
Ifan tau Adiyaksa sengaja menghindari nya, di hati kecil Ifan merasa salah karena sudah membentak Papa nya. tapi Ifan juga gak mau Mama nya di sakiti, Ifan duduk di kursi meja makan merenungi semua nya.
Ya Tuhan kenapa semua ini terjadi apa kurang nya Mama sampai hati Papa berhianat, apa yang musti Aku lakukan ya Tuhan agar kedua orang tua ku tidak berpisah.
" Maaf Den bibi mau bersihin"... prt muncul membuyar kan lamunan Ifan tentang kedua orang Tuanya.
" Yaudah Bik terusin aja Saya mau liat Mama".. ucap Ifan bangkit ingin pergi.
" Tapi den Nyonya gak pa-pa kan !?"... tanya Bibi prt menghentikan langkah Ifan.
"Gak Bi Mama gak apa-apa "... Ucap Ifan tersenyum.
" Abis bersihin ini Bibi boleh liat Nyonya Den!?"... Tanya Bibi art khawatir dengan keadaan Nyonya nya.
" Ya boleh lah Bi, Yaudah Saya keatas dulu ya Bi!? "....ucap Ifan sopan langsung meninggal kan Bibi art.
" Duh kasian nya Nyonya kurang apa cobak, udah cantik baik kaya sopan masih aja di selingkuhi Tuan memang dasar laki-laki "...nyinyir art sebelum mulai bekerja.
Ifan membuka pintu kamar kedua Orangtua nya, tidak menemui Mama nya Ifan kembali kekamar nya sendiri.
lupa kalau Mama nya ada di kamar bersama Sarah, Ifan melihat dua tercinta nya tidur saling memeluk satu sama lain.
Dalam diam Ifan terus memandangi wajah Sarah dan Fifian secara bergantian, saat Fifian berbalik Ifan dengan jelas dapat lihat luka menganga di tangan Fifian.
luka itu panjang hampir mengenai ujung siku, hati nya perih kenapa Mama nya bisa terluka.
__ADS_1
"Ma....Mama bangun Ma kita kerumah sakit yuk, luka Mama perlu di obati "... Ifan sengaja berbisik di telinga Fifian
Fifian bangun setelah mendengar Ifan berbisik memabangun kan nya, Sarah juga terbangun karena ranjang yang bergerak.
" Mau kemana Ma, hooaammm "..tanya Sarah sambil nguap, " Kita bawa Mama kerumah sakit yok Yank"... ajak Ifan.
" Mama kekamar dulu dulu ganti baju".. ucap Fifian turun dari ranjang, Ifan naik ke atas ranjang setelah Fifian keluar dan menutup pintu.
Fifian bersandar di pintu kamar Ifan, berulang kali membuang nafas kasar. hati nya sangat sakit, mengingat sosok perempuan yang datang tadi pagi. Fifian tidak bisa diterima, selingkuhan Suami nya berani datang minta pertanggung jawaban karena sudah hamil.
" Nyah...Nyonya gak apa-apa kan!? "...tanya Bibi art tiba-tiba nongol, "ahh Bibik ngagetin aja"... Fifian tetlonjak kaget.
" Maaf Nyah cuma mau liat keadaan Nyonya "...ucap Bibi art, " Saya baik-baik Bi cuma Ini aja Saya juga lupa kenak nya di mana"...jawab Fifian sambil menganggkat tangan yang luka.
Coba Tuan itu sedikit bersyukur pasti semua ini gak akan terjadi, memang dasar laki-laki lupa daratan. monolok Bibi dalam hati, geram kepada Adiyaksa Tuan nya.
Fifian memutar handle pintu, Fifian ngintip kedalam untuk melihat ada atau tidak Adiyaksa di dalam. saat ini Fifian gak ingin ketemu dengan Adiyaksa, setelah memastikan Adiyaksa tidak ada di dalam, Fifian masuk di ikuti Bibi di belakang nya.
" Nyonya masuk kamar sendiri pake ngintip".. ucap Si Bibi ketika mereka sudah di dalam kamar, " Iya Bik Saya males ketemu Papa Nya Irfan".... jawab Fifian.
Fifian membuka almari untuk ambil pakaian yang akan Ia pakai, Bibi membantu Nyonya nya. mereka asik ngobrol. gak sadar Adiyaksa keluar dari kamar mandi, Adiyaksa mendengar apa yang kini jadi pokok pembahasan antara pembantu dan Istri nya.
" Nyah sebenernya tangan nyonya kenapa kok bisa berdarah"... tanya Bibi, " Gak ingat Saya Bik, tadi Saya sangat emosi berani nya Mas Adi bawa masuk perempuan selingkuhan nya kerumah Saya"... jawab Fifian.
" Saya tadi takut liat Nyonya ngamuk selama Saya ikut Nyonya baru kali ini Saya liat Nyonya marah"... ucap Bibi, " Trus tadi Bibik kemana".. tanya Fifian.
__ADS_1
" Saya kebelakang Nyah, saya paling takut kalau ada orang ribut-ribut. dulu di kampung pernah ada yang kena kepala nya sampe bocor gara-gara itu Nyah liatin orang ribut , maka nya Bibi takut Nyah"...jawab Bibi panjang lebar.
Adiyaksa merasa tenggorokan nya gatal, sudah sekuat tenaga menahan tapi justru tenggorokan nya semakin gatal. gak kuat lagi menahan ahir nya keluar daheman keras, membuat Fifian beku begitu juga Bibi art.
Bibi menoleh dan menunduk hormat pada Adiyaksa, dengan bahasa isyarat Adiyaksa menyuruh pembantu nya keluar. Bibi art yang memang sudah mengerti bahasa isyarat Tuan nya, tampa permisi dengan Nyonya langsung keluar.
Fifian tau Bibi keluar, tapi Fifian masih shock ternyata orang yang paling Ia hidari ternyata ada di kamar. Fifian mempercepat gerakan nya, terlalu malas berhadapan dengan penghianat.
setelah selesai Fifian buru-buru ingin meninggal kan kamar, Adiyaksa merasa kalau ini satu kesempatan. secepat kilat menarik Fifian kedalam pelukan nya, saat itu juga luka Fifian kembali berdarah karena tarikan Adiyaksa.
"Ma...maaf kan Papa...Ma"...ucap Adiyaksa memeluk erat Fifian dari belakang, " lepassss... "....Fifian teriak dan berontak. " lepasiiinnn, Aku jijik sama Kamu jangan pernah sentuh Akuuuu... "....teriak Fifian tak kuasa melawan kekuatan Adiyaksa.
Bibi yang masih di luar langsung berlari ke kamar Ifan, " tok... tok... tok... Den.. Den.. Ifan"...panggil Bibi. Sarah langsung menuju pintu " ada apa Bik"....tanya Sarah setelah membuka pintu.
" Itu anu non Tuan ama Nyonya berantem di kamar Bibik gak berani masuk"... ucap Bibi terengah-engah. " Apa Bik!?"....sahut Ifan yang baru saja selesai mandi, mendengar ucapan Bibi dengan cepat Ifan meraih boxer nya.
" Yank kamu di sini aja jangan keluar ".. titah Ifan pada Istri nya sebelum keluar kamar, Sarah mengangguk patuh menutup pintu setelah Suami nya keluar.
" Bik tolong ambil kunci serep"... Ifan meminta Bibi ambil kunci lain, Bibi gak perotes kenapa Ifan gak coba dulu membuka pintu. Ya mungkin juga bener kalau benar di kunci mereka perlu kunci cadangan, Bibi langsung berlari turun.
menunggu Bibi Ambil kunci Ifan sengaja menempel kan telinga ke pintu. terdengar tangisan pilu Fifian dari dalam, Ifan semakin risau hati menunggu Bibi tak kunjung sampai.
Bibi berlari dengan kunci di tangan, beberapa kali langkah nya selip dan Bibi hampir jatuh. "ini Den kunci nya"... ucap Bibi dengan nafas satu-satu.
Ifan segera mengambil kunci yang Bibi berikan, Ifan terdiam seaat ternyata pintu kamar Mama nya tidak di kunci.
__ADS_1