
Setelah Fifian keluar pergi Ferdy terduduk diam, fikiran nya menerawang ke masa lampau di mana saat terjadinya keributan antara diri nya dan Fifian. masih dapat di ingat ferdy dengan jelas bagaimana siska, tiba-tiba datang minta pertanggung jawaban hanya berdasar kan foto mesra. Ferdy sendiri tidak menyadari kapan itu terjadi dan dimana.
" Kamu harus bertanggung jawab dengan janin yang ada di dalam perut ku Fer "...ucap Siska saat Ferdy dan Fifian sedang bercerita merangkai tentang masa depan, saat itu Fifian langsung berdiri menatap Ferdy dengan sejuta rasa sakit. sedang kan Ferdy termangu karena memang gak ngerti apa maksud tuduhan dari siska.
Fifian menatap nanar benar-benar terbakar amarah, tampa meminta penjelesan terlebih dahulu Fifian langsung melayang kan tamparan keras ke pipi Ferdy. " Aku gak menyangka kamu begitu bejad Fer, jangan pernah temui Aku lagi hubungan kita cukup sampai di sini"...ucap Fifian menangis langsung pergi saat itu.
mengingat itu bulir bening keluar dari sudut mata Ferdy, putus secara sepihak sangat menyakit kan kala itu. berulang kali Ferdy mencoba membuang nama Fifian dari dalam hati tapi tetap tidak bisa hingga sekarang, Fifian benar-benar telah membelenggu hati nya hingga kini.
Sekarang Ferdy dapat tersenyum karena Ia sudah benar-benar bisa memiliki Fifian lagi. " Fi Aku bersumpah kali ini Aku gak akan melepas kan kamu Fifian Ku"...ucap Ferdy bangkit meraih jas yang terlampir di sandaran kursi.
Di ruangan Adiyaksa, Fifian hanya berdiri di depan pintu, perasaan bersalah menghantui nya. Fifian merasa sangat berdosa. " Maaf kan Aku mas"...gumam Fifian tak mampu rasa nya untuk mendekati Adiyaksa, Fifian menangis gak tau hati nya saat ini untuk siapa.
" Mah... kenapa menangis kemarilah Papa kangen"...ucap Adiyaksa yang sudah tersadar dari koma, Fifian membeku di tempat. hampir tidak percaya dengan pendengaran nya, sesaat Fifian mengangkat wajah untuk melihat Adiyaksa apakah benar yang barusan Ia dengar.
Ternyata benar Adiyaksa sudah siuman dari koma yang telah di lalui nya beberapa hari, " Ma... kemarilah"...panggil Adiyaksa lagi karena Fifian tidak bergeming dari tempat nya berdiri. Lama mereka saling tatap, Fifian mengatur emosi dan fikiran nya.
__ADS_1
" Ya Tuhan apa yang harus Aku lakukan, tapi bukan kah Dia berhianat lebih dari sekali. jangan salah kan Aku mas kalau Aku juga sudah jatuh dalam pelukan laki-laki lain, Kamu yang memulai semua ini"...lirih Fifian teringat penghianatan Adiyaksa hingga Ia mengalih kan rasa bersalah dalam hati tampa memutus kontak mata dengan Adiyaksa.
" Ayo dong Ma.. sini"...lagi-lagi Adiyaksa bersikap manis minta Fifian mendekat, dalam benak nya waktu ini lah yang tepat untuk meminta maaf sebelum Fifian membalas nya dengan perceraian.
Dengan rasa bersalah yang masih tersisa ahir nya Fifian melangkah secara perlahan untuk mendekati Adiyaksa, rasa perih akibat pertarungan dengan Ferdy masih tersisa membuat Fifian semakin merasa dirinya kotor.
" Duduk sini! "...titah Adiyaksa menepuk kasur di sebelah nya, dengan perasaan tidak menentu Fifian naik dan duduk di samping Adiyaksa. samar Adiyaksa dapat melihat seperti tanda sesapan di leher belakang Fifian, tapi kerena yakin Fifian tidak akan mungkin menghianatinya Adiyaksa membuang jauh-jauh rasa curiga nya.
" Makin cantik aja Kamu Mah.. "...puji Adiyaksa setelah jarak mereka tidak berjarak Adiyaksa juga melingkar kan tangan di pinggang dan menumpu wajah nya di bahu Fifian, " Gak usah sok romantis".. ucap Fifian bergidik juga menepis tangan Adiyaksa ntah kenapa merasa jijik mendengar pujian garing yang keluar dari mulut Adiyaksa.
Tidak ingin Fifian semakin membenci nya Adiyaksa membiar kan Fifian pulang, jauh di lubuk hati nya Adiyaksa hanya takut kalau di cerai kan Fifian. setelah Fifian pergi Adiyaksa kembali telentang berbaring, fikiran nya bercabang-cabang karena permasalahan yang ada.
Di panti.
Ifan penuh kegembiraan bermain dengan adik-adik panti, sambutan hangat dari Rosita sudah meruntuh kan rasa tidak suka yang sempat bersarang. Sarah juga bisa kembali merasa kan kehangatan seperti dulu, bagi Rosita gak ada alasan untuk terus membenci dan menunjukan rasa tidak suka.
__ADS_1
mereka menghabis kan waktu dalam kehangatan sebuah keluarga yang saling menyayangi, Heru bersikap biasa-biasa saja agar Sarah dan Ifan tidak timbul curiga. sering Heru mencari-cari waktu untuk bisa ngobrol berdua dengan Rosita, tapi karena masih ada Sarah dan Ifan, Heru tidak mungkin menggunakan kesempatan yang ada.
" Mas... gimana dengan urusan kantor, apa gak kelamaan kita di sini!?"...tanya Sarah ketika mereka sedang tiduran di atas kasur, " tenang sayang semua udah ada yang handle "...jawab Ifan kemudian menarik Sarah agar lebih dekat.
Di teras Heru duduk sendirian imajinasi nya nya jauh menghayal bagaimana hidup bersama Rosita, hayalan Heru mereka akan punya anak-anak yang lucu-lucu. " Ru.. "...suara panggilan membuyarkan hayalan Heru.
" Eh.. Ibuk"...ucap Heru setelah menoleh melihat siapa yang memanggil nya, " mikirin apa Ru kok Ibu liat kamu senyum-senyum sendiri"...ucap Rosita menarik kursi di samping Heru untuk Ia duduk.
" Mikirin Ibuk Lah"...jawab Heru spontan tampa sadar, Rosita mengerut kan kening nya gak ngerti kenapa pula Heru harus mikir Diri nya. Heru menelan ludah berkali-kali, takut malu jadi satu.
" Kenapa Kamu mikirin Ibuk, ada apa ?"...tanya Rosita duduk berhadapan dengan Heru, seketika nyali Heru ciut kesel dengan mulut nya sendiri. Heru tertunduk mencari alasan apa untuk menjelas kan pada Rosita, Heru menarik nafas dalam berulang kali hingga teringat akan liburan ke kebun binatang.
" Buk kapan ya.. kita bawa adik-adik ke kebun binatang mau nya besok mumpung ada Sarah dan kak Ifan "...ucap Heru mengalih kan, " Iya jugak ya Ru mumpung ada Sarah, pasti seru ya... "...ucap Rosita tersenyum senang.
" Iya Buk gimana kalau lusa kan hari minggu"..ucap Heru lagi, " Iya Ru tapi Ibu takut kalau Sarah kecapean, Ibu gak mau kandungan nya kenapa-kenapa"...jawab Rosita dengan wajah murung. " gak kok Buk....Sarah itu kuat kan ada kak Ifan Buk... "...Heru coba mengikis kekhawatiran Rosita.
__ADS_1
" Yaudah kalau gak nunggu Sarah balik aja baru kita bawa adik-adik"...ucap Heru cemburu dengan perhatian berlebihan Rosita pada Sarah, " hhhmm besok lah coba Ibuk bicarain dengan Sarah dan Ifan"...Rosita tau Heru kesel.