CINTA KECIL CEO

CINTA KECIL CEO
KOMPLOTAN


__ADS_3

Sambil menunggu Ifan duduk bersandar di kursi kebesaran nya, fikiran menerawang jauh. masih gak ngerti apa maksud Papa nya melakukan semua ini, kenapa harus menyakiti Mama nya terlalu dalam.


Ifan juga gak pernah menyangka kalau Rosita pernah mengganggu kehidupan rumah tangga kedua orang tua nya, ingin tidak percaya tapi bukti sangat jelas.


Ifan meraup wajah dengan kasar hati nya mulai lelah dengan segala permasalahan di dalam rumah tangga kedua orangtua nya.


Tapi sebagai anak lelaki satu-satu nya, Ifan juga gak bisa tutup mata. teringat data-data yang sudah di kumpul kan Davit, Ifan merasa ini saat yang tepat untuk melepar orang-orang yang sudah bekerja sama dengan Papa nya.


" Fany kamu keruangan Saya"...panggil Ifan melalui telephone kantor terpaksa panggil lagi Fany, gak mungkin bisa hubungi David karena nomor kontak Davit ada di ponsel yang tertinggal.


" Ya Pak, Bapak panggil Saya!?"...tanya Fany gak seberapa lama telah tiba di depan pintu ruangan Ifan, " Ya Saya panggil Kamu masuk "...Ifan bangkit pindah duduk ke sofa.


"Apa sudah kamu panggil mereka!?"... tanya Ifan sambil menyilang kan kaki, " sudah Pak tapi kata pak Dimas mereka ada Rapat".. jawab Fany seadanya dengan badan panas dingin gak berani lihat Ifan.


Ifan terkejut lalu bangkit dari duduk seketika darah nya menyembur ke kepala, rahang Ifan terkatup rapat hingga mengeluar kan bunyi seperti orang sedang menggigit tulang.


Fany bergidik takut gak berani mengangkat wajah nya , sebagai seorang pimpinan Ifan wajib marah . Ifan tau Dimas memang kaki tangan Papa nya yang setia.


" Ayo Fan tunjukan di ruangan mana mereka rapat"...ucap Ifan melangkah,emosi nya memuncak darah serasa mengalir deras ke otak, kali ini tidak bisa lagi menahan diri . Fany hanya bisa mengikuti langkah Ifan dari belakang, dengan dada berdebar-debar.

__ADS_1


Sampai di lantai dasar Ifan melihat perempuan hamil yang tempo hari datang kerumah nya, " Fany kamu usir perempuan itu"...perintah Ifan dengan jijik menunjuk selingkuhan Adiyaksa yang lagi duduk di sofa lobi.


" Tapi pak Ibu itu kata nya mau ketemu Pak Adiyaksa ".. jawab Fany, " Saya bilang usir ya usir Saya gak perlu komentar kamu"...ucap Ifan dengan wajah dingin membuat Fany semakin ketakutan.


" Baik pak"...Fany langsung pergi manggil scuriti untuk mengusir perempuan yang sedang hamil itu, sementara Ifan melanjut kan langkah dengan dada berdegup lebih kencang.


Sampai di depan pintu, suara tawa renyah dari dalam membuat dada Ifan semakin bergemuruh, "klakk".. pintu terbuka saat tangan Ifan baru saja ingin memutar handle pintu .


Adiyaksa terperanjat kaget melihat Putra nya sudah berdiri di depan pintu, Ifan gak tau apa yang harus Ia lakukan karena penghianat dalam perusahaan adalah Papa nya sendiri.


" Ada apa Fan".. tanya Adiyaksa ingin melangkah melewati Ifan, tampa bicara Ifan mendorong Adiyaksa kedalam ruangan itu lagi dengan segala amarah nya.


" Ya memang Aku Anak Ja*****karena Ayah Ku laki-laki ja*****"....jawab Ifan juga teriak mundur bebrapa langkah sambil menunjuk, semua yang ada di situ tidak berani bergerak mereka seperti patung.


Adiyaksa gelap mata jawaban Ifan sangat tidak bisa Ia terima, dengan wajah merah padam Adiyaksa kembali maju meninju perut Ifan bertubi-tubi seolah-olah Ifan adalah musuh yang wajib di musnah kan. Ifan tidak mengelak atau menangkis setiap pukulan Papa nya, Ifan menerima pukulan dengan hati bersedih.


Jauh didasar hati Ifan sangat menyesal kan apa yang terjadi, Ifan jatuh kelantai sambil memegang perut. sementara Adiyaksa terengah-engah karena memukul Ifan tenaga nya terkuras, sesaat Adiyaksa memandang Putra nya juga orang-orang yang ada di situ.


Ifan bangkit sambil menahan sakit, " Udah...Udah puaaass"...teriak Ifan sangat kesal gak nyangka Adiyaksa akan menghajar nya sedemikian rupa"Bugg... bugg.. "... Adiyaksa melayangkan dua pukulan berturut ke rahang Ifan, untung Ifan sempat belajar bela diri ketika masih sekolah.

__ADS_1


Dengan mudah Ifan mengelak dari pukulan Adiyaksa, Ifan sengaja mengelak tidak mungkin harus terima pukulan lagi. Adiyaksa semakin marah karena pukulan nya hanya mengenai angin.


" Kamu fikir Kamu sudah jago hah... "..teriak Adiyaksa kesal karena pukulan nya meleset, Ifan hanya menanggapi dengan senyuman sambil memegang perut yang masih terasa sakit. Adiyaksa kembali maju saat Ifan lengah " plaakk.. "..sekali lagi Adiyaksa menapar Ifan lebih keras , hingga sudut bibir Ifan mengeluarkan darah segar.


Setelah menampar Adiyaksa merasa dada nya tercabik saat melihat darah mengalir dari sudut bibir putra nya, hati nya sedikit melunak bagaimana pun Ifan adalah darah dagingnya. Adiyaksa memilih pergi, tidak ingin bersiteru lagi dengan Ifan.


Ifan diam membiar kan Papa nya keluar dari ruangan itu, jauh di dasar hati nya meratapi kejadian ini. semua yang ada di situ mulai ketar ketir. Mereka tau seperti apa Ifan, mereka juga sudah pasrah seandainya kehilangan pekerjaan.


Setelah Adiyaksa keluar, Ifan memperhatikan satu persatu staf yang sudah jadi komplotan Papa nya, Mereka semua menunduk tidak ada yang berani angkat kepala. pandangan Ifan tertuju pada Dimas sangat disayangkan kepercayaan Ifan sudah pudar bahkan tidak ada sedikit pun tersisa, Ifan muak melihat Dimas.


Di awal Ifan sangat menghormati Dimas, karena dianggap salah satu staf senior yang sudah bayak jasa dalam perusahaan dan Ifan juga banyak belajar dari Dimas. tapi makin hari kekaguman itu hilang setelah tau persekongkolan Dimas dan Papa nya.


" Sudah lama Saya mendapat kan data-data kecurangan kalian, tapi Saya membiar kan karena Saya menghagai kalian yang lebih tua dari Saya dan sudah lebih dulu ada disini dari pada Saya. cuma untuk kali ini Saya sudah tidak punya toleransi silahkan angkat kaki dari sini "....ucap Ifan lunak sambil menatap jijik satu persatu wajah penjilat yang ada di ruangan itu.


" Cihhh, kemasin barang-barang kalian keluar dari perusahaan Saya"... bentak Ifan lalu menyambar dokumen di atas meja sebelum keluar, Ifan membanting pintu dengan keras sebagai pelampiasan kemarahan nya.


Dimas menghembus kan nafas kasar setelah Ifan keluar, " gimana kita Pak"...tanya salah satunya " apa yang kau tanyak gimana, nasib kita sama"...jawab Dimas tegas dengan mata melotot.


Sudah-sudah gak usah saling nyalahin ayok berkemas sebelum Pak Irfan bawa masalah ini keranah hukum mau kalian dipenjara!?"...ucap Salah satu staf.

__ADS_1


__ADS_2