CINTA KECIL CEO

CINTA KECIL CEO
NEGATIF...


__ADS_3

Fifian bersandar di dinding kamar mandi, perasaan nya tidak menentu" Hufff bagaimana kalau Aku beneran hamil, ucap Fifian sambil menengadah menatap langit-langit kamar mandi.


" Eh.. malah beneran pengen buang air kecil, baik lah Aku test pack aja biar pasti, biar gak pusing mikir yang gak pasti, desah Fifian mencari sesuatu untuk menampung urine, untuk mencelup test pack nantinya.


" Huh.. lega, tapi apa mungkin Aku hamil, Fifian memperhatiakan urine jernih sedikit kekuningan, " yaudah lah Aku coba aja, Fifian meletakan botol kecil tampungan urine tadi disamping bathup lalu keluar untuk ambil test pack.


" Ya Tuhan, semoga hasil nya negatif, harap Fifian dalam hati sambil menunggu beberapa menit test pack yang di masukan kedalam botol urine.


Fifian duduk di pinggiran bathup menunggu hasil, perasaannya ketar ketir bagaimana kalau beneran hamil, semoga tidak, lirih hati nya.


Setelah beberapa menit berlalu, Fifian mengambil test pack dari dalam tampungan urine, Fifian memejamkan mata, tidak berani melihat yang di hasil kan test pack.


"Aduh...gimana ini, pekik Fifian dalam hati, belum berani untuk melihat hasil nya, " negatif.. negatif...negati... Ya Tuhan semoga negatif, gumam Fifian kemudian mencoba mengintip hasil test pack.


" hhhmm... syukur lah hanya satu garis berarti gak hamil, monolok Fifian, karena hanya dapat melihat sedikit, kemudian membuka lebar kedua mata untuk melihat lebih jelas, "Ya Tuhan..., Fifian termangu ternyata garis test pack dua, seketika lutut nya jadi lemas, Fifian terduduk dilantai kamar mandi.


Dengan kesal Fifian melempar test pack ke sudut dinding, Fikiran nya kacau, antara sedih dan kalut, " kenapa ini bisa terjadi, apa yang harus Aku katakan pada Ifan dan menantu Ku hikkk.., Fifian menangis, menutup wajah dengan kedua telapak tangan.


Tangisan Fifian di dengar Sarah, yang baru saja masuk, Sarah nerobos masuk tampa permisi, karena tidak ada sahutan dari dalam" Mama..., gumam Sarah saat mendengar suara tangis dalam kamar mandi.

__ADS_1


" Ya Tuhan, apa yang terjadi, batin Sarah melangkah kedepan pintu kamar mandi, detak jantung nya berpacu lebih kencang, takut sesuatu telah terjadi pada Ibu mertua.


" Tok.. tok..,Ma.. Mama.. Bukak Ma, Ini Sarah, berulang kali Sarah mengetuk dan memanggil Fifian, sementara Fifian semakin kalut mendengar Sarah memanggil.


" Ma.. Sarah masuk Ya..., ucap Sarah setelah sekian lama, tau pintu kamar mandi tidak di kunci, " Sebentar Sayang, sahut Fifian bangkit, gak mau Sarah tau apa yang terjadi,Fifian membasuh wajah, kemudian kembali ambil test pack.


" Mama gak pa pa kok Sayang, ucap Fifian sambil membuka pintu, Sarah menatap wajah Mama mertua, Sarah tau Mama Mertua habis menangis, masih terlihat jelas di mata Fifian kalau Ia habis nangis.


" Oh.. Sarah pikir Mama kenapa kenapa, ucap Sarah tidak melanjut kan kata katanya, teringat Ia cuma seorang menantu, " Mama gak pa pa sayang, ucap Fifian menarik tangan Sarah, meninggal kan kamar mandi.


Fifian melihat perut Sarah yang kelihatan semakin menonjol, " Ini cucu Mama laki atau perempuan ya?, tanya Fifian meraba perut Menantu nya, dengan jantung seperti di remas mikir soal kehamilan nya juga.


" Mas Ifan ajak Sarah USG tapi Sarah gak mau Ma, ucap Sarah dengan senyum, " kenapa gak mau Sayang kan biar tau jenis kelamin nya apa, Fifian terus meraba perut Sarah, " Enggak ah Ma biar jadi kejutan, jawab Sarah tertawa kecil.


" Aman Ma Sarah pasti jaga cucu Mama sebaik baiknya, Sarah mengacung kan jempol tanda kalau Ia bertanggung jawab menjaga kehamilan nya.


" Ya dah Sarah berangkat ya Ma, Sarah meraih tangan Fifian untuk salim, " Ya sayang hati hati, Fifian mencoba tersenyum walau hatinya getir.


Setelah Sarah pergi Fifian kembali duduk di kursi meja rias, Fifian melihat wajah nya di cermin, " Apa Aku harus menemui Ferdy, untuk apa, minta pertanggung jawaban Dia, Aku masih istri Adiyaksa, masak harus minta pertanggung jawaban laki-laki lain.

__ADS_1


Fifian merangkai pertanyaan dengan jawaban nya sendiri, " harus kah Aku memberi kesempatan lagi pada Mas Adi, lalu bagaimana dengan anak ini, yang jelas bukan benih Mas Adi, Ya Tuhan...hikkk..., Fifian kembali menangis.


Menyesal kan pertemuan dengan Ferdy, tapi justru permainan dengan Ferdy kembali terbayang, yang membuat jiwa nya ingin kembali ketemu Ferdy.


Tampa berganti pakaian, Fifian menyambar tas dan kunci mobil, untuk pergi menemui Ferdy, fikiran nya kalut saat ini, menurut nya Ferdy wajib tau kehamilan nya, bukan untuk minta pertanggung jawaban, tapi Fifian ingin Ferdy tau kalau kesalahan yang mereka buat tempo hari menghasil benih yang kini tumbuh dalam rahim nya.


Gak sampe dua puluh menit Fifian sudah sampai di halaman rumah sakit, Fifian turun gak perduli tatapan orang yang melihat nya dengan heran, karena Ia pakai piyama, langkah Fifian sudah sampai di lobi.


" Ada yang bisa kami bantu Bu, Sapa suster saat Fifian mendekat ke meja resepsionis, "Pak Ferdy ada, tanya Fifian tampa basa basi, " Oh Bapak ada Bu di ruangan nya, jawab sustet sambil menelisik penampilan Fifian dari ujung rambut sampe ujung kaki.


Risih dengan tatapan suster Fifian melangkah meninggal suster, tidak terlalu susah mencari ruangan Ferdy, papan nama jelas tergantung di depan pintu ruangan nya.


Tampa mengetuk Fifian langsung membuka pintu, terlihat Ferdy sedang asik dengan laptop di atas meja, hingga tidak sadar dengan lehadiran nya. " Fer.., panggil Fifian kemudian menutup pintu.


Ferdy mengangkat kepala setelah dengan di panggil, " Eh...kamu Fi, Ferdy menitup laptop kemudian bangun dari duduk, Ferdy menghampiri Fifian, detak jantung nya selalu tidak stabil kalau bertemu dengan Fifian.


" Aku kangen Fi, ucap Ferdy setelah tiba di depan Fifian, Ferdy menarik Fifian dalam pelukan nya, " Fer jangan begini ada yang ingin Aku bicarakan, ucap Fifian.


" Jangan berkata apa apa dulu, biarkan Aku memeluk mu Fi, ucap Ferdy semakin mengerat kan pelukan, Fifian pasrah wangi maskulin Ferdy membuat nya tenang.

__ADS_1


" Fer Aku hamil, bisik Fifian masih berada dalam pelukan Ferdy, " benar kah, Ferdy sedikit mengurai pelukan, untuk melihat wajah perempuan yang sangat di rindukan.


" Fi, hmm... panggil Ferdy membuat Fifian menengadah, " cup, Ferdy langsung menyambar bibir pink Fifian, Fifian terbawa Arus lupa dengan maksud kedatangan nya, mereka kembali mengulang percintaan.


__ADS_2