
Adiyaksa baru saja selesai mandi saat mendengar suara teriakan Ifan memanggil Fifian, ingin rasa segera ke kamar Putra nya untuk lihat apa yang terjadi. tapi teringat kelancangan Ifan beberapa hari lalu Adiyaksa mengurung kan langkah nya untuk kekamar Ifan.
Setelah berpakaian dengan rapi, Adiyaksa bermaksud turun kebawah. untuk ajak Fifian jalan-jalan sekedar hangout agar fikiran Fifian lebih rileks, dengan begitu pasti mudah bagi nya untuk mendapatkan maaf dari Fifian.
" Mamaaaa...!!!!"...Ifan kembali teriak memanggil Fifian, Adiyaksa menarik nafas panjang. " hhhmm ada apa lagi dengan anak manja itu!? "... lirih Adiyaksa sambil menarik nafas, dalam hati nya terselip juga kekhawatiran.
Bagai mana pun Ifan adalah darah daging nya, setengah berlari Adiyaksa menuju kamar Ifan. " ada apa Fan"... tanya Adiyaksa sambil mengatur nafas di depan pintu kamar Ifan.
Memang jarak kamar Ifan dan kamar nya tidak jauh, tapi dapat buat Adiyaksa ngos-ngosan karena kurangnya olah raga.
Adiyaksa menghampiri Putra nya, " Kenapa Istri Mu Fan!? "... tanya Adiyaksa lagi, karena Ifan bersimpuh di samping tempat tidur sambil menggenggam tangan Sarah.
Ifan berdecak kecil lalu menoleh melihat wajah Adiyaksa Papa nya dengan dada berdegup kencan, tampa menjawab pertanyaan Papa nya Ifan bangkit.
Tampa di duga Adiyaksa putra nya mendorong kasar hingga keluar pintu kamar nya. bagaimana pun semua perkara yang terjadi, Adiyaksa lah penyebab nya Ifan gelap mata fikiran nya di kuasai rasa benci terhadap Adiyaksa Papa nya.
"Apa-apaan Kamu Fan udah gila yaa..??"...bentak Adiyaksa menepis tangan Ifan karena membuat nya hampir jatuh, " buumm... Ifan menutup pintu dengan cara membanting setelah berhasil mendorong Papa nya keluar.
Adiyaksa terjingkat saat Ifan dengan sengaja membanting pintu " cihhh... bi******Anak durhaka"... Adiyaksa mendecih memaki dari luar dengan nafas terengah-engah lalu turun kelantai bawah.
Pergerakan Ifan yang tiba-tiba sangat tidak di duga Adiyaksa, sumpah serapah keluar begitu saja dari mulut Adiyaksa, lupa siapa yang sedang Ia sumpah serapah. Ingin rasa nya Adiyaksa mengajak Ifan berlelahi sebagai sesama lelaki, untuk memberi pelajaran agar Ifan lebih menghargai Dirinya sebagai orang tua.
__ADS_1
Rencana awal yang telah di susun rapi menguap begitu saja, Ifan Benar-benar sudah buat suasana hati nya rusak dan menghancur kan semangat Adiyaksa yang tadi menggebu-gebu.
Ifan bersandar di pintu sungguh saat ini tidak ingin melihat Adiyaksa, " ini semua karena Papa".. lirih Ifan dengan air mata mengambang di pelupuk mata. Ifan menjambak rambut nya sendiri ada rasa bersalah juga sedih yang keluar dari dasar hati nya.
" tokk... tok.. Fan bukak pintu nya ini Mama Nak"...panggil Fifian dari luar, Fifian bergegas lari naik kelantai dua setelah mendengar omelan Adiyaksa yang menyumpah serapah Putra nya.
Ifan membuka pintu tapi baru sedikit terbuka, Mama nya sudah mendorong pintu dan menerobos masuk. " apaan sih Ma sakit "... ucap Ifan sambil nyengir nahan sakit pada tulang kering kaki nya yang kepentok pintu saat di dorong Fifian.
Fifian tidak menggubris keluhan putra nya, saat ini pandangan nya tertuju pada mata basah Ifan, gak tau apa yang terjadi antara suami dan anak nya. kemudian Fifian mengalih kan pandangan ke atas tempat tidur, melihat Sarah yang tidur dengan wajah pucat.
Fifian menghampiri Sarah untuk melihat lebih dekat " Fan kenapa Sarah!? "... tanya Fifian kembali melihat Ifan sesaat.
Dengan perasaan marah tampa sebab Fifian kembali mendekati Ifan, " Plakkk... "... satu tamparan mendarat di pipi Ifan. " Apa yang sudah kamu lakukan haahh.., apa kamu ingin mengikuti jejak si tua bangka yang gak tau di untung itu yaaa!!!??"...teriak Fifian di depan Putra nya.
Fifian tidak ingin Ifan putra nya mengikuti jejak Adiyaksa, Ifan tidak menjawab hanya bisa meraba pipi nya yang terasa perih karena tamparan Mama nya.
sebagai sesama perempuan Fifian tidak ingin anak nya, jadi laki-laki pecundang yang hanya bisa menyakiti perempuan. Fifian meninggal kan Ifan yang masih berdiri termangu" Sarah bangun nak"... Fifian berulang kali berusaha menyadar kan Sarah.
" Cepat bawa Istri mu kerumah sakit ".. ucap Fifian khawatir kemudian menyambar minyak kayu putih yang ada di atas nakas, Fifian mengoles minyak kayu putih di kening menantu nya.
" Ifaaannn... "... bentak Fifian kesal karena Ifan masih berdiri diam, Ifan tersentak karena bentakan Mama nya. setelah meraup wajah dengan kasar Ifan langsung melangkah menghampiri Sarah, gak tau Mamanya sedang kerasukan apa.
__ADS_1
Gak mau Mama nya teriak-teriak lagi, Ifan mengangkat Sarah kedalam gendongan nya.
" Massh.. "... ucap Sarah reflek mengalung kan tangan ke leher Suami nya, " Syukur lah Kamu sudah siuman Sayang "... ucap Ifan tersenyum senang Istrinya sudah siuman gak perlu lagi bawa kerumah sakit.
Ifan meletakan kembali Sarah ke atas tempat tidur, " sudah siuman nak, Fan ambilin air putih ".... perintah Fifian pada putranya.
Tampa membantah Ifan keluar dari kamar untuk pergi ambil air, kebetulan air dikamar nya habis. saat menuruni anak tangga Ifan melihat Adiyaksa yang sedang duduk disofa ruang tamu.
Rasa bersalah mendera dada Ifan, perbuatan nya tadi memang sangat tidak pantas. Ifan berhenti sesaat memejamkan mata, menarik nafas sepanjang-panjang nya hingga memenuhi rongga dadanya.
Setelah dada nya sedikit lega Ifan lanjut turun, sampe di bawah Ifan sengaja memutar arah untuk menghindari Adiyaksa, kejadian tadi masih jadi gumpalan sesal di dada Ifan.
Ifan kembali naik ke lantai atas dengan dua tangan berisi gelas dan sebotol air, Adiyaksa menoleh melihat Ifan pandangan mata mereka beradu. Adiyaksa membuang muka muak masih sakit hati karena perlakuan Ifan tadi.
Tidak ada yang bisa di lakukan Ifan selain melangkah sambil " Maaf kan Ifan Pah"...gumam Ifan lanjut lagi menapak di anak tangga.
Fifian meninggal kan kamar Ifan setelah memastikan menantu nya baik-baik saja, " Fan ingat ya jangan kamu sakiti Sarah seperti Papa mu menyakiti Mama"... peringat Fifian sebelum keluar dari kamar Ifan.
Sarah diam gak tau apa sebenar nya yang terjadi didalam rumah keluarga Ifan, setelah mendengar ucapan berupa pesan yang mertua nya jabar kan pada suami nya. Sarah memilih tidak akan bertanya lagi, Sarah percaya sepenuhnya kepada Ifan suami nya.
sedang Ifan terlihat lesu, Ifan tidak mungkin menyembunyikan apa yang terjadi, karena tampa sengaja Fifian sudah membuka rahasiaitu sendiri dan Ifan akan menceritakan pada Sarah agar tidak ada lagi kesalah pahaman diantara mereka
__ADS_1