
Jovanka memasukan semua pakaian nya kedalam koper, perasaannya hancur harapan nya juga pupus setelah mendengar pengakuan Ifan. sangat membenci Ifan, tapi Jovanka gak ngerti kenapa sebelah hati nya sangat berharap Kalau Ifan akan bisa segera berubah menerima nya.
andai dulu kedua orang tua nya menolak usulan dari Adiyaksa tentu semua ini tidak akan terjadi, tidak akan ada cinta yang tumbuh. Jovanka duduk di pinggir kasur menyeka air mata yang keluar, kenapa begitu sakit lirih Jovanka telentang di atas kasur.
Jurima Mama nya jovanka masuk tampa mengetuk pintu, Jurima berdiri di ambang pintu menaut kan kedua alis melihat isi koper berantakan. Jurima tau apa yang Saat ini Jovanka rasakan , melihat koper Jurima menarik nafas dalam. seandainya Jovanka ingin kembali ke LA Jurima tidak akan melarang, mungkin dengan menyibukan diri di kampusnya Jovanka akan melupakan segala kesedihan.
Jo.. "...Jurima menghampiri Jovanka, yang menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, Jurima meraba kening Jovanka, Jurima menarik tangan nya. suhu di kepala Jovanka sangat panas, " Jo kamu sakit nak? "....Tanya Mama jurima. Jovanka tidak menjawab malah bangun memeluk Jurima.
jurima hanya bisa membelai punggung anak gadis nya, Jurima juga ikut menangis tampa suara. Adegan Ibu dan anak jadi perhatian Herlambang, yang ingin ke ruang kerja nya di lantai bawah. Herlambang berdiri di depan pintu yang terbuka, rasa penyesalan yang ada Saat ini coba tidak ngikutin usulan Adiyaksa tentu putri nya tidak akan terluka.
Herlambang sangat menyesal, gara-gara pertunangan itu persahabatan nya dengan Adiyaksa juga hancur. terbersit rasa ketakutan di hati Herlambang, seandainya Adiyaksa juga membuka borok nya. bukan kah Adiyaksa Juga tau apa yang selama ini Ia lakukan, Herlambang merasa nafas nya sesak tak kuasa membayangkan kalau Adiyaksa membalas nya.
Herlambang tidak ingin membuat Jurima sedih dan pergi dari hidup nya, apa lagi Jovanka. Herlambang gak sanggup membayang kan kalau itu benar terjadi, dengan Kasar Herlambang meraup wajah nya lalu pergi menuju ruang kerja di lantai bawah.
prov IRFAN ADIYAKSA.
selesai miting Aku langsun turun ke lobi, perdebatan di ruang miting tadi sangat Mengganggu fikiran Ku. berita kecurangan dan perselingkuhan Papa begitu cepat tersebar, yang lebih bikin Aku pusing kenapa materi miting yang sudah Aku susun rapi bisa bocor dengan perusahaan lain. untung nya keberuntungan masih berpihak pada Ku.
__ADS_1
saat ini Aku gak tau harus berbuat apa, harus gembira atas kemenangan atau sedih atas kemenangan. tidak ingin berlarut-larut, harus segara mencari tau siapa yang sudah berani bermain kotor di ranah kekuasaan Ku.
sebaik nya Aku temui Davit cuma Dia yang bisa ku andal kan"..., batin ifansambil jalan menuju parkiran. Davit sudah lama bekerja dengan Ifan, semua hasil pencapaian Davit selalu Ifan acung kan jempol karena memang cukup membuat nya puas.
Sampai di mobil Aku ambil ponsel untuk menghubungi Davit, walau Aku Bos tetap harus beri tau dulu kalau ingin ketemu Dia. Davit keras orang nya begitu juga sebalik nya, Aku dan Davit satu sekolah dulu dan kami suka berantem.
Ku tekan no kontak Davit beberapa detik hanya terdengar suara operator, kenapa no Davit tidak bisa ku hubungi Aku heran gak pernah sekalipun Davit seperti ini.
Aku menekan sekali lagi tombol panggilan, benar saja yang terdengar suara operator. kemana Davit, saat Aku punya kerjaan Dia malah menghilang. fikiran Ku kacau karena Davit tidak bisa ku hubungi, untuk kembali keruangan Aku juga udah malas.
selagi fikiran ku kalut karena Davit tidak bisa ku hubungi, ponsel di tangan ku berdering. Aku fikir Davit yang hubungi Aku, ternyata jantung hati ku yang memanggil. dengan senang hati Aku menerima panggilan sayang ku, Aku cukup senang wajah yang aku rindukan siang malam kini terpampang jelas di layar ponsel Aku juga gak perduli dengan staf yang melihat ku dengan tatapan heran.
udah makan sayang? "... tanya Ku.
udah Kak"....jawab nya singkat.
gimana ujian nya?! ". .tanya ku lagi.
__ADS_1
bagus kak hhmm "... jawab nya sambil mendahem Dia langsung bangun pergi ninggalin Aku. Aku hampir berang kenapa Dia ninggalin Aku gitu aja, gak sampe lima menit Dia sudah kembali terlihat wajah nya sedikit pucat.
Kamu kenapa yank sakit ya? "...tanya ku khawatir.
Gak pa-pa kok Kak memang dua hari ini Sarah sering mual gak tau kenapa"....ucap nya terdengar sangat lemas.
Gak mikir panjang Aku langsung menuju parkiran Aku langsung tancap gas, Aku gak mau sayang ku kenapa-napa. isi otak ku berganti dengan kekhawatiran pada Sarah, satu jam perjalanan sudah lumayan jauh. Davit menghubungi Aku, karena kesal gak sadar Aku sumpah serapah dia. tapi Davit tertawa terbahak-bahak saat aku mak* Dia, lagi-lagi Dia tertawa seolah mak*an Ku lucu di dengar nya.
Udah-udah sory Bos tadi Aku ada keperluan keluarga ".. .ucap nya.
kau di mana Vit? "... tanya Ku masih kesal.
Aku di kota ******** besok baru Aku balik"....jawab nya.
Yaudah Aku kesana sekalian Aku ada urusan sedikit "....Aku matikan ponsel, Aku berhenti sebentar di pinggir jalan. gak mungkin kan Aku nyetir sendirian bisa samalaman di jalan, Aku hubungi Eko untuk menyiap kan transportasi pribadi Ku. Aku balik ke kantor untuk menyimpan mobil dan Aku akan naik transportasi milik ku yang lain.
sepanjang jalan Aku kesal kenapa Davit tidak balik menghubungi Aku, sudah buang waktu ku percuma harus mondar mandir ahir nya. gak perlu waktu lama Aku udah balik lagi ke kantor.
__ADS_1
Eko sudah mempersiapkan semua kebutuhan ku, Eko memang sangat teliti maka nya Aku sering kasih dia bonus. Aku sudah di atas atap gedung kantor, ternyata Eko sudah nunggu dengan beberapa paperback di tangan nya. Aku yakin paperback itu berisi pakean ganti untuk ku, " yaudah Ko saya berangkat kamu handel dulu semua ya? "....ucap Ku menepuk bahu nya. Eko mengangguk hormat pada ku, Aku berangkat meninggal kan jakarta menuju kota di mana Davit berada juga tempat tinggal cinta ku.
Aku harus segera menemui Davit, agar urusan ku cepat selesai, wajah pucat cinta ku masih dapat ku bayang kan. Aku gak mau terjadi sesuatu pada Sarah, Aku gak mau kehilangan Dia. detak jantung berpacu lebih cepat saat aku memikir kan Sarah.