
Pintu lif terbuka Ifan terkejut mendapati Adiyaksa sedang m******* l**** Fifian, " Apa yang Kamu lakukan Hah... brukk.. "...refleks Ifan menarik kasar Adiyaksa sampai membentur kan nya ke dinding lif. Ifan gelap mata karena melihat Adiyaksa me****** leher Mama nya, Fifian terengah-engah sambil memegang leher.
" Sudah... sudah... Fan !"....pinta Fifian terbata karena melihat Ifan ingin maju memukul Adiyaksa, sambil terengah Fifian berusaha meraih tangan Ifan. Fifiam gak mau juga Ifan berbuat lebih, karena bagaimana pun Adiyaksa adalah Papa nya.
Memang tidak terlalu kuat saat Adiyaksa mencekik leher nya, tapi Fifian sempat terkesiap kaget karena tiba-tiba aja Adiyaksa bangkit meraih leher nya.
Adiyaksa bangkit dengan wajah memerah marah, kali ini Ifan sudah benar-benar membangkit kan amarah nya. " Anak a*****...bukk... "...teriak makian keluar begitu saja dari mulut Adiyaksa, maju menendang sekuat nya perut Ifan hingga jatuh terseret keluar dari lif, "Ifaaaannn... "...Fifian menjerit ingin menghampiri Putra nya.
Adiyaksa melompat mendahului Fifian, bukk.. bukk.. bertubi-tubi pukulan Adiyaksa tepat di bagian dada dan wajah Ifan tampa ampun.
" Tolongg.. tolongg.. " teriak Fifian histeris sambil mencoba menghentikan Adiyaksa, Fifian mencoba menutupi muka Ifan dengan tubuh nya agar Adiyaksa berhenti memukul. " bukk.. "...naas bagi Fifian satu tinjuan Adiyaksa tepat mengenai kepala belakang saat Fifian ingin menutup wajah Ifan dengan tubuh nya.
sebagai Ibu tentu Fifian tidak akan tinggal diam saat anak nya di pukuli, pukulan telak membuat Fifian jatuh tepat di atas Ifan. Adiyaksa berdiri tegak setelah menyadari pukulan nya salah sasaran, Adiyaksa mematung.
Fifian langsung jatuh di atas tubuh Ifan, pukulan Adiyaksa membuat Fifian hilang kesadaran seketika.
Ifan tidak menyadari kalau Fifian terkena pukulan Adiyaksa, " Ma bangun Ma.. "...Ifan mengira Fifian sengaja melindungi nya dari pukulan Adiyaksa, Ifan merasakan ada sesuatu yang mengalir di sudut pipi nya.
" Ma udah Ma ayo lah Ma bangun"...ucap Ifan berusaha menggeser tubuh Fifian, sambil meraba apa yang mengalir di dekat telinga. menghimpit tubuh nya. " Ma... Mama udah Ma... "...Ifan menggoyangkan tubuh Fifian, Ya Tuhan apa yang terjadi batin Ifan saat melihat darah di jari nya.
__ADS_1
Ifan berusaha duduk sambil memeluk tubuh Fifian, "Ma bangun Ma, Mama... bangun Ma ."...Ifan baru sadar kalau Fifian tidak sadar kan Diri. Ifan panik seketika menatap Adiyaksa dengan tatapan geram, " apa yang sudah Kamu lakukan pada Mama Saya Hahhh... teriak Ifan pada Adiyaksa.
Adiyaksa masih terpaku di tempat baru kali ini tangan nya memukul Fifian, walau pukulan itu bukan untuk Fifian tapi tetap pukulan itu Fifian yang menerima. perasaan nya tidak menentu, antara bersalah dan marah pada Ifan Putra nya.
Eko dan beberapa karyawan berlari saat mendengar teriakan minta tolong, mereka menutup mulut dengan telapak tangan, menyaksikan Ifan yang berdarah sambil memeluk Fifian.
Mereka gak tau apa yang sudah terjadi karena hanya mendengar suara jeritan minta tolong tadi, " Pak Saya panggil ambulan"...ucap Eko langsung mengambil ponsel untuk menghubungi pihak rumah sakit.
" Apa yang terjadi Pak!?? "...tanya Eko setelah memasukan kembali ponsel ke saku dan menghampiri Ifan, Eko mengambil sapu tangan untuk menutup pelipis Ifan yang terus mengeluar kan darah.
Ifan tidak menjawab air mata nya sama deras dengan darah yang keluar dari pelipis nya, Eko tidak bertanya lagi tau apa yang musti di kerjakan.
Adiyaksa melangkah diam-diam meninggal kan tempat Itu saat beberapa karyawan membantu Ifan berdiri, menyesal telah gelap mata. dengan langkah sempoyongan Adiyaksa meninggalkan tempat Itu menuju areal parkir.
suasana seketika berubah riuh, mereka saling kasak-kusuk menerka apa yang sudah terjadi pada keluarga atasan.
Sarah tidak tenang, perasaan nya mengatakan kalau Suami nya dalam keadaan tidak baik.
" Kenapa sih Lo mondar mandir gak jelas".. tanya Heru yang sedari mengikuti langkah Sarah dengan tatapan nya, " Gak tau Ru perasaan Aku gak enak dari tadi kepikiran Mas Ifan"...Jawab Sarah masih terus mondar mandir bolak balik.
__ADS_1
Heru melihat sekeliling ruangan, " Kenapa gak coba Lo telfon aja"...ucap Heru karena mata nya melihat telephone kantor di atas meja kerja Ifan. " Iya masalah nya Aku gak tau nomor nya"...Jawab Sarah lesu tertunduk.
Heru terkikik geli dalam hati sambil menutup mulut dengan telapak tangan agar Sarah tidak melihat, ternyata kalau dari kampung tetap akan kelihatan kampungan walau cantik dan sudah modis cara berpakaian monolok Heru dalam hati.
Heru gak habis fikir orang pintar kayak Sarah bisa juga bloon dalam waktu tertentu, Istri seorang Ceo bisa gak tau berapa nomor telephone kantor Suami nya sungguh miris Heru terus menahan tawa agar tidak lepas.
Setelah di protes Heru, Sarah duduk melipat tangan di dada dalam hati berdoa agar Ifan segera datang.
" Buk Ayo ikut Saya"....ucap Eko tiba-tiba muncul tampa terdengar suara langkah, " Kemana Mas Eko!? ".. tanya Sarah masih duduk. Eko menatap Heru sesaat " Ayo Buk udah di tunggu Pak Ifan".. ucap Eko gak perduli seandai nya Heru gak perlu tau.
Eko berbalik pergi, Sarah bangun bergegas mengikuti langkah Eko begitu juga Heru, baik Sarah atau Heru tidak bertanya apa-apa lagi sampai mereka duduk di dalam mobil. Eko membawa Heru dan Sarah kerumah sakit tempat Fifian di rawat dan Ifan yang lagi di tangani.
" Mas Eko apa yang terjadi dengan Suami saya ?"...tanya Sarah saat Eko menyuruh nya duduk di depan sebuah ruangan. " hhhmm...Saya gak tau persis apa yang terjadi Buk, waktu Saya sampai Pak Ifan kepala nya berdarah dan Nyonya besar pingsan dalam pelukan Bapak".... Jawab Eko setelah menarik nafas dalam.
Sarah terdiam ternyata filing nya tadi tepat telah terjadi sesuatu pada Ifan, " Boleh Saya lihat Suami saya"...tanya Sarah bangun dari duduk. " Sabar Buk, Bapak lagi di obati kita gak boleh masuk"...jawab Eko.
Heru terduduk diam hanya mendengar percakapan Sarah dan Eko, suasana rumah sakit mengingat kan kejadian tempo hari saat Heru mencium rakus bibir Sarah.
Heru heran kenapa perasaan nya tidak seperti kemarin-kemarin, kenapa jantung nya tidak berpacu saat teringat ciuman itu. Heru tersenyum ternyata rasa itu kini sudah biasa-biasa saja, layak nya teman tidak seperti dulu.
__ADS_1
Pintu Ruangan terbuka Ifan keluar dengan perban dikepala, Sarah berlari kedalam pelukan Ifan.