CINTA KECIL CEO

CINTA KECIL CEO
DARI BRANKAS MAMA


__ADS_3

Jovanka terduduk lesu setelah bertemu dengan Reka, mendengar penjelasan Reka soal pernikahan Ifan dan Sarah. sebenar nya Jovanka tidak terkejut, tapi jauh di dasar hati paling dalam seperti di tusuk ribuan jarum.


" Iklas kan Jo jangan memaksakan kehendak, Ifan bukan jodoh yang di garis kan untuk kamu. selesaikan kuliah Mu, raih cita-cita jangan buang waktu percuma untuk satu hal yang gak mungkin kamu miliki."...Reka menasehati Jovanka agar tidak terus berharap yang tak pasti.


Jovanka sesengukan gak menampik apa yang di bilang Reka benar, Ifan memang gak punya perasaan sedikit pun terhadap nya.


" Pulang lah Jo, bukan maksud Kakak ngusir kamu. pulang kejar mimpi yang pasti kasian sama kedua orangtua Mu, mereka pasti mengharap Kamu berhasil meraih gelar. apa lagi kamu anak satu-satu nya, harapan tempat mereka bergantung setelah lelah.


Jovanka terbayang wajah kedua orang tua nya saat Reka memberinya nasehat.


" Kakak prihatin lihat kamu seperti ini, jangan bikin hati mu bertambah sakit. bukanya dari awal juga Ifan sudah berterus terang tentang hati nya, jangan buang waktu Jo.


Jovanka juga membenarkan ucapan Reka bahwa Ifan tidak akan pernah jatuh cinta pada nya, karena cinta Ifan sudah di belenggu sedari kecil oleh Sarah.


" Baik lah Kak, Jo terimakasih sekali atas semua nasehat Kakak"...ucap Jovanka menghapus air mata di pipinya . " Kakak mau kan jadi kakak nya Jo!? "...Jovanka kembali menghapus air mata yang terus keluar.


" Dengan senang hati Jo, Saya sangat senang punya adik karena Saya juga gak punya saudara ".... ucap Reka tersenyum hati nya senang karena Jovanka ahir nya bisa menerima kenyataan yang ada.


" Jo pulang ya Kak!? "...ucap Jovanka memeluk Reka yang kini sudah jadi Kakak atau Abang bagi Jovanka.


Reka membalas pelukan Jovanka sebagai Kakak, Jovanka melerai pelukan nya lalu pamit untuk kembali pulang ke kota nya. Reka mengantar Jovanka sampe ke teras Rumah.


Ifan sedang mengamati Isi kamar, ingin mendekor ulang kamar. karena sekarang ada Sarah dan akan ada bayi mungil, tentu Ia dan Sarah tidak akan bisa jauh-jauh dari si bayi, " ngapain senyum-senyum sendiri. ".. Sarah memeluk Ifan dari belakang, Ifan dapat merasakan gundukan yang semakin padat dan besar.

__ADS_1


Ifan memutar Diri nya agar berhadapan dengan Sarah istri tercinta, " lagi ngebayangin kalau nuansa kamar ini di ganti fengan warna pink biar kamu betah".. ucap Ifan mempertemukan ujung hidung mereka.


Sarah menarik Wajah nya, " gak usah di ganti biar gini aja Mas".. ucap Sarah membuang nafas kesamping, Ifan mengerut kan dahi gak ngerti apa maksud nya Sarah.


" Kenapa gak boleh di ganti sayang!? "...tanya Ifan menangkup kedua pipi Sarah, " iya gak usah di ganti "...ucap Sarah menunduk malu gak mungkin ngomong terus terang kalau Ia juga udah bucin dengan suami nya.


" Kasi alasan nya Sayang"...Ifan mengangkat dagu Sarah, pandangan mata mereka bertemu " kalau di ganti Sarah gak bisa cium bau Kakak"...alasan gak masuk akal terlontar begitu saja dari bibir tipis Sarah.


" emang ganti dekor bau nya ilang gitu? ,bau yang mana yang sayang qu suka"...Ucap Ifan ingin tau bau apa yang mulai jadi kebiasaan Sarah.


Ifan mengendus ketiak nya, tidak ada bau apa sebenar nya maksud Sarah. lihat Ifan ngendus ketiak nya sendiri Sarah jadi gak enak.


" Maksud Sarah kalau mas pergi ke kantor kekantor... "... ucapan Sarah menggantung karena memang tidak bisa jauh-jauh dari suami nya.


Ifan menatap kedalam bola mata Sarah, " kasi alasan yang tepat sayang "... ucap Ifan tampa mengalih kan pandangan.


Praaaaaannngggg....


Suara benda pecah, menghentikan kegiatan Ifan yang sedang menikmati sesapan manis di bibir Istri nya.


" Kamu di sini dulu Sayang jangan keluar".. ucap Ifan sebelum meninggal kan Sarah mereka sama kaget nya, Ifan berlari turun suara benda pecah berasal dari bawah.


Pergiiiiiiii...Pergiiiiiiii

__ADS_1


Ifan mendengar suara teriakan Fifian, jantung nya berpacu kenapa Mama nya berteriak. siapa yang di usir Ifan gak mau sesuatu terjadi pada Fifian.


Suara benda pecah semakin beruntun saat Ifan sampai di pintu ruang makan, " Mamaaa.. "..teriak Ifan menghampiri Fifian yang ingin melempar semua hiasan di atas bufet hias. sempat Ifan melihat kalau Adiyaksa Papa nya sedang duduk dengan seorang perempuan, Ifan gak kenal perempuan Itu.


"Usir mereka dari siniiii...Fifian berontak ingin kembali mengambil guci-guci kecil untuk melempari Adiyaksa, " Mamaaa... udah Ma..."...Ifan mengangkat Fifian di pundak nya sempat Ifan menatap nanar pada Adiyaksa dan tamu yang kini tertunduk menangis.


Ifan membawa Fifian ke kamar nya, Sarah kaget tergagap melihat darah yang mengucur dari tangan mertua nya.


" Mas kenapa Mama"... tanya Sarah bingung, " Kamu jaga Mama dulu Sayang"... ucap Ifan dengan wajah merah kemudian keluar lagi dari kamar. Sarah gak ngerti apa yang terjadi hanya melihat punggung Suaminya , Sarah membalut luka di tangan Fifian dengan handuk kecil yang ada di atas nakas.


" Apa ini pasti ulah Papa "....lirih Ifan setelah menutup pintu kamar, kemudian kembali turun kelantai Bawah.


Adiyaksa sedang membujuk perempuan tamu yang datang saat Putra nya sampai di muka pintu, Ifan berdiri melihat interaksi kedua nya.


" Mas Adi gimana dengan anak ini"....perempuan Itu meraba perut nya, Ifan baru tau bahwa tamu yang datang selingkuhan Adiyaksa Papa nya.


" Kamu pulang dulu Mas akan cari uang untuk kamu"....ucap Adiyaksa tidak menyadari kehadiran Ifan, Dada Ifan terbakar mendengar ucapan janji Adiyaksa pada perempuan itu.


" Apa....cari uang dari mana... Dari brankas Mama maksud nya Ya"....Ifan langsung mengeluarkan suara lantang untuk Adiyaksa, Tamu Perempuan terkejut dan langsung pias mendengar suara lantang Ifan.


" Heyy Irfan Adiyaksa sejak kapan kamu berani lancang"...wajah Adiyaksa memerah menahan marah saat membentak putra nya. Ifan menahan geram kenapa Papa nya tega jadi penghianat.


Adiyaksa menarik si tamu untuk bangun, kemudian menyuruh nya pergi. Adiyaksa sengaja meninggal kan ruang makan, tidak mau bertengkar dengan ifan.

__ADS_1


Adiyaksa sadar kalau putra nya sudah cukup dewasa dan dapat mengimbangi nya, Adiyaksa juga tau kalau saat ini keungan perusahaan dan beberapa saham sudah di alih kan Fifian atas nama Ifan.


Tidak ada hak lagi Adiyaksa , pada saat penandatanganan Adiyaksa sadar tampa paksaan. karena saat itu Adiyaksa masih jadi suami yang setia pada istri , Adiyaksa berfikir ternyata sangat Fifian licik.


__ADS_2