
Sudah dua bulan Lara masih belum sadarkan diri, dia masih koma dan harus berjuang melewati masa kritisnya. Disinilah Viko berada, selalu ada mendampingi Istrinya. Kadang Dia hanya berangkat kerja seminggu dua kali. Itu juga karena Edo yang suka memaksa dengan alasan banyak yang mengundurkan diri untuk bekerja sama dengan perusahaan Pt. Hoga. Namun Viko tidak memperdulikannya, karena baginya saat ini dia harus ada menemani Istrinya saat seperti ini.
"Sayang, kamu tahu tidak? Disini Mas merasa punya Istri kok tapi merasa tidak punya Istri iya. Kamu tahu sayang kenapa Mas bilang begitu? Karena kamu tidak seperti dulu yang selalu ada disaat Mas bangun tidur, mau makan, bahkan mau berangkat kerja kamu selalu sigap disamping Mas. Kenapa sih sayang kamu betah banget dalam keadaan gini sayang? Tak bisakah bangun sekali saja, lihat suamimu ini betapa tersiksanya tanpa dirimu sayang." Gerutu Viko pada diri sendiri dengan mata memanas menahan airmata agar tidak jatuh.
"Sayang bangun yuk sayang. Kenapa sih tidak mau bangun sayang. Marah sama Mas iya? Karena Mas tidak bisa menjaga kamu iya sayang? Tapi Mas sungguh tidak tahu sayang kalau kamu bakal seperti ini sayang. Jangan marah iya sayang, coba bangun deh, yuk bangun sayang hiks.. hiks.. " Viko tiba tiba menangis tidak tega melihat Istrinya. Apalagi melihat kondisi tubuh Istrinya yang kini semakin mengecil.
Tanpa disadari ternyata ada seseorang yang mendengarkan dari balik pintu selama Viko berbicara pada Istrinya.
"Assalamualaikum.. Selamat siang Pak." Ucap seseorang masuk ke dalam ruangan.
"Walaikumsalam.. Eh Vani? Kok kamu tahu iya saya ada disini?" Tanya Viko.
"Iya saya tahu dari Pak Edo, makanya saya kesini buat menjenguk Lara." Vani mendekati Viko lalu menatap Lara yang masih terbaring dengan selang infusannya.
"Terima kasih iya Van sudah menjenguk Lara kesini." Ucap Viko.
"Iya Pak Viko. Pak Viko yang sabar iya. Jangan mengeluh dan putus asa. Pak Viko harus yakin bahwa Lara pasti baik baik saja, cepat sembuh dan pasti bakal segera sadar masa komanya." Vani tersenyum dan menguatkan Viko.
"Iya Van. Terima kasih iya sudah meyemanngati saya." Ucap Viko tersenyum.
"Iya pak." Jawab Vani.
__ADS_1
Tok..Tok.. tok.. Pak Viko bolehkah saya masuk?" Tanya seseorang dibalik pintu.
"Iya silahkan saja masuk." Jawab Viko.
Lalu Edo pun masuk ke dalam ruangan dimana Lara dirawat.
"Iya ada iya Do, kok kamu kesini tumben? bukannya kamu harus bekerja dan menghandle semuanya mengantikan saya sementara?" Tanya Viko.
"Iya Pak Viko, tapi kedatangan saya kesini ada yang harus saya bicarkan kepada Pak Viko. Ini sangat penting tentang perusahaan kita Pak." Edo menatap atasannya .
"Emangya ada apa dengan perusahaan kita Do? Apa yang terjadi dengan perusahaan kita? perusahaan kita baik baik saja kan Do?" Viko dengan beberapa pertanyaan.
Lalu Edo pun hanya diam saja. Mau berbicara yang sebenarnya tapi keadaanya sangat tidak memungkinkan karena melihat kondisinya seperti ini. Tapi disisi lain Edo pun harus mengatakan yang sebenarnya apa yang terjadi dengan perusahaanya, karena ini tidak boleh dibiarkan harus segera ditangani. Dan Akhirnya Edo pun terpaksa memberitahukan yang sebenarnya.
"Iya silahkan Do. Katakanlah apa yang terjadi dengan perusahaan?" Tanya Viko.
"Perusahaan kita mengalami kebangkrutan Pak." Ucap Edo berhati hati.
"Apa?'" Ucap Viko dan Vani bersamaan merasa terkejut dengan ucapan Edo.
"Iya Pak, karena banyak perusahaan yang memutuskan untuk mengundurkan diri dan membatalkan kerja sama." Ucap Edo.
__ADS_1
"Loh kenapa bis ini terjadi Do!" Viko merasa tak terima tiba tiba mereka yang terikat kontrak kerja sama menutuskan begitu saja tanpa ada penjelasan apapun.
"Saya juga tidak tahu Pak. Ini pak berkas dan laporan saham sekarang." Edo sambil menyodorkan hasil laporannya. Lalu Viko pun segera mengambilnya kemudian membacanya.
"Arrrghhh.... Kenapa ini bisa terjadi seperti ini Do? Cobaan apalagi ini? sudah cukuplah Istriku seperti ini. Sekarang malah ditambah dengan keadaan perusahaan. Sungguh tidak adil tuhan!" Viko dengan perasaan marah dan tidak terima .
"Pak Viko." Ucap Edo dan Vani bersamaan merasa tidak tega melihat yang menimpa dirinya.
"Pak Viko yang sabar, kuat iya Pak. Pak Viko harus tenang dulu jangan emosi. Tenangkan diri Pak Viko." Ucap Vani mencoba menenangkan Viko.
"Kamu lihat Van, kondisi Istri saya seperti ini. ditambah perusahaan yang sudah hancur. jadi bisa tenang gimana Van!" Ucap Viko.
"Iya saya tahu pak. Kalau masalah perusahaan tenang saja, saya siap kok membantu Pak Viko. jadi sekarang tidak usah khawatir ada saya yang akan membantu Pak Viko." ucap Vani menatap Viko.
"Seriuskah?" Tanya Viko menyakinkan.
"Serius pak. saya tidak berbohong kok." Jawab Vani.
"Terima kasih iya Vani, kamu mau membantu saya ." Ucap Viko.
"Iya sama sama pak Viko. Sekarang Pak Viko tidak usah khawatir laginiya. Kasihan Istri pak Viko kalau tahu keadaan Pak seperti ini. Sekarang pak Viko fokus saja dulu sama Istri pak Viko." Ucap Vani.
__ADS_1
"Iya terima kasih iya Vani." Ucap Viko.
"Iya pak Viko." Jawab Vani.