
Setelah Ifan pergi Jovanka duduk dengan wajah suram, menyesali perasaan cinta yang tumbuh dalam hati nya. sudah coba untuk membuang nama Ifan dari dalam hati nya, tapi justru perasaan itu semakin besar dan rasa ingin memiliki semakin besar.
Aku cabut ya Jo infus nya"...ucap perempuan dengan berpakaian perawat, Jovanka mengangguk lesu.
Masih mau kejar Dia!? "...tanya perempuan itu sambil melepas infus di tangan Jovanka.
Gak tau lah Ren, Aku gak bisa bohong dengan perasaan Ku"...jawab Jovanka tertunduk dalam.
Saran Aku lebih baik lupakan Dia, gak usah memaksakan Dia harus jadi jodoh kamu. mau sampai kapan kamu buang tenaga untuk ngejar orang yang memang sama sekali gak suka sama Kamu. Jo buka mata kamu masih banyak laki-laki yang lebih baik.
Jangan pernah menaruh harapan pada orang yang sama sekali gak anggap kamu ada, Aku prihatin lihat kamu kayak gini. kuliah Mu berantakan kalau kamu ngikuti kata hati yang gak pasti. Reni terus bicara agar Jovanka berpikir lagi soal mengejar Ifan, Reni kasihan melihat Jovanka murung.
Jovanka gak menggubris omongan Reni, baginya memperjuangkan cinta Ifan satu keharusan. Reni menatap Jovanka sesaat, merasa percuma Reni meninggal kan Jovanka tampa sepatah kata pun.
Sampai di penginapan Sarah merasa seluruh tubuh nya lelah, setelah berganti pakaian Sarah langsung tidur. Fifian membiar kan Sarah tidur tau gimana rasa nya hamil.
Ifan ke kamar Fifian, " mana Sarah Ma"...tanya Ifan menyembul kan kepala dari balik pintu. " itu tidur biar kan aja Sarah tidur pasti tadi capek"...jawab Fifian.
Ifan masuk menutup pintu kemudian menghampiri Sarah, Ifan tersenyum melihat wajah Sarah yang tidur sangat tenang. Ifan tersenyum dengan tidur nya Sarah berarti punya banyak kesempatan ngobrol dengan Fifian, apa lagi Ifan ingin cerita soal Jovanka.
" Ma tadi Ifan ketemu Jovanka "...ucap Ifan duduk di samping Fifian, kemudian membakar nikotin. " Fan kurangi kebiasaan buruk kamu gak baik untuk kesehatan "...protes Fifian gak senang lihat Ifan merokok.
Ifan langsung matikan Rokok yang baru satu kali sesapan, " good boy"...Fifian senang ternyata Anak nya masih mau mendengar nasehat nya.
Ma tadi tadi Ifan ketemu Jovanka! "...ucap Ifan. " Trus"...tanya Fifian, " Ifan nabrak Jovan Ma"...seketika Fifian melihat wajah Putra nya.
Sekarang Jovanka di mana!? "...tanya Fifian setenang air yang mengalir, Fifian menelisik wajah Putra nya.
__ADS_1
Di rumah sakit Ma"...jawab Ifan tertunduk.
Kamu beneran gak punya hati kan untuk Dia"...tanya Fifian memastikan perasaan Putra nya.
Ya gak lah Ma malah Ifan benci sama Dia"...jawab Ifan melihat Fifian gak ngerti apa maksud Mama nya menanyakan Itu.
Fan kamu tau dari benci bisa jadi cinta "...ucap Fifian, Ifan kembali melihat Fifian merasa aneh dengan ucapan Mama nya.
Jangan pernah membenci, kalau memang gak suka anggap aja seperti teman. bersikap lah biasa-biasa saja Mama gak mau kebencian akan berubah jadi cinta tampa kamu sadari"...Ifan mendengar setiap apa yang di ucap kan Fifian, Ifan mengerti maksud dari semua ungkapan atau nasehat dari Mama nya.
Lebih baik sekarang mikir hari pernikahan kamu dan Sarah, gak mungkin Kita lama-lama di sini. pekerjaan kamu terbengkalai "...ucap Fifian, Ifan diam membenar kan semua ucapan Mama nya.
"Yaudah Ma, Ifan kemar dulu" ucap Ifan menghampiri Sarah yang masih terlelap, Ifan keluar dari kamar Fifian setelah mencium kening bumil yang tidur nyenyak.
setelah masuk ke kamar nya, Ifan melempar tubuh nya ke atas ranjang. Ifan berguling-guling sambil membayangkan Sarah, Ingin rasa nya kembali ke kamar Mama untuk angkat Sarah dan membawa Sarah kekamar nya.
Tertera nama Reka, ifan langsung menghubungi ulang karena kelamaan ngangkat sambungan sudah terputus.
Apa Ka!? "...tanya Ifan setelah panggilan nya di terima Reka, " Fan apa bener Jojo ada disini"...jawab Reka yang memanggil Jovanka dengan sebutan Jojo.
" Iya Gue udah ketemu tadi! "...jawab Ifan menghembus kan nafas kasar, terlalu malas kalau bahas soal Jovanka.
"Fan Lo gak pernah janjiin apa-apa kan ke Jojo"...tanya Reka lagi.
"Gak kenapa emang!? "...Ifan mulai bingun dengan pertanyaan Reka.
" Bagus lah Jojo minta ketemu Gue Fan"....ucap Reka. Ifan diam sesaat.
__ADS_1
"Yaudah Lo temui aja critain sekalian masalah Gua ama Sarah biar tu anak gak ngejer Gue "...ucap Ifan dengan rasa marah untuk Jovanka karena Ifan merasa Jovanka mulai mengganggu hidup nya.
" Yaudah Lo fokus sama Sarah jangan bikin Dia stres kasian anak lo juga ikut sedih nanti"...ucap Reka dengan senyum di kulum.
"Ya Lo tolong urus tu si Jovan"...Ifan langsung mengahiri panggilan, Ifan melepar ponsel ke tempat tidur. kepala nya benar-benar pusing masalah dengan Jovanka mulai mengait kan Reka.
Sarah masuk tampa mengetuk pintu, terlihat kini Ifan sedang duduk menengadah sambil memijat pelipis nya. Sarah yakin pasti Ifan sangat lelah memikir kan tentang pernikahan.
Sarah langsung masuk dan duduk di pangkuan Ifan, awal Ifan hampir kalang kabut saat Sarah tiba-tiba duduk di pangkuan nya.
"Ehh sayang ngagetin"..ucap Ifan tersenyum kemudian memeluk pinggang Sarah, sedang yang di peluk pinggang nya langsung mengalung kan kedua tangan di leher Ifan.
Sarah menatap dalam sepasang mata elang milik Ifan, gak tau bener atau gak Sarah merasa Ifan saat ini punya beban pikiran. Sarah merasa kalau Dirinya lah yang saat ini jadi beban fikiran berat buat Ifan.
" Kenapa natap nya sampe gitu hhmm"...tanya Ifan mencubit hidung mancung Sarah, Sarah tidak menjawab mengusap hidung nya lalu bangkit dari pangkuan Ifan.
Sarah duduk di pinggir ranjang, perasaan bimbang akan cinta Ifan menghampiri Sarah.
"Kenapa muka nya di tekuk hhmm"...Tanya Ifan berlutut di depan Sarah.
Sarah membuang muka saat Ifan meraih tangan nya, Ifan gak ngerti kenapa dengan Sarah yang tiba-tiba ngambek seperti orang kesal padahal tadi Sarah baik-baik dan sangat ceria.
teringat ulasan google Ifan paham ini yang dinamakan mod berubah-rubah, Ifan bangkit langsung memegang kedua pipi Sarah.
" Jangan fikir macem-macem seluruh hidup Kakak hanya untuk kamu"....ucap Ifan menunduk mel**** bibir Sarah dengan lem***. seketika gundah di hati Sarah berganti dengan keinginan agar Ifan melakukan lebih.
kesempatan bagi Ifan, Sarah sudah menyalakan lampu hijau, mereka melakukan adenggan per adenggan tampa berfikir kalau Fifian berdiri didepan pintu dapat mendengar suara mereka.
__ADS_1