Cinta Lara

Cinta Lara
38.Aku milik Lara


__ADS_3

Cafe Restu


Disinilah Viko berada. Dia memilih pergi kesebuah cafe untuk menenangkan pikiriannya yang kacau dan perasaannya yang begitu dihantui dengan rasa bersalah terhadap Istrinya yaitu Lara.


"Maafkan Mas sayang sudah menghianatimu. Mas tidak tahu harus bagaimana lagi selain dengan menikah lagi dengan dia. Ku harap kamu jangan membenci Mas ya sayang." Viko berbicara pada sendiri karena efek dari alkohol.


"Pelayan!! minta satu botol lagi bir." Teriak Viko.


Lalu pelayan pun datang dengan membawa pesenan yang diminta oleh Viko.


"Ini Mas." Pelayan sambil menyodorkan botol birnya di atas meja.


"Terima kasih pelayan." Viko. Lalu membuka birnya kemudian meminumnya. Lalu datang seorang wanita dengan berbaju seksi dan bibir dengan merah merona menghampiri Viko.


"Hello tuan? Ada yang saya bisa bantu?" Ucap wanita tersebut sambil mengusap lembut pinggang Viko.


"Siapa kamu hah? Berani beraninya menyentuhku. Jangan macam macam sama aku ya. Aku tidak sudi denganmu. Lagian aku hanya milik Istriku yaitu Lara." Viko dengan mengibaskan tangan wanita tersebut dengan keras.


"Aww, sakit sekali tanganku. Lagian percuma saja kamu mempertahankan Istrimu tapi sudah membuatmu seperti ini. Ck, macam Istri apaan dia hah!?" Ucap Tia dengan wajah sinis.


"Jaga mulutmu kalau bicara hah. Jangan bicara sok tahu kalau tidak tahu apa yang terjadi. Jangan sekali kali kamu menghina Istriku." Viko sangat marah lalu mencengkram rahang keras wanita tersebut lalu melepaskannya kembali.


"Uhuk, uhuk.. Kamu benar benar mau membunuhku ya? Lagian bukan aku so tahu, tapi emang fakta biasanya kalau Istri yang membuat suaminya begini berarti Istrinya sudah tidak peduli lagi denganmu dan memilih bersama pria lain." Tia dengan mengusap lehernya yang sakit akibat ulah Viko.


"Kamu!" Viko menatap tajam wanita tersebut.


"Apa hah?" Ucap Tia tidak kalah tajamnya menatap Viko.


"Sudahlah aku harus benar benar pergi dari sini, dari pada harus berdebat dengan wanita gil* sepertimu yang membuat pikiranku tambah kacau." Viko lalu meminum bir yang masih tersisa sampai hibus. kemudian Viko pun pergi dari cafe tersebut dengan jalan bersempoyongan karena akibat alkohol.


"Dia bilang aku gila hah? Dasar kurang ajarr. Lagian dia tuh yang gila." Gerutu Tia merasa tidak terima.


Dengan tidak sengaja, seseorang pun melihat Viko dengan berjalan bersempoyongan. Lalu keluar dari mobil tersebut dan menghampiri Viko.

__ADS_1


"Apa anda baik baik saja?" Tanya pria tersebut menghampiri Viko.


"Iya seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja kok." Viko dengan suara orang khas mabuk dan sambil melangkah bejalan sempoyongan.


Hoek.. hoek... Minuman yang tadi minumnya pun keluar kembali dengan bau yang tak sedap dan menjijikan. Lalu pria membantu Viko dan memberikan tisu kepada Viko.


"Nih ambil tisunya, kau menjijikan sekali." Raffi sambil memberikan tisunya.


"Terima kasih." Ucap Viko. Lalu mengusap bibirnya dengan tisu yang dikasih Raffi.


"Kamu mau pulang kemana? Biar saya anterin," Ucap Raffi sambil memegang lengan Viko.


"Tidak usah, saya bisa kok pulang sendiriian." Viko menginbaskan tangan Raffi lalu berjalan menuju mobilnya namun tiba tiba...


Buuuggkkkkk.... Viko pun pisan.


Yaelah ini orang malah pingsan. Tadi saya nawarin  dia untuk di anterin sama saya pulang malah menolak. Sekarang dia pingsan. Mana tidak tahu alamatnya dimana lagi. Ini orang menyusahkan sekali. Gerutu Raffi pada diri sendiri lalu menuntun Viko masuk ke dalam mobilnya.


Saya harus nganterin dia kemana ya? Tidak mungkinkan saya nganterin dia kerumah Mamihku. Terus kemana dong? Oh iya saya tahu dompet. Mana dompetnya? Gerutu Viko lalu mengambil dompet Viko dari saku celananya.


Sepertinya saya mengenal wanita ini dan pernah melihatnya langsung tapi dimana ya? Raffi sambil berpikir pikir. Terus apa hubungannya dia sama wanita tersebut? Oh ya, saya baru tahu wanita ini kan yang bekerja di butik itu. Kalau tidak salah namanya Lara. Terus ada hubungan apa ya Lara dengan pria ini?" Raffi merasa ada yang aneh.


Sudahlah ngapain dipikirin Raffi. Sekarang waktunya kamu harus anterin dia pulang kerumahnya sesuai dengan alamat yang ada diktp ini." Raffi lalu melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan cafe tersebut.


1 jam sudah perjalanan menuju rumah Viko.


Apakah benar ya ini rumahnya? Tapi benar kok sesuai dengan alamat yang diktp ini gerutu Raffi. Lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah tersebut lalu mengetuk pintu.


Tok.. tok.. tok.. " permisi .." ucap Raffi sambil mengetuk pintu.


Lalu seseorang membukakan pintunya.


"Maaf anda siapa ya? Loh kok ada Den Viko? Den Viko kenapa ya pak?" Tanya Bi Inah merasa cemas dengan keadaan majikannya seperti itu.

__ADS_1


"Saya Raffi. Tadi kebetulan saya melihat dia berjalan sempoyongan karena mabuk lalu dia pingsan. Kemudian saya menganternya dia pulang karena tidak tega  melihat dia pingsan." Ucap Raffi panjang lebar.


"Ya ampun pak baik amat ya sudah mau nganterin Den Viko pulang. Terima kasih ya Pak," ucap Bi Inah tersenyum


"Sama sama Bu. Ya sudah permisi ya Bu." Pamit Raffi.


"Iya silahkan. Hati hati dijalannya pak," Ucap Bi Inah.


"Iya." Raffi tersenyum lalu pergi meninggalkan rumah tersebut dan berjalan menuju mobil.


" Ada ini? Apa yang terjadi  dengan Viko?" Bu Ria tiba tiba datang dan melihat anaknya dibawa sama mang ujang.


"Den Viko pingsan dan mabuk Bu. Tadi ada seseorang yang mengantarkan Den Viko pulang." Ucap Bi Inah.


"Apa mabuk? Terus sekarang dimana orang tersebut?" Tanya Bu Ria.


"Dia sudah Bu." Jawab Bi Inah.


"Ya sudah kalian bawa Viko ke kamar!" Perintah Bu Ria.


"Baik Bu." Jawab mang ujang. Lalu membawa Viko ke kamarnya.


kenapa Viko menjadi begini? Mungkinkah Viko sangat tertekan pernikahannya dengan Vani? Sampai sampai dia mabuk begitu. Maafkan Ibu ya Nak, Ibu tidak bisa membantumu menyeselesaikan semua ini dan terpaksa kamu harus menikah lagi dengan Vani Batin Bu Ria merasa bersalah.


"Apa yang terjadi dengan Mas Viko Bi?" Tanya Vani yang tiba tiba keluar dari kamar mandi.


"Den Viko pingsan Non, dan dia juga mabuk." Jawab mang ujang lalu membaringkan Viko dikasur dengan pelan pelan.


"Oh gitu ya mang." Jawab Vani.


"Iya Non Vani. Ya sudah Non, Bibi sama mang ujan permisi ya Non." Pamit Bi Inah. Lalu pergi meninggalkan kamar majikannya.


Apakah kamu memang benar benar tidak mengharapkan pernikahan ini Mas? Sampai kamu seperti ini Mas? Lagian mana juga saya mau menikah dengan seorang suami yang sudah beristri. Tapi ini saya lakukan karena terpaksa Mas demi Papih Mas. Gerutu Vani merasaka sakit hati. Lalu melepaskan sepatu dan kaos kaki yang masih Viko pakai tadi pagi. Kemudian menatap wajah Viko.

__ADS_1


Kemudian Viko pun membukakan matanya dan tersadar dari pingsannya.


"Sayang?" Ucap Viko saat melihat seorang wanita menatapnya


__ADS_2