
Sarah mengemasi beberapa stel pakaiannya juga Ifan, rencananya mereka akan nginap beberapa hari kalau sambutan Rosita baik.
Setelah selesai Ifan meminta Heru membantu nya untuk memasukan barang-barang bawaan ke mobil, " banyak bener oleh-oleh nya "...tanya Fifian saat melihat Heru membantu Ifan.
" Iya Ma memang sengaja biar mereka dapet satu-satu".. jawab Ifan," kenapa gak beli disana bawa dari sini kan berat"...ucap Fifian lagi.
" kalau beli di sana bukan oleh-oleh nama nya Ma tapi buah tangan, Ifan juga gak mau Sarah kecapean kalau baru turun udah jalan lagi beli ini itu Ifan sengaja Ma".. jawab Ifan panjang lebar.
Fifian tersenyum mendengar penuturan Ifan, hati nya senang sedikit banyak sifat peduli dan penuh kasih sayangnya nurun pada putra semata wayangnya.
"Udah kak! ".. lapor Heru sudah selesai menyusun barang, " ya gak usah tutup dulu Saya ambil koper satu lagi ".. Ifan langsung masuk dan naik kelantai dua untuk menjemput Sarah.
" Her kalau sudah sampe sampai kan salam Saya sama Rosita ya? "...ucap Fifian setelah Ifan berlalu masuk, " Ya Tante nanti Saya sampaikan dengan Ibuk"...jawab Heru langsung merasa rindu dengan Rosita.
Ifan turun barengan dengan Sarah " Loh Mama gak ikut!? ".. tanya Sarah karena melihat Mama Mertua masih pake piyama, Fifian tersenyum " Mama gak ikut Sayang apa kamu lupa Papa masih di rumah sakit "...jawab Fifian.
Ifan garuk-garuk kepala kenapa bisa lupa dengan kondisi Papa nya, tapi gak mungkin juga harus ngebatalin pergi. "hhhmm baik lah biar serahin sama Eko aja".. batin Ifan sambil menarik dan menghembuskan nafas secara perlahan.
__ADS_1
" Yaudah berangkat sana gih, kasian Heru udah rindu rumah".. ucap Rosita agar mereka gak larut karena mikirin keadaan Adiyaksa. setelah ketiganya salim dan berangkat pergi, Fifian masuk untuk mandi karena akan pergi kerumah sakit.
Gak tega juga ngebiarin Adiyaksa terpuruk sendiri, walau bagaimana pun Fifian adalah perempuan lemah lembut dan baik hati. selesai merapikan Diri Fifian pergi mengendarai mobil sendiri, lekuk tubuh perempuan paruh baya seperti Fifian tentu banyak mengundang decak kagum para lelaki dari yang berumur sampe yang masih abg.
Rata-rata mereka memuji kecantikan Fifian, balutan dres di bawah lutut motif bunga raya juga rambut di gelung ke atas menambah kesexian seorang Fifian. leher jenjang putih pualam menjadikan kharima terhormat jelas terpancar, hanya laki-laki yang kurang rasa percaya diri yang segan untuk sekedar melihat.
Fifian Gak perduli puluhan pasang mata menatapnya, dengan langkah elegan Fifian melangkah ke lobi. " Fi.. " panggil seseorang dari belakang, merasa di panggil Fifian menoleh.
Dengan Kaca mata hitam bertengger di hidung mancung, Fifian mempertajam penglihatan untuk mengenali sosok yang memanggilnya. " Fi Kamu masih kenal Aku kan?"....tanya sosok itu sudah berdiri tepat di depan Fifian, " Ferdy.. beneran Ini Kamu!? ".. Fifian balik tanya setelah ingat siapa yang kini berdiri di depannya.
" Iya ini Aku Fi"...ucap nya tersenyum lebar sambil mengulurkan tangan, " Ya Tuhan kemana aja Fer!? "...ucap Fifian sambil menerima uluran tangan Ferdy. " Fi Kamu masih secantik dulu"...ucap Ferdy terus menatap wajah yang sangat di rinduinya bertahun-tahun.
" Oh... Suami.. "...Ucap Ferdy kembali patah hati, " Iya.. kamu ngapain di sini, kangen lo ngobrol-ngobrol kayak dulu"...sambung Fifian agar pertanyaan Ferdy gak menjurus tentang Adiyaksa.
Ferdy melihat sekeliling , " Fi keruangan Ku yuk...Kita ngobrol di sana"...Ferdy langsung berbalik narik tangan Fifian. Fifian tersenyum Ferdy beneran gak berubah, dengan langkah ringan Fifian mengikuti Rudy.
" Masuk Fi! "...Ferdy mempersilahkan Fifian masuk setelah membuka pintu, Fifian gak tau apa posisi Ferdy di rumah sakit ini hingga punya ruangan sendiri.
__ADS_1
" Kamu Dokter di sini?"...tanya Fifian pensaran masak kuliah ambil jurusan ekonomi bisa jadi Dokter, " Gak Fi Aku pemilik rumah sakit ini. " oh... gitu".. jawab Fifian. " duduk sini Fi Aku kangen sama Kamu"... ucap Ferdy menepuk sofa di sebelah nya, tampa ragu Fifian juga duduk kedua nya kembali kenuansa silam saat mereka pacaran dulu.
" Fi Ku dengar Kamu sudah punya menantu ya?"...tanya Ferdy penasaran, dengan kabar yang Ia dengar dari teman mereka dulu juga. "ya Aku udah punya menantu bahkan mau punya cucu"...jawab Fifian sumringah, " bahagia dong"...ucap Ferdy.
" Ya gitulah Kamu sendiri udah punya anak berapa!? "...tanya Fifian merasa gak adil kalau Ferdy hanya memuji kebahagiaan nya, Ferdy diam menunduk pertanyaan Fifian sangat sulit untu Ia jawab.
" Kok diam Fer rahasia ya?, Alah sama Aku kamu rahasia"...ucap Fifian sedikit kesel karena Ferdy seolah gak mau kasi tau perihal rumah tangga nya, Fifian menyilangkan kaki sambil melipat tangan di dada.
" Sampe sekarang Aku belum nikah Fi"...jawaban dari mulut Ferdy mengaget kan Fifian, seketika Fifian menoleh menatap Ferdy dengan pandangan antara percaya dan tidak.
" Masa sih kamu belum nikah sampe sekarang? "...tanya Fifian, lebih menatap intens ragu dengan kejujuran Ferd,
" Iya Fi kamu kenal aku luar dalam bahkan lebih, lihat mata Ku biar Kamu tau Aku bohong atau gak...hhhmm Aku masih mencintai Kamu sama seperti dulu Fi"...urai Ferdy dengan beberapa kali tarikan nafas karena hati nya masih begitu mencintai dan mengharap kan Fifian.
Fifian menatap dalam netra mata coklat milik Ferdy sungguh tidak menemukan kebohongan dari ucapan Ferdy barusan, Fifian dapat melihat api cinta itu masih membara sama seperti dulu.
Teringat Siska, Fifian buru-buru memutus kontak mata mereka, " gimana dengan Siska, bukan nya Dia hamil anak kamu?"...tanya Fifian tertunduk sedih rasa sakit hati penghianatan Ferdy dulu kembali teringat.
__ADS_1
Ferdy menelan ludah pahit, " Fi Kamu tetap gak pernah percaya sama Aku, sampe detik ini Aku masih mencintai kamu Fi. kenapa harus Siska kenapa bukan Kamu dulu yang Aku gauli, Aku mati-matian mempertahan kan perjaka Ku hanya untuk Kamu Fi Aku sangat mencintai Kamu sampai sekarang Ini, untuk menyentuh Kamu lebih dalam tidak Aku lakukan karena Aku berharap Kita akan melakukan dengan manis di malam pernikahan kita, bahkan saat Kamu sengaja undang Aku di pesta pernikahan kamu dengan suami kamu Aku datang tampa mengurangi rasa cinta Ku sedikit pun.