
"Gimana saksi sah? Sah?" Tanya penghulu.
"Sah! Jawab saksi dan yang lainnya.
"Alhamdulilah. Selamat iya Nak Viko dan Nak Vina sekarang sudah sah menjadi suami istri. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah dan wararahmah." Ucap penghulu. Lalu menyuruh mereka mendatangani surat nikah.
Disinilah mereka menyaksikan pernikahan antara Viko dan Vani. Pernikahan mereka tak semewah Pernikah Viko dan Lara. Pernikahan mereka hanya melibat kerabat terdekat, sahabatnya dan keluarganya. Pernikahan mereka karena paksaan kedua orangtuanya. Viko yang awalnya kekeuh menolak untuk tidak menikah lagi. Kini berbalik langsung menyetujuinya, ketika dia berpikir apa yang dikatakan Ayah Bara emang benar. Kalau dirinya butuh uang besar untuk biaya pengobatan istrinya. Dan begitu pun Vani, dia terus dipaksa sama papihnya agar mau menikahi sama orang yang emang Vani cintai. Dia berpikir dengan perjodohan ini akan membuat putrinya bahagia mesti tahu Viko sudah beristri.
"Selamat ya sayang, akhirnya kalian menikah juga." Bu Ria mendekati menantunya.
"Iya terima kasih tante." Ucap Vani tersenyum.
"Kok panggil tante? Sekarang kamu sudah menjadi menantuku. Panggil saja Ibu!" Protes Bu Ria menatap Vani.
"I-iya Tan eh maksudnya Bu." Jawab Vani merasa masih kaku.
"Ya sudah Ibu permisi dulu iya sayang mau nyamperin teman Ibu." Bu Ria.
"Iya silahkan Bu." Vani tersenyum.
"Viko kamu jangan diemin Vani kasihan dia, ajaklah dia mengobrol."Bisik Bu Ria
Lalu Viko pun hanya diam saja. menatap sekilas Vani.
"Saya permisi mau nyamperin dulu teman saya Bu." Viko sambil pergi meninggalkan Vani dan Ibunya.
"Yaelah itu anak benar benar iya. Barusan saja Ibu berbicara." Bu Ria merasa kesal.
"Maaf iya Nak Vani atas sikap Viko yang begitu." Bu Ria tidak enak hati.
"Tidak apa apa kok Bu." Vani tersenyum lalu menatap punggung suaminya.
"Hey Vani. Selamat iya atas pernikahannya." Lia sahabat Vani.
"Iya terima kasih Li." Jawab Vani.
"Karena ada teman kamu disini, Ibu permisi iya Nak." Bu Ria.
"Iya Bu." Jawab Vani.
Lalu Bu Ria pergi meninggalkan Vani dan Lia. Dan berjalan menuju temannya.
"Vani suami mana?" Tanya Lia.
"Itu lagi berbincang sama temannya." Vani sambil menunjuk orang yang dimaksud.
"Wah ternyata ganteng banget itu cowok. Pantesan saja kamu mau menikah dengan dia. Tapi kamu yakin nih bisa bahagia dengan dia?" Tanya Lia merasa kasihan.
__ADS_1
"Ntahlah Li. Tapi saya senang menikah dengan orang yang saya cintai tapi... " Vani tidak melanjutkan bicaranya.
"Tapi kenapa Van?" Tanya Lia penasaran.
"Kamu tahu sendiri dia punya Istri. Dia hanya cintai dan sayang sama Lara seorang. Tadi pun dia mendiamkan aku Li." Vani.
"Ya ampun kasihan banget kamu. Kenapa kamu meski memaksakan menerima perjodohan ini Van? Aku takut nanti ada apa apa yang terjadi pada kamu." Lia merasa khawatir.
"Huss.. kalau bicara jangan kemana saja. Doakan saja aku Li semoga Viko mau menerimaku dan sudah terbuka hati buka aku." Vani tersenyum pada sahabatnya.
" Iya pastinya aku akan mendoakanmu Vani." Lia memeluk sahabatnya.
Acara pun kini sudah selesai satu persatu tamu sudah pergi. Kini hanya tinggal keluarg Viko dan Vani yang berada disitu.
"Selamat sayang, akhirnya kamu menikah." Papih Rudy memeluk putri kesayangannya.
"Iya Pih. Terima kasih Pih." Jawab Vani tersenyum pada Papihnya.
"Oya Viko jaga Vani baik baik. Jangan sampai kamu menyakiti anak saya. kamu tahu saya bisa melakukan apapun jika berani menyakiti anak saya." ancam Rudy.
"Ayah.. " ucap Vani sambil menggelengkan kepala. lalu Viko pun hanya diam saja tidak merespons ucapan Rudy.
"Ya sudah permisi semuanya. Saya harus pergi sekarang karena ada urusan yang harus diselesaikan." Pamit Rudy.
"Iya Rud. Hati hati dijalannya." Ucap Ayah Bara. Lalu Rudy pun pergi meninggalkan dari tempat tersebut.
"Viko!! Kenapa kamu pergi begitu saja. Kamu lupa iya disini ada istrimu." Bu Ria merasa marah dengan sikap anaknya.
Namun Viko pun tidak memperdulikan ucapan Ibunya. Dia terus berjalan menuju kamarnya.
"Vikoo!!" Kesal Bu Ria saat ucapannya tidak direspon oleh anaknya.
"Sudahlah Bu lagian Vani tidak apa kok Bu." Vani berusaha tersenyum.
"Kamu sabar sekali sayang. Terima kasih Nak sudah sabar menghadapi anak Ibu." Bu Ria merasa senang.
"Iya Bu. Ya sudah saya permisi iya Bu mau ke kamar dulu." Pamit Vani.
"Iya silahkan Nak." Jawab Bu Ria. Lalu Vani pun pergi meninggalkan Bi Ria dan berjalan menuju kamar.
"Yah gimana nih? Akankah semuanya baik baik saja Yah? Saya jadi tidak tega melihat Vani." Bu Ria merasa tidak tega.
"Sudah jangan khawatir Bu. Ayah yakin dengan beriringnya waktu pasti mereka bakal saling jatuh cinta. Karena cinta itu akan terbiasa kalau tiap hari begitu." Ayah bara mencoba menenangkan Istrinya yang merasa cemas.
"Baiklah Yah, kalau begitu." Bu Ria tersenyum.
Tok... tok.. tok.. Suara mengetuk pintu.
__ADS_1
"Mas bolehkah saya masuk?" Tanya Vani dari balik pintu. Namun tidak ada jawaban dari Viko.
Lalu Vani pun mencoba membuka ganggang pintu. Ternyata pintunya tidak terkunci. Dan Vani pun mencoba memberanikan masuk kedalam kamar.
"Kemana Mas Viko? Kok tidak ada dikamar?" Vani sambil mencari cari keberadaan suaminya. Lalu duduk dikasur. Namun matanya tertuju pada sebuah poto.
Maafkan saya iya Lara. Saya tidak bermaksud merebut suami kamu. Tapi ini saya lakukan terpaksa karena papihku Lara. Ku harap nanti kamu bisa menerimaku sebagai istrinya Mas Viko. Batin Vani sambil menatap poto tersebut.
Namun seseorang pun keluar dari kamar mandi tersebut dengan memakai handuk sampai lutut lalu berjalan menuju lemari baju.
Namun ketika Viko mau melepaskan handuknya tiba tiba seseorang berteriak .
Aarrghhhh..... teriak Vani menutup matanya dengan tangannya
Lalu dengan sigap Viko pun kembali memakaikan handuknya.
"Kamu? Kamu lagi ngapain disini hah?" Tanya Viko merasa kesal.
"Sa-saya kesini yang mau bertemu kamu dan pingin istrihat disini.
"What pingin istrihat disini? Kamu benar benar gila iya." Ucap Viko menatap tajam Vani.
"Maksudnya gila gimana Mas? Mas lupa iya saya ini sekarang Istri mas. Jadi tidak salah dong masu kamar." Vani menjelaskannya.
"Shitt. *****." Umpat Viko merasa kesal karena hampir lupa kalau Vani sekarang Istrinya.
Lalu Viko pun berjalan menuju kamar mandi dengan membawa baju dan celananya.
"Mas mau kemana?" Tanya Vani saat Viko keluar dari kamar mandi dengan baju yang rapih.
"Ini bukan urusanmu." Jawab Viko.
"Tentu saja ini urusanku Mas. Saya Istri kamu sekarang! Jadi saya berhak menanyakan ini semua mas." Bentak Vani.
"Kamu?!" Viko menatap Vani.
"Apa Mas hah?" Ucap Vani.
Aarrgh ... Viko merasa frustasi dan memilih mengalah.
"Saya mau pergi menemui Lara." Ucap Viko dengan datar.
"Boleh saya ikut Mas?" Tanya Vani.
"Tidak boleh. Kamu disini saja." Ucap Viko.
"Tapi Mas... baiklah kalau begitu mas." Vani memilih menyerah saat suaminya menatap tajam dirinya.
__ADS_1
Lalu Viko pun pergi meninggalkan Vani dan berjalan ke parkiran mobil.