
"Apakah anda suaminya?" Tanya Dokter Lena.
"Iya Dokter, kalau saya suaminya Lara. Gimana Dok, keadaan istri saya sekarang?" Tanya Viko.
"Selamat ya Pak. Kalau istri bapak hamil." Ucap Dokter Lena.
"Apa, Lara hamil? Dokter seriuskan kalau istri saya hamil?" Tanya Viko merasa tidak percaya apa yang dikatakan oleh Dokter.
"Iya pak." Jawab Dokter Lena sambil mengganggukan kepala.
"Alhamdulilah, terima kasih ya Dok." Ucap Viko sambil menatap Dokter Lena.
"Iya Pak. Ya sudah kalau begitu saya permisi mau pulang." Ucap Dokter Lena.
"Iya silahkan Dok." Jawab Viko.
Lalu Viko, Raffi dan Bu Ina pun berjalan memasuki kamar yang dimana Lara ada disana.
"Sayang, kamu baik baik sajakan?" tanya Viko sambil menghampiri istrinya yang kini sedang duduk diatas kasur.
"Mas mau ngapain kesini hah? lebih baik Mas pulang sekarang juga. Lara tidak mau Mas bikin keributan disini, apalagi di depan anak anak loh Mas." Lara sambil menatap Viko.
"Sayang, Mas benar benar minta maaf." Viko mencoba untuk memeluk istrinya, namun sayangnya Lara menghempaskan Tangan Viko dengan kasar.
"Sudahlah pak Viko, mendingan pak Viko pulang saja dulu. Biarkan Lara istirahat disini, kasihan kan Lara baru juga siuman." ucap Bu Ina sang pemilik yayasan panti asuhan.
"Tidak bisa Bu, kalau pun saya pulang, Lara harus ikut juga pulang. Karena saya tidak rela jika anak saya tinggal disini." ucap Viko sambil menatap Bu Ina dan bergiliran menatap istrinya.
"Tidak Mas, aku tidak mau ikut pulang bersama Mas Viko. Biarkan aku dan anakku ini tinggal disini Mas." Lara sambil menatap tajam suaminya.
__ADS_1
"Tidak sayang, pokoknya kamu harus pulang sekarang juga. Kamu tidak boleh tinggal disini." ucap Viko sambil menarik kasar lengan istrinya.
"Cukup Viko! kamu jangan kasar begitu sama Lara. Dan kamu harus ingat, Lara itu lagi hamil loh." ucap Raffi.
"Kamu pikir siapa hah? Kami tidak ada hak untuk larang larang saya." Viko sambil mencengkram kerah baju Raffi.
"Mas sudah cukup! Jika kalian memang mau berkelahi maka lebih baik kalian pulang dan pergi dari sini." Lara mencoba melepaskan cengkraman Viko kepada Raffi.
"Kamu itu kenapa sih Lara, kenapa selalu membela dia hah? Atau jangan jangan anak yang dikandunganmu itu anak dia lagi." Ucap Viko sambil menatap Lara kemudian menatap Raffi.
plaaakkkkk...satu tamparan keras mengenai pipi Viko hingga menyebabkan kemerahan.
"Kamu kalau bicara di jaga Mas! jangan seenaknya bicara, dan kamu bilang barusan apa hah? Kamu bilang kalau anak yang ada dikandunganku itu anak pak Raffi gitu iya? Kamu tega sekali menuduhku seperti itu Mas!" Lara benar benar sangat marah dan kecewa terhadap suaminya. Tanpa Lara sadari airmatanya terjatuh membasahi pipinya.
"Saya Mas minta Maaf, se-"
"Tapi-"
"Aku bilang, kamu pergi dari Mas!" Bentak Lara dengan amarah yang memuncak dan terus mengeluarkan airmata.
"Sudahlah Nak Viko, mendingan lebih baik kamu pulang sekarang kasihan Lara apalagi sedang mengandung." ucap Bu Ina.
"Baikah saya akan pulang sekarang juga. Dan ingat Lara, jaga kesehatan kamu dan baby kita. Nanti saya akan kesini menjemputmu kembali Lara." ucap Viko sambil menatap Istrinya.
Namun Lara tidak menjawab perkataan suaminya, Lara masih menangis dipelukan Bu Ina.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi." ucap Viko pamit dan lalu pergi meninggalkan istrinya.
"Maaf ya pak Raffi, lebih baik pak Raffi pulang juga sekarang. Mungkin Lara harus istirahat untuk menenangkan diri." ucap Bu Ina.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. ya sudah saya pamit ya Lara, Bu Ina." ucap Raffi.
"Iya silahkan Nak," jawab Bu Ina. Kemudian Raffi pun pergi meninggalkan Lara dab Bu Ina. Kini hanya tinggal mereka berdua.
"Sudahlah Nak, jangan menangis lagi. Kasihan anak yang ada di dalam kandungan kamu Nak." ucap Bu Ina sambil mengusap lembut rambut Lara.
"Bu, Lara kecewa sama Mas Viko. Bagaimana bisa dia menuduhku kalau anak yang ada di dalam kandungan anaknya pak Raffi, Mas Viko benar benar keterlaluan Bu hiks hiks." Lara sambil terisak menangis.
"Sabar ya sayang. Suamimu emang benar benar jahat, bagaimana bisa berpikir seperti itu dan sekarang kamu jangan menangis lagi, jangan banyak pikiran kasihan bayi kamu Nak." ucap Bu Ina.
Lalu Lara pun mengusap airmatanya yang membasahi pipinya. dan mengusap perutnya yang masih datang. Sebenarnya Lara sudah mengetahui dua minggu yang lalu kalau Lara hamil. Inilah kenapa Lara alasan Lara untuk tidak bercerai.
"Bu, Lara benar benar tidak tahan Bu sama Mas Viko, mendingan Lara ceraikan saja Mas Viko Bu." ucap Lara.
"Tapi sayang, itu akan susah bila kamu meminta cerai sama suamimu. Apalagi kini kamu sedang hamil, tidak boleh bercerai ketika kamu sedang mengandung." ucap Bu Ina dengan hati hati.
Arrgh... Teriak Lara merasa kesal. "Terus apa yang harus aku lakukan Bu?" tanya Lara merasa pusing.
"Entahlah Lara, yang pasti kamu harus sabar dan menunggu anakmu lahir baru kamu ceraikan suamimu sayang." ucap Bu Ina.
"Terlalu lama Bu. Mungkin Lara harus pergi jauh sekarang Bu," ucap Lara.
"Jika itu mau kamu, ya Ibu tidak apa apa kok Bu. Tapi sekarang kamu makan dulu Nak, kamu belum makan kasihan anakmu butuh asupan gizi." ucap Bu Ina.
"Baiklah Bu," ucap Lara.
"Ya sudah, ayo kita ke ruang makan kasihan anak anak pasti nungguin." ucap Bu Ina.
Lalu Lara dan Bu Ina pun berjalan menuju meja makan, untuk makan siang bersama anak anak panti asuhan.
__ADS_1