Randy berikan lalu meminumnya sedikit.


"Apa rasanya nggak enak? Kok nggak dihabisin? Padahal aku udah capek-capek bikin sendiri buat kamu loh!" Randy sengaja berkata seperti itu agar Maya segera menghabiskan jus itu.


"Enak kok." Maya segera menegak habis jusnya karena merasa tidak enak dengan Randy.


Saat ini mereka berdua sedang duduk di sofa ruang tengah. Randy mulai merangkul dan memeluk Maya seperti yang biasanya mereka lakukan saat berdua.

__ADS_1


"Sayang, aku kangen banget sama kamu." Bisik Randy di telinga Maya.


"Aku juga kangen, sayang. Salah sendiri kamu sibuk di tempat kuliah! Aku kira kamu tidak merindukan aku." Maya mulai mencium Randy terlebih dahulu, tangannya mencengkeram kemeja yang Randy kenakan, mengikis jarak antara mereka berdua. Maya merasa sangat haus akan kehangatan yang beberapa minggu ini tidak dia rasakan. Maya merindukan sentuhan Randy yang memabukkan.


"Wow… Sepertinya obat itu mulai bereaksi." Ucap Randy dalam hati. Dia sangat senang karena obat yang dia tambahkan ke dalam jus tadi sangat cepat bereaksi. Sebelum menuntaskan perjanjian dengan teman-teman satu gengnya, Randy terlebih dahulu menuntaskan hasrat kerinduannya akan kehangatan Maya. Randy pun mulai melepas kancing baju yang Maya kenakan lalu membuka bungkus kedua susu murninya yang sangat dia rindukan. Dia buru-buru meminum susu murni itu dengan rakus, sambil mere - masnya seakan-akan susu murni itu akan benar-benar keluar.


"Hmmm terus, Mas, yang kenceng!" Randy pun menuruti permintaan Maya, ia mere - mas satu susu murni dengan kuat dan membe - lainya dengan penuh kelembutan hingga membuat Maya kelabakan. Apalagi ditambah lidah pink milik Randy terjulur sempurna dan menyapu puncak susu murni yang satunya.


Obat dalam jus tadi membuat Maya hilang kesadaran, yang ada dipikirannya saat ini hanyalah menuntaskan gejolak di jiwanya. Tangannya membuka kancing kemeja yang Randy kenakan, lalu turun dan mengeluarkan senjata itu dari tempatnya. Maya menggosok senjata itu dengan je - marinya agar siap ditembakkan.


Setelah lama meminum susu murni yang tak pernah habis, je - mari Randy segera turun dan menyusup ke dalam lembah yang lembab di balik skirt yang Maya kenakan.


"Hmmm... Yang dalam, Mas!" Maya membuka jalan lebih lebar dan memajukan ping - gulnya agar je - mari Randy melesak lebih dalam. Ia juga menci - umi leher Randy yang mulus hingga membuat Randy semakin ingin melanjutkan aktifitasnya.


Randy pun tidak tahan melihat Maya yang sudah on fire. Ia segera membuka penghalang yang menutupi lembah itu hingga terpampang jelas bunga pink milik Maya.


"Sayang, apa aku boleh menye - sap madu mu hingga habis." Bisik Randy di telinga Maya.


Maya mengangguk lemah, "Cepat, Mas! Aku ingin kamu menghi - sapnya." Entah berapa banyak obat yang Randy campurkan pada jus yang Maya minum hingga membuat Maya hilang kendali.


...***...


Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…


Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕

__ADS_1


__ADS_2