CINTA KECIL CEO

CINTA KECIL CEO
YANG KESERIBU


__ADS_3

Lima bulan sudah, kehamilan Sarah menginjak usia tujuh bulan, masuk delapan, mulai membesar, " Mas Sarah kayak orang cacingan ya, ucap Sarah sambil bercermin melihat perut buncit, " apa yang cacingan, tanya Ifan menghampiri Sarah.


" Jangan gitu ngomong nya Yank, justru sekarang kamu makin ****, Ifan membelai perut bulat Sarah, " Yank USG yuk, Mas pengentau jenis kelamin nya apa, Ifan penasaran dengan jenis kelamin anak di kandungan Sarah.


" Ssssstt... Mas gak seru dong, kalau kita duluan tau laki-laki atau perempuan, jawab Sarah sambil menikmati belaian Ifan pada perutnya, " maksud Kamu biar jadi kejutan setelah dia lahir?, Ifan menatap Sarah dari pantulan cermin didepan.


" Iya Mass,...jawab Sarah mendesah sentuhan Ifan selalu buat seluruh tubuh nya meremang, " Yank marathon pagi Yuk, ajak Ifan lembut sengaja berbisik di telingan Sarah, " hmm,...Sarah semakin mendesah.


Semakin membesar nya perut Sarah, Ifan semakin candu, Sarah selalu terlihat **** di mata, " Yank ini fitamin buat Mas semangat kerja, ucap Ifan saat ingin menyatukan mereka, tidak ada jawaban dari bibir Sarah, rasa terlalu mendominasi hingga maraton mereka selesai dengan lenguhan panjang penuh cinta.


" Mandi yuk Yank, ajak Ifan, " Mas aja duluan Sarah capek tidur sebentar ya, jawab Sarah dengan mata sayu, " Ifan memaklumi kelelahan Sarah, " yudah Mas mandi mau berangkat ke kantor, Ifan langsung bangkit meninggal kan Sarah yang masih telentang di bawah selimut.


Fifian masih di kamar, hati nya resah memikirkan keadaan dirinya yang ahir-ahir ini jadi tukang makan, " Apa bener ahh.. gak mungkin lah, batin Fifian, kemudian membuka laci untuk ambil alat tes kehamilan yang di beli nya kemarin.


Fifian menatap test pack di tangan nya, " apa iya aku hamil, batin Fifian terus menatap test pack, mengingat perubahan selera makan " apa sebaik nya Aku coba, tapi apa mungkin seusia Ku masih bisa hamil.


" Ya tuhan gimana kalau beneran Aku hamil, gimana kalau Ifan dan Sarah tau, apa yang harus Aku jelas kan, apa kata Mas Adi seandai nya Ia tahu, di landa cemas meremas test pack yang Ia pegang.


" Mama kenapa?, Fifian terkejut, Adiyaksa tiba-tiba masuk, dengan gugup langsung memasukan kembali test pack kedalam laci, sebelum Adiyaksa menghampiri, kebetulan laci itu belum di tutup.


" Gak pa pa kok Pa, jawab Fifian dengan dada turun naik, badan nya panas dingin. " Papa kirain Mama gak enak badan, soal nya ahir-ahir ini Mama sering melamun, ucap Adiyaksa duduk di pinggir tempat tidur.

__ADS_1


" Ma kemarilah, Adiyaksa menepuk kasur di sebelah nya, Fifian membuang nafas kasar berulang kali, untuk mengurangi rasa gugup dan ketakutan nya.


Fifian melangkah dengan gugup untuk memenuhi panggilan Adiyaksa, " duduk lah Ma, pinta Adiyaksa sekali lagi agar Fifian duduk di sebelah nya.


Menatap sesaat, lalu Fifian duduk berjarak beberapa senti dari Adiyaksa, kedua nya terdiam dengan fikiran masing-masing.


Sesekali Adiyaksa melirik Fifian di samping, "masih kah Dia marah, monolok Adiyaksa dalam hati, Fifian menunduk hanya menatap lantai dan ujung jari kaki nya.


" Ma tidak bisa kah Kita seperti dulu, ucap Adiyaksa lalu coba meraih jemari Fifian, Fifian tidak menolak saat Adiyaksa menggenggam jemari nya, bagai mana pun Adiyaksa masih sah suami nya" Apa lagi rencana Kamu Adi, batin Fifian, noleh melihat Adiyaksa sesaat.


" Ma kamu sudah memaaf kan Aku kan Ma, pertanyaan itu terlontar karena Fifian terus diam, Fifian menarik tangan nya dari genggaman Adiyaksa, " Aku sudah memaaf kan Kamu, tapi untuk seperti dulu, Aku gak bisa, jawab Fifian bangkit.


" Kenapa Ma?, gak ada kah lagi kesempatan untuk Ku, ucap Adiyaksa tetap berharap kesempatan berikut nya.


"Jangan bsgitu Ma, kasi Aku kesempatan sekali lagi, Aku benar-benar ingin berubah untuk Kamu Ma, Ucap Adiyaksa ingin meraih lagi tangan Fifian.


" Sudah lah keluar...Aku gak bisa lagi kasih kesempatan, Ucap Fifian menepis tangan Adiyaksa, lalu meninggal kan Adiyaksa.


Mendengar jawaban Fifian,Adiyaksa memejam kan mata, untuk mengontrol situasi hatinya, apa yang dikatakan Fifian memang benar.


" Yudah Ma, Papa keluar fikir kan lah lagi Ma, ucap Adiyaksa menatap Fifian sesaat lalu bangkit pergi keluar dengan harapan besok Fifian akan beri lagi kesempatan.

__ADS_1


Fifian menatap wajah nya di cermin, permintaan Adiyaksa tadi membuka lagi luka di hati nya, mengingat itu Fifian merasa dada nya sesak.


"Ma.. Mama..., terdengar panggilan dari depan pintu kamar, " Masuk Fan, sahut Fifian tau siapa yang memanggil nya, Ifan langsung masuk setelah di suruh.


" Mama Ku kenapa ya?..., Ifan langsung menghampiri Fifian, Ifan memegang kedua bahu Fifian, sambil menatap wajah Fifian di cermin.


"Mama gak pa pa kok sayang, Fifian balik menatap wajah putra nya dari pantulan cermin, " Papa tadi ngapain Ma, tanya Ifan karena sempat berpapasan dengan Adiyaksa.


" Sudah lah, gak usah kamu fikir kan soal Papa Mu, Mama tetap dengan keputusan Mama, ucap Fifian menepuk tangan Ifan yang berada di bahu nya.


"Sarah mana, tanya Fifian mengalih kan, agar Ifan tidak lagi bertanya persoalan nya dengan Adiyaksa, " ada di kamar Ma, jawab Ifan, menelisik wajah Mama nya, terlihat sedikit berbeda dari biasa nya.


" Kenapa kok liatin Mama sampe kayak gitu, Fifian bertanya saat mata mereka bertemu di cermin, " gak Ma, Ifan liat kayak nya wajah Mama sedikit tembem, ucap nya sambil tertawa kecil.


Deg.. Fifian terkejut mendengar ucapan Ifan, jantung nya berpacu lebih kencang, " Duh gimana ini, Ifan aja bisa liat perubahan Ku, pekik Fifian dalam hati, kemudian buru-buru bangkit, dengan alasan pengen ke kamar mandi.


Ifan menarik nafas panjang, " yaudah lah ke kantor dulu, monolok Ifan, lalu keluar dari kamar Fifian.


Dalam kamar mandi Fifian kembali menatap diri nya di cermin, " Ya Tuhan apa yang harus Aku lakukan, benar Kah Aku hamil, Fifian lebih mendekat ke cermin, untuk melihat lebih jelas, perubahan apa yang ada di wajah nya.


Fifian terdiam, ternyata pandangan putra nya gak salah, wajah nya kini lebih berisi dari biasa nya, pantas Ifan bilang ada perubahan, Fifian memejamkan mata, perasaan nya kalut setelah tau kalau putra nya juga bisa lihat perubahan diri nya.

__ADS_1


" Baik lah Aku coba test pack dulu, semoga salah, monolok Fifian kebetulan pengen buang air kecil.


__ADS_2