
Mata Fifian membulat sempurna, seakan Ifan malaikat maut pencabut nyawa, seketika pandangan Fifian berkunang kunang, Fifian merasa tidak memiliki tulang penyangga tubuh, seketika Fifian ambruk.
" Mamaaaa, Ibukk.. pekik Ifan dan Dokter Fitri tertahan, Ifan menyambar tubuh Fifian, sebelum menyentuh lantai, Ifan mengangkat Fifian.
" Sini Pak bawa Ibu, ucap Dokter Fitri menyingkap tirai, setelah lihat Ifan menggendong Fifian, Dokter Fitri resah melihat Fifian yang tiba-tiba drop, setelah meletakan Fifian, Ifan menyingkir memberi ruang untuk Dokter, agar bisa memeriksa keadaan Fifian.
" Apa sebenar nya penyakit Mama Saya Dok?... tanya Ifan, setelah Dokter meletakan teteskop di dada Fifian, Dokter Fitri diam karena tidak terlalu mendengar jelas, bukan saat nya menjawab pertanyaan Ifan fikir nya.
Ifan diam, melihat Dokter Fitri memasang infus, " Apa penyakit Mama Saya Dok, Tanya Ifan sekali ini dengan suara sedikit besar, Dokter Fitri melongo melihat Ifan seketika, terkejut mendengar Ifan menyebut Fifian dengan sebutan Mama.
" Ja.. ja.. jadi Ibu ini bukan Istri Bapak?, tanya Dokter tergagap, Ifan menggeleng, " Saya Anak nya Dok, jawab Ifan, berbalik untuk duduk, menunggu Dokter Fitri selesai.
Dokter Fitri kembali fokus, selesai memasang infus di tangan Fifian, Dokter Fitri memandangi nya wajah Fifian, kagum pada kecantikan Fifian, walau usia sudah menjelang kepala lima, tapi masih cantik seperti umur tiga puluhan.
Ifan yang duduk gelisah menunggu Dokter selesai pasang infus, hati nya meradang karena gak sabar, "Dokter terlalu lama, batin nya lalu bangun dari duduk , Ifan membuang nafas kasar" udah selesai Dok, tanya Ifan sudah tidak sabar ingin mendapat kan penjelasan lebih jelas.
" Ya sudah mari silah kan duduk dulu Pak, ucap Dokter mempersilah kan Ifan duduk kembali, Ifan duduk melipat tangan di dada, mata nya menatap nanar wajah Dokter Fitri.
" Berarti Bapak bakal punya adik dong, ucap Dokter Fitri tersenyum memulai percakapan, Ifan mengerut kan dahi, berarti pendengaran nya tadi gak salah.
" Maksud Dokter Mama saya hamil lagi, tanya Ifan lagi, " Ya Ibu hamil baru sepuluh minggu, janin nya cukup sehat, Saya harap Ibu jangan di buat setres, seharus nya di usia Ibu Fifi sekarang sudah tidak boleh hamil, karena sangat rentan, tapi setelah saya periksa ternyata pertumbuhan janin Ibu Fifi cukup baik, penjelasan Dokter panjang lebar.
__ADS_1
Ifan tenggelam dalam fikiran, setelah mendengar penjelasan Dokter, Ifan gak tau harus senang atau sedih, " Kok Mama baru sekarang bisa hamil lagi, batin Ifan terus bergelut dengan fikiran nya.
" Dulu iya Aku pengen punya adik, tapi sekarang Aku bukan anak kecil yang butuh teman bermain, Ifan mengusap wajah dengan kasar.
Ifan membayang kan anak di kandungan Sarah, bermain bersama adik yang kini sedang ada di kandung Mama nya, " Hii.. gimana jadi nya, keluh Ifan dalam hati nya.
" Fan.., Fifian yang baru sadar memanggil Ifan, seketika Ifan bangun dari duduk setengah berlari menghampiri Fifian, " mana yang sakit Ma, tanya Ifan membantu Fifian yang ingin duduk, " Maaf kan Mama Nak, ucap Fifian menatap wajah Putra nya dengan linangan air mata bersalah.
" Mama Kok nangis, Ifan gak Papa kok kalau punya adek, seneng Ma berarti Ifan gak sendiri, jawab Ifan memperlihat kan ketenangan , walau sebenar nya kata-kata itu sangat, berat untuk Ia ucap kan.
Mendengar ucapan Ifan, Fifian semakin menangis, Dokter Fitri hanya terdiam, sambil mencerna-cerna, ada apa sebenar nya.
" Udah Ma gak perlu minta maaf Ifan senang kok punya adek, ucap Ifan lagi, teringat kata Dokter kalau Fifian gak boleh setres.
Fifian merasa dada nya seperti di tusuk ribuan jarum, apa yang harus Ia jelas kan pada Putra nya, berkali kali Fifian menjerit dalam hati, tidak berdaya dengan keadaan saat ini.
Pintu ruangan Dokter Fitri di ketuk dari luar, Dokter Fitri bangun dari duduk, untuk membukakan pintu, " Eh Pak Ferdy, ada apa ya Pak, Bapak kesini, tanya Dokter Fitri, yang memang kenal dengan Ferdy.
" Ada Fifian di dalam, Ferdy mengabaikan pertanyaan Dokter Fitri, " ada.. ada di dalam Pak, Dokter Fitri menatap bingung, " mari Pak silah kan masuk, Dokter Fitri mempersilahkan Ferdy masuk.
Ferdy melangkah masuk, gak perduli dengan tatapan selidik Dokter Fitri, " Buk Fifi itu siapnya Pak Ferdy ya, batin Dokter Fitri bertanya, mengikuti langkah Ferdy setelah menutup pintu.
__ADS_1
Ferdy terpaku melihat Fifian menangis dalam pelukan laki-laki lain, hati nya terbakar, dada nya bergemuruh dengan tangan mengepal , tatapan Ferdy berkilat marah.
" itu anak nya Pak, ucap Dokter Fitri dari belakang, karena melihat kepalan tangan Ferdy sangat kuat, seperti orang menahan amarah, memang gak tau apa hubungan Ferdy dan Fifian, tapi Dokter Fitri merasa aura negatif di ruangan nya.
Ferdy menghembus nafas kasar " ternyata anak kamu Fi, batin Ferdy dengan emosi mulai reda tidak lagi marah, " Fi..., panggil Ferdy, agar Fifian tau kalau Ia sudah datang.
Fifian yang hampir menyudahi tangis nya, kembali meraung setelah mendengar suara Ferdy, Ifan semakin gak ngerti kenapa Fifian kian meraung setelah datang seseorang.
" Sudah lah Ma, itu ada teman Mama, ucap Ifan ,agar Fifian menyudahi tangisan nya, Fifian mencoba meredakan tangis, " Fan boleh tinggalin Mama, Mama perlu bicara dengan Om Ferdy, ucap Fifian masih menangis.
Ifan semakin gak ngerti, ingin bertanya lebih lanjut, tapi Ifan takut menyinggung perasaan Mama nya, " Ya Ma Ifan keluar dulu, Ifan turun dari ranjang.
Setelah Ifan keluar, Ferdy juga minta Dokter Fitri memberi nya ruang bicara dengan Fifian, walau ngedumel dalam hati, ahir nya Dokter Fitri manut juga, keluar dari ruangan nya.
" Fer.. Kita harus menggugur kan janin ini, ucap Fifian terisak, setelah lihat Dokter Fitri keluar dan menutup pintu.
" Apa...., Ferdy terkejut mendengar ucapan Fifian, " Kita harus menggugur kan janin ini, Fifian mengulang, " sebegitu benci kah kamu dengan benih ku yang tumbuh di rahim Mu, tanya Ferdy, menatap sayu Fifian.
" Sungguh Aku gak membenci nya Fer, tapi mengertilah dengan keadaan Ku, bagaimana Aku menjelas kan dengan anak Ku, bagaimana juga Aku menjelas kan dengan Suami Ku, ucap Fifian pilu.
Bercerai lah dari suami Mu, menikah lah dengan Ku, jawab Ferdy tampa dosa, Fifian terkejut mendengar jawaban Ferdy, hati nya semakin sakit, ternyata Ferdy sangat egois hanya memikirkan diri nya.
__ADS_1