
"Cintaa!", aku tersentak kaget,saat tiba tiba cinta sudah berdiri di ambang pintu.
"Tunggu cinta,biar kujelaskan!", teriakku
Tapi cinta sudah melajukan motornya,meninggalkanku yg berdiri bengong di pinggir jalan,sementara silva yg datang menemuiku di rumah, datang menghampiriku.
"Maafkan saya lara,karena sayalah,cinta marah begitu", ucap silva dengan wajah di tekuk
"Iya,tidak apa apa", ujarku,lalu pergi meninggalkan silva.
kedatangan cinta sangat tidak kuduga,karena cinta berhari hari kuhubungi tidak aktif nomornya,kebetulan malam itu juga silva datang menemuiku membawa kan berkas yg tak mampu ditanganinya.
Silva pulang tanpa pamit,ia seperti menyembunyikan perasaannya yg tak bisa ia ungkapkan.
"Cinta, tolong dengarkan aku",ucapku,saat mendatangi silva di kontrakannya.
"Aku mengerti kok ra,tidak usah dibahas lagi", ucap cinta
Berulangkali ku jelaskan,cinta tetap tak berubah,ia bahkan memilih diam.
Hingga akupun pulang dengan hati nelangsa.
*******
"Bu cinta,apa sedang sakit?", tanya kak lis,seorang guru honorer.
Hari ini,aku memang merasa kirang enak badan,kepalaku terasa pening
"Sedikit lis,bisa minta tolong dikerokin nggak", ucapku
"Iya bu,kita keruang kepala sekolah saja", ajak lis
"Emang sering masuk angin ya?", tanya lis
"Gak juga sih lis", ucap ku
Ternyata agak enakan abis dikerok lis.
"Terima kasih ya lis", ucapku
"Iya bu,sama sama", ucap lis.
Lis,gadis yg sangat baik menurutku,juga sangat sabar,cocok menjadi seorang pengajar.
"Lis,saya mengajukan surat pindah ke kadis", ucapku.
"kok mau pindah sih bu,murid murid kan sa gat suka diajar bu cinta,juga teman teman sesama guru pasti sedih jika ibu mau pindah", ucap cinta.
__ADS_1
"Saya mau pulang kampung lis,ibuku sakit sakitan", ucapku beralasan
padahal bukan karena alasan ibu kepindahanku,tapi rasa sesak yg tak bisa kuungkap saat melihat kemesraan lara dan silva.
Jelas jelas kulihat wajah mereka sangat berdekatan dan duduk berdekatan seperti sepasang kekasih,masih saja berkilah.
"Cinta kamu mau kemana?",tanya lara
Ia datang lagi ke kontrakanku,sementara aku sibuk mengemasi barang barangku yg tak seberapa banyak.
"Pindah", ucapku pelan,tanpa menoleh ke lara
Perhatianku terpusat pada barang barangku,aku tak mau mendengar alasan apapun dari lara,dudah cukup bukti penglihatanku yg masih jelas.
"Cinta,apa maksudmu,tolong dengarkan aku", ucap lara
"Sudahlah kak,tak ada yg perlu dibicarakan lagi,kita mungkin tak bisa sejalan lagi,biarkan aku pergi", ucapku
Sementara lara kulihat shock mendengar keputusanku.
Mobil yg kurental datang menjemputku,tanpa sepatah katapun ku naikkan tas tasku,dibantu sopir dan pergi tanpa pamit ke lara yg berdiri mematung.
"Apa semuanya sudah naik bu?", tanya sopir mengingatkanku.
"Iya pak,semuanya sudah naik", jawabku.
Mobil bergerak meninggalkan kota yg kutempati selama 2 tahun ,mengabdi sebagai seorang guru dan di kota ini jugalah cintaku bersemi bersama lara dan dikota ini pulalah,luka hati itu tertoreh di hatiku.
Terlihat ia agak kesulitan mengendalikan mobilnya,karena jalannya yg curam dan berbatu batu,terkadang harus mendaki gunung yg lumayan tinggi.
"Kenapa harus tugas disana bu,daerahnya sangat sulit lo,juga akses internet disana,gak ada", ucapk sopir itu.
"Namanya juga tugas pak,kita harus patuhi sebagai abdi negara", ucapku
Padahal bukan pemerintah yg memindahkanku kesini,tapi aku sendiri yg mengajukan kepindahanku,yg akhirnya ku diberi pilihan dan aku memilih yg tersulit aksesnya ini.
"Ternyata sulit sekali ya tiba disana", celetuk seorang penumpang laki laki yg duduk dibelakangku.
"Iya pak,tapi setiba nanti disana,kesulitan akan terganti dengan keindahan alam dan warganya yg ramah tamah", ucap laki laki yg duduk disebelahnya.
"Disana apa sudah ada kantor polsek?", tanya penumpang itu lagi yg duduk dibelakangku,ia memakai jaket hitam,kacamata hitam dan masker,hingga sangat sulit dikenali.
"Belum pak,masih berupa pos pos", jawab laki laki yg disebelahnya
"Sepertinya,laki laki yg dibelakangku seirang polisi,karena aku melihat di ransel yg dipeluknya,ada logo POLRI", bathinku.
"Masih jauh ya pak?", tanyaku pada sopir.
__ADS_1
"Iya bu,masih sekitar 2 jam perjalanan", ucapnya
Membuatku jadi jenuh,apalagi sepanjang jalan yg bebatuan menggoncang kami selama dalam perjalanan hingga membuat badan jadi pegal pegal.
Rasa kantuk yg menyerangku membuatku tertidur,hingga tak terasa,sebuah tangan mengguncang bahuku
"Bangun bu guru,sudah sampai", ucap wanita yg membangunkanku.
Kubuka mataku,seketika nampak pemandangan yg memanjakan mata dengan panorama gunung dan sungai sungai kecil yg melingkar ditengah pemukiman penduduk,rasa letihku seolah hilang seketika.
"Selamat datang di desa kami bu guru", sambut seorang wanita yg kupastikan memiliki profesi yg sama denganku.
"Terima kasih sambutannya bu,desa yg sangat indah,seketika membuatku jatuh cinta", ucapku,yg disambut ketawa warga lainnya.
"Jangan mudah jatuh cinta bu guru,orang gampang jatuh cinta,mudah pula tersakiti", gurau salah satu anak muda yg ikut menyambutku.
"Ya sudah,jangan becanda terus,panggil tamu kita masuk", seru seorang ibu separuh baya dari dalam rumah.
"Ayo kita masuk bu cinta,maaf keadaannya hanya begini", ucap pemilik rumah.
Yg dari pertama sudah begitu ramah menyambutku.
"Mulai besok,bu cinta mengajar disini,ibu bisa memilih mau tinggal dirumah dinas atau dirumah warga?", tanya ibu Indah pemilik rumah.
"Di rumah dinas saja lah bu,saya juga bisa belajar hidup mandiri", ucapku.
Di desa ini,Guru betul betul sangat dihormati,tiap ketemu orang dijalan,mereka pasti menundukkan badan saking hormatnya.
Keramahan warga menyatu dengan pemandangan yg sangat indah,sedikit membuatku melupakan sakit hatiku pada lara.
"Selamat pagi bu guru", sambut murid murid berseragam abu abu,yg rata rata menyapaku dengan penuh hormat.
Perlakuan yg sangat beda dari siswa di kota yg kurang beradab pada pendidiknya,ternyata orang desa tak seawam yg orang kira..
"Dulu SMP dan SMA belum ada disini bu,sehingga anak anak ke kota semua sekolah", ucap seorang guru.
"Gitu ya bu,terus agama disini mayoritas apa,kok saya perhatikan tidak ada tempat ibadah",ucapku merasa heran.
"Bu cinta,jangan keras keras bicaranya,disini tidak ada pemeluk agama apapun.kecuali kita yg pendatang,mereka itu pengikut Sawerigading yg melegenda", ucap bu guru fera.
"Maksudnya bu fera gimana,saya jadi tak mengerti nih,itu aliran kepercayaan atau gimana", tanyaku makin penasaran.
"Menurutku yg Naif ini,mereka itu penganut kepercayaan yg meyakini kebangkitan kembali sawerigading,ia putra raja luwu yg tersohor", tutur bu fera.
Aku jadi teringat cerita rakyat yg pernah dipentaskan di makassar,kisah cinta Sawerigading yg jatuh cinta pada saudara kembarnya sendiri.karna sang raja takut akan terjadi bencana di Negeri luwu yg besar,maka ia mengirim utusan untuk meminang ponakannya yg bernama We Cudai yg bak pinang dibelah dua dengan we tenri abeng,kembaran sawerigading.
"Pantesan bu,dikampung ini terlihat tak ada nuansa islaminya,ternyata begitu", ucapku.
__ADS_1
Bu fera terus menceritakan tentang mitos mitos disini yg tak boleh dilanggar.
Kadang aku bergidik ngeri mendengar cerita bu fera,seolah tak masuk akal tapi kenyataannya terjadi.