
Tidak lama setelah Fifian pergi, Adiyaksa naik ke kamar Fifian, setelah tau Fifian pergi terburu buru, Adiyaksa sedikit menaruh curiga, sebab sering liat Fifian termenung dan gelisah, tidak seperti biasanya tenang walau sedang punya masalah menumpuk.
Tiba di depan pintu kamar, Adiyaksa menarik nafas dalam, tangan nya enggan memutar handle pintu, tapi hati nya penasaran dengan perubahan sikap Fifian, " kalau Dia tau Aku masuk diam-diam bakalan semakin benci sama Aku, batin Adiyaksa,
" Tapi Aku harus tau apa yang buat Dia gelisah, Adiyaksa memutukan untuk masuk menuruti kata hatinya, sampai di dalam Adoyaksa mengedar kan pandangan nya kesetiap sudur kamar, tidak menemukan kejanggalan apa pun.
" Ah mungkin cuma firasaan ku saja, Adiyaksa meraup wajah kasar, "ahh.. baik nya Aku keluar sebelum Dia pulang memergoki dan mengusir Aku mentah-mentah, gumam Adiyaksa, hatinya masih berharap kesempatan lagi, sebelum keluar Adiyaksa sekali lagi mengedar kan pandangan nya, tidak ada yang patut Ia curigai, Adiyaksa keluar dari kamar Fifian.
Adiyaksa turun dengan perasaan masih penasaran akan kelakuan Fifian yang tidak biasa, Fifian pulang bertepatan, Adiyaksa sampai di anak tangga terahir.
" Huh... untung Aku cepat turun, batin Adiyaksa mendengar suara mobil, lalu melangkah ke sofa, agar Fifian tidak curiga.
" Dari mana kamu ma?, tanya Adiyaksa mengejut kan Fifian, Fifian terjingkat berdebar, kaget gak tau kalau Adiyaksa ada di situ, " Hhmm dari luar sebentar, jawab Fifian melirik Adiyaksa, Fifian naik ke lantai dua tampa memperdulikan lagi tatapan Adiyaksa.
Adiyaksa diam tidak bertanya lagi, pusat perhatian nya kini pada pakaian yang di pakai Fifian, "Sejak kapan Dia keluar hanya memakai piyama, batin Adiyaksa, sedikit banyak Adiyaksa hapal bagaimana Fifian sehari hari.
Sampai di kamar Fifian melempar sembarang tas, lalu naik ke atas tempat tidur, menutup wajah nya dengan bantal " Kamu jahat Ferdy, kenapa kita melakukan nya lagi, pekik Fifian menenggelam kan Suara di bantal.
Fifian menangis dan berteriak, Fifian menyesal bertemu lagi dengan Ferdy, bukan solusi yang di dapat, tapi malah melakukan lagi percintaan terlarang.
__ADS_1
sekuat apa pun hati nya menolak, tapi justru tubuh nya menikmati dengan penuh gairah, Fifian sangat membenci diri nya sendiri. tampa sadar Fifian memukul mukul perut, " Ya Tuhan kenapa tubuh Ku berhianat, rintih Fifian, sambil terus memukul perut nya.
Dua jam bergulat dengan tangis, ahir nya Fidian tertidur karena lelah, dalam tidur nya pun, Fifian masih ngigau desah saat bersama Ferdy.
Fifian terbangun, karena mendengar dering ponsel, " Ya Halo, sapa Fifian tampa melihat no kontak siapa yang menghubungi nya. " Tidur ya Fi, Fifian langsung membuka mata lebar setelah tau suara siapa yang menghubungi nya.
" Ada apa Fer, Kamu telephone Aku, Tanya Fifian agak kesal, " Aku ada di depan rumah kamu sayang, jawab Ferdy, Fifian melompat turun dari tempat tidur dan jatuh terjerembab, ponsel di genggaman nya terlempar kesudut kamar.
" Fi.. Fifi.. Kamu kenapa?, tanya Ferdy setelah mendengar suara gubrak, Ferdy terus memanggil, sedang Fifian berusaha bangun untuk mengambil ponsel yang terlempar.
Sambil menahan sakit di bawah perut, ahir nya fifian bisa berdiri, dengan tertatih coba ambil ponsel yang tadi sempat terlempar, "Fi.. Fifi.. jawab Aku, ada apa Fi, masih terdengar suara Ferdy yang kalut.
" Ssstt.. Aku gak pa pa Fer, jawab Fifian sambil terus menahan sakit, " Kamu kenapa Fi?, ferdy dapat menangkap desah kesakitan Fifian, " Aku gak pa pa Fer, jawab Fifian menahan suara agar terdengar Ia baik baik saja.
" Bicara soal apa? , Adiyaksa menelisik wajah Ferdy, " kayak nya Aku pernah lihat laki-laki ini tapi di mana ya?, batin Adiyaksa mencoba mengingat, Adiyaksa juga merasa berhak tau urusan apa Fifian dengan laki-laki di depan nya.
Ferdy menatap jengah Adiyaksa, " terlalu banyak tanya, batin Ferdy, " Bu Fifi berencana membuka butik di dekat restoran Saya, jawab Ferdy asal.
Adiyaksa terdiam, filing nya berkata lain, gak percaya dengan apa yang di katakan Ferdy, Ingin rasa nya bertanya lebih, tapi Adiyaksa memilih meredam pertanyaan dalam hati, karena mendengar suara langkah di belakang nya.
__ADS_1
" Eh... Buk Fifi, maaf Saya lancang datang kerumah Ibuk, ucap Ferdy sambil mengedipkan mata sebelah, agar Fifian faham situasi saat ini.
" Oh...ya gak pa pa Pak, Saya juga minta maaf udah pulang tampa memberi tahu Bapak, jawab Fifian menerima uluran tangan Ferdy, mereka besalaman layaknya rekan bisnis.
" Jadi bagaimana Buk, tanya Ferdy, " Sebaik nya kita bicara kan besok ya Pak, jawab Fifian ingin segera menyudahi sandiwara, Fifian tidak kuat lagi menahan sakit di bawah perut.
" Oh.. yaudah Saya permisi, maaf sudah ganggu waktu Ibu dan Bapak, ucap Ferdy ngerti maksud Fifian, Adiyaksa menatap tajam Ferdy, natah kenapa hatinya merasa kalau Fifian dan Ferdy punya urusan lain bukan urusan butik.
" Pak..Saya permisi, panggil Ferdy, menyadar kan Adiyaksa yang menatap nya tajam, "ehh... iya silakan, jawab Adiyaksa dingin.
Ferdy masuk kedalam mobil, dan pergi, " Huh.... untung Si Adi gak ingat, kalau ingat mampus Gue, gumam Ferdy memukul stir .
" Siapa laki-laki itu Ma?, tanya Adiyaksa sambil ngikutin langkah Fifian dari belakang, "bukan urusan Kamu, jawab Fifian dingin, "Kamu gak menghargai Aku lagi Ma, ucap Adiyaksa menarik tangan Fifian agar berhenti.
" Hahaha... Kamu mau minta di hargai berapa hahh, jawab Fifian dengan sinis, " Ma Aku masih suami Kamu Ma, ucap Adiyaksa mencoba lunak dengan hati mulai terbakar emosi, " sejak kapan Kamu anggap Aku istri, Fifian menjawab dengan sinis.
" Lepas..., Fifian mengibas kan tangan yang di pegang Adiyaksa, " Ma apa kamu punya hubungan dengan laki-laki tadi, tanya Adiyaksa setelah genggaman di pergelangan tangan Fifian terlepas.
" Kalau iya kenapa, kalau gak kenapa!, tanya Fifian sedikit membentak Adiyaksa, " Hey.. Kamu masih Nyonya Adiyaksa, bentaknya, Fifian malah tertawa, geli mendengar ucapan Adiyaksa.
__ADS_1
" Nyonya kata Mu, sejak kapan hah..., Kamu hanya menganggap Ku Istri saat Kau ingin menguras Harta Ku demi perempuan lacur selingkuhan Mu, ucap Fifian berapi setelah puas mentertawakan Adiyaksa.
Pertengkaran tidak dapat di elak, Adiyaksa menampar keras pipi Fifian, bertepatan dengan pulang nya Sarah dan Ifan, sebagai Anak Ifan gak tau harus membela siapa, sedang Sarah duduk dalam mobil dengan hati was was, Sarah gak berani turun.