
Setelah keluar Adiyaksa tidak langsung pulang, Adiyaksa duduk di areal taman kantor.
Adiyaksa merenung flas back kebelakang kenapa Ifan selalu jadi penghalang niatnya, cinta nya pada Rosita kandas karena Fifian sedang mengandung Ifan.
Adiyaksa tidak bisa menampik hati nya masih mencintai Rosita sampe sekarang, Adiyaksa masih mengingat jelas pertemuan terahir dengan Rosita.
Bagaimanapun kenangan manis bersama Rosita tidak akan bisa hilang begitu saja, " apa kabar mu Ros"...desah Adiyaksa sambil menatap lurus kedepan. Adiyaksa melihat satu persatu antek-antek nya keluar sambil membawa kotak kardus menuju parkiran.
" Apa mereka di pecat si anak berengsek itu".. batin Adiyaksa geram, bangkit bergegas menghampiri Dimas dan yang lain.
" Mau kemana kalian!? "... tanya Adiyaksa, Diamas memutar badan tampa berucap melempar kotak Karton ke depan Adiyaksa. untung nya Adiyaksa sigap mengelak hingga kotak kardus itu tidak mengenai kaki nya, " apa-apaan Kau Dimas, bosan hidup"...ucap Adiyaksa dengan muka memerah menahan marah.
Dimas maju memegang kerah kemeja Adiyaksa, " puas.. puas..hahh.. ini semua karena kamu... bukk"...ucap Dimas kemudian meninju rahang Adiyaksa.
Adiyaksa terhuyung beberapa langkah kebelakang, " kamu sudah gila ya Dim"...tanya Adiyaksa dengan suara lantang sambil memegang rahang nya kepala nya jadi sedikit pusing akibat pukulan Dimas.
Para Staf berhburan keluar begitu juga beberapa scuriti melihat keributan antara Adiyaksa dan Dimas, " ya Aku gila.. dua puluh tahun Aku nutupi kebusukan kamu.. "...teriak Dimas dengan dada turun naik menahan gejolak amarah.
Dimas ingin maju untuk memukul Adiyaksa lagi, Tapi tiga scuriti dengan sigap melumpuh kan Dimas agar tidak terjadi baku hantam.
__ADS_1
"Lepaaasss... "...Dimas melawan minta di lepas kan, belum cukup satu pukulan untuk Adiyaksa, Bapak-bapak scuriti hampir kewalahan " ingat ya Tuan Adiyaksa yang terhormat, Aku tidak akan tinggal diam bersiap lah terima kehancuran Mu setelah ini "...teriak Dimas dengan mata berkilat benci.
Sementara yang lain cuma berdiri melihat, mereka merasa pukulan Dimas masih belum sebanding dengan apa yang mereka dapat sekarang. Adiyaksa tidak lagi mempersalahkan pukulan Dimas karena sudah ada scuriti , bagi nya wajar Dimas emosi karena di pecat secara tidak hormat oleh Ifan Putra nya.
Dimas di tenangkan oleh beberapa scuriti, sementara Adiyaksa kembali masuk untuk menemui dan mempertanyakan soal pemecatan pada Putra nya.
Eko tiba di Adiyaksa Cpr, " Ada apa pak".. tanya Eko pada salah satu scuriti karena melihat para staf banyak berada di halaman kantor, " kurang tau pak yang saya lihat tadi Pak Dimas pukul Pak Adi"...jawab scuriti' Eko diam. " Hhhmm...yaudah Pak Saya tinggal dulu".. ucap Eko masuk kedalam gedung.
Di lobi Eko melihat staf perempuan sedang berkerumun, " Pasti Pak Ifan sudah mengusir semua penjilat di kantor ini"...gumam Eko tersenyum miring lalu pergi keruangan Ifan untuk mengantar ponsel yang di minta Ifan.
Adiyaksa sampai di depan pintu ruangan putra Nya, dari balik kaca Adiyaksa dapat melihat kalau menantunya ada di dalam. timbul keraguan untuk masuk kedalam, apa lagi Adiyaksa melihat Ifan sepertinya sedang memanjakan Menantu nya.
Adiyaksa memilih kembali tidak melanjut kan langkah untuk masuk kedalam Ruangan Ifan, "Percuma"...gumam Adiyaksa tidak ingin mempermalukan diri nya di depan Sarah menantu nya.
" Sekarang dada Mas udah plong kan? "...ucap Sarah menepuk halus dada Ifan ternyata begitu banyak masalah yang harus di pikul suami nya, " Udah Sayang tapi Mas masih punya kejutan buat kamu "....ucap Ifan menangkap tangan Sarah.
" Satu lagi Sayang Mas minta Kamu jangan marah atau menganggap Mas lancang buka masa lalu orang semua ini berkaitan sayang Mas minta kalau pun Kamu tau fakta nya biar lah itu jadi cerita buat mereka Saja"... lanjut Ifan mencium puncak kepala Sarah yang bersandar di dada nya.
Sarah mengangkat kepala nya dari dada Ifan, gak ngerti dengan ucapan Ifan barusan masa lalu yang berkaitan, dengan rasa penasaran tinggi Sarah menatap dalam kedua mata elang Suami nya.
__ADS_1
" Udah ahh.. jangan gitu liat nya Mas grogi tau".. Ifan mencubit pucuk hidung Sarah sebagai pengalihan agar Sarah tidak bertanya karena fakta yang akan di tunjukan masih berada di tangan Davit, Ingin rasa nya Sarah membalas menarik hidung Ifan tapi keburu pintu di ketuk dari luar.
" Masuk"...perintah Ifan pada orang yang ada di luar, Sarah menggeser duduk nya. " Ini Pak yang Bapak minta"...Eko masuk menyerah kan ponsel yang tadi di suruh Ifan ambil dari rumah
"Ya Makasih Ko"...ucap Ifan menerima ponsel, " Oh ya Ko kamu tunggu seseorang di bawah, Saya akan bongkar semua kebusukan yang ada di kantor Ini. Nanti setelah selesai kamu bantu Saya kumpulkan semua staf untuk Rapat menyusun kembali Sistem yang sudah porak poranda"...ucap Ifan kemudian menghubungi Davit.
Eko mengangguk dan tunduk hormat, hati nya senang Ifan sekarang berubah lebih rileks setelah ada Sarah tidak seperti yang sudah-sudah selalu ngamuk-ngamuk kalau ada masalah.
" Eh Mas Eko saudara Saya dimana Mas? ".. Sarah tanya soal Heru, " Oh Mas Heru udah di rumah bersama Nyonya besar Bu"...jawab Eko sambil membungkuk hormat.
Ifan menarik nafas kasar sambil meletakan ponsel nya di meja ternyata selain Diri nya Sarah memanggil orang lain dengan sebutan Mas, " kenapa Mas muka nya kok manyun gitu"...tanya Sarah setelah Eko keluar.
" Mas mana? ...Mas Eko atau Mas.. Mas.. tukang bakso".... jawab Ifan gak habis Fikir dengan panggilan Mas.
Sarah tau Ifan sebener nya keberatan dengan panggilan Mas " Yaudah nanti kalau debay udah lahir panggilan nya di rubah ya? ".. ucap Sarah duduk manja di pangkuan Ifan.
" Bener tu"...Sarah mengangguk Ifan gak bisa menolak kalau Sarah ingin bermanja justru ini yang disuka Ifan, " mulai besok Kamu ikut kekantor setiap hari "...ucap Ifan merangkul pinggang Sarah.
" Ngapain Mas!?"... tanya Sarah menarik wajah nya agar bisa leluasa menatap wajah Suami nya, " Kok tanya untuk apa ya untuk kayak gini Sayang, kalau capek ada kamu obat pelepas capek"... jawab Ifan merebah kan kepala didada Sarah.
__ADS_1
Sarah memeluk kepala Ifan, resah marah gundah kemarin-kemarin hilang begitu saja. Mereka saling melengkapi kebahagiaan dengan berci**** saling meresapi perasaan satu sama lain.
Ifan merasa masalahnya akan mudah kalau ada Sarah di sampingnya.