CINTA KECIL CEO

CINTA KECIL CEO
SUASANA MENGHARU


__ADS_3

Sarah mengantar Ifan sampai ke pintu gerbang, Ifan berbalik ketika gerbang belum kembali di tutup Sarah," Kakak pulang kamu jangan nakal ya?... cup"....Ifan mencium kening Sarah sekilas.Sarah sama sekali tidak menjawab apa pun saat ini hati nya buruk marah Rosita tadi masih menyisakan ketakutan pada Sarah.


Ifan pergi setelah menatap sesaat, Sarah kembali masuk dan menutup pintu rapat, Sarah menarik nafas dalam, kaki nya berat untuk masuk kedalam.marah nya Rosita baru kali ini di saksikan Sarah dengan mata kepala sendiri, sedari kecil Sarah hanya tau Rosita wanita lembut dan tidak pernah suara besar nyaris tak terdengar ketika bicara, tapi kenapa bisa segitu marah nya. Sarah tak dapat membendung tangis nya, sedih telah membuat Rosita marah.


Sarah berdiri sambil termenung, gak tau kapan keluar nya Heru sudah berdiri di depan nya, Sarah gelagapan bagaimana pun Heru orang yang paling Sarah hindari." masuk lah ngapain kamu di luar aku yakin Ibu udah gak marah"... ucap Heru ingin meraih tangan Sarah, tapi belum sampai tangan Heru, Sarah udah melangkah masuk.


Heru menghembus nafas kasar gak tau gimana cara cari simpati Sarah, apa yang buat Sarah seakan membenci nya. Heru juga masuk sambil membawa masuk dua kantong plastik besar pemberian Ifan tadi. Heru menaruh dua bungkusan itu di depan pintu kamar tampa memberi tahu Sarah si pemilik kamar," percuma yang ada nanti marah" desah Heru melangkah meninggal kan kamar Sarah.


didalam kamar Rosita mengamuk pada diri nya sendiri, kenapa hilaf dan bodoh memarahi Sarah tadi, Rosita bisa liat ketakutan di mata Sarah. teringat Ifan Rosita kembali menahan diri agar tidak membanting atau melempar barang-barang yang tentu akan membuat anak-anak nya ketakutan." kenapa anak itu begitu mirip Adiyaksa siapa dia!?" pekik Rosita tertahan. bayangan masa lalu kembali melintas di ingatan Rosita, sehingga ia tidak dapat lagi mengontrol emosi nya.

__ADS_1


Rosita meraih pas bunga di atas meja rias nya," PRAAANGG..." dengan segala kesakitan hati Rosita membanting pas itu hingga pecah ber keping-keping. Rosita merasa kan dada nya sesak hingga ia kesulitan bernafas, Rosita duduk untuk mengatur detak jantung dan pernafasan nya.


di kamar sebelah Sarah sangat ketakutan saat mendengar benda pecah dari kamar Rosita, hanya bisa menangis ingin mendatangi kamar Rosita tapi tidak punya keberanian.ahir nya Sarah memilih berdiam diri di kamar, tapi kemudian tidak lama lamat-lamat Sarah, mendengar suara Heru sedang menggedor pintu kamar Rosita. seketika ketakutan menyergap relung hati Sarah, takut kalau telah terjadi sesuatu pada Ibu Rosita.Sarah gak perduli lagi kalau harus terima kemarahan Rosita, tampa berfikir lain Sarah keluar dari kamar, tapi naas Sarah menabrak bungkusan di depan pintu hingga mengakibat kan jatuh terjerembab , kening nya berdarah membentur lantai semen.


Heru yang ada di situ langsung berteriak memanggil nama Sarah.


Rosita mendengar teriakan Heru, walau dada nya masih terasa sesak Rosita keluar juga dari kamar. rasa bersalah mendera Rosita karena tadi sudah memarahi Sarah tapi di balik itu, Rosita tidak mau apapun terjadi pada Sarah. saat Rosita keluar Sarah sedang duduk memegang kepala nya, darah mengalir di siku tangan Sarah, pemandangan di depan mata langsung buat Rosita tak sadar kan diri karena Rosita penderita fobia darah.


suasana mengharu kan anak-anak panti, yang sudah besar di minta Heru untuk mendiam kan adik yang masih kecil. setelah di obati Sarah duduk di sudut melihat dengan pandangan kosong, dalam hati Sarah menyalahi diri nya. " semua berawal karena aku" Sarah mendesah dan dapat di dengar Heru. " udah rah gak perlu menyalah kan diri sendiri mungkin ini semua ujian bagi kita agar lebih perhatian pada Ibu" Sarah diam memandang Heru, takjub kata-kata Heru barusan mendingin kan bara di dada Sarah.

__ADS_1


hampir satu jam Rosita pingsan tidak sadar kan diri, Sarah menggenggam tangan Rosita, berkali-kali Sarah mencium punggung tangan Rosita di sertai kata maaf. tampa di sadari Rosita sudah siuman, " maaf kan Ibu juga Nak"....ucap Rosita menarik tangan sarah agar ikut naik ketempat tidur untuk memeluk nya .


Heru tersenyum melihat orang terkasih nya kini berpelukan, Heru tau marah nya Rosita tidak akan berkepanjangan." ah Ibu lupa deh sama Heru"....Heru pura-pura cemburu, Rosita menoleh menatap Heru. napa kamu mau Ibu peluk juga"... ucap Rosita, ahir nya juga memeluk Heru. penuh kasih Sayang Rosita menganggap Heru dan Sarah seperti Anak kandung nya. begitu juga Heru, setelah di pungut Rosita dari jalanan, yang Heru tau Rosita lah orang tua nya.


suasana haru malam ini di panti hingga hampir tengah malam, Rosita menyuruh anak-anak nya tidur.


Ifan merasa kepala nya cukup pusing, masih terbayang ketika Rosita memarahi Sarah. merasa bodoh kenapa ia langsung bawa Sarah, seolah-olah Sarah hidup sendiri tampa orang yang di tuakan, Ifan sangat menyesali diri karena tidak minta ijin waktu bawa Sarah. Ifan mengambil ponsel nya sungguh Ifan sangat merindukan Sarah saat ini, terus menatap foto Sarah yang kini jadi walpeper di layar ponsel nya.


terlintas di kepala Ifan untuk mengirim pesan sekedar tanya keadaan Sarah , " Sarah sudah tidur ?!"....Ifan menunggu balasan dari Sarah, " belum kak gak bisa tidur "... balas Sarah. Ifan tersenyum Sarah sama seperti nya," boleh ya kakak liat kamu sekarang?"...Ifan ingin beralih, " ya boleh tapi sebentar aja ya?"....balas Sarah.

__ADS_1


Ifan segera mengalih kan ke panggilan vidio, mereka saling pandang , Ifan terpana ternyata Sarah memang sangat cantik dengan rambut terurai tapi kemudian ifan terperangah melihat di kepala Sarah ada perban." itu kepala kamu kenapa Sarah?"...Ifan, menduga kalau Sarah sudah menerima kekerasan dari Rosita. Sarah menyentuh perban di kepala, " Sarah jatuh kak"....jawab Sarah seadanya, " kok bisa ?!"...Ifan mengira Sarah sengaja menutupi apa yang terjadi." beneran Sarah jatuh kepentok lantai"...Sarah ngomong apa ada nya, tapi Ifan tidak puas terus bertanya seolah Sarah bohong. Sarah menceritakan kenapa kepalanya sampe luka, setelah mendengar penjelasan Sarah, Ifan merasa tenang ternyata tidak seperti yang ia fikir kan.


__ADS_2