
Please jangan jadi silent reader ya kak🙏🏼
Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕
...***...
Marco mengendarai motornya menuju ke salah satu taman yang tidak jauh, namun bukan taman yang biasanya Randy dan Maya bertemu.
Setelah turun dari motor, Maya berjalan lebih dulu dan mencari bangku taman yang kosong, Marco pun hanya mengikuti Maya. Hening, mereka berdua tidak bersuara, ditambah dengan suasana taman yang sepi membuat pikiran Maya semakin menerawang jauh memikirkan Priska.
Maya buru-buru duduk saat menemukan bangku taman yang kosong. Marco ikut duduk tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia memberi ruang untuk Maya.
"Apa aku boleh pinjam bahu mu untuk bersandar, Kak?" Lirih Maya.
Marco langsung menggeser duduknya agar lebih dekat, Maya menyandarkan kepalanya di bahu Marco. Keheningan sejenak menghantui, namun tidak lama kemudian terdengar isak tangis.
"Hiksss... Hiksss... Kak, jaket mu jadi basah. Maaf." Maya membersihkan jaket Marco dengan tangannya.
Marco menggenggam tangan Maya lalu mengusap air matanya. Marco memberanikan diri memeluk Maya, membiarkan Maya menangis lagi dalam dekapannya.
"Tumpahkan semuanya, menangis 'lah! Tapi setelah ini kamu harus bangkit dan berjuang kembali. Ada aku yang akan selalu mendukungmu dan menjagamu, jangan takut lagi!"
"Apa aku terlalu cengeng?" Suara Maya tidak begitu jelas hidungnya tersumbat karena menangis.
"Tidak ada salahnya menangis karena menangis bisa membuat kita sedikit lega. Tidak ada yang melihatmu menangis, aku janji tidak akan mengatakan pada siapapun."
"Tapi aku akan meledek mu setiap kali kita bertemu." Canda Marco.
"Awww... "
"Kenapa kamu suka sekali mencubit sih?" Marco mengusap pinggangnya yang dicubit oleh Maya.
Maya tersenyum. "Kak Marco sih! Ada orang nangis malah diledekin."
Maya menarik dirinya dari pelukan Marco dengan perasaan yang campur aduk.
"Baik banget, Kak Marco membiarkan aku menangis dan tidak buru-buru meminta ku bercerita." Ucap Maya dalam hati.
"Ini jaket ku jadi basah, ntar kamu cuciin ya!" Marco masih jahil.
Bugh... Bugh... Bugh...
Maya memukul lengan Marco beberapa kali.
"Ya ampun, dikira aku samsak, dipukul-pukul. Mending peluk aja sini!" Marco merentangkan kedua tangannya siap untuk memeluk Maya lagi.
"Kak Marco genit ihhh...! " Ledek Maya.
"Hahaha... " Marco cuma tertawa, mungkin kalau itu Randy, pasti akan keluar gombalan yang lainnya lagi.
__ADS_1
"Apa aku boleh curhat, Kak?" Tanya Maya.
"Dengan senang hati akan aku dengarkan. Apapun yang kamu katakan, aman bersama ku." Janji Marco.
Mata Maya mulai berkaca-kaca lagi, rasanya dia sudah tidak tahan dan ingin sekali mengatakan pada Marco kalau dia hidup kembali dan mendapatkan kesempatan merubah masa depannya yang rusak karena Randy dan geng Don Juan.
"Kalau kamu belum siap bercerita, tidak usah memaksakan diri. Aku ada kapanpun kamu membutuhkan bantuan." Marco merangkul pundak Maya.
"Priska selingkuh dengan Mas Randy dan dia juga yang menyuruh Mbak Fira mengawasi aku, bahkan dia juga yang memberi ide untuk memfitnah aku." Air mata mulai membasahi pipi, dengan cepat Maya mengusap dengan punggung tangannya.
Marco kaget karena Maya tahu jika Priska berhubungan dengan Randy. Marco takut jika Maya tahu akan perjanjian yang geng Don Juan buat mengenai Maya. Ia takut jika Maya akan membencinya juga.
"Kenapa Kak Marco diam? Pasti Kak Marco tahu mengenai hubungan Priska dan Mas Randy 'kan?"
"Aku tahu, tapi aku takut untuk memberitahu kamu. Aku takut kamu tidak percaya, apalagi aku adalah anggota geng Don Juan, pasti kamu mengira kami semua sama saja." Jujur Marco.
"Rasanya sakit banget dikhianati teman sendiri, Kak! Padahal aku selalu memikirkan kebaikannya. Salahku dimana?" Maya menangis lagi.
"Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, May! Kita juga tidak bisa menuruti semua kemauan orang lain. Bukankah selama masih hidup akan selalu ada orang yang iri, dengki, dan mengomentari apapun yang kita lakukan. Jangan biarkan orang lain mengendalikan hidup kita!"
"Kamu boleh menangis, tapi pikirkan nanti saat kamu pulang, orang tua mu pasti bertanya dan jadi khawatir." Marco mengambil sapu tangan di saku jaketnya dan memberikannya pada Maya.
"Cepat ambil!" Mengulurkan sapu tangannya, tapi tiba-tiba Maya malah cengengesan.
"Kak Marco, ini tahun berapa? Kenapa Kak Marco udah seperti bapak-bapak jaman dulu yang kemana-mana bawa sapu tangan." Maya terlihat lucu karena setengah menangis setengah tertawa.
Maya mengambil sapu tangan Marco dan membersihkan wajahnya yang penuh air mata.
"Itu sapu tangan, bukan air buat cuci muka, May!" Canda Marco.
Bugh...
Maya memukul lengan Marco lagi.
"Aku tahu Kak Marco berbeda dengan anggota geng Don Juan lainnya."
"Tapi aku juga tidak lebih baik dari mereka, karena sebelumnya aku tidak pernah berusaha mencegah hal negatif yang mereka lakukan. Bahkan aku sempat terlena dan hampir terjerumus sama seperti mereka." Jujur Marco.
"Yang penting sekarang Kak Marco tidak lagi terjerumus dalam hal negatif."
"Aku sudah tahu kelakuan Mas Randy di belakang ku." Maya menatap kosong ke depan. Rasa sakit begitu menyesakkan dada, bagaimanapun Randy adalah pacar dan cinta pertamanya. Hatinya makin terluka, ia sungguh tidak menyangka teman dekatnya justru ingin mencelakainya.
"Lalu untuk apa lagi kamu masih bersama Randy?" Marco antusias karena ada secercah harapan baginya untuk bisa mendapatkan cinta Maya.
"Aku tidak mungkin minta putus tanpa alasan. Apalagi Mas Randy sekarang sedikit demi sedikit telah berubah." Maya menggoyang-goyangkan kakinya karena merasa tidak yakin dengan omongannya sendiri.
"Kamu tidak yakin padanya 'kan?" Marco tahu Maya meragu.
__ADS_1
"Bukankah orang berubah butuh waktu, Kak?"
"Kak Marco juga butuh waktu untuk mengambil keputusan dan berubah 'kan? Apalagi lingkaran pertemanan kalian seperti itu, pasti sulit sekali. Butuh keberanian untuk berubah dan melawan keadaan."
"Iya. Aku juga butuh waktu mengumpulkan keberanian untuk berubah dan melawan, karena ada resiko yang harus dipertimbangkan." Marco membenarkan, tapi di sisi lain dia tidak percaya sepenuhnya pada Randy.
"Nilai 'lah sendiri! Aku janji, aku akan selalu mendukungmu dan menjagamu, apapun pilihan mu nanti." Marco bersedia menjadi pendukung Maya.
"Kalau aku memilih tetap bersama Mas Randy, apa Kak Marco akan tetap mendukung ku?"
Marco sejenak terdiam, "Aku hanya memikirkan keselamatan mu, jika Randy benar-benar berubah, aku ikhlas."
"Tapi jika dia hanya berniat menyakiti mu, aku tidak rela. Aku pasti membantu mu apapun resikonya." Menggenggam tangan Maya dengan erat.
"Jangan membahayakan posisi keluarga mu, Kak!"
"Aku sungguh tidak menyangka keputusan untuk menerima Mas Randy menjadi pacarku justru membuat ku berada dalam posisi sulit. Harusnya sejak awal aku tidak berhubungan dengannya."
"Kita tinggal cari bukti kejahatan Randy, setelah itu kita bisa balik mengancamnya."
"Sepertinya aku tahu siapa yang bisa membantu ku." Wajah Maya berubah menjadi cerah.
"Siapa?" Marco sedikit kecewa karena bukan dia yang bisa membantu Maya.
"Mas Bayu." Senyum secerah sinar mentari, terbayang senyum manis Mas Bayu yang begitu mempesona.
"Kau menyukainya?" Marco sedih.
"Hah? Dia tidak mungkin ku jangkau, Kak! Tapi mungkin aku bisa minta tolong padanya karena dia anak dari Ki Soponyono."
"Kak Marco jangan sedih begitu! Ayo pulang!" Maya beranjak dari duduknya dan menarik Marco agar segera bangkit.
"Sepertinya akan sulit bagiku untuk mendapatkan cintamu, meskipun kamu sudah tidak bersama Randy lagi." Batin Marco.
"Keadaan membuat kita terpaksa dewasa sebelum waktunya, semoga kita bisa melewatinya dengan baik." Ucap Marco yang sudah berjalan berdampingan dengan Maya.
"Tentu, harus berusaha sekuat tenaga." Ucap Maya penuh semangat.
"Terima kasih sudah ada untuk ku, Kak. Mungkin begini rasanya punya saudara ya?"
"Saudara?" Lirih Marco.
"Jangan berpikir terlalu banyak! Perasaan orang memang susah ditebak dan bisa berubah-ubah, jangan terlalu menerka-nerka." Sahut Maya.
Maya tersenyum lembut pada Marco hingga membuat hati Marco merasa sedikit tenang.
...***...
Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…
__ADS_1
Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕