
Davit terdiam, bener juga gak mungkin lapor polisi karena Adiyaksa otomatis akan terseret sebagai otak dari semua kejadian. Davit duduk bersandar di sandaran kursi, sedang Sarah melihat foto Rosita sewaktu muda dulu.
" Vit yang Gue bilang udah kan!? "...tanya Ifan memastikan sambil fokus pada dokumen kopian yang di bawa Davit, " ya udah seperti yang Lo mau, semua beres tinggal jalanin sesuai rencana Elo "... jawab Davit mengedip kan mata.
" Ini Pak Davit minum nya...silah kan Pak"... Eko tiba-tiba masuk dengan santun mempersilahkan Davit minum setelah menaruh secangkir kopi.
" Ko Kamu duduk sini.. ".. titah Ifan pada Eko yang ingin pergi lagi ke pantri untuk simpan napan.
" Baik Pak"... Eko meletakan napan di meja kecil dekat pintu, " Ini Ko coba kamu liat "...ucap Ifan menyerahkan dokumen bukti kecurangan Papa nya bersama staf yang baru Ifan pecat tadi.
" Kira-kira menurut kamu siapa yang cocok ganti posisi mereka"....tanya Ifan, Eko berhenti melihat dokumen diam sesaat. " sebaiknya kita buat rapat dulu pak' kalau langsung pilih yang paling kompeten takut nya nanti mereka saling menjatuh kan karena hampir semua staf kinerja nya bagus"...jawab Eko panjang lebar.
Davit tersenyum mendengar ucapan Eko, dalam hati Davit berdecak kagum ternyata Eko berotak brilian di banding Ifan yang gak punya otak. Davit terkekeh dengan fikiran nya sendiri.
" Napa lo ketawa!? "... tanya Ifan yang sebenar nya juga geli karena bisa baca fikiran Davit yang ngatai dirinya tidak punya otak, " ahh gak Lo pasti udah tau apa yang ada di otak Gue "...jawab Davit langsung di hadiahi lemparan bungkus rokok oleh Ifan.
Sarah hanya tersenyum lihat kelakuan Suami nya dan Davit, " Fan Gue kayak nya harus pamit"... ucap Davit kemudian nyeruput kopi hingga tandas. " Tunggu Vit....gimana kalau kita makan siang dulu.. baru Lo pulang"...ucap Ifan setelah melihat Waktu yang melingkar di tangan nya.
__ADS_1
" Hhhmm...usulan bagus berarti Gue pulang bisa langsung tidur ".... jawab Davit sambil melipat tangan di dada, menyetujui tawaran Ifan. " Ko kamu ikut tapi Kamu kasi tau bagian HRD agar mengumpul kan semua staf satu jam lagi"...titah Ifan, " Siap Pak"...jawab Eko langsung keluar dari ruangan Ifan setelah meletakan kembali dokumen di atas Meja.
" Yaudah yuk Sayang "....ajak Ifan pada Sarah, Davit udah keluar duluan, " Mas itu berkas-berkas di atas meja gak pa-pa di biarin gitu aja".... tanya Sarah masih menoleh ke meja saat Ifan membawa nya keluar. " udah gak pa-pa Yank gak akan ada yang berani masuk ruangan Suami kamu ".. jawab Ifan narsis sambil nyentil sayang hidung Sarah.
" Udah ahh Lo bedua bikin jiwa jomblo Gue meronta-ronta tau gak!!?"...ucap Davit sengaja bercanda, hati nya senang lihat Ifan dan Sarah bahagia. " Maka nya cari bro"..jawab Ifan sambil tertawa.
Sarah gak tau kenapa insting nya dapat merasakan kalau dokumen yang ada di ruangan Ifan akan hilang. " Kenapa Yank kok muka nya lesu gitu, masih capek atau mau Mas tambah lagi"....ucap Ifan sengaja menggoda , Sarah gak nyangka kalau Ifan bisa ngomong seperti Itu saat mereka sedang tidak hanya berdua.
" Aduh Yank sakit"...ucap Ifan karena Sarah menarik kulit perut nya sebab malu pada Davit, " Mas omongan nya di jaga dikit napa"...ucap Sarah membuang muka sambil bersidekap.
" Ihhh amit-ami jabang bayi"....jangan Sampe ahh takut Gue ngebayangin nya".... Ifan meraba perut rata Sarah lihat gaya Davit meniru waria Ifan bergidik geli jadi takut calon anak nya akan jadi seperti banci setelah dewasa.
Mereka sudah sampai di lantai dasar, " Mana Eko, Fan!?"...tanya Davit karena gak lihat Eko, " Paling udah duluan dalam mobil".. jawab Ifan menggandeng tangan Sarah. sesaat Sarah mematung karena melihat Mertua nya berdiri di pojokan, gak tau kenapa Sarah jadi ingat dokumen yang masih di atas meja.
" Ayuk Yank kok malah bengong"...ucap Ifan menggenggam erat tangan Sarah, Ifan juga heran kenapa gak bisa baca fikiran Sarah.
" Mas beneran dokumen yang di atas meja itu gak pa-pa!? "...Sarah masih takut soal dokumen , " Kenapa sih Yank"... Ifan menoleh kesamping menatap wajah Sarah gak ngerti kok Sarah malah mikir soal dokumen.
__ADS_1
" takut hilang aja Mas"...jawab Sarah singkat berfikir dokumen itu penting untuk Ifan dan kelangsungan perusahaan , "hhmm biar kalau ilang kita suruh cari lagi ada Davit"...ucap Ifan tampa ragu karena sudah menyimpan data asli dan yang ada di atas meja cuma salinan.
Ifan memang sengaja sudah dari berapa hari merencanakan Ini, tapi masih menunggu waktu yang tepat. tapi gak di sangka ternyata misi itu di lakukan hari ini, Ifan gak tau ini kebetulan atau memang hari keberuntungan nya.
" Vit Lo bareng Eko ya? "...ucap Ifan pada Davit ketika mereka sudah keluar dari lobi, " Ok Bos siap"....jawab Davit menghampiri Eko.
setelah duduk di dalam mobil Ifan sesekali melirik Sarah yang terus diam, " Yank besok kita pergi beli keperluan kamu ya? "...ajak Ifan. Sarah menoleh melihat wajah suaminya, " keperluan apa Mas?, Sarah gak perlu apa-apa kok"...jawab Sarah.
Ifan tersenyum hati nya bangga bisa memiliki Sarah, walau pun Sarah masih muda gak keblinger kayak perempuan lain yang suka shoping. mereka sudah sampai di restoran, Ifan turun lebih dulu untuk membuka kan pintu mobil untuk Sarah.
Sarah tersenyum perlakuan Ifan sangat romantis, Sarah merasa dada nya berdesir seperti pertama mereka kembali bertemu.
" Bahagia ya? mereka"...ucap Davit pada Eko, " ya semoga terus seperti itu ya Pak ".. jawab Eko. Davit dan Eko jalan bersisian, " Kamu udah nikah Ko"...tanya Davit. " belum pak, Bapak sendiri udah menikah!? "....Eko balik bertanya.
" udah Ko tapi udah pisah".. jawab Davit jadi sangat merindukan Sintya mantan Istri yang kabur dengan laki-laki lain. "Kok bisa pisah Pak!? "...tanya Eko lagi, " cerita nya panjang Ko Bos kamu aja gak tau kalau Saya pernah menikah "...jawan Davit.
Eko diam mengerti apa yang Davit rasa kan, tentu gak mudah bagi Davit untuk bercerita tentang penikahan nua yang gagal. pasti terlalu sakit dan teramat sakit' batin Eko, bergidik ngeri membayangkan pertengkaran dalam satu rumah tangga.
__ADS_1