CINTA KECIL CEO

CINTA KECIL CEO
DOKUMEN KOPIAN


__ADS_3

Di tengah rapat Ifan teringat akan dokumen, tadi gak sempat periksa karena terburu-buru. saat sudah kembali ke ruangan nya, mata Ifan terbelalak ternyata berkas-berkas itu masih ada. Ifan tersenyum Papa nya berhasil membuat fikiran nya kacau, Ifan mengambil dokumen kopian itu lalu membuang nya ketempat sampah.


Ifan duduk bersandar sambil memijat pelipis nya, otak nya benar-benar lelah dan pusing . bukan lelah bekerja tapi lelah memikirkan keadaan yang sedang Ia hadapi, sungguh Ifan tidak tau harus menempat kan diri sebagai anak atau rival Papa nya.


" Tok... tok.. "...pintu di ketuk dari luar Ifan menoleh kebelakang " masuk "....ucap Ifan mempersilah kan masuk. pintu terbuka lebar Ifan terkejut sesaat lalu tersenyum, ternyata tamu yang datang Fifian Mama nya, " ayo Her masuk".. ucap Fifian pada Heru yang ikut bersama nya.


"Ifan bangkit " Aduh maaf kan saya ya Her ".. ucap Ifan menyambut Heru, " Ya gak pa-pa kok kak, Heru ngerti pasti Kakak sangat sibuk"...jawab Heru sambil menyapu pandangan kesetiap ruangan mencari keberadaan Sarah.


"Kalian kelewatan jauh-jauh Heru datang, ee...kalian malah sibuk urusan sendiri"...omel fifian lalu menghentak kan punggung di Sofa, " gak apa-apa kok Buk, Heru ngerti "...ucap Heru jadi gak enak hati gara-gara dirinya Ifan di omelin.


" Sarah mana Fan".. tanya Fifian sambil melihat sekeliling ruangan, "ada Ma di dalam tidur barangkali tadi Ifan rapat".. jawab Ifan membuat Fifian menengadah melihat wajah nya seketika.


"Rapat...rapat apa Fan??"...tanya Fifian dengan tatapan penuh selidik, Ifan nyesel keceplosan. Ifan tertunduk bingung gak tau harus menjelas kan apa.


" kenapa diam"...tanya Fifian lagi karena Ifan tidak menjawab, suasana jadi canggung seketika karena Ifan diam. sedang Heru gak ngerti apa yang mereka omongin, Heru hanya bisa duduk diam menjadi pendengar yang budiman.


Tidak mendapat jawaban dari Ifan, Fifian bangun dari duduk lalu melangkah keluar untuk mencari Eko. "kemana Ma!? "....tanya Ifan menahan agar Fifian tidak meninggalkan ruangan nya. Fifian berbalik menatap Putra nya, Ifan tau apa yang Mama nya ingin kan. dengan perasaan yesal, Ifan melangkah menuju tempat Sampah untuk mengambil kembali kopian dokumen yang sudah sempat di buang ketempat sampah.

__ADS_1


" Ini Ma"...Ifan meletakan dokumen di atas meja kerja nya, agar Fifian dapat melihat dan tau apa yang sedang Ia hadapi sekarang. dengan mimik muka bingung Fifian melihat melangkah juga ke meja Ifan, sedangkan Ifan kembali duduk di sofa.


" Maaf ya Her Saya ninggalin kamu gitu aja"...Ifan minta maaf sekali lagi, Heru menatap muka Ifan sesaat " Udah santai Kak "...jawab Heru tertawa memperlihat kan senyum pepsodent.


Hening sesaat baik Ifan atau Heru kehilangan kata-kata " Sebentar ya Her? saya liat Sarah udah bangun atau belum".. ucap Ifan bangkit, " ya kak silah kan"...jawab Heru.


Setelah Ifan masuk ke ruangan lain, Heru melirik Fifian yang lagi sibuk dengan kertas-kertas di tangan. fikiran Heru kembali ke panti, " Kira-kira Ibuk lagi apa ya? "...lirih Heru dalam hati.


Di dalam kamar Istirahat Sarah sudah bangun, selesai mencuci muka dan merapikan sedikit dandanan nya. Sarah duduk di pinggir ranjang " hhhmm pasti ada bawahan nya Mas ifan, Aku keluar gak ya?? "...monolok Sarah ragu untuk keluar.


" Udah bangun rupanya!? "...Ifan muncul tiba-tiba membuat Sarah terkesiap kaget, " bisa gak sih Mas gak usah ngagetin"...ucap Sarah melengos kesal. " sejak kapan ya Istri Ku bangun"...goda Ifan duduk di sebelah, " dari tadi"...jawab Sarah ketus sambil melipat tangan di dada dan berbalik arah memunggungi Ifan.


" Ya gak pa-pa lah di punggungi lewat belakang juga bisa kok"...ucap Ifan sengaja menggoda, membuat Sarah langsung berbalik ke posisi semula. Sarah menatap dalam wajah Ifan, kurang faham dengan kata-kata yang barusan Ifan ucapkan.


Sebenar nya Ifan sangat risih saat Sarah menatap nya, dada nya berdegup seperti awal mereka bertemu kembali. " Fan, Mama perlu bicara"...ucap Fifian yang masuk tiba-tiba, Ifan dan Sarah bersamaan melihat kepintu.


" Yaudah Mama bilang aja "...jawab Ifan, " gak disini Fan"...Fifian minta bicara di tempat lain. Ifan gak tau harus ngomong apa tentu Mama nya akan minta penjelasan tentang dokumen itu.

__ADS_1


" Sebentar ya Sayang Mama kayak nya mau diskusikan sesuatu itu di luar ada Heru"....ucap Ifan membelai rambut Sarah, setelah Ifan keluar Sarah juga keluar untuk menemui Heru.


" Udah lama Ru!? "....tanya Sarah berbasa basi lalu duduk berhadapan dengan Heru hanya meja jadi pembatas" lumayan lah "...jawab Heru tersenyum.


Teringat ucapan Heru waktu di terminal Sarah masih penasaran siap sih yang kasih tau Rosita, " Ru Aku penasaran siapa sih, yang kasi tau Ibuk kalau Aku sakit !?"...tanya Sarah.


" Siapa lagi cobak kalau bukan Dokter Diki kakak nya Rini"....jawab Heru seadanya. " oh.. "....Sarah menanggapi jawaban. kenapa juga bisa lupa kalau Dokter Diki ada saat Ia masuk rumah sakit gara-gara di hamuk Ifan, teringat itu Sarah tersenyum.


"Lo masih waras Rah"...tanya Heru karena memperhatikan Sarah tersenyum tanpa sebab, Sarah tertawa menanggapi kata-kata Heru. " Gimana Rah selama tinggal di sini "... "apa nya gimana, ya Aku senang bahagia lah"...jawab Sarah memotong ucapan Heru.


" Ya bagus lah "...jawab Heru mendesah lesu iri dengan kehidupan Sarah yang sekarang, " Kok kamu jadi murung!? "...tanya Sarah dapat mendengar jelas intonasi suara Heru yang sedikit mendesah.


" Gimana Aku gak murung, Kamu enak selesai ujian langsung nikah ada suami kamu yang tanggung jawab pin Kamu, lah Aku tamat ini gak tau gimana Rah"....Heru gak sengaja mengeluh.


Sarah terdiam sesaat membenar apa yang dikatakan Heru, " Apa Kamu niat kuliah? "...tanya Sarah. " Jelas lah Aku juga pengen jadi orang sukses kayak suami kamu "....jawab Heru, " bagus itu Her, Tante dukung kamu harus berhasil"...Fifian yang baru sampai langsung nimbrung.


" Mas Ifan kemana Ma? "...tanya Sarah karena liat Fifian hanya balik sendiri, " ada di ruang rapat "...jawab Fifian masih kesal karena Ifan menyembunyi kan dokumen-dokumen kecurangan suami nya.

__ADS_1


Sarah gak tau apa yang dibicarakan Mama mertua dan suami nya, Sarah bukan anak kecil yang gak bisa liat kalau Mama mertua seperti orang yang sedang kesal. Sarah mengenyamping kan fikiran praduga untuk Suami dan Mama mertua, Sarah kembali mengajak Heru ngobrol.


.


__ADS_2