
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
...***...
"Cincin ini seperti cicin punya guruku. Siapa nama kakekmu?" Ki Sopo kaget saat mengetahui bahwa cicin yang Maya pakai sama seperti cicin gurunya.
"Haryo Hadi Suwarno, Ki." Jawab Maya.
"Haryo Hadi Suwarno?" Kening Ki Sopo berkerut mengingat-ingat nama gurunya.
"Apa kamu tidak salah sebut? Mungkin maksudmu adalah Haryo Kamandanu? Guruku bernama Haryo Kamandanu." Ki Sopo mengira Maya salah mengingat nama kakeknya sendiri.
"Tidak, Ki! Saya tidak salah. Bapak saya namanya Margono Hadi Suwarno, berarti kakek saya namanya juga pakai Hadi Suwarno." Maya menjelaskan.
"Apa kamu yakin? Coba kamu tanya pada bapak atau ibumu!" Sahut Ki Sopo antusias.
"Coba nanti saya tanyakan pada bapak saya dulu, Ki." Maya setuju.
"Cepat tanyakan sekarang! Telepon atau kirim pesan ke bapakmu sekarang! Jangan-jangan bapakmu itu si Mar anaknya Ki Haryo." Ki Sopo tidak mau menunggu dan penasaran. Pasalnya Ki Sopo kehilangan jejak gurunya itu sejak terjadi huru-hara perselisihan antar beberapa perguruan silat 25 tahun silam. Waktu itu Ki Sopo baru saja masuk kuliah semester 2. Ki Sopo belumlah sehebat seperti sekarang ini.
"Iya, Ki. Ini saya kirim pesan ke bapak, jam-jam segini bapak biasanya baru sampai rumah setelah pulang kerja." Maya segera mengambil ponselnya dan bertanya pada bapaknya.
"Kalau benar kamu cucu dari Ki Haryo Kamandanu, aku akan segera melamarmu untuk Bayu anakku."
"Haaah!!!" Maya kaget bukan main.
"Cepat! Apa bapakmu sudah menjawab? Kalau belum menjawab segera telepon saja!" Titah Ki Sopo tidak sabar menunggu.
Maya terpaku saat membuka pesan dari bapaknya. "Kakekmu memang bernama Haryo Hadi Suwarno, tapi dulu kakekmu memang terkenal dengan nama Ki Haryo Kamandanu karena kehebatan dan ketampanannya. Tumben sekali kamu tanya tentang kakek?"
"Hey…! Kenapa malah diam?" Suara Ki Sopo yang sedikit meninggi membuat Maya terlonjak kaget, terlebih dia masih kaget bahwa kakeknya benar-benar Ki Haryo Kamandanu guru dari gurunya saat ini.
__ADS_1
"Itu, Ki. Nama kakek saya Haryo Hadi Suwarno." Wajah Maya terlihat jelas menunjukkan kekagetan, Ki Sopo yang tidak sabar segera mengambil ponsel Maya dari tangan Maya.
"Hahaha… Benar kan kamu cucu Ki Haryo Kamandanu!" Ki Sopo bahagia sekali.
"Sekarang dimana kakekmu? Aku ingin sekali menghadap pada beliau." Saking senangnya Ki Sopo tidak memperhatikan Maya yang hanya diam saja.
"Bukannya aku tidak senang kalau Ki Sopo hendak melamarku untuk Mas Bayu, aku juga menyukai Mas Bayu. Tapi di dalam hati ini masih ada sedikit sisa ruang yang masih terisi oleh Mas Randy, aku tidak mau menyakiti Mas Bayu karena 20% perasaanku masih terjebak di masa lalu. Apalagi aku baru kelas 1 SMA, aku tidak mau jadi burung dalam sangkar secepat ini." Pikiran Maya bergelut dengan perasaannya.
"Ya ampun! Mayaaa…! Kenapa malah melamun?" Tegur Ki Sopo.
"Eh… Iya, Ki." Maya baru menyahut.
"Kakekmu sekarang dimana? Apa tinggal bersamamu?"
"Kakek… Kakek sudah meninggal sejak saya kelas 3 SD Ki." Jawab Maya lesu.
"Harusnya aku mencari Ki Haryo dengan benar, sekarang menyesal pun tiada artinya." Ki Sopo merasa bersalah.
"Andai saja aku bisa menemui kakekmu setelah aku berhasil mendirikan Perguruan Macan Emas dan PT Andrepati, pasti kakekmu akan bangga sekali. Dulu aku tak sehebat seperti sekarang ini. Dulu aku masih anak ingusan yang tidak punya kekuatan untuk membantu kakekmu di masa sulitnya." Ki Sopo sedih karena merasa tidak berbakti pada gurunya.
"Beliau yang menjadikan aku pesilat tangguh yang digadang dapat menjadi penerusnya dalam mengajar seni bela diri Macan Langit menemani bapakmu. Mungkin bapakmu masih ingat padaku, tanyakan padanya apa dia masih ingat dengan Mas Yuyu. Bapakmu dulu memanggilku Mas Yuyu karena namuku yang sebenarnya adalah Wahyu."
"Berarti bapak saya juga bisa bela diri silat, Ki? Tapi kok bapak selama ini hanya diam saja dan tidak pernah menceritakan bahwa beliau bisa bela diri silat?" Maya bingung sendiri, kenapa justru bapaknya membiarkan dia berguru ke Perguruan Macan Emas, bukannya melatih anaknya sendiri.
"Bapakmu, si Mar itu pasti merasa trauma atau tidak ingin berurusan dengan yang namanya silat, pasti sebenarnya dia kurang suka kamu belajar silat. Mungkin kamu ngotot ingin belajar makanya bapakmu membiarkanmu belajar silat ke sini." Terang Ki Sopo.
"Bapak mengijinkan saya berlatih silat untuk jaga diri, Ki, dan juga agar saya tidak terlalu sibuk pacaran." Maya berkata jujur pada Ki Sopo.
"Satu hal yang membuat saya penasaran, Ki. Kenapa saya bisa melihat bayangan akan hal yang belum pernah saya alami. Seperti kemarin…" Maya tidak melanjutkan ceritanya, dia teringat saat melihat bayangan Bayu dan dirinya menggunakan baju pernikahan, bayangan yang muncul saat Bayu menyentuh cincinnya.
"Bayangan apa?" Ki Sopo penasaran kenapa Maya tiba-tiba terdiam.
__ADS_1
"Teman saya menyentuh cincin saya ini, terus saya melihat bayangan teman saya itu berduaan dengan seorang lelaki, mereka terlihat mesra, padahal mereka saat ini tidak begitu dekat." Maya menjelaskan penglihatannya tentang Ratih, dia menyembunyikan fakta bahwa dia melihat bayangannya dengan Bayu yang menggunakan baju pengantin.
"Itulah keistimewaan cincin dari Ki Haryo, tidak semua orang memilikinya. Atas kehendak yang Maha Kuasa, kamu bisa mendapat bayangan dari secuil masa depan dari orang yang menyentuh cincinmu itu." Penjelasan Ki Sopo sontak membuat Maya semakin terkejut.
"Jadi di masa depan aku akan menikah dengan Mas Bayu?" Lirih Maya.
Ki Sopo tersenyum sendiri mendengar ucapan Maya yang sangat lirih namun masih dapat beliau dengar.
...***...
Flashback on
Aku mengira bahwa diriku hidup kembali setelah aku nekat bunuh diri, ternyata semua kisah tragis hubungan ku bersama Mas Randy adalah gambaran masa depan yang ditunjukkan oleh cincin yang aku kenakan.
Aku mencoba mengingat-ingat kembali kapan aku mulai mengenakan cincin itu, ternyata bapak memberikan cincin itu saat aku dinyatakan diterima di SMA 2. Sebelum masuk MOS aku juga sempat jalan bareng Mas Randy, sepertinya saat itu Mas Randy menyentuh cincin yang aku pakai ini. Aku ingat bahwa kata bapak cincin itu adalah peninggalan dari kakek ku yang bernama Haryo Hadi Suwarno.
Kakek dulu adalah pesilat yang sangat disegani karena ilmunya, namun beliau pensiun dari dunia persilatan setelah nenek meninggal karena ulah dari musuh kakek. Musuh kakek dengan sengaja menebar fitnah dan menimbulkan perselisihan antar perguruan silat. Bahkan musuh kakek itu memfitnah perguruan silat Macan Langit milik kakek dan membuat Perguruan Macan Langit berurusan dengan hukum. Kakek pun sempat ditahan oleh pihak kepolisian selama satu bulan hingga membuat nenek terkena serangan jantung dan meninggal.
Keadaan ekonomi keluarga kakek menurun drastis setelah kejadian itu, meskipun sudah terbukti tidak bersalah tapi reputasi perguruan Macan Langit terlanjur rusak hingga ditinggalkan oleh para murid dan koleganya. Begitu pula dengan swalayan yang kakek bangun menjadi sepi pengunjung dan akhirnya mengalami kebangkrutan.
Kakek harus menjual swalayan dan rumahnya demi menutup kerugian. Dari yang sebelumnya tinggal di rumah yang besar sekaligus tempat perguruan Macan Langit, beliau harus pindah ke rumah yang lebih kecil. Beruntung sekali keluarga kakek tetap bersikap baik dan tidak meninggalkan kakek seorang diri bersama bapak yang dulu masih kelas 1 SMA. Kakek terpaksa bekerja seadanya, berwirausaha kecil-kecilan di rumah yang baru demi menuntaskan pendidikan bapak sampai tamat SMA.
Kakek pun sengaja pindah rumah agar ganti suasana dan tidak banyak tetangga yang tahu mengenai kasusnya. Bersyukur sekali kala itu bapak mampu bersikap dewasa sehingga dapat bertahan bersama kakek.
Kakek meninggal saat aku masih duduk di bangku kelas 3 SD, saat itu aku masih belum tahu apa-apa, masih belum tahu detail kisah kakek. Ternyata sebelum meninggal kakek menitipkan cincinnya pada bapak, cicin itu boleh diberikan padaku saat aku remaja.
"Berikan cincin ini pada Maya saat dia lulus SMP, cincin ini akan menjaganya agar dia tidak salah arah atau salah pilih. Menjaga anak perempuan sama sulitnya menjaga anak laki-laki, tapi akan lebih memalukan kalau kita tidak bisa menjaga anak perempuan. Aku berharap dengan cicin ini Maya bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik, cincin ini akan memberikan peringatan pada Maya kalau dia telah mengambil langkah atau keputusan yang salah." Begitulah kira-kira pesan kakek pada Ayah.
Flashback off
...***...
__ADS_1
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕