
Desy sengaja purak-purak ninggalin, dari tempat yang gak jauh Desy terus ngikutin kemana Rian mencari nya. gak mungkin juga Desy pulang duluan, sebab mobil nya masih di rumah Rian.
Desy duduk di bangku mereka duduk tadi, tapi belum semenit dari jarak yang tidak terlalu jauh Desy melihat Rian jalan kearah nya. Desy sengaja membelakangi arah Rian pura-pura gak tau kalau Rian datang, Rian mempercepat langkahnya setelah melihat Desy.
" Lo kemana sih Des capektau nyariin Lo".... ucap Rian menghenyak kan punggung di samping Desy, dengan cuek Desy menggeser duduk agar mereka tidak terlalu dekat.
Hening....
-
Hening....
" Des Lo marah ama Gue ".... tanya Rian karena Desy bergeser, Desy tidak menggubris pertanyaan Rian. mungkin Desy penasaran dengan Bang Eman tadi, fikir Rian dalam hati.
Rian menggeser duduk nya agar lebih rapat dengan Desy, " Des jangan lari-lari kayak tadi, Gue gak mau Lo tinggalin berapa hari ini Gue merasa hidup itu berkat Lo Des"....ucap Rian memeluk pundak bagai manapun perhatian Desy sangat berarti bagi nya dan Rian gak mau kehilangan itu.
"Selama ini gak ada yang perhatian sama Gua Des, cuma Lu Des Nyokap bokap mungkin udah nganggap Gue mati. jangan ninggalin Gue ya Des!? "....ucap Rian sambil teringat perhatian Desy saat Ia sakit kemudian menyandarkan kepala kepundak Desy.
Desy menarik nafas dalam mendengar keluh kesah Rian, sebagian hati Desy merasa kasian tapi sebagian hati lain menolak karena gak mau di anggap sebagai teman semata.
" Des...liat Gua "....ucap Rian mengangkat kepala dari pundak Desy, " liat Gua Des"... Rian menarik halus dagu Desy agar melihat nya. tatapan mereka bertemu, sungguh Desy gak mampu untuk berpaling karena tatapan Rian seolah menghinotis jiwanya.
__ADS_1
Sangkin terpana nya Desy gak sadar kalau wajah Rian sudah mendekat kewajah nya, Rian dua kali mengecup lembut bibir Desy. sesaat Desy merasa darah nya berdesir dan meremang, Desy menarik wajah nya gak tau harus apa.
kalau di awal ciuman ganas Rian bikin bibir nya jontor dan berdarah, tapi beda kali ini begitu lembut.kalau gak punya malu, ingin rasa nya Desy minta Rian untuk melakukan sekali lagi.
wajah Desy merona jantung nya jedak jeduk, Rian kembali meraih tangan Desy" janji ya Des apa pun yang terjadi Lo jangan ninggalin Gue ya Des"....pinta Rian. Desy masih seperti terhipnotis mengangguk dan senyum, seolah memberi harapan kalau akan terus berada disisi Rian.
Rian merasa dadanya ingin meledak bahagia melihat senyum Desy, untung ada beberapa orang lewat kalau gak Rian pengen kecup lagi bibir Desy sampe Ia puas.
" Des kita pulang yuk?!!"....ajak Rian, Desy mengangguk setuju lalu mereka menyusuri jalan keluar sambil bergandengan tangan.
sampai di parkiran Rian memakaikan helm kekepala Desy, wangi maskulin bikin jantung Desy jedak jeduk saat Rian mengangkat kedua tangan nya.
"Naik Des"... ucap Rian saat sudah duduk di atas motor, Desy naik dan memberi jarak duduk. Rian mematikan mesin yang tadi sudah Ia hidupkan, " kok mati Yan!? "...teriak Desy melawan suara deru motor yang lewat.
" Pegang yang kuat"... ucap Rian langsung mamacu laju motornya, " Ih Yan jangan kebut Gua takut"...ucap Desy semakin mempererat pelukan karena takut jatuh.
Rian tertawa senang saat Desy semakin erat memeluk nya, bukan mengurangi kecepatan tapi malah semakin menambah kecepatan. momen ini terlanjur membuat hati Rian bahagia, Rian tidak ingin moment ini cepat berahir.
Bukan nya bawa Desy pulang, Rian malah bawa Desy putar-putar kota. sampai bundaran kota, Rian menghentikan motor nya" Des tangan Lo dingin amat"....ucap Rian meraba dan menggenggam tangan Desy sekedar menyalur kan hawa hangat dari tangannya.
Desy tidak menolak saat Rian meletakan telapak tangan nya di perut Rian yang panas, Rian sengaja mengangkat Tsirt yang Ia pakai dan menempel kan telapak tangan Desy agar tidak terlalu merasa dinginan.
__ADS_1
Satu jam muter-muter lihat keramaian dan keindahan kota mereka malam hari, lama kelamaan tangan Desy yang menempel ke kulit perut nya membuat keinginan Rian terpancing apa lagi saat Desy ketakutan dan meraba naik ke dada.
sepanjang perjalanan otak mesum Rian sudah traveling ke awan, Rian harus segera membawa Desy pulang sebelum otak nya benar-benar hilang kontrol.
Tiba dirumah Rian, Desy langsung masuk kekamar mandi untuk sekedar merapikan rambut yang awut-awutan karena kena angin.
" Aku pulang ya Yan"... ucap Desy saat berpapasan dengan Rian yang baru habis masukan motor ke bagasi, Rian menangkap pergelangan tangan Desy karena Desy semakin terlihat cantik.
Rian memeluk pinggang Desy merapat kan tubuh hingga Desy harus mundur dan bersandar ke dinding, " Des jangan tinggalin Gue ya!? "....ucap Rian, Desy mengangguk merasa darah nya menyembur ke ubun-ubun himpitan Rian membuat geleyar aneh di tubuhnya.
Mereka sudah tidak berjarak naik turun nafas Rian dapat Desy rasakan begitu juga sebalik nya, Rian m****** b****Desy dengan sangat lembut. Desy hilang akal lu***** basah Rian membuat jiwa Desy melayang otak Desy traveling gak sadar kalau Rian membuka satu persatu kancing bajunya.
Desy mengimbangi apa yang disuguh kan Rian, terus terbuai hingga meracau lembut. Rian merasa kelaki-lakian nya tertantang, tampa ragu Rian mulai meraba setiap lekuk tubuh Desy yang masih di lapisi pakaian dibagian bawah, Rian me***** gundukan kenyal.
Desy mendesah membuat Rian semakin menggila saat Desy tampa sadar menguluar kan ******* manja.
Rian berselancar ria didada Desy meninggal kan banyak jejak kis mark, tampa penolakan dari Desy Rian terus membuat Desy melayang. Desy sangat menikmati setiap suguhan Rian.
Karena tidak ada penolakan dari Desy Rian ingin melakukan lebih, Desy tersadar langsung mendorong Rian saat tangan Rian ingin masuk ke balik celana jeans yang masih terpakai.
" Yan jangan kita belum boleh"... ucap Desy kembali mengancing blus nya, Desy merutuki diri telah larut dalam permainan Rian. " Ya Tuhan terima kasih sudah menyadar kan hamba mu sebelum terlambat "... lirih Desy dalam hati.
__ADS_1
Rian tidak bisa berucap hanya memandang Desy dengan mata sayu karena masih di kuasai, " Yan Gue pulang ya"...Desy mencium sekilas bibir Rian lalu keluar pulang.
Tidak ada cara lain Rian harus menuntas kan sendiri, andai terjadi Rian siap bertanggung jawab karena Desy sudah begitu membuat hidup nya sempurna.