
Dua minggu telah berlalu semenjak pertemuan Randy dan Maya di taman waktu itu. Malam minggu biasanya Randy akan mengajak salah satu friend with benefits-nya untuk kencan entah di taman, di vila tempat wisata, di rumahnya atau di rumah neneknya yang sering kosong. Tapi malam minggu ini berbeda, Randy hanya mengajak Maya makan berdua di restauran yang lagi hits di kota itu. Masakan Korea memang selalu hits untuk kalangan anak muda terutama yang pecinta drama Korea, Randy mengajak Maya ke sana.
"Apa kamu suka tempatnya?" Randy menggandeng Maya masuk ke dalam restauran. Semenjak hidup kembali Maya tidak mengijinkan Randy menjemputnya di rumah, ia lebih suka bertemu langsung di tempat ketemuan dengan membawa kendaraan sendiri. Meskipun Randy protes, tapi akhirnya mengalah juga daripada tidak jadi pergi berdua.
"Suka, Mas, tempatnya indah dan ramai, banyak pasangan yang datang ke sini ya?" Melihat sekeliling rata-rata yang makan di situ adalah pasangan anak muda.
"Iya, makanya aku ajak kamu ke sini, sekalian biar bisa ngobrol nyantai. Kalau di sekolah kan kamu selalu aja ada alasan dan sibuk." Randy mulai menyindir bahwa Maya sering ilang-ilangan atau menghindarinya.
"Hahaha... Aku bukan sengaja beralasan sibuk, Mas. Aku benar-benar sibuk, tahu sendiri kan kalau siswa-siswi baru itu seperti apa?" Maya merapatkan gandengannya dan sedikit menyandarkan kepalanya di lengan Randy.
"Sepertinya memang dia benar-benar mencintai ku, bahkan dia tidak marah atau mengungkit masalah dua minggu lalu. Meskipun aku juga menghilang dan menjadi sedikit cuek dengannya. Sekarang dia malah bersikap manis seperti ini." Ucap Randy dalam hati.
"Kita duduk di sana aja, Mas, sepertinya romantis dan tidak terlalu ramai." Maya menunjuk salah satu tempat duduk di pojok dengan view cukup bagus. Randy pun mengikuti keinginan Maya.
Seorang waiters datang menghampiri Randy dengan penuh senyum dan tampang genit. "Mau pesan apa kak?"
"Sayang, kamu mau pesan apa?" Randy tidak memperhatikan sang waiters.
"Tumben sekali Mas Randy cuek sama waiters cantik, biasanya dia akan tersenyum manis juga." Maya membatin karena melihat sikap Randy yang tidak seperti biasanya.
"Ini yang halal apa ya, Mas? Aku bingung." Maya cuma membolak-balik daftar menu.
"Ya udah, aku yang pesan aja. Dua beef, kimchi, tofu, rice, vegetable, bulgogi suace, chili." Randy memesan beef bulgogi untuk mereka berdua.
"Minumnya, bagaimana dengan soju?" Randy bertanya pada Maya.
"Alkohol tidak halal." Jawab Maya santai.
__ADS_1
"Baiklah, berikan kami teh dan air mineral saja." Padahal Randy dalam hati berharap bisa minum soju bersama Maya.
"Bulgogi apa sih, Mas?" Maya memang tidak mengenal makanan seperti itu.
"Daging sapi dengan bumbu campuran kecap asin dan gula ditambah rempah. Terus cara makannya dengan dibungkus daun selada. Kalau Jepang namanya beef yakiniku. Ada juga yang disajikan dengan panggangan, jadi kita bisa panggang sendiri." Randy masih bersikap manis dan lembut seperti biasanya, namun dia sedikit mengurangi skinship atau touching yang sering dia lakukan.
"Lain kali mungkin lebih baik bawa aku ke rumah makan atau warung pinggir jalan yang biasa aja, Mas. Sayang uangnya dipakai buat makan di tempat seperti ini, mahal kan?"
"Jadi kamu tidak suka? Atau kita pindah sesuai keinginan kamu?" Tawar Randy.
"Bukan, bukan seperti itu! Aku suka, tapi lain kali jangan habiskan uangmu untuk manjain aku seperti ini. Aku jadi ngerasa aneh aja, aku takut dikira memanfaatkan Mas Randy untuk keuntungan ku sendiri." Maya merasa kalau Randy sedikit berubah dan mengurangi touching yang membuatnya tidak nyaman.
"Apa aku salah mau bahagiain pacarku sendiri? Eeemmm calon istri masa depanku." Randy menggenggam tangan Maya dan tersenyum manis sekali membuat hati Maya dag dig dug tidak karuan.
"A-apa Mas Randy sudah memikirkannya dengan baik? A-aku tidak mau kejadian waktu di taman terulang kembali." Maya berada dalam dilema, bagaimana dia akan mutusin Randy jika ia mau berubah.
"Tapi aku janji tidak akan kebablasan lagi, aku harap kamu memberiku kesempatan. Kamu tidak akan ninggalin aku kan? Kamu harus mengingatkan aku jika aku khilaf." Memegangi tangan Maya dan sesekali mencium punggung tangan Maya.
"Oh, Tuhan, bagaimana aku tidak goyah jika dia semanis ini. Apa aku harus tetap bersamanya dan merubah dirinya agar menjadi lebih baik? Dia pacar pertama ku dan juga cinta pertama ku." Hati Maya terus bergerak, bimbang apakah dia mau lanjut atau terus, ataukah sebaiknya dia menunda perpisahan agar lebih tahu bagaimana Randy selanjutnya.
"Kalau dia memang tidak tulus dan tidak baik untuk masa depanmu, lebih baik akhiri saja." Terngiang oleh ucapan Nyi Yanti.
"Kendalikan emosi dan pikiran mu!" Terngiang lagi ucapan Ki Sopo.
"Ya, aku harus mengetesnya beberapa kali lagi, hingga aku akan menemukan cara untuk putus darinya. Aku sungguh tidak menyangka dia akan menurunkan egonya demi tetap mempertahankan hubungannya dengan ku. Mungkin dia pura-pura berubah hanya karena belum berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan, aku harus tetap waspada." Maya mengambil keputusan.
"Sayang, kok malah melamun? Apa kamu tidak mau memberi ku kesempatan ke dua? Apa kamu sudah tidak mencintai ku lagi?" Mengusap telapak tangan Maya dengan lembut.
__ADS_1
"Maaf, Mas, tadi aku sedang tenggelam dalam pikiran ku. Tentu aku masih mencintaimu, aku senang jika Mas Randy mau mendengarkan apa yang aku mau. Bukankah harusnya kita saling terbuka? Dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin." Berusaha tersenyum manis senatural mungkin di depan Randy.
"Ini makanannya, kak." Waiters yang tadi mencatat pesanan datang membawa pesanan Randy dan Maya. Randy hanya menatap Maya tanpa melirik sedikit pun ke arah sang waiters yang menyajikan pesanannya di meja. Waiters itu melihat Randy sangat cuek dan terus memegangi tangan Maya.
"Tumben sekali seperti itu, biasanya dia juga yang genit menggoda dan mengajak ngobrol waiters yang melayaninya." Batin sang waiters.
Randy memperlakukan Maya dengan sangat romantis dan penuh perhatian, dengan tidak ragu-ragu Randy juga beberapa kali menyuapi Maya. "Ingat Maya! Ingatlah dia yang akan menghancurkan masa depanmu, jangan sampai kamu tertipu lagi dengan kelembutannya! Bahkan mungkin saja ada udang dibalik batu." Dalam hati Maya terus mengingatkan dirinya sendiri.
"Oh, iya, aku lupa memberitahu, sayang. Aku sudah memutuskan untuk membubarkan geng Don Juan. Sudah waktunya kami fokus dengan kelulusan dan lanjut kuliah. Saat ini memang fase-fase yang cukup berat."
Deg... Deg... Deg...
"Mas Randy, yakin membubarkan geng Don Juan?" Maya seperti tidak percaya dengan apa yang dia dengar, mungkinkah Randy akan berubah secepat itu.
"Aku yakin, itu juga demi kebaikan kami semua." Ucap Randy meyakinkan.
"Apa ada alasan lain kenapa Mas Randy tiba-tiba membubarkan geng Don Juan? Bukankah kalian sudah cukup lama membuat geng itu?" Maya berusaha santai menanggapi perkataan Randy, meskipun dalam hati dia juga merasa senang, mungkin saja Randy akan benar berubah.
"Aku membubarkan geng Don Juan agar bisa fokus sekolah aja. Tapi kami tetap berteman meskipun tidak sedekat dan se-intens waktu masih tergabung dalam geng. Lagi pula hidup terus berlanjut untuk mengejar cita-cita kan? Nanti kalau sudah kuliah, kerja, atau saat udah nikah, pasti jadi jarang ketemu dan ngumpul juga." Randy memberikan penjelasan yang logis, meskipun alasan itu bukan seratus persen benar.
"Okay, terserah Mas Randy aja. Aku jadi yakin untuk memberi kesempatan kedua pada Mas Randy." Ucap Maya penuh semangat dan Randy tersenyum manis penuh kemenangan.
...***...
Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…
Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕
__ADS_1