CINTA KECIL CEO

CINTA KECIL CEO
SEPERTI YANG LO MAU


__ADS_3

Ifan menerobos masuk, ternyata kedua orangtua nya sedang berpelukan. Malu Ifan menunduk, " Lepaaaaassss "....teriak Fifian lebih berani setelah melihat kehadiran putra nya.


Ifan kembali menatap kedua orang Tua nya, melihat darah semakin deras mengucur Ifan gak bisa tinggal diam.


" lepasin Mama Pa"... Ifan mencoba bicara lunak menekan amarah nya, " Kamu gak usah ikut campur keluar sana"...bentak Adiyaksa. Bibi terkejut dengar bentakan Tuan nya, Ifan menatap tajam Papa nya.


Fifian terus berontak, karena darah terus keluar dari tangan Fifian. Ifan gak bisa tinggal diam, Ifan maju untuk merebut Fifian dari pukan Adiyaksa.


" Lepas Pa "....Ifan kembali memohon agar Adiyaksa melepas kan Fifian, " Kamu keluar gak ada urusan"... bentak Adiyaksa lagi. " tangan Mama berdarah"...Ifan balas membentak Papa nya.


Tampa fikir panjang Ifan langsung menarik kedua tangan Adiyaksa, Ifan mengguling kan Adiyaksa. Fifian langsung berlari keluar kamar, Bibi mengikuti Fifian sambil menangis.


Adiyaksa menendang Ifan beberapa kali, sedang Ifan hanya menerima tidak membalas Papa nya. Adiyaksa melepas kan diri dari cengkraman Ifan, " Anak kurang ajarrr... Plakk.... " teriak Adiyaksa sambil menampar keras pipi Ifan.


Ifan terperangah memandang Adiyaksa dengan sedih, seumur hidup nya baru kali ini di tampar Papa nya. sedari kecil tidak pernah menerima kekerasan apa pun dari Papa nya. Adiyaksa memandang telapak tangan nya yang masih terasa perih, Adiyaksa menyesal sudah menampar Ifan.


" Maaf kan Papa nak"... ucap Adiyaksa dengan wajah murung langsung pergi keluar meninggal kan Ifan, saat ini Ifan masih bersimpuh dengan kedua lutut di lantai.


Ifan diam memegang pipi nya yang masih perih, di sudut hati nya sangat sedih. Ifan bangkit sambil menghapus air mata di sudut mata nya, perlakuan Papa nya di anggap sebagai kasih sayang.


Ifan bangkit berdiri mengitari pandangan masih teringat jelas, saat kecil Ifan pernah sembunyi di sudut lemari karena sudah merusak file kerja Papa nya.

__ADS_1


Adiyaksa tidak marah malah membujuk nya, dengan membeli mainan baru " Besok-besok jangan main di ruangan kerja Papa ya nak, Itu file kerja Papa rusak nanti kita gak bisa beli mainan lagi karena Papa gak bisa kerja jadi gak punya uang untuk beli mainan kamu"...kata-kata bijak Adiyaksa masih di ingat Ifan sampai saat ini.


setelah menarik nafas panjang Ifan keluar dari kamar kedua orangtua nya, hati nya sedih belum pernah Ifan melihat kedua orangtua nya bersiteru.


" Mas ayok kita bawa Mama Mas"...ucap Sarah ketika suami nya masuk, " Ya sebentar pake baju dulu"... ucap Ifan melewati Sarah Fifian dan Bibi.


Bibi permisi keluar saat Ifan hendak memakai pakaian, Bibi minta ijin Fifian dan Sarah untuk ikut kerumah sakit. Saat tiba lantai dasar Bibi berpapasan dengan Adiyaksa yang hendak naik, " Mana Nyonya Bik!? ".. tanya Adiyaksa.


" Nyonya di kamar Den Irfan Tuan"... jawab Bibi menunduk tidak berani bersitatap dengan Tuan nya, " Ya sudah "... ucap Adiyaksa melanjut kan langkah. Bibi mengelus dada yang tadi sempat berdegup takut.


Saat mereka semua sudah masuk kedalam mobil, Sarah melihat pipi suami nya merah seperti lembam. tangan Sarah terulur memenggang yang tampak lebam di pipi Suami nya, " ini kenapa Mas"... tanya Sarah, Ifan menarik wajah nya karena masih terasa perih saat di sentuh Sarah.


" Gak apa-apa Yank"... ucap Ifan menghidup kan mesin mobil, Sarah gak lihat apa yang terjadi tapi Sarah tau kalau itu bekas tamparan. sedang Ifan merasa sedih teringat Saat Papa nya melayangkan tamparan di pipi nya.


Ifan melihat Mama nya dari kaca spion, " Gak Ma Ifan terjerembab tadi"....jawab Ifan berbohong. Fifian diam ada rasa malu terhadap Sarah menantu nya, baru dua hari menantu sudah tau borok keluarga nya.


" Sarah Mama minta maaf ya Nak".... kata-kata itu terlontar dari bibir Fifian, " Maaf untuk apa Ma!? ".... tanya Sarah menoleh melihat Mertua nya.


" Mama malu baru dua hari Kamu Ifan bawa pulang sudah kejadian seperti ini"... ucap Fifian dengan air mata mengambang, " Mama gak perlu minta maaf Sarah anak Mama juga kan!? "....Sarah memiringkan tubuh nya agar dapat menggapai tangan Mertua nya.


Fifian tidak mampu berucap, ternyata Menantu nya benar-benar wanita berhati lembut. jauh beda dengan Marini yang punya watak keras, sedang Bibik hanya bisa mengusap punggung Nyonya nya.

__ADS_1


Ifan sengaja membawa Fifian ke klinik terdekat, luka Fifian sudah lumayan lama tampa pengobatan Ifan gak mau luka itu semakin parah.


setelah sampai di rumah sakit Fifian langsung di tangani Dokter Budiman, yang kebetulan kenal dekat dengan almarhum kedua orangtua Fifian.


" Kenapa sampai robek begini Fi"... tanya Dokter Budiman, " Fifian tadi terpeleset Om gak sadar tangan kenapa tiba-tiba aja udah begini"...jawab Fifian.


" Kamu gak bohong kan?, gimana Suami mu"...Tanya Dokter Budiman, Mas Adi baik-baik kok Om"... jawab Fifian. " Ini luka nya lumayan besar Fi, bisa nya Kamu teledor gak jaga diri "...ucap Dokter Budiman sambil mengamati luka Fifian.


Fifian hanya tersenyum mendengar omelan Dokter Budiman, tidak lama proses pengobatan selesai. Fifian malas untuk pulang, dalam beberapa waktu Fifian tidak mau bertemu Adiyaksa Suami nya.


" Fan Mama nginap di apartemen Kamu ya".... Ucap Fifian, ketika mobil yang mereka tumpangi masih di areal parkiran klinik.


" Mama mau ngapain di sana sendirian!? "... tanya Ifan, " Mama mau nenangin Diri Fan"...jawab Fifian. sesaat Ifan menoleh melihat Istri nya di sebelah, Sarah mengangguk mengisyaratkan Ifan agar menuruti kemauan Mama nya.


ponsel Ifan di dasbor bergetar, Ifan buru-buru mengambil untuk melihat siapa yang menghubungi nya. ternyata David, Ifan menghentikan laju mobil tepat di pinggir jalan.


Ifan turun untuk menghubungi David, Ifan gak mau bicara di dalam mobil karena gak ingin Fifian tau apa rencana nya.


" Halo Vid gimana "... tanya Ifan ketika David sudah menerima panggilan nya, " Sabar bos buru-buru amat data udah Gue dapet semua udah komplit seperti yang Lo mau"... ucap David dari seberang.


" Yaudah Lo pegang dulu Gue masih ada urusan keluarga "... Ucap Ifan mengahiri panggilan, Ifan gak mau Mama nya curiga.

__ADS_1


Ifan membawa Sarah Fufian dan Bibik ke supermarket, untuk beli beberapa bahan makanan untuk Fifian selama nginap di apartemen. Ifan ngerti saat ini Mama nya perlu menenangkan diri, Sarah hanya mengikuti tidak berani terlalu jauh mencampuri urusan Mertua nya


__ADS_2