CINTA KECIL CEO

CINTA KECIL CEO
PENJAHAT KELAMIN


__ADS_3

Lebih dari dua jam Fifian duduk ngobrol dengan Sarah menantunya dan Heru, sebentar-bentar Fifian melihat ke pintu. heran kenapa karyawan suruhan nya belum juga muncul dan kenapa Ifan belum juga kembali


" apa mungkin kata-kata Ku menyakiti perasaannya, Ya Tuhan maaf kan Aku. tapi biar lah mungkin Ifan harus menjernih kan fikiran , Adiyaksa Kamu memang an**** "....lirih Fifian dalam hati sambil menggeram untuk Adiyaksa suami nya.


Sarah juga gelisah tak tenang karena mikirin Ifan kenapa gak balik-balik, ingin rasanya nyusul atau bertanya pada mertua. tapi semua itu di urungkan karena Sarah masih sungkan pada Mama mertua, sedangkan Heru hanya bisa duduk sambil sesekali menyahut percakapan Fifian dan Sarah.


" Mas Ifan kok gak balik-balik ya Ma!? ". .tanya Sarah gak tahan kalau gak bertanya, " Ntah lah Mama gak tau kemana lagi Ifan".. jawab Fifian setelah menatap menantunya sesaat.


" Permisi Buk"... ucap salah Satu karyawan berdiri di muka pintu, Fifian menoleh lalu bangkit menghampiri karyawan tersebut.


"Gimana!?"... tanya Fifian setelah dekat karyawan itu, " Pak Adi udah di bawah Buk "... jawab karyawan tersebut. Fifian tersenyum miring ternyata orang seperti Adiyaksa, memang gakpunya malu masih berani injak kaki di perusahaan peninggalan kedua orang tuanya.


" Baik Saya segera kesana Kamu duluan terus awasi"...titah Fifian, Karyawan itu tidak menjawab hanya menganggukkan kepala lalu pergi.


" Sarah, Heru Mama keluar nanti kalau ketemu Ifan Mama suruh kemari"...ucap Fifian berbalik setelah ambil tas, " ya Ma, Ya Tante"...jawab Sarah dan Heru.


Fifian keluar dengan langkah cepat sambil memikirkan kata semprotan apa yang pantas untuk Adiyaksa Suami nya, setelah melihat dokumen tadi keinginan bercerai semakin kuat tidak ada rasa kasihan untuk Adiyaksa Suami nya.

__ADS_1


Sudah terlalu banyak yang di ambil Adiyaksa tampa sepengetahuan nya, " Tunggu Aku Adi kali ini Aku akan benar-benar depak Kamu dari kehidupan Ku.. ciiihh"...monolok Fifian setelah dalam lif sambil menangis.


Hati nya sungguh teramat sakit, Fifian meratapi setiap kebodohan nya yang telah di butakan oleh cinta kepada seorang Adiyaksa. sungguh Fifian tidak pernah menduga kalau Adiyaksa bukan saja menghianati nya, tapi juga mencuri untuk memuaskan nafsu berfoya-foya dengan banyak perempuan.


Fifian merasa jijik-sejijik nya terhadap Adiyaksa, bukan hanya sebagai pencuri tapi ternyata Adyaksa suami nya tergolong laki-laki penjahat kelamin" Tring... "...Suara pintu lif terbuka mengagetkan Fifian, ntah satu kebetulan atau memang anugrah Adiyaksa berdiri di depan pintu lif.


Sesaat pandangan mata mereka bertemu, Fifian membuang muka jijik lama-lama bersitatap dengan bajingan seperti Adiyaksa. Fifian merasa ini lah waktu yang tepat, gak perduli pandangan Adiyaksa fifian tidak melangkah keluar dari lif.


melihat Fifian tidak keluar Adiyaksa masuk kedalam lif, dalam fikiran nya mungkin Fifian memang sengaja ingin mereka berdua di dalam lif. sedangkan Fifian gak tau kelantai berapa tujuan Adiyaksa, tapi ini satu keberuntungan bagi nya untuk bicara masalah perceraian.


Memandang punggung Fifian, Adiyaksa tersenyum miring. merasa punya kesempatan untuk membujuk Fifian, agar tidak terpengaruh dengan data-data tentang diri nya yang di bongkar Ifan.


Luka itu menganga terlalu lebar, bahkan untuk sekedar melihat Adiyaksa saja Fifian udah gak mau bagi nya Adiyaksa terlalu menjijikan.


" Mau kemana Sayang"...ucap Adiyaksa mencoba merangkul pundak Fifian, "Plakk.. jangan pernah kamu sentuh aku lagi!!"...bentak Fifian menepis kasar tangan Adiyaksa. " Mama masih marah!? "...Adiyaksa kaget dengan perlakuan kasar Fifian, Adiyaksa mencoba meredam amarah nya karena Fifian tidak mau di sentuh oleh nya.


" Cihh... masih berlagak lugu ya dengar baik-baik jangan pernah Kamu injak kaki kamu kerumah Saya dan jangan pernah berharap Saya bisa terima kamu lagi, Saya akan urus perceraian Kita"...bentak Fifian terengah dengan suara lantang sambil menunjuk muka Adiyaksa, dada nya berat seperti ada batu besar yang menghimpit.

__ADS_1


Adiyaksa mematung tidak menyangka ada sisi lain dari seorang Fifian, perempuan yang sudah Ia nikahi lebih dari dua puluh tujuh tahun lalu. dulu jangan kan berbahasa kotor suara besar saja tidak pernah di dengar oleh Adiyaksa, Fifian begitu lembut tapi kenapa sekarang suara itu begitu kasar dan bengis.


Setelah mengeluarkan keinginan nya Fifian berbalik membelakangi Adiyaksa, tangis tampa suara pecah. Air mata deras tidak bisa di bendung lagi, terlalu sakit Adiyaksa menorehkan luka di hati nya.


Adiyaksa diam bersandar pada dinding lif, bayangan bayangan masa lalu saat jadi penjual koran, cukup buat Adiyaksa merasa sedih. otak jahat nya terus berputar cari cara agar tidak ada kata perceraian, Adiyaksa Tau Fifian dapat mengatur perceraian mereka dengan cepat


Melihat pundak Fifian yang bergetar, Adiyaksa tau Fifian sedang menangis. Ingin rasanya membujuk seperti kemarin-kemarin, tapi Adiyaksa sudah kehilangan nyali. ucapa cerai yang di lontar kan Fifian seperti berputar-putar di kepala, bayangan waktu menggelandang susah kembali terbayang.


Adiyaksa berusaha menelan salifa, dengan susah payah tidak mau kembali kemasa lalu.


' Tidak Aku tidak akan mau bercerai "....lirih Adiyaksa dalam hati, " Ma maaf kan Papa Ma"...ucap Adiyaksa seketika bersimpuh memeluk kaki Fifian. sesaat Fifian kaget dan hampir hilang keseimbangan, " lepas kan "...Fifian menolak kasar bahu Adiyaksa agar melepas pelukan dari kaki nya.


Fifian bergeser setelah berhasil lepas dari pelukan Adiyaksa, Adiyaksa menatap Fifian dengan wajah memelas. sesaat Fifian berfikir keluar atau terus menghadapi Adiyaksa, " Maaf kan Papa Ma"...Adiyaksa kehilangan gengsi karena takut hidup di jalanan.


Fifian bengong karena Adiyaksa bersujud di depan nya, tersadar Fifian langsung memandang jijik pada Adiyaksa gak ngerti peran apa lagi yang di mainkan Adiyaksa, tapi kali ini Fifian tidak akan masuk lagi kedalam perangkap yang Sama.


" Bangun lah seribu kali kamu bersujud Aku tetap dengan keputusan Ku"...ucap Fifian tegas, bergeser makin kesudut tidak ingin terlalu dekat dengan Adiyaksa.

__ADS_1


Masih dengan posisi bersujud Adiyaksa merasa darah nya menyembur ke kepala, saat mendengar ucapan Fifian yang akan tetap menggugat cerai diri nya. seketika emosi nya memuncak, Adiyaksa bangkit langsung mencengkram leher Fifian dengan kedua tangan nya.


Apapun yang terjadi Adiyaksa tidak akan mau jika bercerai dari Fifian, " Tidak akan ada kata cerai ingat Itu"...ucap Adiyaksa dengan mata merah. Fifian berusaha lepas dari cekikan Adiyaksa, Syukur nya pintu lif terbuka dan Ifan menyaksikan dengan mata terbelalak.


__ADS_2