CINTA KECIL CEO

CINTA KECIL CEO
PERI


__ADS_3

Sesaat Sarah termangu melihat wajah Ifan yang babak belur, kemudian menagis dalam pelukan Ifan. memang Sarah gak tau apa yang sudah terjadi, tapi lihat luka-luka di wajah Ifan yakin kalau semua berkaitan dengan Adiyaksa mertuanya.


" Sudah.. sudah.. kita lihat Mama yuk ajak Ifan membelai rambut di kepala Sarah, " Mas sakit gak!? ". . Sarah menengadah seolah tidak mendengar ucapan Ifan barusan. memegang pipi Ifan yang bengkak memar, " sssstt...sakit Sayang"...jawab Ifan mendesis kala jemari Sarah menyentuh wajah nya yang lembam.


Air mata keluar begitu saja dari mata indah Sarah, kesakitan Ifan juga membuat Sarah ikut merasa sakit. Ifan terenyuh lalu mencium kedua mata Sarah, " sudah sayang jangan nangis terus, kita liat Mama ya? "....ajak Ifan lagi.


" Ck.. ck.. Kak sadar napa "....tegur Heru, Ifan menoleh lalu tersenyum malu kondisi seperti ini membuat Dirinya dan Sarah lupa tempat. Heru memutar bola mata malas saat ifan menjawab dengan tersenyum, bukan iri tapi sekedar mengingat kan kalau ini tempat umum.


Heru menggaruk kepala yang tidak gatal, kembali duduk dengan perasaan jengkel. " yaudah kita keruangan Mama ya? "...Sarah mengangguk memaksakan senyum, Ifan tau senyum yang terbit dari wajah Sarah adalah senyum keterpaksaan. " Siap...ayo jalan Sayang"...ucap Sarah mencoba riang lalu menggenggam tangan Ifan.


setelah Ifan dan Sarah berlalu menuju ruangan Fifian, Eko mengajak Heru untuk pergi minum kopi. Heru mengikuti langkah Eko' mereka pergi kedepan Rumah sakit tepat di seberang jalan ada kedai kopi, cafe lah bahasa keren nya.


Sarah dan Ifan masuk keruangan Fifia, " Mas.. Mama kenapa!? "... tanya Sarah merangkul kuat tangan Ifan, " siapa lagi Yank".. jawab Ifan sambil mengepal kan tangan.


Melihat Mama nya yang sedang berbaring, hati Ifan sangat sedih apa lagi melihat selang oksigen yang terpasang. Ifan sangat menyesali, "Kenapa Mama melundungi Ifan Ma, seharus nya Mama biarin aja tua bangka Iti mukulin Ifan sampe puas"...ucap Ifan tampa sadar.


Sarah memeluk Ifan dari samping, mereka tidak dapat melukis kan perasaan apa yang ada saat ini. yang di ketahui hanya ada sedih dan sedih. kedua nya sama menangis, gak sadar ada sepasang mata yang juga ikut menangis di depan pintu.

__ADS_1


Setelah melihat anak dan mantu nya sedang berpelukan sambil menangis, Adiyaksa tidak berani untuk melangkah lebih kedalam. Adiyaksa memilih tetap berdiri diam, melihat Fifian walau hanya dari depan pintu.


" Ma bangun Ma.. ini Ifan Ma.. jangan tinggalin Ifan Ma... ".. ratap Ifan sambil mengguncang tubuh Fifian, " Sudah Mas.. kita sama-sama berdoa ya biar Mama cepat sadar"...ucap Sarah memeluk Ifan dari belakang.


Perasaan bersalah membuat hati Adiyaksa hancur, memang Ia tidak pernah mencintai Fifian. tapi tidak bisa di pungkiri Fifian adalah peri penolong dalam hidup nya, berkat Fifian juga Adiyaksa terselamat kan.


Adiyaksa memejamkan mata rasa sesal menggerogoti relung hati nya. perasaan bersalah semakin mendera, saat itu juga Adiyaksa merasa dada nya sesak berdenyut sakit. tubuh nya terasa lemah seketika, kedua kaki nya tidak kuat lagi menopang tubuh nya.


Rencana yang tadi sudah sempat Ia susun dengan segala perhitungan, langsung menguap kala melihat Fifian terbaring dengan di bantu alat pernapasan, seketika pandangan Adiyaksa menggelap lalu jatuh ambruk di depan pintu kamar Fifian.


Sarah dan Ifan menoleh secara bersamaan ke arah pintu, karena mendengar jeritan seseorang di luar kamar Mama nya. " Mas.. Papa.. "... ucap Sarah setelah tau siapa yang jatuh, tidak menunggu jawaban Ifan setengah berlari Sarah menghampiri Adiyaksa yang kini terbaring miring di lantai.


Fifian tidak menjawab, hanya tersenyum menarik sudut bibir sebagai tanda kalau Ia sudah siuman. melihat senyum Fifian, Ifan mengucap kan syukur karena Mama nya sudah kembali.


Ifan memilih mengabaikan saat mendengar Sarah menjerit memanggil petugas rumah sakit, fokus Ifan kini adalah Fifian Mama nya. orang nomor satu terpenting dalam hidup nya.


Sarah ikut membantu saat dua petugas mengangkat Adiyaksa Mertua nya, walau sakit hati Ifan suami nya di pukuli. tapi Sarah gak mungkin tinggal diam karena bagaimana pun juga Adiyaksa adalah Papa kandung Ifan Suami nya.

__ADS_1


" Mbak tunggu di luar ya? "...ucap salah satu perawat, tidak menggijin kan Sarah masuk saat Adiyaksa di dorong masuk kedalam satu ruangan, " Tapi Mbak itu Mertua Saya!"...ucap Sarah agar di ijin kan masuk karena keluarga dari pasien.


"Ya Saya tau tapi ini peraturan Mbak, tenang saja di dalam sudah ada Dokter kok"... jawab si perawat kemudian menutup pintu tetap tidak mengijin kan Sarah masuk.


Sarah diam gak ada gunanya memaksa kalau sudah peraturan ya harus di patuhi, sambil menghembus kan nafas kasar Sarah duduk di bangku yang ada didepan ruangan.


Didalam Dokter dan perawat memasang alat-alat medis ketubuh Adiyaksa, setelah selesai beberapa menit salah satu monitor berbunyi.menandakan kalau jantung pasien berhenti memompa, Dokter berusaha lalu minta di sediakan alat kejut jantung agar jantung Adiyaksa kembali berfungsi.


Dua kali di kejut kan, ahirnya jantung Adiyaksa kembali normal, Dokter yang semula khawatir dengan keselamatan pasien. kini mengucap syukur lalu minta salah satu perawat untuk segera mempersiap kan satu satu kamar rawat untuk Adiyaksa.


Tentu Sarah tidak mendengar kegaduhan di dalam, hati nya gelisah Sambil menunggu Sarah terus berdoa untuk kesembuhan kedua Mertua nya. ingin Sarah kembali keruangan Fifian, tapi gak mungkin karena Adiyaksa gak ada yang nungguin.


" Ok.. hhhmm.. Yaudah Aku disini aja biar Mama Mas Ifan yang jaga"... monolok Sarah ambil keputusan sendiri, pintu ruangan terbuka. Sarah langsung berdiri harap-harap di perboleh kan masuk untuk melihat Mertua, Hanya seorang perawat yang keluar.


Sarah harus kembali duduk dengan mulut komat kamit kesal, karena tetap tidak di perboleh kan masuk.


Di cafe seberang rumah sakit, Eko dan Heru saling tukar cerita. dari cerita Heru, Eko baru tau kalau Istri Ifan ternyata berasal dari panti asuhan. Eko semakin kagum pada sosok Ifan, selain ganteng tajir tapi tetap rendah hati.

__ADS_1


Eko salut dengan kepribadian Ifan, gak sia-sia selama ini mendampingi Ifan. " oh ya Bang kenapa belom nikah"...tanya Heru karena berfikir posisi Eko sama seperti Ifan. " belum ada yang cocok abisin kkopinya"...jawab Eko kemudian menyesap kopi hingga tandas, Eko ingin ajak Heru kembali.


__ADS_2