
Setelah mengantar Fifian Sarah dan Bibik ke apartemen, Ifan pergi menemui Davit. mengenai data-data yang sudah di kumpul kan Davit, terus mengganggu konsentrasi Ifan. gak mungkin bagi Ifan untuk membawa Sarah. data apapun yang akan Ia dapat kan dari Davit Ifan gak mau Sarah tau.
Ifan ingin melihat data yang berhasil di kumpul kan Davif, jauh di dasar hati nya tidak ingin kedua orang Tua nya berpisah.
Tiga puluh menit Ifan sudah sampe di kontrakan Davit, tampa mengetuk Ifan langsung masuk ke kontrakan David.
"Gak sopan amat Lo maen nyelonong aja masuk rumah orang mirip perampok tau gak!!"...ucap Davit dengan suara keras kaget tiba-tiba Ifan masuk saat David sedang bersama seorang perempuan.
Ifan melengos duduk gak perduli omongan David, dengan kesal Davit menyuruh perempuan itu pergi.
"Nih... ambil yang Lo mau"... Davit melempar amplop besar keatas meja didepan Ifan, gak banyak omong Ifan langsung meraih amplop yang di lempar Davit tadi.
Ifan mengeluar kan semua isi amplop yang berisi foto-foto dan beberapa file, satu persatu Ifan melihat file temuan Davit. dada Ifan bedegup, ternyata Mama nya benar Papa nya sudah terlalu banyak menggelap kan uang perusahaan.
" Nih Lo minum jangan mikir pake kepala panas"...ucap Davit sambil meletakan segelas teh dingin di atas meja, Ifan melihat Davit sesaat lalu kembali fokus pada data-data yang di kumpul kan Davit.
melihat data terahir Ifan benar-benar merasa kan dada nya berkecamuk, ternyata Adiyaksa Papa nya bukan saja menggelap kan uang tapi sudah menikah dengan beberapa wanita. semua tanggal pernikahan Papa nya tertera di data yang Davit dapat kan, Ifan merasa hati nya hancur.
gak sanggup Ifan bayangkan seandai nya Fifian Mama nya tau, apa yang sudah di lakukan Papa nya di belakang Mama nya.
__ADS_1
dengan tangan gemetar menahan gejolak di dada, Ifan mengambil lembar perlembar Foto hasil pencarian Davit. Mata Ifan terbelalak, melihat wajah-wajah perempuan yang ada di foto bersama Papa nya.
" Ibu Rosita"...Ifan bergumam, Davit mendengar dan mengamati wajah Ifan" Itu yang Lo pegang selingkuhan pertama bokap Lo menurut sumber Nyokap Lo udah tau dan mereka hampir pisah dulu"... Terang Davit.
Ifan masih terus menatap Foto Adiyaksa Papa nya, tampak dalam Foto Adiyaksa memeluk Rosita dengan mesra.
Ifan teringat waktu Fifian tiba di panti , Ifan dapat melihat kecanggungan antara Fifian Mama nya dengan Rosita. Ifan baru faham ternyata Mama nya dan Rosita punya kisah buruk, walaupun sudah lama luka itu masih membekas contoh nya saat Fifian datang Rosita nampak gugup.
Ifan mengambil lembar Foto lain, " Ini istri sirih bokap Lo yang di su******, sempet punya anak satu tapi anak dan ibu nya gak selamat ada juga perempuan lain...".. ucap Reka mengambil lembar Foto lain.
"Lo liat ini yang terbaru setahun lalu lah"... ucap Davit menyerah kan lembar foto itu ketangan Ifan, melihat Foto yang di serah kan Davit wajah Ifan berubah merah menahan marah kecewa dan sakit hati.
Ifan gak menyangka Papa kandung yang sudah membuat nya hadir kedunia ternyata seorang bajingan kelas kakap, tampa sadar Ifan meremas gelas Teh sampai pecah di tangan nya.
Davit yang sempat meninggalkan Ifan kekamar nya langsung berbalik karena mendengar suara benda pecah, " Ahh Fan Lo gila ya ?, mau bunuh diri jangan di rumah Gue "... bentak Davit lalu memegang tangan Ifan yang berdarah.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Ifan karena hati nya terus begejolak, " Lo gila ya Fan marah boleh jangan ngancurin diri sendiri"...ucap Davit panik melihat pecahan gelas tertancap di telapak tangan Ifan. saat Davit menarik pecahan kaca di telapak tangan nya Ifan tidak sedikit pun merasa kesakitan.
Hati nya sangat terluka, ingatan tentang masa kecil jadi jijik Ifan bayangkan. karena semua itu cuma topeng Papa nya, Ifan benar-benar merasa sakit.
__ADS_1
" Sini tangan Lo"... Davit mengambil tangan Ifan untuk di obati, " Udah jangan terlalu Lo pikirin, Gue tau Lo marah Lo kecewa Lo juga sakit hati tapi satu Lo ingat Dia bokap Lo jangan sampe Lo di kejar dosa karena nurutin emosi Lo. "....Davit mengingat kan Ifan agar tidak salah dalam mengambil keputusan.
Davit memasukan kembali File dan foto-foto kedalam amplop, Ifan duduk menatap dinding dengan pandangan kosong. bayangan Papa dan Mama nya saling melepar canda seperti melintas di otak besar nya, sungguh Ifan tidak pernah menduga Papa nya bisa sebajingan itu.
Lo tau Fan apa yang menimpa di kluarga Lo, belum apa-apa masih ada yang lebih parah yang Gua tangani tempo hari. Gue pernah bongkar borok salah satu pejabat , Bini nya yang suruh Gue . karena jumblah di tawar kan bikin Gue ngiler ya Gue kerjain, ancur bener tu kelakuan si suami.
Gue nyesel sampe sekarang Ibu itu meninggal dunia, karena gagal jantung. setelah lihat data-data kecurangan suami nya, Ibu itu langsung gak bisa nafas. Gue sampe takut untung Dia di temenin anak nya yang perempuan, jadi gak ada alasan nya kalau gua di tuduh.
tapi asal Lo tau seratus hari Gue di kejar-kejar rasa bersalah, Sampe Gue di bawa temen Gue keorang pintar. coba Gue nolak pasti Ibu itu masih hidup sampe sekarang".... Davit menceritakan kisah lalu.
wajah nya tampak sedih mengingat waktu itu, Ifan memejam kan mata bukan karena sakit di tangan nya tapi karena hati nya yang terasa di tusuk ribuan jarum.
" Gua gak tau apa yang musti Gua lakuin, satu sisi Gue sayang nyokap satu sisi Gue juga sayang bokap, cuma Gue gak pernah ngebayangin kalau bokap Gue bisa selaknat ini "... ucap Ifan mengeluarkan perasaan mangkel di hati.
" Hati-hati Lo ngomongin orang tua ntar kualat baru tau"..... Davit mengingat kan Ifan tentang tutur kata.
Ifan diam gak tau harus bagaimana menghadapi semua yang terjadi, " Vit ini rahasia Lo simpen aja dulu Gue gak mungkin bawa pulang file ama foto-foto yang lo dapet kasiam nyokap Gue"... ucap Ifan mendorong amplop coklat agar di simpan Davit.
Davit ngerti apa yang di rasakan Ifan, sebagai seorang anak tentu Ifan di posisi yang sangat sulit. sekali lagi Davit menyemangati Ifan, Davit gak mau kalau Ifan sampai salah dalam mengambil langkah.
__ADS_1