
Dokter datang untuk memeriksa keadaan Fifian. Ifan keluar setelah Dokter dayang. Ifan menghempas kan punggung di bangku panjang, " capek Mas... tanya sesorang yang kebetulan juga duduk di situ.
"Ya Saya lelah Mas hidup ini terlalu banyak cobaan, ada saja celah untuk cobaan itu datang"...ucap Ifan sambil menengadah menatap langit-langit koridor rumah Sakit.
" Sabar itu kunci sukses Mas, cobaan itu datang untuk menempa diri kita agar lebih baik dan berfikiran seluas-luas nya"...ucap laki-laki itu sambil mengeluarkan sebungkus Rokok.
Ingin rasa nya Ifan nunjukin logo tulisan di dinding yang bertulis no smoking, tapi Ifan milih pura-pura gak liat tulisan itu. mungkin laki-laki ini sedang banyak fikiran sama seperti diri nya, ahir nya Ifan juga minta satu batang rokok sebab fikiran nya juga sedang tidak baik-baik saja.
" Maaf Bapak-bapak, di larang merokok Pak di areal ini silah kan Bapak-bapak melanjut kan ketempat khusus yang sudah di sediakan dekat pantri rumah sakit ini"...terang perawat lalu pergi, Ifan mengambil kembali batang Rokok sudah terselip di bibir.
Ifan dan laki-laki itu saling tatap, mereka merasa di gurui tapi yah gak bisa di tepis omongan perawat tadi karena mereka memang salah.
" Hahaha... untung belum di bakar ayo Mas kita pindah tempat"...ucap Laki-laki itu ngajak Ifan pindah, " hhmm.. ya Ayo mas"...jawab Ifan ikutan bangkit mereka pergi ke pantri untuk cari tempat untuk merokok.
Setelah Adiyaksa di pindahkan keruang rawat, Sarah kembali keruang Fifian. tapi sayang tidak menemukan keberadaan Ifan setelah sampai di dalam, melihat Fifian tidur. dengan perasaan jengah sarah duduk karena kaki nya mulai terasa sedikit kram, tubuh nya juga merasa sangat lelah.
Sarah bersandar sambil menaikan kedua kaki di atas meja, fikiran nya mengawang tentang Ifan suaminya juga tentang kedua mertuanya. lama kelamaan Sarah tertidur dengan posisi duduk.
Ifan kembali keruangan Fifian sambil membawa satu botol air mineral di tangan, sesampai di dalam kamar inap Mama nya Ifan kaget melihat Fifian duduk.
__ADS_1
Ma.. maafin Ifan lama ya? "...tanya Ifan menghampiri Fifian, " gak Sayang itu yang lebih perlu kamu perhatikan"... tunjuk Fifian ke kursi di belakang Ifan.
Ifan menoleh dan terperanjat ternyata yang di tunjuk Mama nya adalah Sarah istri nya, " lihat lah istri Mu kecapean, kasian Dia"..ucap Fifian.
Ifan melangkah menghampiri Sarah, perlahan Ifan mengangkat untuk membenar kan tidur Sarah. " dari mana Mas..?".. tanya Sarah sadar kalau tubuh nya ada yang mengangkat.
"Gak dari mana-mana sayang tidur aja lagi kamu pasti capek".. jawab Ifan merebah kan Sarah di kursi busa panjang. " Fan sebaik nya Kamu ajak Sarah pulang jangan sampe kandungan nya terganggu karena kecapean, Mama udah gak pa-pa kok".. ucap Fifian sengaja agar Ifan dan Sarah pulang istirahat.
" Gak apa-apa kok Ma, Sarah gak capek"...ucap Sarah bangkit susul Ifan menghampiri Fifian, " jangan memaksakan Diri sayang, Mama gak mau terjadi apa-apa dengan cucu Mama"...Fifian menatap dalam menantu nya.
" Hey kalian lupa ya?... Heru mana? ".. tanya Fifian seketika teringat Heru, Sarah dan Ifan saling lihat. mereka sama-sama merasa salah kenapa bisa melupakan Heru.
" Mama gimana!? "..tanya Ifan khawatir meninggalkan Fifian sendirian, " udah gak usah khawatir Mama kan ada perawat yang jaga"...ucap Fifian tau kalau Putranya tidak ingin meninggal kan nya.
Sarah diam nama Rosita di sebut membuat nya merasa malu, Sarah gak tau Ifan akan membawa nya pulang atau tetap berada di rumah sakit untuk jaga Papa dan Mama nya.
" Yaudah Ifan temui perawat dulu untuk jaga Mama dan Papa ya? "..ucap Ifan pada Fifian karena ingat kandungan Sarah yang masih rentan. " Ya sayang"...jawab Fifian.
" Yank Kamu disini dulu temani Mama biar Mas temui perawat dulu"... Ucap Ifan pada sarah sebelum keluar dari ruangan Fifian.
__ADS_1
setelah ifan pergi, Fifian menggenggam tangan Sarah. " Sayang tadi Kamu kemana"...tanya Fifian memulai percakapan dengan Sarah.
Sarah naik duduk di pinggir tempat tidur sebelum menjawab Fifian" tadi Sarah di sini Ma, tapi kemudian Sarah pergi keruangan Papa karena tadi Papa jatuh tiba-tiba persis di depan pintu itu Ma"...tunjuk Sarah ke pintu.
Fifian diam mencerna ucapan Sarah, benar kah Adiyaksa jatuh lalu apa penyebab nya sampe seorang Adiyaksa jatuh. sepengetahuan Fifian Suami nya tidak punya riwayat penyakit, " Setelah jatuh trus gimana rah".. tanya Fifian pada Sarah ingin tau lebih.
" Ya di bawa ke IGD Ma.... Trus apa kata Dokter".. Fifian memotong ucapan Sarah sebenar nya gak ingin tau tapi cuma penasaran aja dengan kondisi bajingan Adiyaksa, " Ya di periksa tapi Dokter gak ada bilang soal penyakit Papa mungkin karena Sarah cuma menantu ya Ma!? ".. ucap Sarah tertunduk.
" Oh.. ya bukan begitu Sayang mana tau Dokter itu kalau kamu cuma menantu bagi Adiyaksa, jangan kecil hati mungkin pemeriksaan nya blom komplit makanya Dokter belum memberi tahukan apa penyakit Papa mu".. Fifian tau Sarah masih merasa asing.
Sarah tersenyum ternyata Ibu mertua bisa mengerti fikiran nya, mereka mengganti topik pembicaraan bukan lagi tentang Adiyaksa tapi soal nama-nama bagus untuk calon anak Sarah dan Ifan.
tidak terasa sudah setengah jam lebih Ifan keluar, setelah selesai bertemu dengan Dokter yang menangani Adiyaksa. Ifan kembali kekamar Fifian dengan membawa seorang perawat, untuk menjaga Fifian.
Tidak segan-segan Ifan mengeluar kan beberapa lembar uang untuk si perawat, tapi sayang pemberian Ifan ditolak dengan alasan bahwa menjaga pasien adalah tugas merekan.
" Mbak tolong terima saja ini bukan sogokan, tapi buat beli cemilan terima ya"...paksa Ifan, Ya baik lah Mas saya ambil dua lembar Saja"...ucap si perawat lalu mengambil dua lembar uang seratusan.
Kebetulan Heru dan Eko sampai di ruangan Fifian, " wah kebetulan Saya gak harus ribet cari kalian"...ayo Her kita pulang Mama udah ada Mbak ini yang jaga"...ajak Ifan.
__ADS_1
" Ah.. gak usah kak biar Heru temanin Tante disini "...tolak Heru gak enak kalau pulang kerumah sementara nyonya rumah terbaring dirumah sakit. Fifian gak ngerti kenapa orang seperti Rosita bisa mendidik anak bisa sesantun Heru, " gak usah kamu pulang gih tante gak apa-apa"...ucap Fifian tetap menyuruh mereka pulang.