
Dua hari sudah Sarah di rumah sakit , Sarah sudah di ijin kan pulang setelah melalui pemeriksaan keseluruhan oleh Dokter Tiwi.
" Jaga dengan baik kandungan nya Bu Sarah, jangan sampai stres kasian janin nanti tidak berkembang dengan baik"... pesan Dokter Tiwi setelah melakukan pemeriksaan terakhir.
" Ini Pak Irfan hasil dari USG Ibu Sarah tolong di jaga ya pak"... ucap Dokter Tiwi menarik kembali hasil USG, " Oh ya satu lagi jaga yang bener jarang-jarang lo laki-laki punya bibit tokcer kayak anda"..,kelakar Dokter Tiwi sengaja berbisik sambil mnyerah kan hasil USG.
Ifan menyalami Dokter Tiwi sambil tersenyum masih belum ngerti apa yang dimaksud Dokter Tiwi, " yaudah Dok kami permisi "...ucap Ifan duluan keluar dari ruangan Dokter Tiwi.
" Ibu Sarah jangan lupa vitamin nya diminum"....Dokter Tiwi mengingat kan, " Iya Dok makasih"... ucap Sarah sambil tersenyum lebar. Ifan kembali sambil membawa kursi roda, Ifan sengaja tidak membiarkan Sarah jalan.
" Mas buat apa kursi rodanya "... tanya Sarah yang sudah berdiri gak ngerti untuk apa Ifan bawa kursi roda, " Naik atau Mas gendong"... ancam Ifan. Sarah melirik Dokter Tiwi sekilas, " Mas Sarah jalan aja ya? "....mohon Sarah agar Suami nya tidak berlebihan.
" Oh gitu yaudah Mas gendong"...ucap Ifan santai, Sarah mencebik merasa gak enak karena di depan Dokter Tiwi, gak mungkin nolak terpaksa Sarah duduk dari pada debat berujung di gendong.
" Terima kasih banyak Dok kami permisi "....ucap Ifan sekali lagi karena Sarah sudah duduk di kursi roda, Dokter Tiwi mengangguk sambil tersenyum " kapan ya bisa seperti mereka"...batin Dokter Tiwi ingin seperti Sarah dan Ifan senang melihat kebahagiaan mereka.
Di apartemen Fifian berkemas perasaan nya sudah lebih baik setelah tiga hari merenung, Fifian sudah rela seandainya rumah tangga nya harus berahir.
" Sudah cukup lelah Aku mempertahan kan Kamu Mas, tapi Kamu terus menghianati Aku. Berpisah lebih baik, Mungkin Kamu akan lebih bahagia bersama yang lain"...monolok Fifian dalam hati sambil menarik nafas dalam , tak terasa air mata nya mengalir begitu saja.
__ADS_1
Tanpa mengabari Ifan, Fifian pulang menggunakan Taksi bersama Bibi. sepanjang perjalanan Fifian terus teringat akan pengkhianatan Adiyaksa, " Baik lah Mas, Aku sudah rela melepaskan Kamu".... lirih Fifian dalam hati saat taksi hampir sampai tujuan.
Mobil yang di tumpangi Ifan dan Sarah sampai di rumah, bertepatan dengan Taksi yang di tumpangi Fifian dan Bibi.
" Ya Tuhan apa yang terjadi "... pekik Fifian Saat melihat Ifan sedang membantu Sarah turun, Fifian langsung turun Bibi juga ikut turun. mereka menghampiri Sarah dan Ifan, " Sarah kenapa nak!? ".... tanya Fifian menghentikan langkah keduanya.
" Buk maaf ongkos nya belum di bayar"...Sopir taksi minta ongkos yang belum di bayar, " Aduh maaf ya pak Saya terburu-buru turun "... ucap Fifian sambil merogoh tas untuk ambil dompet.
" Ma masuk duluan ya?, kasian Sarah kalau terlalu lama berdiri".. ucap Ifan melihat titik keringat yang keluar dari kening Sarah. " ya sayang bawa menantu Mama Masuk"...jawab Fifian.
Ifan tersenyum geleng-geleng kepala sebegitu perhatian nya Mama terhadap Sarah, " Ini pak kembalian nya ambil aja"... ucap Fifian pada supir taksi.
Di panti asuhan Rosita marah-marah setelah dapat kabar dari Rini kalau Sarah sakit, Heru dan Rini hanya bisa diam melihat Rosita yang terus ngomel tampa henti. dalam hati Rini sangat menyesal telah menyampaikan kabar tentang Sarah.
" Kalian tau kenapa Sarah dapat musibah seperti itu!? "....tanya Rosita pada Heru dan Rini, kedua nya kompak menggeleng.
" Itu akibat gak dengar omongan Ibuk "...Heru dan Rini saling lihat, mereka dapat merasakan perubahan sikap Rosita sejak Sarah pergi. terutama Heru yang memang tinggal satu atap dengan Rosita, kerab kali Heru harus menahan sakit hati kalau Rosita membandingkan nya dengan Sarah.
Heru bangun dari duduk pergi meninggalkan ruang tengah, kuping nya mulai panas mendengar celoteh Rosita tentang ajab seorang anak pembangkang. dalam celoteh Rosita selalu menyebut nama Sarah sebagai contoh, Heru tau semua itu karena Rosita kecewa kesal di hati karena Sarah meninggal kan nya.
__ADS_1
Rini juga meninggal kan ruang tengah, lama-lama mendengar omelan Rosita telinga nya juga panas. hati nya merasa sedih karena Rosita selalu membanggakan Sarah, Rini mencari keberadaannya Heru.
" Oh Kakak di sini rupanya"....ucap Rini setelah menemukan Heru, " Kamu kok ikutan keluar Rin!? "....Heru dengan cepat menguasai diri sempat terkejut karena tiba-tiba aja ada suara ternyata Rini.
" Kak kita duduk di situ yuk ada yang ingin Rini omongin "... ajak Rini sambil nunjuk cakkruk di bawah pohon mangga. sesaat Heru menatap Rini kemudian Heru mengangguk setuju.
Mereka sama-sama naik dan duduk di lantai cakruk, " Kak, Kakak ngerasa ngak kalau Ibu itu cuma anggap Kak sarah aja sebagai anak nya!?"....ucap Rini memulai percakapan.
Heru ngerti pasti Rini cemburu begitu juga Dirinya, " Ya nama nya anak kesayangan Rin, biasa lah setiap orang tua pasti ada salah satu anak yang paling Dia sayang tapi tetap menyayangi yang lainnya "... jawab Heru berusaha memahami keadaan.
" Iya sih kak tapi Ibuk kentara banget kak bedain kita, Rini jadi sukak ngiri ".... Rini menghembus nafas kasar, " Gak usah mikir gitu Rin... di bedakan atau gak kita harus tetap menghormati Ibu karena tampa Ibu kita mungkin gak bisa sebesar ini"...ucap Heru.
Mendengar kata-kata Heru, Rini kembali ingat saat Ia sakit. saat itu Rini tidak merasa di bedakan, bahkan Rosita rela melek semalaman menjaga Dirinya. Rini jadi merasa bersalah karena sudah berfikir buruk tentang Rosita.
Heru melirik Rini sesaat " kapan Kak Diki pulang Rin?"...tanya Heru mencoba topik lain agar Rini gak larut dalam kesal karena merasa di beda-beda kan dengan Sarah.
" Mungkin ini hari Kak paling ntar malem udah Sampe ".... jawab Rini lesu karena kalau udah pulang Kakak nya tentu Rini gak bisa tiap hari berkunjung ke panti.
" Kalau main kerumah kamu kira-kira kakak kamu marah gak ya Rin ? "...tanya Heru, Rini menatap Heru dengan mata berbinar.
__ADS_1
" Gak mungkin lah Kak Diki marah, Kakak belom kenal lebih jauh dengan Kak Diki orang nya baik kok Kak "... jawab Rini dengan antusias hati nya senang.