
Satu jam lebih Sarah di dalam ruang periksa, Ifan gak bisa duduk hati nya cukup gelisah menunggu pintu ruangan di buka. " Den duduk lah dulu"... ucap tukang kebun, pusing liat Ifan terus mondar mandir tampa lelah.
Ifan gak menggubris ucapan tukang kebun, " Keluarga Ibu Sarah"...tiba-tiba aja perawat nongol langsung panggil keluarga pasien.
" Ya Saya ".... jawab Ifan, " Baik Pak silahkan masuk".... perawat membuka pintu lebih lebar agar Ifan bisa masuk. Ifan masuk dengan perasaan berdebar takut, " silahkan duduk saudara Irfan Adiyaksa"... ucap Dokter mempersilahkan Ifan duduk.
Ifan yang semula celingak celinguk mencari keberadaan Sarah, kaget setelah mendengar nama panjang nya di sebut dengan pasih. Ifan menoleh kemudian terbelalak kaget, karena ternyata Dokter yang menangani Sarah adalah Dokter Diki kakaknya Rini.
"Oh Tuhan ternyata dunia ini sempit "...lirih Ifan dalam hati, " Apa kabar Dik"...sapa Ifan sambil nahan kesal dalam hati ternyata Dokter yang memeriksa Sarah laki-laki, tapi Ifan gak mungkin tunjukin rasa tidak suka.
dengan terpaksa Ifan tersenyum ramah sambil mengulur kan tangan, " Saya baik"...jawab Dokter Diki menyambut tangan Ifan.
" Duduk dulu"... pinta Dokter Diki, Ifan langsung duduk. " begini Saudara Irfan kandungan Sarah masih bisa di selamat kan tolong berhati-berhati lah saat menggauli nya"...ucap Dokter Diki sebelum lanjut.
Ifan menunduk malu, " untung janin nya selamat tapi kalau sekali lagi mengalami pendarah mungkin janin tidak bisa di selamat kan begitu juga Ibu nya"...ucap Dokter Diki menahan kesal. kenapa Ifan bisa sekasar itu memperlakukan Sarah, Ifan seketika mengangkat wajah nya menatap Dokter Diki.
Bukan kaget tapi kata-kata Dokter Diki barusan seperti sedang mengintimidasi nya, walau kesal Ifan tidak menampik kalau yang barusan di bilang Dokter Diki benar.
" Mana Istri Saya ?"... tanya Ifan hati nya udah jengah melihat Dokter Diki, Dokter Diki bangun lalu menyingkap tirai penutup. " Sarah harus rawat inap dulu dua hari agar bisa di pantau kesehatan janin nya oleh Dokter Tiwi "....Dokter Diki kembali duduk setelah membuka tirai.
__ADS_1
Ifan dapat melihat Sarah kini tidur dengan selang infus sudah terpasang, Ifan merasa hati nya tercabik menyesali kebrutalan yang telah Ia lakukan.
" Ini Dok hasil nya"... seorang perempuan berpakaian Dokter, masuk dari pintu lain yang ada di ruangan Itu. sesaat perempuan Itu melirik Ifan, " Dokter Tiwi kenalin ini suami pasien".. ucap Dokter Diki memperkenal kan Ifan.
" Pasien..."...Dokter Tiwi menunjuk Sarah dengan ujung pulpen yang di pegang, Dokter Diki mengangguk. Dokter Tiwi kembali melihat Ifan, dalam Fikiran nya gak percaya kalau laki-laki seperti Ifan bisa seganas Itu dalam urusan ranjang tampa sadar Dokter Tiwi tersenyum miring.
" Mas kedepan nya pelanin dikit kasian istri nya".. ucap Dokter Tiwi pada Ifan setengah berbisik, "ini semua gara-gara Papa " lirih Ifan dalam hati, cuma bisa diam dengan susah payah menelan saliva yang terasa sangkut di tenggorokan.
" Ok Dok Saya permisi udah jam istirahat nih, Mari Mas.. "...Dokter Tiwi permisi dengan Dokter Diki sambil menunjukan arloji yang melingkar di tangan putih nya gak lupa Dokter Tiwi menyapa Ifan sambil tersenyum lebar.
" Dokter Tiwi yang tadi memeriksa Sarah"... ucap Dokter Diki kembali duduk, Ifan melihat wajah Dokter Diki sesaat perasaan nya lega ternyata areal sensitif Sarah tidak di lihat laki-laki lain.
" Boleh saya lihat keadaan Istri saya!? "... Ifan ingin menghampiri Sarah, " Oh silahkan "... jawab Dokter Diki menghentikan kegiatan nya sesaat.
" maaf kan Mas sayang semua ini gara-gara Papa di saat fikiran Mas sedang kacau mikirin masalah Papa, kamu malah mau ninggalin Mas... hikk... maaf kan Mas sayang" monolok sedih Ifan dalam hati sampai air mata nya membasahi pelupuk mata.
"Masssshh"....Sarah terbangun saat Ifan menggenggam tangan nya, " Maaf kan Mas sayang "... ucap Ifan melabuh kan kecupan di kening Sarah.
" Udah di aniyaya baru minta maaf "...gumam pelan Dokter Diki.hanya bisa mendengar sambil mencebik kan bibir, dalam hati nya masih menyimpan sedikit perasaan untuk Sarah.
__ADS_1
Ifan teringat tukang kebun yang masih menunggu nya di luar" Sayang Mas keluar dulu kasian tuh si mamang udah nungguin dari tadi "...ucap Ifan sebelum meninggal kan Sarah.
" Dok titip Istri Saya sebentar "... Ucap Ifan kemudian membuka pintu keluar, " Hah nitip Kau pikir barang "... sungut Dokter Diki sambil melihat punggung Ifan yang berlalu keluar.
Dokter Diki melihat Sarah " sudah bangun "...Tanya Dokter Diki, " Ya Dok "... jawab Sarah tersenyum. Dokter Diki menghampiri Sarah, " Dok kenapa ada di sini? ".... tanya Sarah karena sebelum nya Dokter Diki bekerja di rumah sakit kota s*****.
" Ya Saya di tugas kan sementara di sini "... jawab Dokter Diki menatap dalam wajah Sarah yang masih sedikit pucat, Sarah merasa Malu saat tatapan mata mereka bertemu.
" Gimana kabar Rini Dok? "....Sarah mengalih kan agar keadaan tidak canggung, Dokter Diki tersenyum " yang pasti Rini kangen kamu lah sebagai kakak nya"... Jawab Dokter Diki membuat hati Sarah nelangsa ingat saat-saat di panti.
" Udah jangan sedih-sedih, sekarang Kamu sedang mengandung gak boleh banyak fikiran karena itu bisa pengaruhi pertumbuhan janin "...ucap Dokter Diki karena wajah Sarah terlihat sedih.
Sarah kembali menatap Dokter Diki, mencoba tersenyum walau hati nya sedih karena rindu semua yang ada di panti. " Yank Ini Mas ada beli beberapa jenis buah kamu sukak yang mana".... Ifan tiba-tiba muncul, " yaudah Sarah Suami Mu udah balik Saya keluar ya? "...ucap Dokter Diki permisi.
" Ya Dok makasih ya? udah jagain Istri saya "...Jawab Ifan sedikit ketus, Sarah hanya bisa menatap suami nya dengan pandangan kesal.
" Mau buah apa Yank!?.. biar Mas kupasin".. ".. tanya Ifan sambil meletakan kantong-kantong yang berisi beberapa macam buah-buahan. " masih belum selera Mas ".. .jawab Sarah hati nya kesal karena ucapan Ifan tadi seperti gak suka dengan Dokter Diki.
Ifan menarik nafas dalam gak bisa memaksa Sarah untuk makan, rasa bersalah masih bergelayut di dada Ifan.
__ADS_1
" Yank apa yang masih sakit "... tanya Ifan mencoba mencair kan suasana, Sarah tidak menjawab karena gak tau harus tunjuk bagian mana yang sakit sebab seluruh tubuhnya memang terasa sakit.
Ifan duduk di samping Sarah sambil mengusap perut rata Sarah, tau Sarah pasti menyimpan kecewa dan marah